"Silahkan duduk pak..mau saya ambilkan secangkir kopi cappuccino?"
"Terima kasih buk..saya baru saja minum kopi"
Daren mengambil pisisi duduk disofa kecil berukuran 2 seater, ia membetulkan letak pistol dipinggangnya yang membuat tidak nyaman.
Luna sempat melihat gagang pistol keluar dari balik jaket tipis Daren.
"Waduh kasian juga ya pak siUtha meninggal dunia, padahal belum lama ini kita sempet berbicara mengenai bisnis kelapa kita ini"
"Ibu tau dia meninggal karena beberapa serangan..ada karena dipatok ular ada juga karena gebukan dan ada juga karena disuntik mati..jadi semuanya bersatu dan bersamaan?"
"Oh saya pikir hanya digebuk?"
Nah, disitulah Daren menangkap sesuatu dari Luna..secara tidak sengaja ia memberikan jawabannya sendiri..yaitu, Saya pikir hanya digebuk..ko dia bisa langsung bilang begitu?
"Maksud ibu?"
"Oh tidak, saya pikir dia dibunuh karena dipukulin orang" terdengar suara Luna yang gugup, dia sadar dia telah salah bicara.
"Ibu Luna, sebelum saya masuk saya tadi melihat ada sebuah kendaraan Fortuner hitam dengan gambar logo sebuah ormas. Ibu kenal mereka?"
"Hmm ya kenal, mereka suka ngawal truk truk kita dari pelabuhan kenapa pak?"
"Masalahnya, kemaren malam ada 2 orang memakai kendaraan yang sama datang secara mengendap endap kevilla..waktu saya keluar dan teriak mereka lari..dan tadi ko mobil itu ada disini"
"Ah masa pak? mobilnya saja yang sama mungkin?" Suara Luna agak meninggi seakan dia mau membela anak buahnya.
"Ķemana mereka sekarang?"
"Mereka pergi kebeberapa toko untuk mengambil pembayaran"
Daren otomatis berpikir, perempuan ini gangster, dia memakai jasa ormas untuk memeras toko toko.
"Kapan mereka kembali?"
"Wah bisa nanti malam bisa besok pak" Kali ini suaranya seperti jengkel atas pertanyaan bertubi tubi dari Daren.
"Boleh saya minta nomor ponsel mereka?"
"Oh ya bisa..sebentar pak" Luna langsung membuka list nama dan menyerahkan 2 nomor ponsel.
"Buk..saya juga mau tanya..waktu kemaren pesta pa Utha kan ibu tidak diundang padahal ibu temannya..bagaimana perasaan ibu tentang itu?"
"Ya gimana ya..lucu aja kalo menurut saya soalnya saya tau pak Sumitro wakil dirjen saja diundang ko saya mitra dagangnya tidak? Tapi ya ga apa apalah anggap saja dia lupa hehe"
"Gitu ya..terus bagaimana dengan utangnya buk? sayang juga ya ga bisa kembali"
"Yah mau bilang gimana lagi..apa boleh buat, beliau sudah meninggal" wajahnya berubah sedikit Cerberus seperti agak kesal tapi ia mencoba menyembunyikannya dengan memberikan senyum kecil.
Daren berpikir ini sudah cukup untuk menjadikan Luna sebagai saksi dalam persidangan nanti. Ia sudah mengendus ada sesuatu dalam diri Luna.
Setelah beberapa percakapan Darenpun pulang dan mengatakan akan mencoba menghubungi rekan rekan ormas tadi.
...○○○○...
Setelah Daren keluar dari kantor Luna, wanita itu cepat cepat menghubungi rekan rekan ormas yang sedang berada disebuah toko.
"Darius! sebentar lagi ada polisi reserse akan menghubungi kalian..dia akan tanya tentang hal malam malam divilla itu. bilang saja bukan kalian, bilang mungkin sama mobilnya pokonya bikin alibi!"
"Oh oke siap!"
Luna berjalan hilir mudik didalam kamar kerjanya, ia mulai nervous, apakah mereka mempunyai CCTV divilla? Aduh kenapa aku ga periksa dulu..pikirnya.
...○○○○...
"Halo selamat sore, anda berbicara dengan AKBP Daren dari bareskrim Jawa Timur, bisa kita ngobrol sedikit?"
"Halo juga pak..ada yang bisa kami bantu pak?"
"Saya tadi dari kantornya bu Luna diSuropati, waktu saya mau kesana saya melihat mobil anda parkir dihalaman parkiran kantornya"
"Oh ya betul pak kami sering kesana memang"
"Bisa kita ketemu malam ini?"
