Personal and menjadi pelik, siapakah para pembunuh ini? Kenapa ada keikut sertaan dengan ormas? Atau mereka membayar ormas untuk menculik Thea..masalah hutang piutang atau persaingan dagang?
"Pak Wir, kita sanggup membersihkan kabut dan menerangkan gambar video. Simpan video di flash disk saya mau kirim ke lab"
"Baik pak"
"Bu Thea..apakah pak Utha mempunyai hutang kepada seseorang?"
"Wah saya tidak tau ya..tapi memang dia beberapa kali bilang bahwa ada ketelatan pembayaran pengiriman minyak kelapa dari Kalimantan"
"Sama siapakah dia telat bayar?"
"Yang aku tau ya sama Luna dan ada juga ketelatan pembayaran sama pak Larso. Makanya pak Larso diundang kemaren itu supaya dia tenang tidak panik"
"Oh pak Larso pemilik hotel itu ya?"
"Ya pak"
Daren mencoba mengingat ingat tentang pak Larso..waktu dia ditanya sepertinya santai saja dan tidak ada tanda tanda sakit hati.
"Ibu punya nomor ponsel Luna?"
"Ada pak"
"Coba kasihkan saya, kita liat bagaimana besok kalau aku call, tanggapan dia bagaimana tentang utang Utha"
...○○○○...
Ditengah tengah kesibukan melihat kebersihan hotel dan persiapan atas kedatangan beberapa tamu yang akan cek in, dikamar kerjanya pak Larso menerima call dari Daren.
"Oh Halo pak Daren, bagaimana pak?"
"Pak Larso singkat saja dari saya, soalnya pasti pagi ini sedang sibuk..pak, saya dapat info bahwa pak Utha masih ada sangkutan utang ke bapak..apa betul itu?"
"Oh iya pak Daren..tapi ya sudahlah orangnya sudah meninggal biarkan itu menjadi kenangan saja"
"Jumlahnya besar pak?"
"Yah lumayan sih untuk pebisnis kaya saya yang ujurannya ga besar dan ga kecil juga hehe"
"Nominal dibawah 1 milliar atau diatasnya pak?"
"Total nya sih 1 milliar pas, itu tahun lalu ya..kalau emang mau ikutin aturan pinjaman bank ya pastinya sudah lebih dari 1 milliar pak..sudahlah pak tidak usah dipermasalahkan"
"Oh 1 milliar ya, cukup lumayan lho pak..tapi kan pak Utha wangnya banyak ko sampe pinjem wang ya?"
"Nah itulah saya juga tidak tau kenapa beliau sampe butuh wang..lagi itu kebetulan saya pegang wang dana operasionil sebetulnya dia janji akan kembalikan dalam 1 bulan tapi meleset terus hehe..Nah emang sebelum adanya pesta divillanya itu kira kira 1 bulanlah yang lalu dia janji akan melunasi"
"Ada kesan menyesal pak?"
"Meneyesal ya ada pak, kan itu wang operasionil, ahirnya saya sempet kalang kabut apalagi adanya Covid..terpaksa saya pinjam dari bank dengan bunga sangat tinggi..bahkan sampai sekarang saya masih nyicil sampe 2 tahun kedepan"
"Kasian pak Larso..dan utang itu ga bisa kembali ya"
"Abis mau gimana lagi pak..saya juga ga tega minta ke mba Thea"
"Semoga ada jalan lain yang memudahkan pak"
Pembicaraan dihentikan disana dan Daren bisa menarik kesimpulan bahwa adanya rasa dendam dan merasa kehilangan tapi tidak ia ungkapkan kekesalan itu. Semua dicatat dalam buku nota kecilnya.
Daren kemudian mengontak Luna, ini pertama kali Daren menghubunginya..apalagi ia tidak datang dan memang tidak diundang diacara pesta Utha kemarin.
"Halo apakah ini ibu Luna?"
"Dengan siapa ini saya bicara?" Daren mendengar suara lantang dari seberang sana, gaya bicaranya sudah terdengar sangat pede.
"Selamat siang buk Lena saya AKBP Daren dari Bareskrim Surabaya apa saya bisa minta waktunya sedikit?"
"Oh ya apa yang bisa saya bantu pak?" Kini suara Lena agak melunak sedikit.
"Ibu pasti kenal dengan pak Utha Kaihulu?"
"Oh ya kenapa pak?"
"Apakah ibu sudah tau bahwa bapak Utha Kaihulu meninggal 2 hari yang lalu?"
Beberapa saat tidak ada respon dari Luna hingga ahirnya ia menjawab dengan suara seakan akan kaget, tapi mendengar nadanya Daren tau ia hanya pura para kaget.
"Oh meninggal ya ampun saya tidak tau tentang itu..kasian sekali, ada sebab apa ia meninggal?"
"Sejauh ini kami sedang menyelidiki tapi nampaknya ia terbunuh seseorang..masih kita selidiki..yang saya ingin tanyakan kepada ibu Luna adalah apakah bapak Utha mempunyai utang kepada ibu?"
"Oh waduh ko sampai begitu? Kalau hutang ada tapi tidak banyak pak.."
"Apakah jumlahnya lebih dari 100juta atau diatas itu?"
"Yang saya ingat dia utang saya 1 setengah milliar dan itupun sudah 6 bukan yang lalu"
"Apa tidak ibu tagih utang itu?"
"Sudah sih beberapa kali tapi beliau tidak pernah bayar katanya nanti dan nanti jadi capek juga ya nagihnya"
"Baik bu..itu bukan urusan saya apa beliau bayar atau tidak, hanya ingin tau saja apakah ada utang atau tidaknya"
"Pak..apakah beliau sudah dikubur?"
"Belom kami sedang melakukan evaluasi forensik, karena sudah terdeteksi siapa pembunuhnya"
"Oh dibunuh?"
"Ya dibunuh..dan keliatannya teman dekat beliau" ucap Daren berbohong. Daren ingin melihat dan mendengar reaksi dari Luna.
"Oh gitu?"
"Buk saya sebetulnya ingin bicara empat mata, kapan kira kira ibu ada diJakarta?"
"Boleh pak, saya akan keJakarta besok kebetulan ada meeting dengan pak Dirjen Perdagangan pagi hari"
"Bagus! kalau begitu saya kekantor ibu sore jam 4 bisa?"
"Bisa pak jam 4 ya"
"Bisa minta alamatnya?"
"Jalan Suropati no 14A pak"
"Baik bu jam 4 sore besok oagi fi Suropati. Teima lasih sebelumnya"
Itulah percakapan antara Daren dan Luna dan juga pak Larso kemaren, saat ini Daren sudah berada di depan jalan Suropati no 14A. Jam menunjukkan pukul 3 sore sengaja ia datang awal untuk melihat lihat suasana kantor Luna.
Ia terkejut melihat sebuah mobil Toyota Fortuner berwarna hitam parkir ditempat parkiran. Daren keluar dari mobilnya dan menyebrang.
Dari jarak tidak begitu jauh ia melihat dibelakang mobil Fortuner itu ada lambang sebuah ormas. Untuk lebih perjelas ia sengaja masuk kesebuah warung yang posisinya tidak jauh dari pekarangan kantor Luna. Ia meminta sebotol Coca Cola dingin dan 2 ubi hangat.
...○○○○...
Kira kira setengah jam ia duduk diwarung, Daren melihat 2 orang berbadan tegap keluar dari kantor dan masuk kedalam mobil Fortuner itu.
Kini sudah hampir jam 4, setelah membayar minuman dan makanan ia berjalan kearah kantor Luna.
"Selamat sore, saya ada janji dengan bu Luna" ucap Daren sambil memperlihatkan kartu anggota bareskrim kepada seorang resepsionis.
"Oh sebentar bapak"
Resepsionis itu mengangkat telepon dan mengontak seseorang.
"Silahkan bapak..naik saja ke lantai 1 disana ada seketaris bu Luna"
"Terima kasih mba" Daren langsung menuju tangga dan naik keatas. Rupanya kantor ini dulunya sebiah rumah besar yang kini disewakan menjadi sebuah kantor.
Setelah memberitahukan kepada seketaris atas kedatangannya, tidak lama kemudian keluarlah seorang wanita setengah umur. Meskipun mungkin sudah berumur diatas 40tahun namun gayanya sungguh mewah. Berbagai macam asesoris dipakainya, anting gelang kalung dan tidak lupa gelang kaki dari emas juga dipakai. Daren sempet melihat sebuah tato burung Walet ditungkak kakinya.
...■■■■■...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments