Kasus menjadi agak jelas.

"Om Robi..aku seneng sekali temenin om Robi..suaranya keren!" ucap Lily seorang gadis cantik dipelukan Robi.

"Hehe..kamu suka ya? ayok aku pesen satu botol whiskey lagi..biar nyaring suaraku"

"Om banyak duitnya deh"

"Haha..aku memang banyak duitnya! aku bisa kasih kamu wang kalo mau hmm" Dengan bangganya Robi memperlihatkan dompetnya yang tebal penuh dengan wang tunai. Membuat mata Lily terbelalak, segepok wang 100ribuan menebal didompetnya.

Saking girangnya Robi kadar alkohol sudah meninggi dan segala ucapannya mulai melebar hingga masalah pembunuhan yang ia lakukan kepada Utha.

"Hah? bener Om? Om pukul mati seseorang?"

"Iyalah..buat apa aku seorang Karateka kalau aku tidak bisa menaklukan seseorang? hehe.." Tanpa sadar ia telah mengoceh ga karuan.

Setelah satu jam Robi disana, Lily merasa ada yang tidak beres dengan tamunya. Robi mulai main kasar. Ia memaksa mencium, memeluk dan menggrayangi tubuh Lily.

Pada saat ada kesempatan Lily keluar dan melaporkan kepada sekuriti Karaoke. Kecurigaan bapak sekuriti naik ketika Robi dengan gaya angkuhnya menantang sekuriti untuk duel karena ketika itu pihak sekuriti meminta Robi untuk pulang karena ia telah mabuk berat.

Alhasil sekuriti harus meminta bantuan polisi untuk datang. Disitulah Robi diciduk polisi dan digelandang kekantor polisi.

...○○○○...

"Pak Daren..ada berita bagus!" ucap seorang petugas polisi ketika menelpon Daren.

"Apa itu pak?"

"Polsek Jakarta Timur telah menangkap seorang laki laki karena dia mabuk..orang ini cerita bahwa dia sudah membunuh seseorang diMalang, Jawa Timur"

"Oh ya? siapa namanya?"

"Namanya Robi dan hebatnya dia teman dekat ibu Luna yang sudah ada ditahanan..mungkin pak Daren perlu keJakarta untuk melakukan penelusuran..Robi ini terkenal sebagai juara Karate diMalang!"

"Waah..oke saya kesana hari ini!" Daren sangat senang mendengar berita itu, ia langsung berangkat hari itu juga keJakarta setelah memberikan laporan kepada pak Roni bosnya.

"Hmm..kita sudah punya Luna dan kini tertangkap Robi tukang pukulnya, kamu juga punya perasaan tidak bagus kepada pak Wir..paling tidak, pemukul korban hingga meninggal sudah tertangkap bagus! berangkat sekarang keJakarta"

...○○○○...

Benar saja, di kantor polisi Jakarta Timur Daren mendapatkan seluruh cerita secara komplit dari Robi bahwa ia diberikan wang oleh Luna untuk membunuh Utha malam itu. Ia sendiri berhasil masuk keacara pesta karena diundang Utha.

Hari itu juga Luna dijadikan tersangka..Namun pada waktu diadakan wawancara, Robi juga cerita bahwa setelah ia melakukan pemukulan didalam kamar tidur Utha ia sempat melihat seorang gadis muda yang keluar dari kamar tidur Utha.

"Apa yang anda perhatikan dari gadis itu? ini penting untuk saya ketahui..apabila ada lagi pembunuh lainnya kemungkinan anda akan mendapatkan keringanan"

"Ya saya ga tau dengan jelas, karena tugas saya harus saya selesaikan dengan cepat..tapi saya ingat dia membawa sebuah tas kecil"

"Kalau saya bawa gadis itu kesini..kira kira anda ingat wajahnya?"

"Bisa..saya masih ingat soalnya dia cantik sekali"

"Oke beres..akan saya bawa dia kesini"

Hari itu juga Daren kembali keMalang..ini harapan lain bagi dirinya untuk mendapatkan actor lainnya.

"Pak Lukas..saya akan kembali sekarang keMalang..ada kemajuan yang bagus! Jakarta sudah mendapatkan salah satu pembunuh tapi dia juga ingat ada seorang lagi yang keluar dari kamar malam itu"

"Wah bagus pak!"

"Nah disana ada bapak Wir pembantu rumah tangga yang sedang diinterogasi, kemungkinan anak perempuannya akan datang menjenguk..tahan gadis itu"

"Oh gitu pak? ini orangnya kebetulan ada disini sedang menjenguk bapaknya..gimana saya tahan sekarang?"

"Tahan oak..jangan sampai dia pergi..tunggu saya, mungkin akan saya bawa keJakarta wanita itu"

"Siap pak..oke saya tahan sekarang, itu dia mau pulang"

"Cepat pak sebelum terlambat!"

Hari itu juga Daren kembali berangkat keMalang, perutnya sudah berbunyi. Ia sudah lapar sekali, tapi ia tahan dulu..ini kesempatan emas bagi kasusnya yang ribet ini.

...○○○○...

"Pak..aku mau pulang dulu mau liat Dimas dirumah, bapak tenang tenang saja disini..jangan kuatir ya pak" ucap Widia kepada bapaknya.

Baru saja ia hendak membuka pintu kantor polisi untuk melangkahkan kakinya keluar. Lukas menghampiri Widia dan mengatakan bahwa ada berita baru dan ia hendak mengajukan pertanyaan.

Widia kaget atas permintaan itu..

"Apakah akan lama bapak? tanya Widia kaget.

"Sebaiknya anda tetap disini karena ada beberapa pertanyaan yang akan kami ajukan"

Seorang petugas polisi langsung menggiring Widia kedalam kamar interogasi.

"Halo yu..tolong jagain Dimas sebentar soalnya polisi sekarang menahan saya juga, mereka mau menanyakan beberapa hal"

"Loh? oalah..ya ga apa apa, Dimas juga tidur ko, tenang saja"

"Njjih suwun Yu"

Kini giliran Widia yang agak gemeteran..ia kaget ketika polisi mengatakan bahwa mereka akan menanyakan sesuatu..dari sudut mana mereka bisa mendeteksi?

...○○○○...

"Mau diambilkan minuman dingin?" ucap Lukas kepada Widia.

"Hmm boleh pak..yang anget saja"

"Baik..mba duduk disini dulu ya..kami sedang menunggu pak Daren datang, santai saja"

Widia bingung..Daren yang akan datang? pertanyaan apa yang akan ia ajukan?

Saat itu Daren sudah terbang keMalang, ia perkirakan dalam waktu 2 jam sudah akan berada diMalang lagi. Sepotong roti yang diberikan stewardess ia lahap dan air putih dibotol kecilpun ia habiskan tanpa sisa. Lumayan untuk mengganjel perutnya.

Daren melayangkan pikirannya kepada Robi..apakah yang ia maksud adalah putri dari pak Wir? Kalau memang betul itu..ini benar benar suatu pembunuhan yang dilakukan oleh beberapa orang. Tapi..apa hubungannya dengan Utha? Daren kembali ingat ketika pak Wir telepon kepada seseorang dipagi hari itu..apakah ia berbicara dengan anaknya atau kepada siapa? Bertubi tubi pertanyaan memenuhi pikirannya.

...○○○○...

"Mana orangnya?" tanya Daren ketika memasuki kantor polisi diMalang.

"Ada pak Daren..wah bolak balik ya pak? sudah makan belom?"

"Iya tidak apa apa..tolong saya dibelikan nasi padang bungkus saja..lapar sekali!. Oya pak Lukas tolong call travel ini minta 2 kursi keJakarta hari ini kira kira 2 jam lagi dari sekarang"

"Baik..saya belikan dan book tiket pesawatnya..berarti bapak dan siapa?"

"Saya dan wanita itu"

"Oh siap..segera pak"

Daren bergegas masuk kekamar interogasi. Disana ia berjumpa pertama kalinya dengan Widia. Kaget juga Daren melihat sosok Widia. Ia tidak menyangka putri pak Wir begitu cantik dan elegan..ia tidak seperti seorang anak pembantu rumah tangga..parasnya cantik, kulitnya putih rambutnya panjang sebahu bahkan wanita ini jauh lebih cantik dari Thea.

"Selamat siang..maaf harus menunggu lama, nama saya Daren saya penyidik dari bareskrim Surabaya khusus menangani kasus kematian bapak Utha Kaihulu" ucap Daren sambil memberikan jabatan tangan.

"Oh ya bapak saya Widia pak"

Daren mengambil tempat duduk tepat dihadapan Widia..ia menarik napas panjang, Daren membuka tas jinjing dan mengambil buku notanya.

"Widia..saya akan mengajukan beberapa pertanyaan, namun saya akan membawa anda keJakarta untuk pemeriksaan yang selanjutnya..apakah anda keberatan?"

"KeJakarta bapak? aduh saya punya anak bayi pak"

"Oh anda punya anak? dimana suami anda?"

Widia terdiam, ia kaget akan pertanyaan Daren yang tidak terduga duga itu.

"Saya tidak punya suami pak.."

"Baik..mungkin anda bisa mengontak siapapun yang menjaga anak anda sekarang..karena kemungkinan bisa sampai malam disana"

"Ya Allah.." bibir Widia bergetar...

...■■■■■...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!