Rencana besar yang gagal.

Tomi mendekat kearah temannya, ia membungkuk..

"Heh..gimana bisa berdiri?" Tomi merunduk mengangkat tubuh temannya yang terkulai ditanah.

Sementara itu seorang laki laki yang berada didalam kendaraan melihat kejadian tembak menembak sudah mulai menyalakan mesin kendaraan.

Keadian begitu cepat dan ia tidak berani melakukan apa apa..gigi satu ia masukan dan langsung melarikan mobil keluar dari perumahan itu. Tujuannya bandara udara Malang.

...○○○○...

Tidak lama sebuah sebuah mobil polisi datang kelokasi, suara sirine mengaung ngaung keras.

4 anggota polisi keluar dengan pistol dan laras panjang mengarah kedalam rumah.

Daren terus mendekat sambil mengacungkan pistol, ia melihat laki laki itu sudah tidak berdaya namun masih bernafas.

"Tomi! masuk!!" teriaknya.

Tomi dibantu beberapa polisi menggotong polisi yang terluka. Ia langsung berlati maduk kedalam rumah. Ia menjumpai Daren yang jongkok disamping seorang laki laki yang terlentang bersimbah darah.

"Siapa kamu?!" Teriak Daren.

Laki laki itu terlihat lemah, darah keluar dari dalam mulutnya.

"Tomi bawa turun ibu Thea..bawa dia kesini cepat!" teriak Daren memberi arahan.

Tomi langsung berlari kearah mobilnya..saat itu Thea sudah berdiri disamping bersama seorang polisi.

Tempat itu sekarang menjadi ramai, banyak sekali penduduk setempat keluar menyaksikan peristiwa yang terjadi.

"Rampok atau apa sih?!" tanya seorang bapak tua.

"Emboh..aku juga ɓaru keluar..Lha itu polisinya banyak banget!" jawab seorang ibu ibu tua.

Para anggota polisi yang baru saja datang memerintahkan semua orang mundur dan tidak mendekat. Sementara seorang polisi mengontak ambulan untuk datang kelokasi secepatnya.

"Mundur mundur! Jangan terlalu dekat!" teriak seorang polisi kearah warga yang mulai berkerumun.

...○○○○...

Thea memasuki rumah dan melihat Daren jongkok dekat John yang tergeletak bersimbah darah.

"Buk! Ya ampun..Alhamdulillah selamat!" teriak Daren sambil tersenyum.

Thea menundukkan kepalanya dan tersenyum. Ia gembira melihat sosok Daren disana.

"Ibu bisa kesini?" tanya Daren, pistol ia amankan dan selipkan kepinggang.

"Ini orangnya yang menculik?" tanya Daren lagi.

Thea melihat sekilas dan menganggukan kepala..ia tidak kuat melihat begitu banyak darah keluar dari wajah dan dada laki laki itu. Rupanya apa yang ia lakukan tadi kepada John laki laki itu merupakan sebuah tindakan yang diluar nalarnya. Ko bisa berani begitu apa yang ia lakukan?

"Ya betul dia, tapi dia punya bos..katanya mau kesini..seinget saya dia nanti ditemani seorang kawannya disuruh membakar habis villa Seruni"

"Ibu dengar tidak siapa bosnya?"

"Dia tidak ngomong apa atau siapa bos itu tapi orang ini manggil nya bos"

Daren melihat kearah orang yang sekarat itu..ia menundukkan kepala dan berbisik..

"Hei..siapa bosmu?"

Baru saja Daren bertanya, ia menghembuskan nafas terahir.

Daren memegang urat nadi keleher orang itu dan kemudian menempelkan telunjuk jari kedepan hidungnya.

"Sayang sekali..pak ambulan masih jauh?" tanya Daren kepada seorang anggota polisi.

"Sebentar lagi katanya pak"

"Sayang..dia sudah mati" gumam Daren.

"Ayok bu Thea kita kemobil, auranya jelek disini..ibu terluka?"

"Tidak pak..hanya sedikit lecture dipergelangan tangan..kenapa jadi gini ya pak? ko banyak sekali musihnya Utha sampai sampai villa mau dibakar!"

"Itulah buk..saya juga ga ngerti. pak Utha ini ternyata memang banyak utangnya..diJakarta saya baru saja hari ini menahan ibu Luna"

"Oh ya Luna ditangkap? Sebabnya pak?"

"Panjang ceritanya..bagaimana kalau kita kevilla saja sekarang..saya akan ceritakan tentang wanita itu" Daren keluar rumah itu diikuti oleh Thea.

