Pak Wir duduk termenung dimeja makan dihadapan putrinya yang bernama Widia. Dikala waktu kosong inilah mereka ahirnya bisa bertemu kembali semenjak kematian Utha.
Pemicu kejadian divilla Seruni adalah 2 bulan yang lalu ketika Widia menelpon Utha untuk menagih janjinya yang katanya Utha bersedia menikahkan Widia secara nikah siri demi kelanjutan anak laki laki mereka berdua yang dinamakan Dimas Kaiwidi.
"Widia sayang, setelah aku pikir panjang dan dalam dalam dengan sangat terpaksa aku harus membatalkan pernikahan kita..aku mohon maaf sedalamnya" Itulah jawaban terahir atas keputusannya.
"Tapi mas Utha..anak kita sudah lahir bagaimana masa depannya? Apa yang akan aku kasih tau kepadanya kelak apabila dia menanyakan dimana ayahnya?"
"Aku terpaksa harus melepaskan dirimu sayang, entah suatu saat nanti kita akan bertemu dan berdampingan lagi..siapa tau Tuhan memberikan jalan untuk kita..saat ini aku harus mengundurkan diri demi untuk semuanya..aku akan transfer wang secukupnya untuk bekal kamu dan anak kita..mohon maaf"
"Aku tidak butuh wangmu..akupun masih bisa cari sendiri tapi, kenapa kamu membatalkan perjanjianmu? Apakah kamu tidak memikirkan keadaanku? Aku persembahkan seluruh cintaku kepadamu mas.."
"Sudahlah..ahiri saja semua ini..aku tidak pantas bersanding denganmu.."
"Mas..maas!"
Klik..hubungan telepon dimatikan Utha.
Sudah berkali kali ia mencoba mengontak tapi tidak pernah sekalipun diangkat. Widia kemudian konsultasi dengan sang ayah, pak Wir. Laki laki tua itu kaget atas keputusan Uthan namun ia juga sangat jengkel sudah berapa bulan ia tidak pernah mendapatkan gajih dari Utha.
Disatu malam 2 minggu yang lalu pak Wir memanggil Widia kevilla..
"Bapak dapat kabar dari pak Utha bahwa akan ada sebuah pesta divilla..pesta anniversary pak Utha dan bu Thea" ucap pak Wir dengan suara geram.
"Ini sudah kelewatan pak, dia batalkan perkawinanku dan sekarang dia akan merayakan anniversarynya disini..Ya divilla ini dimana dulu ia telah merenggut kegadisanku..satu penghinaan yang luar biasa!" jawab Widia dengan gemas dan amarah yang meluap.
"Aku ingin melenyapkan dia dari muka bumi ini.." ujar pak Wir dengan suara dingin.
"Sayapun demikian..ia telah menodai aku dan ia tidak mau bertanggung jawab! pak, aku siap membunuhnya pada malam pesta itu"
"Bagaimana caranya? pasti banyak orang malam itu"
"4 bulan yang lalu mas Raka menghadiahkan aku seekor ular weling..waktu itu ular itu sakit cedera kena tusukan paku..aku merawatnya hingga sembuh..ga tau gimana ular itu kini sangat jinak. Aku akan bawa dimalam pesta"
"Tapi kamu tidak diundang bagaimana bisa masuk kesini? Dan malam itu ada banyak tamu dan ada bu Thea juga?"
"Bapak tidak usah kawatir Widia akan masuk kesini tanpa ada yang tau"
"Hmm..bapak ga yakin nak.."
"Bapak bekerja saja seperti biasa, tapi kalau ada kesempatan bapak taburkan ini digelas minumnya selebihnya saya yang lakukan" Widia mengeluarkan sebuah plastik kecil yang berisi bubuk berwarna putih. Sekilas bubuk itu mirip gula pasir.
Pak Wir menerima plastik itu, ia bingung dari mana anaknya mendapatkan.
"Sudahlah pak, pokonya ada kesempatan bapak masukan kedalam minumannya..ia akan larut dalam sekejap"
...○○○○...
Malam itu pesta anniversary Utha begitu meriah, kondisi villa yang sunyi telah berubah menjadi ramai. Pihak catering sudah datang dan mempersiapkan makanan dan minuman. Lampu lampu gemerlapan dipasang dihalaman parkir villa yang cukup luas.
Satu persatu tamu berdatangan, Utha nampak berbahagia sekali. Minuman soda dan yang beralkohol mengalir bak air sungai semua berpesta ria diiringi musik yang dimainkan dari perangkat hifi.
Ditengah tengah hiruk pikuk Widia menyelinap diantara kendaraan. Matanya menatap kearah beberapa CCTV diluar pekarangan. Ia berhenti disamping mobil tua bapaknya dan mengambil sepasang sepatu hak tinggi, ia memakainya dan mengambil sebatang rokok. Widia mengikat rambut panjang dan memasukannya kedalam topi baseballnya.
"Dia harus mati malam ini..belang tunggu aku disini ya" tangannya mengelus sebuah tas kecil dijok belakang.
Ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi, sebagian tamu terlihat sudah meninggalkan villa tinggal sisa sepuluh kendaraan lagi.
Ketika waktunya sudah tiba dengan langkah kalem ia berjalan kearah samping rumah, topi hitam itu ia turunkan sehingga wajahnya tidak terlihat dan menyalakan sebatang rokok.
Sebuah pesan whatsapp muncul diponselnya, "Wid..bapak sudah masukan bubuk keliatannya dia sudah mulai mabuk sekarang keliatannya akan masuk kekamar tidur"
Widia berjalan kearah kendaraan ayahnya dan mengambil tas kecil berisi ular kesayangannya. Ia berjalan masuk lewat pintu samping, Widia bertemu dan berpapasan dengan beberapa crew catering yang sibuk membereskan piring dan meja makanan.
Tamu banyak yang tidak sadar ketika ia melewati mereka sembari sesekali melempatkan senyumnya..ia melihat Utha terhuyung huyung masuk kekamarnya. Widia mengikuti dengan cepat, pak Wir memperhatikan dari jauh gerak gerik Widia.
Pak Wir melihat ibu Thea masih sibuk menjamu sisa tamu tapi ia melihat beberapa tamu juga memperhatikan gerakan pak Utha..siapakah mereka?
Widia berhasil mengikuti langkah Utha dan ketika Utha sempoyongan masuk kekamar tidurnya Widiapun masuk.
"Mas Utha.." bisik Widia yang sudah berdiri dibelakangnya.
Utha kaget mendengar suara itu, ia menoleh sekaligus memutar tubuhnya. Utha kaget melihat Widia berdiri didekatnya ditangan kanan ia melihat seekor ular meliukkan kepalanya, Ia merasakan seperti 2 jarum menusuk kedadanya, ia tidak pernah merasakan kesakitan yang amat sangat, rasanya bagaikan sebuah palu godam menghantam jantungnya.
Setelah melihat Utha jatuh kelantai Widia memasukan ular weling kedalam sarung tas dan bergegas keluar kamar. Sebelum ia keluar Widia dikagetkan dengan adanya suara jendela kamar dibuka dari luar. Dengan cepat ia bergerak.
Widia sempat melihat bapaknya berdiri dipojok ruangan atas, tanpa basa basi Widia turun tangga dan keluar lagi lewat pintu samping.
Rencana berhasil dengan sempurna.
...○○○○...
"Yang bapak bingungkan itu..kenapa dia mati bukan saja dari patokan ular rapi juga ada suntikan dan pukulan..itu kata polisi"
"Ya waktu setelah kejadian Widia sempet melihat jendela kamar dibuka orang dari luar..pasti orang itulah yang juga ikut membunuh Utha"
"Sebaiknya kamu singkirkan ularmu dulu..atau kau lepaskan lagi dia dialam..takutnya kalau polisi periska bapak dan juga periksa kamu..barang bukti ular tidak akan ditemukan"
"Gampang bapak..itu urusanku mengamankan semuanya"
"Oh ya kemaren bu Thea menyerahkan gajih bapak yang selama ini tidak diberikan..bu Thea itu baik sekali orangnya. Semoga dia tabah atas semuanya"
"Ya sudah pak..saya pulang dulu, takut mereka kembali"
"Baik nak..Salam cium untuk Dimas ya"
"Pak..CCTV nyala tidak?"
"Ndak..sudah saya matikan dari pagi tadi..aman"
Widia berjalan melewati kamar tidur pembantu..ia melirik kekamar itu..disanalah segala kenangan terkubur dengan sia sia..
...■■■■■...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments
aas
bukan karena sakit ternyata berenti kerja yaa. hamil anaknya Utha 😩
2025-02-13
0