"Hmm gimana ya pak kami sedang bekerja"
"Terserah anda saja..mau sekarang atau nanti dikantor polisi..sama saja, terserah anda"
"Oh bisa pak kapan bapak mau ketemu dan dimana?" Jawabnya dengan suara gugup. Ia mending ketemu sekarang daripada dijemput pihak kepolisian.
"Oke ketemu saya jam 8 malam nanti di Cafe Burito diDekat PIM Pondok Indah"
"Siap bapak kami akan kesana jam 8"
Daren sudah menduga koboi koboi picisan macam mereka akan gemeteran menghadapi polisi, apalagi dari bareskrim.
Sambil menunggu datangnya malam Daren mampir kesebuah warung bakso dan santai sejenak disana.
...○○○○...
Sebelum datang waktu jam 8 Daren sudah duduk didalam Cafe Burito, ia memesan secangkir kopi hitam. Ia punya perasaan akan panjang pembicaraan malam ini, mereka adalah satu satunya yang mungkin bisa membuka tabir misteri pembunuhan ini.
Jam 8 tepat Daren melihat 2 orang berbadan tegap dengan rambut bergelombang agak panjang. Muka mereka seram seperti tukang pukul. Daren tersenyum melihat gaya mereka.
Daren mengangkat satu tangan memberi isyarat dan keduanya berjalankearah meja Daren.
"Silahkan duduk" ucap Daren tanpa senyum.
Keduanya terdiam hanya menatap lurus kearah Daren yang tenang sambil memutar mutar sendok didalam cangkirnya.
"Kita langsung saja ya..apa yang kalian akan lakukan divilla Seruni diMalang kemaren malam?"
"Maksud bapak bagaimana?"
"Sudahlah kita tidak usah bermain sandiwara..nomor plat mobil kalian sudah kita dapatkan, kalian pikir kalian dealing sama siapa ini?! Kita polisi dari Bareskrim kita punya semua peralatan dilaboratorium! mobil kalian sudah terekam di CCTV dan wajah kalian juga sudah terdeteksi" kata Daren berbohong..
Ia memainkan kartu turf yang gila gilaan, masalahnya dia sendiri ga yakin apakah orang orang ini yang mendatangi villa atau bukan..
Keduanya tampak gelisah, mereka tau kalau mereka berurusan dengan bareskrim alamatnya ending yang tidak bagus.
"Bapak jangan asal menuduh..kami juga punya backing dipolisi..masalahnya kalau bapak salah bidik kan berabe..backing kami jendral polisi semua pak!" Salah satunya mencoba menggoyah Daren dengan memberikan gertakan maut.
"Sekali lagi saya katakan,jangan bermain sandiwara! jangan main api! Saya ditugaskan Kapolda Jawa Timur dan anda tau bahwa adik Kapolda Jawa Timur adalah kepala Propam, Jendral apapun selama itu jendral polisi tunduk sama Propam! Jadi jangan sok bawa bawa jendral polisi disini! Ngerti kalian! Saya tanya lagi maksud apa kalian kevilla?" Daren memainkan kartu turf terahir.
Mereka diam sejenak, salah satunya mengambil ponsel hendak mengontak seseorang.
"Jangan sampe salah langkah..kalau salah langkah penjara panjang menanti kalian! Katakan sejujurnya agar saya bisa membantu kalian..tugas kalian hanya menyatakan kepada saya kenapa malam malam datang kevilla dan atas suruhan siapa? gampang kan?"
Keduanya menunduk dan tidak jadi mengontak seseorang, ponsel ditaro kembali dimeja.
"Oke pak, akan saya ceritakan..tapi kita tidak mau diikutkan dalam permasalahn ini"
"Ya semua tergantung cerita kalian..kunci ada ditangan saya, kalau saya bilang kalian tidak ikut dalam masalah ini maka kalian tidak ikut tapi, kalau saya pikir kalian ikut serta ya apa boleh buat..tapi setidaknya kalau kalian cerita maka saya akan mempertimbangkan semuanya"
"Jadi kami ini ditugaskan oleh bu Luna untuk menculik ibu Thea. Tugas kami hanya itu, setelah kami culik selanjutnya akan dibawa keJakarta kesebuah rumah..itu saja tugas kami..lainnya kami tidak tau"
"Hmm..serem ya" ucap Daren sambil tersenyum. Jackpot!! panah Daren tepat pada sasaran.
...■■■■■...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments