Masa Laluku (2 of 2)

Aku ingat dengan jelas sampai sekarang, mereka saling mencakar. Darah di mana-mana.

Sekuriti mengamankan mereka, polisi turun tangan, HRD menginterogasi kami. Dan karena aku masih dibutuhkan oleh perusahaan, dan pada dasarnya aku tak terlibat sebenarnya, mereka saja yang ke-GR-an menyangka aku pacar mereka, padahal tak ada statement IYA dariku. Jadi aku tetap bekerja, HRD memecat mereka yang berkelahi.

Kupikir masalah selesai di situ.

Beberapa hari kemudian, kejadian sama terulang kembali.

Mereka mulai mengirimkan bangkai tikus ke karyawan lain yang lain, berbuat vandalisme, menuangkan darah, kotoran manusia, makanan berbelatung ke orang yang mereka anggap rival.

Lalu perkelahian terjadi lagi.

Aku hanya bisa termangu.

Saat aku ditenangkan dan ditanya : Dimas, yang mana pacarmu?

Mulutku kembali terkatup karena bingung.

Jadi kepalaku mengambil alih kinerja mulut dengan ‘menggeleng’.

Gerakan itu sudah cukup membuat HRD mengerti, bahwa mereka semua sebenarnya bukan ‘pacarku’. Lagi-lagi pemecatan dan laporan polisi.

Berkali-kali kasus ‘berdarah’ terjadi sampai aku dan Komandannya jadi temenan. Namanya AKP Rama Bagaswirya dan Kami berteman baik sampai sekarang saking seringnya ia bolak-balik ke kantorku untuk menangani kondisiku.

Sampai pada satu waktu akhirnya Rama bilang, “Sori Bro, kali ini lo harus ikut juga. Kita butuh saksi kunci di pengadilan,”

Bagaikan ada hantaman keras di kepalaku.

Sudah sampai ke meja hijau, itu berarti kasusnya lumayan parah. Salah satu wanita mendorong wanita lain ke jalanan, sampai tertabrak mobil. Di waktu yang sama, ada juga wanita yang mendorong temannya dari lantai 50. Untung saja sempat di cegah.

Tapi tuntutan tetap berjalan, dan polisi akhirnya mengamankan kami yang terlibat.

HRD tidak sanggup lagi mengurusi hal pribadiku.

Aku pun... jadi pribadi yang berbeda.

Saat AKP Rama dipindah ke kantor pusat, Kompol Dirgantara menggantikannya. Aku cukup terkejut karena dia adalah Dirga, temanku saat SMA. Dia bisa dibilang salah satu yang mengerti aku karena kami lumayan akrab.

Padahal dulu dia tukang tawuran. Malah sering keciduk polisi.

Si Dirga ini kerjanya nunggu SMA Lawan di Basis sambil muter-muter gir motor yang diikat dengan tali rafia. Saat pihak lawan terlihat, ia lari paling depan, ia putar-putar gir itu ke udara untuk mengancam pihak lawan agar mundur.

Lawan mundur, ia pun tertangkap polisi.

Aku?

Ngumpet dong. Aku malas ikut tawuran, buat apa coba. Malah aku sudah ganti pakaian biasa dan menyembunyikan seragamku di tas.

Tapi pada akhirnya aku juga yang membebaskannya dari cengkeraman polisi. Setelah lebih dulu menertawakannya yang dijemur tanpa pakaian, cuma pakai k0lor doang jongkok bareng yang lain di lapangan sambil di bentak-bentak Pak Komandan.

Dirga memang yatim piatu, dan aku biasa mengaku sebagai kakak atau adiknya saat membebaskannya. Wajahku ini jadi dihafal sama Pakpol karena hampir setiap minggu aku ke kantor jadi mereka sudah tidak menanyakan identitasku lagi saat aku menjemput Dirga di Kantor Polisi.

Lah, sekarang si Dirga malah jadi Polisi. Apa saking seringnya ia ditangkap, diam-diam ia malah termotivasi?

Entahlah.

Yang pasti aku bersyukur karena dia sudah ‘tobat’.

Saat dia menggantikan Rama dan kami kembali bertemu, Dia cuma bilang : akhirnya ketampanan lo itu makan korban juga, Mas.

Dan saat itu aku pun tersadar.

Aku selama ini salah memperlakukan wanita.

**

Setelah resign dari kantor lama, aku sempat mengisolasi diriku di rumah ibuku selama setahun lamanya. Setahun itu lumayan lama karena aku beneran trauma.

Bisa dimaklumi kalau tragedi berdarahnya untuk merebut dan membela Tanah Air Tercinta. Malah diapresiasi.

Tapi ini tragedi berdarah untuk memperebutkan diriku.

Aku bukan raja, bukan Kaisar, bukan pemimpin negara dan kepercayan tertentu. Aku hanya seseorang yang kebetulan terlahir tamvvan.

Jelas kejadian itu membuatku ansos. Anti sosial bertemu orang lain. Ngeliat manusia, apalagi kalau dia wanita, bawaannya parno melulu.

Saat masa isolasi berjalan 6 bulan, aku mulai bosan di kamar saja main game, aku pun mulai sedikit-sedikit bisa berinteraksi. Aku sering membantu ibuku di warung nasi uduknya. Lumayan buat pelaris, katanya. Warung nasi uduk ibuku jadi ramai saat aku kerja di sana.

Sebenarnya aku nyaman bekerja di warungnya, aku kerja selama 6 bulan lamanya bantu-bantu ibu, sampai tiba-tiba... Mas Bram datang dengan mobil barunya. Fortuner VRZ yang kala itu terlihat sangat gagah di mataku. Ini jaman dulu yah, jangan dibandingkan dengan mobil masa sekarang.

Apalagi style kakakku itu ala eksekutif muda, dengan jas mahal dari desainer, dan sepatu kulit yang mengilat dengan logo ‘Salvatore Ferragamo’ kebanggaannya. Ganteng maksimal, apalagi kami ada keturunan Italy. Udah pasti ke-elokannya tidak diragukan.

Lah aku cuma kaos oblong, celana pendek, sandal jepit, bawa-bawa baki isinya nasi uduk.

Lalu pukulan keduaku, dia bilang ke ibuku :

“Buk, mau buka cabang nggak? Aku dipromosiin jadi manajer nih, gaji udah tiga digit loh Buk! Ada dana lebih nih untuk membesarkan usaha ibuk!”

Jederrr!!

Harga diriku terkoyak.

Sial! Nggak bisa aku hanya bantu-bantu jualan nasi uduk begini. Aku juga kepingin kayak Mas-ku. Jadi investor di Waroenk Nasduk Bu Lastri.

Aku pun melipir mepet-mepet ke Mas Bram sambil membisikinya kata-kata sakti.

“Mas...” bisikku mesra. “Ada loker untukku nggak?”

**

Pertama kali aku bertemu Bu Meilinda... ia sudah tidak ramah padaku.

Wanita pertama yang tidak menyukaiku, ya dia itu.

Lumayan kaget sih ada wanita yang ketus padaku bukan karena ada ‘maksud tertentu’. Dan ternyata hal itu malah nyaman bagiku.

Jadi,

Di sinilah aku berada.

Di sebuah Bank besar milik keluarga konglomerat Bataragunadi. Namanya Garnet Bank.

Di Negara ini nama Bataragunadi lumayan berpengaruh. Sama kalau menyebut nama ‘aku kenal keluarga Hartono, Salim, Tandjung, Hamka’ orang-orang jadi mingkem, ya seperti itu.

Aku masuk sini menggunakan koneksi. Karena masa laluku yang suka membuat masalah. Kinerjaku sih baik-baik saja menurutku.

Koneksiku ya orang Garnet juga, sahabat Masku, ya tadi itu, Si Trevor. Anak konglomerat yang sohiban sama MasKu, akhirnya dia berteman juga denganku.

Dipikir, Aku ini orang biasa yang beruntung.

Trevor minta Kadiv HRD di Garnet Bank menyembunyikan kasus di kantor lamaku agar kinerjaku tidak terganggu.

Dan pandangan Bu Meilinda saat itu...

Menusuk dan curiga.

**

Kuingat saat aku menginjakkan kaki di Gedung Garnet Bank berlantai 30. Mewah sekali tampilannya, seperti khas gedung Garnet lainnya. Glamor. Aku diarahkan untuk langsung bertemu dengan orang yang namanya Alexander David Huang.

“Jan nggilani kowe, apa ngelowong nang Audit. Kualitase kowe nang Marketing. Lu orang ai tempatin di Divisi pasar ya! Lebih guna neng ngono, percoyo ae tak kandani!”

Bahasanya campur-campur ala chindo surabaya tapi di blender sama Jaksel. Aku saja yang familiar sama bahasa Jawa nggak ngerti.

Tapi kulihat sekitarku... kualitas karyawan di sini benar-benar hebat. Tidak ada yang standar tampangnya. Sebangsa yang berseragam Office Boy saja cocok jadi pemain sinetron. Apakah ini memang tempatku yang sebenarnya? Dunia kaum glowing?

“A-a-anuu... kemampuan saya di akuntasi, mengerti sedikit soal teknik karena ambil ilmu komputer waktu kuliah. Tapi kalau marketing, bukan bidang saya,” kataku.

“Opo sing ora bidangmu? Kamu itu nyengir ae wis iso bikin klepek-klepek! Yakin gak berminat di marketing, arek iki isok dadi wong sugih loh,” dia nyerocos meyakinkanku untuk ambil divisi marketing, tapi menurutku aku malah jadi semakin masuk ke jurang gelap gulita kalau sampai terjun ke sana.

Aku jadi salfok ke ikat pinggang dengan huruf H yang ia kenakan. Tergoda buat nyolong terus kugadaikan, bisa beli mobil satu unit kayaknya. Duh, silau...

“Bapak kan tahu sendiri masa lalu saya, kalau senyum saya bisa bikin orang saling berseteru,”

“Lah, bukan gosip ya itu? Ancen nggilani... saya pikir si Trevor lebay, ancoook ancok hahaha. Webat iki. Wis lah, you ke tempat Meilinda aja ya, dia anti laki-laki tuh!”

“Siapa Pak?”

“Meilinda, Direktur Kepatuhan. Your Hereafter Boss,” Pak David menekan tombol di interkom, “Sek yo tak ngundang dek e,”

Dan beberapa saat kemudian, seorang wanita masuk ke ruangan Pak David.

Menatapku dari atas ke bawah dengan sinis.

“Ini temennya Trevor? Kok tidak meyakinkan...” begitu katanya.

Nggak meyakinkan gimana coba?!

“You coba dulu lah sebulan dua bulan kerja sama arek iki, Mel... gak ada lagi yang sanggup jadi karyawan di bawah you. Jangan nyinyir mulu lah iku lambemu koyok mercon. Wong lewat ae you bentak, si Sayrif cma nyapu doang kamu omeli, gaisak aku cari yang lain wis mendidih sirahku iki bolak-balik you ganti staff!” sepertinya Pak David sedang mengomel.

Sepertinya loh...

Tak yakin juga aku karena dari tadi dia bicara dengan bersemangat.

Sepertinya yang kutangkap, maksudnya itu, dia sudah tidak sanggup lagi mencari karyawan lain untuk Bu Meilinda karena berulang kali banyak staff yang mengundurkan diri. Sepertinya Bu Meilinda jenis Boss yang judes.

“Payah kamu David... ya sudahlah kuambil. Awas kalau tidak capable. Kupindahin kamu ke Pusat,”

“Eh sumpah kon? Cok nggilani ngono iku! Ogah aku pigi pusat! Madesu!” omel Pak David.

“Ikut saya!” sahut Bu Meilinda sambil melambaikan tangan sekilas padaku, memberi isyarat agar aku mengikutinya.

Seelah menunjukan ruanganku, dia lalu berujar padaku dengan nada sewot. “Kamu songong banget sih?”

“Songong, bu?” tanyaku tak mengerti. Karena perasaan aku dalam mode kalem dari tadi.

“Jangan cemberutin saya dong! Saya ini Boss kamu. Ramah sedikit kenapa sih? Kalau bukan karena Trevor sudah saya tendang kamu keluar gedung!”

Cemberut katanya.

Sudah lama aku tidak tersenyum, karena rasa trauma.

Sejak saat itu datang, aku mengubah sikapku terhadap orang lain. Jarang tersenyum, malah bisa dibilang aku takut tersenyum. Bukan berarti aku cemberut terus, hanya jarang saja menarik sudut-sudut bibirku membentuk lekukan. Takutnya pada salah paham lagi.

Aku juga jadi lebih lugas bicara, mulutku mulai belajar kalau setiap masalah tidak selesai hanya dengan diam. Tapi bukan berarti ‘diam’ itu tak diperlukan. Diam di saat tepat lebih penting, dan ‘Silence’ belum tentu Golden’.

Tapi mulutku mulai membuat masalah saat meeting pertamaku.

Ada sebuah kebijakan Bank yang tidak sesuai dengan Audit. Dan saat itu Bu Meilinda adalah pengusulnya.

Terpopuler

Comments

eka wati

eka wati

mantap sekali bilangnya loh 😅

2024-12-28

0

Rakmad Atika

Rakmad Atika

warengnya putri gandes

2024-04-20

0

Naftali Hanania

Naftali Hanania

jd mbayangin muka pak alex yg ganteng cindo trus ngomong bahasa campur²....seru kayane urip e...😁✌️
sama bu mel lambe mercon...diluk² njebluk....🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2024-03-20

0

lihat semua
Episodes
1 Awal Kisahku
2 Dirinya
3 Masa Laluku (1 of 2)
4 Masa Laluku (2 of 2)
5 Awal Dia Benci AKu
6 Teman-Temanku
7 Duo Gahar
8 Tim IT
9 Sarang Miss.K
10 Pawang
11 Persiapan Ke Villa Angker (1 of 2)
12 Persiapan ke Villa Angker (2 of 2)
13 Putri
14 Kok jadi serem, sih?
15 Kenyataan Yang Lucu
16 Tantangan Untuk Gerald
17 Si MMM
18 Pulang Ah
19 Jual Sampah
20 Kerja Lagi
21 Kartu AS
22 Sabtu Bersama Teman Lucknutku
23 Fraud
24 Meeting
25 Reflek Kepeluk
26 Makan, Boss
27 Tembak
28 Antar Jemput
29 Legend
30 Pagi-Pagi Heboh AJe
31 Suasana Romantis
32 Investigasi Sampah
33 Paket Bulan Madu
34 Lobby Keramat
35 Milik Saya
36 Masa Romantis
37 Lembang Astaganaga
38 Pria pertama
39 Nasi uduk dan Raja Diraja
40 Main Kartu Malam-Malam
41 Fanatik
42 Si Gio Bikin Masalah Aje
43 Eagle One Coming
44 Cinta Dalam Kesulitan
45 Kantor Pusat
46 Pemecatan Gio
47 Heboh lah
48 Selena
49 Provocative Woman
50 Hangover
51 Loyalitas
52 Ngebahas Ruangan
53 Buaya
54 Dijemput Bram
55 Dibalik Layar
56 eps 56
57 Cieee Pacar Cieee
58 Cieee Dilamar Cieee
59 Battle Rap
60 King Of Vampire
61 Obrolan Meja Makan
62 Masalah Jodoh-Jodohan
63 Bram dan Pak Farid
64 Lamaran Diterima
65 Kumpulan Singa Betina
66 Pawangnya Muncul
67 Cuti Ah
68 Ini Bab Malesin
69 Dua Anak Baru
70 Pergi Bersama Sena
71 Girls Time
72 Gosip Bapak-Bapak
73 Balada Ari Sangaji
74 Gengsi Pembawa Siksa
75 Stephen dan Andrew
76 Selena Panik
77 Meeting Bersama Sarah
78 Ciwi-Ciwi Pada Datang lagi
79 Tenang juga si Ciwi
80 Kisah Cinta Si Daniel
81 Tim SAM
82 Masalah Golok
83 Karyawan Baru Garnet Property
84 Rencana Mindblowing Selena
85 Berkunjung ke Rumah Gio
86 Yang Terjadi Sebenarnya
87 Meilinda Panik, Tapi semua TIDACK
88 Baca Habis Berbuka aja, Ya...
89 Kerja lagi ah...
90 Pertanyaan Bertubi-tubi
91 The Puppy and The Vampire
92 Camer yang Menyamar
93 Adegan Yang Ditunggu Jeng-Diajeng sekalian
94 Ibuku Ngamuk
95 Tongkat Golf Misterius
96 Aku Kaget Loooh
97 Kantornya Trevor
98 Zeus Naik Jazz
99 Masalah Kredit
100 Ayu si manis
101 Galau Nggak Jelas
102 Lagi-lagi Berdebat
103 Hadiah Ultah Meilinda
104 Creambath pake siput
105 Nomor Telepon Mas Bram
106 Meeting Malam-Malam
107 Eeees Eeees
108 Dia Yang Diserang, Kita Yang Senang
109 Nikah Woy!! (1)
110 Nikah Woy! (2)
111 Nikah Woy! (3)
112 Nikah Woy! (4)
113 Hari Apa Sih Ini?
114 Ketemu Lexy Lagiiii
115 Meilinda Galau (Lagi)
116 Episode Basa-Basi
117 Ipar Nggak Ada Akhlak
118 Mengharukaaaan
119 Vila Vampir (1)
120 Vila Vampir (2)
121 Vila Vampir (3)
122 Vila Vampir (4)
123 Vila Vampir (5)
124 Vila Vampir (6)
125 Vila Vampir (7)
126 Cooking Time With Dimas
127 Pintu Theater Ditutup
Episodes

Updated 127 Episodes

1
Awal Kisahku
2
Dirinya
3
Masa Laluku (1 of 2)
4
Masa Laluku (2 of 2)
5
Awal Dia Benci AKu
6
Teman-Temanku
7
Duo Gahar
8
Tim IT
9
Sarang Miss.K
10
Pawang
11
Persiapan Ke Villa Angker (1 of 2)
12
Persiapan ke Villa Angker (2 of 2)
13
Putri
14
Kok jadi serem, sih?
15
Kenyataan Yang Lucu
16
Tantangan Untuk Gerald
17
Si MMM
18
Pulang Ah
19
Jual Sampah
20
Kerja Lagi
21
Kartu AS
22
Sabtu Bersama Teman Lucknutku
23
Fraud
24
Meeting
25
Reflek Kepeluk
26
Makan, Boss
27
Tembak
28
Antar Jemput
29
Legend
30
Pagi-Pagi Heboh AJe
31
Suasana Romantis
32
Investigasi Sampah
33
Paket Bulan Madu
34
Lobby Keramat
35
Milik Saya
36
Masa Romantis
37
Lembang Astaganaga
38
Pria pertama
39
Nasi uduk dan Raja Diraja
40
Main Kartu Malam-Malam
41
Fanatik
42
Si Gio Bikin Masalah Aje
43
Eagle One Coming
44
Cinta Dalam Kesulitan
45
Kantor Pusat
46
Pemecatan Gio
47
Heboh lah
48
Selena
49
Provocative Woman
50
Hangover
51
Loyalitas
52
Ngebahas Ruangan
53
Buaya
54
Dijemput Bram
55
Dibalik Layar
56
eps 56
57
Cieee Pacar Cieee
58
Cieee Dilamar Cieee
59
Battle Rap
60
King Of Vampire
61
Obrolan Meja Makan
62
Masalah Jodoh-Jodohan
63
Bram dan Pak Farid
64
Lamaran Diterima
65
Kumpulan Singa Betina
66
Pawangnya Muncul
67
Cuti Ah
68
Ini Bab Malesin
69
Dua Anak Baru
70
Pergi Bersama Sena
71
Girls Time
72
Gosip Bapak-Bapak
73
Balada Ari Sangaji
74
Gengsi Pembawa Siksa
75
Stephen dan Andrew
76
Selena Panik
77
Meeting Bersama Sarah
78
Ciwi-Ciwi Pada Datang lagi
79
Tenang juga si Ciwi
80
Kisah Cinta Si Daniel
81
Tim SAM
82
Masalah Golok
83
Karyawan Baru Garnet Property
84
Rencana Mindblowing Selena
85
Berkunjung ke Rumah Gio
86
Yang Terjadi Sebenarnya
87
Meilinda Panik, Tapi semua TIDACK
88
Baca Habis Berbuka aja, Ya...
89
Kerja lagi ah...
90
Pertanyaan Bertubi-tubi
91
The Puppy and The Vampire
92
Camer yang Menyamar
93
Adegan Yang Ditunggu Jeng-Diajeng sekalian
94
Ibuku Ngamuk
95
Tongkat Golf Misterius
96
Aku Kaget Loooh
97
Kantornya Trevor
98
Zeus Naik Jazz
99
Masalah Kredit
100
Ayu si manis
101
Galau Nggak Jelas
102
Lagi-lagi Berdebat
103
Hadiah Ultah Meilinda
104
Creambath pake siput
105
Nomor Telepon Mas Bram
106
Meeting Malam-Malam
107
Eeees Eeees
108
Dia Yang Diserang, Kita Yang Senang
109
Nikah Woy!! (1)
110
Nikah Woy! (2)
111
Nikah Woy! (3)
112
Nikah Woy! (4)
113
Hari Apa Sih Ini?
114
Ketemu Lexy Lagiiii
115
Meilinda Galau (Lagi)
116
Episode Basa-Basi
117
Ipar Nggak Ada Akhlak
118
Mengharukaaaan
119
Vila Vampir (1)
120
Vila Vampir (2)
121
Vila Vampir (3)
122
Vila Vampir (4)
123
Vila Vampir (5)
124
Vila Vampir (6)
125
Vila Vampir (7)
126
Cooking Time With Dimas
127
Pintu Theater Ditutup

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!