Ahirnya mobil ambulan berangkat meninggalkan area villa. Lukas tetap disana di villa membantu Daren dalam pemeriksaan tamu tamu yang ada, kini setelah dengan datangnya orang tua Utha menjadi kasus lebih menarik perhatiannya sebab sang mama nampak lebih tegar dari suaminya dan bahkan Daren melihat wanita tua itu agak acuh dengan kematian anaknya. Persis seperti apa yang ia tangkap perilaku Thea.
"Apakah bapak dan ibu akan tetap divilla atau akan mengikuti ambulan?" tanya Daren kepada kedua orang tua.
Thea memandang kepapa dan mamanya Utha. Mama tampak pastah saja tapi papanya berkata mereka akan ikuti ambulan.
"Kalau diijinkan pak Daren saya akan mengantarkan papa dan mama ke rumah sakit"
"Boleh..silahkan ikut orang tua korban mungkin mereka perlu bantuan dari bu Thea, toh..nanti apabila saya perlu sesuatu akan saya kabarkan"
"Pak Wir tolong bantu keperluan pak Daren ya" ucap Thea.
"Baik ibu..saya akan beri bantuan apapun"
Merekapun meninggalkan villa menggunakan kendaraan sang papa.
...○○○○...
"Pak Wir tolong panggilkan mba Rumi ya"
"Baik pak..sepertinya mba Rumi juga sudah menunggu gilirannya"
Sambil menunggu kedatangan Rumi, iseng iseng ia masuk kekamar tidur Thea. Dan ternyata kamar tidur Thea sangat rapih seperti tidak ada bekas orang tidur. Ia melihat tempat tidurnya mulus sprei dan bantal bantal tertata rapih.
Ia menengok kesegala penjuru kamar, Semuanya bersih namun diatas meja disamping tempat tidur ia melihat sebuah buku kecil seperti buku harian.
Daren membuka satu persatu halaman buku dan benar saja, itu adalah buku harian Thea.
Didalam buku itu banyak sekali tulisan, ia langsung membuka halaman terahir. Terahir adalah 2 hari yang lalu berarti pas waktu acara anniversarynya akan dimulai.
Ia kaget melihat sederet nama nama, ada 3 nama yang ia lihat tertulis diantara 30 nama. Disana Daren melihat ada sebuah garis merah dibawah 2 dari 3 nama. Ada Nama Luna dan mami Jane. Dibawah nama itu tertulis: "Lebih baik kalian mati"
Hmm..apa maksudnya?
Daren menutup buku kecil itu dan ia tinggalkan disana diatas meja tadi dan keluar kamar menemui Rumi yang terlihat sudah masuk kekamar interogasi.
...○○○○...
"Selamat siang bu Rumi silahkan santai saja" ucap Daren.
"Iya bapak terima kasih" jawab Rumi sambil melepaskan senyum manis.
"Ibu Rumi..maaf boleh saya panggil mba Rumi saja? Soalnya masih muda, boleh?"
"Iya pak..saya juga grogi dipanggil ibu" lagi lagi ia tersenyum, kali ini ia melirik dengan oandangan genit.
"Oke mba, mba Rumi sudah kenal lama pak Utha?"
"Cukup lama pak, kami kenalan waktu ada pameran mobil diJakarta"
"Oh ya..dan malam ini diundang karena ada pesta anniversary bapak Utha dan ibu Thea betul?"
"Sebetulnya aku ga tau kalau ini pesta anniversary, beliau hanya bilang dateng kepestaku ya di villa Seruni..ya aku datang kan dia sahabatku"
"Mba Rumi kenal sama bu Thea?"
"Maaf saya baru saja kenal dipesta ini"
"Hmm gitu ya..terus bagaimana menurut mba Rumi atas kematian pak Utha?"
"Aduuh kasian lho! dia kan sahabatku banget..ko bisa mendadak meninggal ya, padahal tadi malam dia happy banget! bahkan kita sempet ngobrol katanya dia mau ajak aku keBali" ucapnya sedikit berbisik.
"Sama ibu Thea juga pastinya"
"Aduuh ga tau juga, mungkin juga ya"
"Terahir melihat pa Utha jam berapa?"
"Kalau tidak salah menjelang jam 11an pokonya ga malem malem banget..dia bilang agak pusing mau istirahat"
"Mba Rumi tinggal diJakarta?"
