Aku ingat dengan jelas sampai sekarang, mereka saling mencakar. Darah di mana-mana.
Sekuriti mengamankan mereka, polisi turun tangan, HRD menginterogasi kami. Dan karena aku masih dibutuhkan oleh perusahaan, dan pada dasarnya aku tak terlibat sebenarnya, mereka saja yang ke-GR-an menyangka aku pacar mereka, padahal tak ada statement IYA dariku. Jadi aku tetap bekerja, HRD memecat mereka yang berkelahi.
Kupikir masalah selesai di situ.
Beberapa hari kemudian, kejadian sama terulang kembali.
Mereka mulai mengirimkan bangkai tikus ke karyawan lain yang lain, berbuat vandalisme, menuangkan darah, kotoran manusia, makanan berbelatung ke orang yang mereka anggap rival.
Lalu perkelahian terjadi lagi.
Aku hanya bisa termangu.
Saat aku ditenangkan dan ditanya : Dimas, yang mana pacarmu?
Mulutku kembali terkatup karena bingung.
Jadi kepalaku mengambil alih kinerja mulut dengan ‘menggeleng’.
Gerakan itu sudah cukup membuat HRD mengerti, bahwa mereka semua sebenarnya bukan ‘pacarku’. Lagi-lagi pemecatan dan laporan polisi.
Berkali-kali kasus ‘berdarah’ terjadi sampai aku dan Komandannya jadi temenan. Namanya AKP Rama Bagaswirya dan Kami berteman baik sampai sekarang saking seringnya ia bolak-balik ke kantorku untuk menangani kondisiku.
Sampai pada satu waktu akhirnya Rama bilang, “Sori Bro, kali ini lo harus ikut juga. Kita butuh saksi kunci di pengadilan,”
Bagaikan ada hantaman keras di kepalaku.
Sudah sampai ke meja hijau, itu berarti kasusnya lumayan parah. Salah satu wanita mendorong wanita lain ke jalanan, sampai tertabrak mobil. Di waktu yang sama, ada juga wanita yang mendorong temannya dari lantai 50. Untung saja sempat di cegah.
Tapi tuntutan tetap berjalan, dan polisi akhirnya mengamankan kami yang terlibat.
HRD tidak sanggup lagi mengurusi hal pribadiku.
Aku pun... jadi pribadi yang berbeda.
Saat AKP Rama dipindah ke kantor pusat, Kompol Dirgantara menggantikannya. Aku cukup terkejut karena dia adalah Dirga, temanku saat SMA. Dia bisa dibilang salah satu yang mengerti aku karena kami lumayan akrab.
Padahal dulu dia tukang tawuran. Malah sering keciduk polisi.
Si Dirga ini kerjanya nunggu SMA Lawan di Basis sambil muter-muter gir motor yang diikat dengan tali rafia. Saat pihak lawan terlihat, ia lari paling depan, ia putar-putar gir itu ke udara untuk mengancam pihak lawan agar mundur.
Lawan mundur, ia pun tertangkap polisi.
Aku?
Ngumpet dong. Aku malas ikut tawuran, buat apa coba. Malah aku sudah ganti pakaian biasa dan menyembunyikan seragamku di tas.
Tapi pada akhirnya aku juga yang membebaskannya dari cengkeraman polisi. Setelah lebih dulu menertawakannya yang dijemur tanpa pakaian, cuma pakai k0lor doang jongkok bareng yang lain di lapangan sambil di bentak-bentak Pak Komandan.
Dirga memang yatim piatu, dan aku biasa mengaku sebagai kakak atau adiknya saat membebaskannya. Wajahku ini jadi dihafal sama Pakpol karena hampir setiap minggu aku ke kantor jadi mereka sudah tidak menanyakan identitasku lagi saat aku menjemput Dirga di Kantor Polisi.
Lah, sekarang si Dirga malah jadi Polisi. Apa saking seringnya ia ditangkap, diam-diam ia malah termotivasi?
Entahlah.
Yang pasti aku bersyukur karena dia sudah ‘tobat’.
Saat dia menggantikan Rama dan kami kembali bertemu, Dia cuma bilang : akhirnya ketampanan lo itu makan korban juga, Mas.
Dan saat itu aku pun tersadar.
Aku selama ini salah memperlakukan wanita.
**
Setelah resign dari kantor lama, aku sempat mengisolasi diriku di rumah ibuku selama setahun lamanya. Setahun itu lumayan lama karena aku beneran trauma.
Bisa dimaklumi kalau tragedi berdarahnya untuk merebut dan membela Tanah Air Tercinta. Malah diapresiasi.
Tapi ini tragedi berdarah untuk memperebutkan diriku.
Aku bukan raja, bukan Kaisar, bukan pemimpin negara dan kepercayan tertentu. Aku hanya seseorang yang kebetulan terlahir tamvvan.
Jelas kejadian itu membuatku ansos. Anti sosial bertemu orang lain. Ngeliat manusia, apalagi kalau dia wanita, bawaannya parno melulu.
Saat masa isolasi berjalan 6 bulan, aku mulai bosan di kamar saja main game, aku pun mulai sedikit-sedikit bisa berinteraksi. Aku sering membantu ibuku di warung nasi uduknya. Lumayan buat pelaris, katanya. Warung nasi uduk ibuku jadi ramai saat aku kerja di sana.
Sebenarnya aku nyaman bekerja di warungnya, aku kerja selama 6 bulan lamanya bantu-bantu ibu, sampai tiba-tiba... Mas Bram datang dengan mobil barunya. Fortuner VRZ yang kala itu terlihat sangat gagah di mataku. Ini jaman dulu yah, jangan dibandingkan dengan mobil masa sekarang.
Apalagi style kakakku itu ala eksekutif muda, dengan jas mahal dari desainer, dan sepatu kulit yang mengilat dengan logo ‘Salvatore Ferragamo’ kebanggaannya. Ganteng maksimal, apalagi kami ada keturunan Italy. Udah pasti ke-elokannya tidak diragukan.
Lah aku cuma kaos oblong, celana pendek, sandal jepit, bawa-bawa baki isinya nasi uduk.
Lalu pukulan keduaku, dia bilang ke ibuku :
“Buk, mau buka cabang nggak? Aku dipromosiin jadi manajer nih, gaji udah tiga digit loh Buk! Ada dana lebih nih untuk membesarkan usaha ibuk!”
Jederrr!!
Harga diriku terkoyak.
Sial! Nggak bisa aku hanya bantu-bantu jualan nasi uduk begini. Aku juga kepingin kayak Mas-ku. Jadi investor di Waroenk Nasduk Bu Lastri.
Aku pun melipir mepet-mepet ke Mas Bram sambil membisikinya kata-kata sakti.
“Mas...” bisikku mesra. “Ada loker untukku nggak?”
**
Pertama kali aku bertemu Bu Meilinda... ia sudah tidak ramah padaku.
Wanita pertama yang tidak menyukaiku, ya dia itu.
Lumayan kaget sih ada wanita yang ketus padaku bukan karena ada ‘maksud tertentu’. Dan ternyata hal itu malah nyaman bagiku.
Jadi,
Di sinilah aku berada.
Di sebuah Bank besar milik keluarga konglomerat Bataragunadi. Namanya Garnet Bank.
Di Negara ini nama Bataragunadi lumayan berpengaruh. Sama kalau menyebut nama ‘aku kenal keluarga Hartono, Salim, Tandjung, Hamka’ orang-orang jadi mingkem, ya seperti itu.
Aku masuk sini menggunakan koneksi. Karena masa laluku yang suka membuat masalah. Kinerjaku sih baik-baik saja menurutku.
Koneksiku ya orang Garnet juga, sahabat Masku, ya tadi itu, Si Trevor. Anak konglomerat yang sohiban sama MasKu, akhirnya dia berteman juga denganku.
Dipikir, Aku ini orang biasa yang beruntung.
Trevor minta Kadiv HRD di Garnet Bank menyembunyikan kasus di kantor lamaku agar kinerjaku tidak terganggu.
Dan pandangan Bu Meilinda saat itu...
Menusuk dan curiga.
**
Kuingat saat aku menginjakkan kaki di Gedung Garnet Bank berlantai 30. Mewah sekali tampilannya, seperti khas gedung Garnet lainnya. Glamor. Aku diarahkan untuk langsung bertemu dengan orang yang namanya Alexander David Huang.
“Jan nggilani kowe, apa ngelowong nang Audit. Kualitase kowe nang Marketing. Lu orang ai tempatin di Divisi pasar ya! Lebih guna neng ngono, percoyo ae tak kandani!”
Bahasanya campur-campur ala chindo surabaya tapi di blender sama Jaksel. Aku saja yang familiar sama bahasa Jawa nggak ngerti.
Tapi kulihat sekitarku... kualitas karyawan di sini benar-benar hebat. Tidak ada yang standar tampangnya. Sebangsa yang berseragam Office Boy saja cocok jadi pemain sinetron. Apakah ini memang tempatku yang sebenarnya? Dunia kaum glowing?
“A-a-anuu... kemampuan saya di akuntasi, mengerti sedikit soal teknik karena ambil ilmu komputer waktu kuliah. Tapi kalau marketing, bukan bidang saya,” kataku.
“Opo sing ora bidangmu? Kamu itu nyengir ae wis iso bikin klepek-klepek! Yakin gak berminat di marketing, arek iki isok dadi wong sugih loh,” dia nyerocos meyakinkanku untuk ambil divisi marketing, tapi menurutku aku malah jadi semakin masuk ke jurang gelap gulita kalau sampai terjun ke sana.
Aku jadi salfok ke ikat pinggang dengan huruf H yang ia kenakan. Tergoda buat nyolong terus kugadaikan, bisa beli mobil satu unit kayaknya. Duh, silau...
“Bapak kan tahu sendiri masa lalu saya, kalau senyum saya bisa bikin orang saling berseteru,”
“Lah, bukan gosip ya itu? Ancen nggilani... saya pikir si Trevor lebay, ancoook ancok hahaha. Webat iki. Wis lah, you ke tempat Meilinda aja ya, dia anti laki-laki tuh!”
“Siapa Pak?”
“Meilinda, Direktur Kepatuhan. Your Hereafter Boss,” Pak David menekan tombol di interkom, “Sek yo tak ngundang dek e,”
Dan beberapa saat kemudian, seorang wanita masuk ke ruangan Pak David.
Menatapku dari atas ke bawah dengan sinis.
“Ini temennya Trevor? Kok tidak meyakinkan...” begitu katanya.
Nggak meyakinkan gimana coba?!
“You coba dulu lah sebulan dua bulan kerja sama arek iki, Mel... gak ada lagi yang sanggup jadi karyawan di bawah you. Jangan nyinyir mulu lah iku lambemu koyok mercon. Wong lewat ae you bentak, si Sayrif cma nyapu doang kamu omeli, gaisak aku cari yang lain wis mendidih sirahku iki bolak-balik you ganti staff!” sepertinya Pak David sedang mengomel.
Sepertinya loh...
Tak yakin juga aku karena dari tadi dia bicara dengan bersemangat.
Sepertinya yang kutangkap, maksudnya itu, dia sudah tidak sanggup lagi mencari karyawan lain untuk Bu Meilinda karena berulang kali banyak staff yang mengundurkan diri. Sepertinya Bu Meilinda jenis Boss yang judes.
“Payah kamu David... ya sudahlah kuambil. Awas kalau tidak capable. Kupindahin kamu ke Pusat,”
“Eh sumpah kon? Cok nggilani ngono iku! Ogah aku pigi pusat! Madesu!” omel Pak David.
“Ikut saya!” sahut Bu Meilinda sambil melambaikan tangan sekilas padaku, memberi isyarat agar aku mengikutinya.
Seelah menunjukan ruanganku, dia lalu berujar padaku dengan nada sewot. “Kamu songong banget sih?”
“Songong, bu?” tanyaku tak mengerti. Karena perasaan aku dalam mode kalem dari tadi.
“Jangan cemberutin saya dong! Saya ini Boss kamu. Ramah sedikit kenapa sih? Kalau bukan karena Trevor sudah saya tendang kamu keluar gedung!”
Cemberut katanya.
Sudah lama aku tidak tersenyum, karena rasa trauma.
Sejak saat itu datang, aku mengubah sikapku terhadap orang lain. Jarang tersenyum, malah bisa dibilang aku takut tersenyum. Bukan berarti aku cemberut terus, hanya jarang saja menarik sudut-sudut bibirku membentuk lekukan. Takutnya pada salah paham lagi.
Aku juga jadi lebih lugas bicara, mulutku mulai belajar kalau setiap masalah tidak selesai hanya dengan diam. Tapi bukan berarti ‘diam’ itu tak diperlukan. Diam di saat tepat lebih penting, dan ‘Silence’ belum tentu Golden’.
Tapi mulutku mulai membuat masalah saat meeting pertamaku.
Ada sebuah kebijakan Bank yang tidak sesuai dengan Audit. Dan saat itu Bu Meilinda adalah pengusulnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
eka wati
mantap sekali bilangnya loh 😅
2024-12-28
0
Rakmad Atika
warengnya putri gandes
2024-04-20
0
Naftali Hanania
jd mbayangin muka pak alex yg ganteng cindo trus ngomong bahasa campur²....seru kayane urip e...😁✌️
sama bu mel lambe mercon...diluk² njebluk....🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-03-20
0