"Pak..saya akan kevilla diBatu..nanti setelah dari sana saya akan buat laporan di polsek" ucap Daren kepada seorang petugas.

Ia juga minta diantarkan seorang anggota polisi kembali ke villa.

...○○○○...

Sesampainya mereka divilla, didepan pekarangan mereka melihat sebuah kendaraan polisi terparkir dan 2 petugas terlihat sedang santai didalamnya.

Daren turun dari mobil mendekati mobil patroli polisi yang terparkir.

"Halo bapak bapak..saya Daren dari Bareskrim Surabaya. Saya yang minta pengawalan tadi, terima kasih sudah menjaga villa..kami sudah disini sekarang, bapak bapak silahkan kembali keposnya"

"Siap pak kami kembali" Sambil tersenyum ke 2 anggota polisi itu mohon ijin dan merekapun kembali pulang.

Pak Wir tergopoh gopoh berlari membukakan pintu gerbang menyambut Thea yang terluhat letih dan lusuh.

"Ya Allah buk! gimana ini ko bisa sampe begini?"

"Pak Wir..sukur saya selamat pak..ayok pak kita semua masuk"

Perasaan pak Wir gembira sekali melihat kembalinya sang majikan. Sebelumnya tadi ia telah menerima telepon dari Daren bahwa ibu Thea telah selamat dari cengkraman maut dan menuju pulang kevilla.

"Saya mau mandi dulu bersih bersih, pak tolong buatkan kopi intuk pak Daren ya"

"Iya buk, saya juga sudah masakan sop ayam panas kesenangan ibuk..setelah mandi bisa menyantap"

"Oh terima kasih"

Daren melepaskan lelah dengan duduk dikursi teras belakang, ia mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.

...○○○○...

Disebuah tempat tidak jauh dari perumahan Sido Mukti seorang laki laki setengah umur mondar mandir didalam ruangan.

Sudah hampir setengah bungkus Gudang Garam filter ia habiskan, nafasnya naik turun. Ia ketakutan dan kebingungan. Rencana besarnya tidak jadi, orang kepercayaannya telah mati terbunuh polisi.

"Kadir! aku mau lari..rencana kita batalkan semua! kamu tidak usah terlihat panik santai saja..kalau sampe ditanya polisi bilang kamu tidak begitu kenal dengan Johni..ini wang untuk kamu..oke saya mau cabut dulu,jangan kontak aku ya"

"Baik bos! siapa yang akan urus hotel?"

"Aku sudah bilang ke bu Hartati bahwa saya akan cek up ke Singapur selama 1 bulan..jadi dia yang akan urus..kamu tidak usah mampir kehotel nanti jadi sasaran polisi "

"Siap!"

"Hadeh rencanaku menghabiskan keluarga itu batal! Sialan! "

...○○○○...

Setelah Thea mandi dan berganti baju, ia ikut duduk diteras.

"Ibu tidak makan dulu?"

"Saya males makan..maunya minum saja, rasanya tidak ingin makan. Kayanya masih trauma sama kejadian yang tadi..pak Daren jangan kemana mana ya tidur disini saja temani saya"

"Iya bu..saya akan disini, pikiran saya juga ga karuan memikirkan kasus ini..ko jadi serumit ini..kenapa pak Utha jadi punya banyak musuh? Ini satu kasus pelik yang pernah saya tangani..masalahnya banyak sekali orang yang ingin mencelakakan kalian"

"Saya juga berpikir..kenapa saya juga di ikut serta kan?"

Pak Wir datang membawa segelas air putih dingin untuk Thea. Ia juga ikut duduk dilantai teras bersama sama membahas masalah ini.

"Pak..waktu ibu pergi dan sebelum polisi datang, sebetulnya ada telepon masuk"

"Oh dari siapa katanya?"

"Dari pak Larso pak, tapi aneh..dia bilang, pak Wir dirumah ada siapa? Saya jawab ga ada siapa siapa pak cuma saya sendiri"

"Pak Larso? ngapain dia telepon kerumah? lagian pertanyaannya ko aneh?" kata Thea.

"Loh saya juga bingung..dia ko tanya ada siapa dirumah? Lagian kenapa tidak cari ibuk ya? aneh lho"

"Coba saya hubungi..pingin tau ada apa" kata Thea sambil memencet no ponsel pak Larso.

Beberapa kali telepon berdering tapi tidak ada yang jawab. Thea geleng geleng kepala..adanapa dengan orang ini, ko ga diangkat?

"Coba kita kontak besok pagi lagi" ujar Daren.

...■■■■■...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!