"Iya aku di Jakarta Selatan"
"Tadi malam mba Rumi pake celana panjang atau rok mini terus?"
"Oh rok mini ini saja pak..kenapa pak?"
"Tidak apa apa hanya menanyakan..udara disini agak dingin siapa tau ganti pake celana"
"Bu Thea tadi malam sih saya liat pake celana, kalo saya enakan pake mini hihihi"
"Bu Thea pake celana panjang? loh tapi ssaya pikir dia pake rok terus?"
"Mungkin ganti rok ya tadi malam sih seingetku pake celana"
"Oh oke iya betul juga mungkin kedinginan..ya sudah itu saja dulu dari saya, silahkan tunggu bersama lainnya ya mba..terima kasih untuk waktunya"
Ketika Rumi keluar, cepat cepat Daren mencari pak Wir.
"Pak..saya mau liat CCTV lagi"
"Oh ya pak..mari pak kita kekamar"
Rumi masuk kekamar tidurnya, ia langsung melipat celana panjang hitam yang ia gantung dan menyimpannya kedalam koper kecilnya.
Jantungnya berdegup kencang.
...○○○○...
Layar CCTV bagian dalam villa sekarang sudah bisa terlihat. Daren langsung mengarahkan icon dari jam 5 sore waktu kemaren sore.
Ia kaget melihat Thea menyambut para tamu mengenakan celana panjang. Ya ampun! apakah dia yang merunduk runduk disamping villa?
"Pak! liat di CCTV luar jam 5.30 terus sampe jam 7" kata Daren gugup.
Pak Wir duduk disamping Daren dan menekan jam 6. Ia melihat sosok yang dimaksud Daren sedang berdiri merokok.
"Sudah pak! bagaimana selanjutnya?"
Daren bergeser mendekat pak Wir, ia mencoba mencocokkan tinggi tubuh Thea dan sosok yang berdiri.
"Apakah sosok itu ibu Thea?" tanya Daren.
Pak Wir mengerutkan kening dan memandang kearah layar monitor.
"Kayanya bukan pak, lagian bu Thea tidak merokok pak! Dan pada jam jam itu ibu Thea terus merapat kesaya memberi petunjuk apa yang harus saya lakukan..Saya ragu sosok itu ibu Thea" Jawab pak Wir.
Daren bengong mendengar jawaban pak Wir, tapi kalau melihat tinggi badan Thea dan sosok itu memang mirip.
Siapa sih sosok itu? bikin penasaran saja..
Ia tidak berani mengutarakan kematian Utha kepada pak Wir bahwa mungkin Utha meninggal karena patukan ular. Ia harus berhati hati, semua yang ada divilla bisa menjadi tersangka meskipun semua mengatakan bahwa mereka tidak melihat kejadian yang sebenarnya.
...○○○○...
"Pak..ini Jiwo!"
"Oh ya ada berita?"
"Ini ko jadi semrawut dan mengerikan!"
"Maksudmu?"
"Coba dengerin ya pak..setelah diperiksa lebih dalam sama dokter Forensik..ditubuh korban selain ada racun ular berbisa tapi ada juga bekas suntikan dileher deket bawah kuping dan..setelah diperiksa ada ceceran sianida disitu!"
"Wow! berarti 2 kali dia dibunuh..apakah oleh seorang atau 2 orang?"
"Pak..ada lagi bukan itu saja"
"Maksudmu?"
"Diulu hati ada bekas tonjokan..tau ga pak..tonjokan ini sebuah pukulan telak dari seseorang yang sangat lihai dan pandai seperti jago silat atau karate gitu..yang tepat mengenai ulu hati..selain itu ada lagi memar dileher samping seperti pukulan Karate"
"Iih ngeri sekali !"
"Jadi kalau mau dihitung..ada patokan ular, ada suntikan racun, ada pukulan di ulu hati dan ada pukulan Karate dileher..semuanya 4 trauma! Saya jadi ga yakin hanya satu pembunuhnya..mungkin 2 atau 3 bahkan lebih dari itu pembunuhnya!"
"Kok bisa ya? Siapakah mereka dan apa tujuannya?"
"Bisa juga balas dendam atas kelakuannya dulu atau apalah...saya juga bingung"
"Hmm..baik pak Jiwo terima kasih update nya!"
Daren bingung kenapa dan alasan apa sampai ia dibunuh secara keji?..
...■■■■■...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments