Sosok korban yang tidak wajar.

"Pak Wir..disini ada siapa saja selain bu Thea?"

"Saat ini ada 8 orang termasuk saya pak" jawab pak Wir.

"Nah..mereka dimana sekarang?"

"Mereka semua berkumpul diruang tamu dilantai 2 menunggu kedatangan bapak"

"Oh begitu ya..baik, setelah kita liat korban..saya mau ketemu mereka"

Pak Wir langsung membawa Daren kesebuah kamar yang letaknya paling ujung. Dengan perlahan pak Wir membuka pintu sambil mengucapkan salam, kemudian ia menyalakan lampu.

Daren menengok keadaan kamar tidur itu, semuanya keliatan biasa saja dan tidak berantakan. Daren melongok kesana kesini mencari tubuh korban, pak Wir melirik kearah Daren yang mencari cari sesuatu.

"Pak..ini disini" ucapnya singkat sambil menunjuk kearah lantai disamping tempat tidur.

Daren agak terkejut karena letak posisi korban yang tidak ia perkirakan..ia berpikir paling tidak diatas tempat tidur..loh ko ini dilantai?

Daren langsung kesamping tempat tidur, kemudian jongkok didekat tubuh korban. Ia melihat sesuatu yang agak kurang pas dengan wajah korban, khususnya dibagian mulut.

"Pak..tolong bukain korden biar saya bisa liat kewajahnya lebih jelas" ucap Daren.

Pa Wir langsung menuju jendela kaca yang besar didekat tempat tidur dan membukanya lebar lebar.

Daren mengambil pulpen dari saku baju dan mendekatkan ujung pulpen kemulut korban. Ia memberikan tekanan sedikit kebibir.

Ternyata setelah ia tekan, keluar Cairan berwarna hijau tapi ada juga darah yang mengalir keluar dari mulutnya.

"Oke..pak Wir, setelah bapak liat korban dilantai dan memberitahukan ibu dan para tamu..apakah ada orang lain menyentuhnya?"

"Wah..tidak ada pak, mereka semua ketakutan..apalagi ibu..Dia langsung kaya histeris gitu pak! Teriak teriak kaya kesurupan!"

"Gitu ya..oke kamar ini sekarang kita tutup dan kunci, nanti pihak ambulan akan datang, biar mereka yang atur semuanya..sementara itu kita semua akan keruang tamu dilantai atas"

"Baik pak!"

...○○○○...

Pak Wir mengantar Daren kelantai atas, disana ada para tamu villa. Satu persatu mereka diperkenalkan pak Wir kepada Daren.

"Pak Wir, bisa tolong panggilkan ibu kesini?"

"Ya pak..sebentar saya panggilkan"

"Silahkan bapak dan ibu ibu duduk dikursi, mohon tunggu sebentar sampai ibu Thea datang"

Mereka semua mengambil posisi masing masing dan yang duduk paling dekat dengan Daren adalah pak Sumitro yang mana satu satunya pejabat pemerintah.

Selang 5 menit kemudian Thea masuk dan mengambil posisinya.

"Baiklah..terima kasih sebelumnya, pertama tama saya mengucapkan bela sungkawa kepada ibu Thea atas musibah yang terjadi..Dan berhubung dengan kejadian ini maka hari ini akan ada 2 sesi. Sesi pertama saya akan tanyakan secara serentak disini dan sesi kedua akan saya wawancarai secara tertutup satu persatu..apa ada yang tidak setuju?"

Semuanya terdiam, Daren langsung mengatakan bahwa karena tidak ada suara balasan maka dianggap 2 sesi itu disetujui.

"Jadi, kronologisnya..pa Wir seperti biasa kekamar pak Utha dan bu Thea untuk membangun karena acara breakfast akan segera dimulai..betul pak Wir?"

"Betul sekali pak!"

"Jam berapa itu?"

"Jam 5.30 pak"

"Lalu bagaimana bisa pak Wir menemukan sang korban?"

"Pintu kamar tidur bapak dan ibu tidak terkunci dan sedikit terbuka pak..Jadi karena hari ini jadwal pak Utha untuk main tennis dengan pelatih tennis saya memberanikan diri mengetuk dan mengetuk"

"Loh kan ada ibu Thea didalam? Tugas pak Wir kan hanya mengetuk membangunkan bukan masuk kekamar tidur?"

"Bukan begitu pak..ibu malam ini tidur dikamar depan sendirian dan bapak dikamar tidur utama sendirian juga"

"Oh gitu ya..padahal kan tadi malam ada pesta besar disini?" tanya Daren bingung.

"Iya betul ada pesta, tapi suami saya banyak minum minuman keras hingga dia merasa agak mabuk, dia bilang kesaya.."

"Sebentar..maaf, bapak minum minuman keras?" sela Daren atas ulasan Thea ketika memotong penjelasan Thea.

"Iya..betul kadang kadang kalo acara pesta, bang Utha minum alkohol atau bir" jawab Thea

"Oh oke..coba teruskan bagaimana kejadian selanjutnya" kata Daren kepada pak Wir.

"Jadi setelah saya ketok berkali kali, ahirnya saya putuskan masuk..soalnya saya tau dikamar tidak ada ibu..Nah, waktu saya masuk saya sempet denger Gubraak! kaya ada yang jatoh keras banget..saya langsung masuk, dikamar ada 1 lampu samping tempat tidur yang nyala..saya masuk..Loh ko bapak tidak ada ditempat tidur?"

"Sebentar pelan pelan ya pak Wir..jadi pak Wir masuk kekamar mengetahui ibu tidak dikamar bersama bapak..waktu masuk kedengeran suara sesuatu jatoh kelantai dengan keras..gitu ya?"

"Betul pak! Saya pikir bapak kenapa itu? terus saya masuk dan coba cari bapak..saya liat ternyata bapak jatoh dilantai..tapi tangannya kaya nyekek lehernya sendiri!"

"Apakah pak Wir datang dan membantu?"

"Tidak pak..saya hanya kaget dan melihat dari jarak 2 meteranlah..bapak seperti kecekek, tangannya memanggil saya, cuma saya ga berani..saya lari keluar dan membangunkan ibuk"

"Setelah itu?"

"Setelah itu saya lari bersama pak Wir kekamar, waktu kita dikamar saya melihat suami saya sudah tergeletak dan ada buih buih putih dimulutnya..saya coba bangunkan tapi dia sudah tidak respons lagi" Sela Thea.

"Langkah ibu selanjutnya?"

"Saya teriak teriak karena panik, rupanya terdengar oleh pak Sumitro dan bu Rini istrinya selanjutnya tamu yang menginap lainnya ikut datang..dan saya dibawa keluar kamar"

"Kapan ibu tau dengan jelas bahwa bapak sudah meninggal?"

"Pak Wir yang mengatakan kesaya..katanya bapak sudah ga ada buk..saya terus lari lagi, saya liat buih putih tambah banyak keluar"

"Lalu ibu Thea kontak ke bos saya pagi tadi betul?"

"Betul pak"

"Selain ibuk..ada lagi yang memegang tubuh pak Utha?" tanya Daren kepada semua yang hadir.

Semuanya mengatakan tidak, bahkan para tamu laki laki tidak memperbolehkan para istri untuk masuk dan melihat.

...○○○○...

Daren langsung mencium bau tidak pas dalam sesi pertemuan malam itu. Pertama kenapa suami istri tidak tidur dalam satu kamar, kedua kenapa seorang pembantu rumah tangga berani sekali masuk kekamar majikan? Ketiga tidak ada satupun yang mencoba menolong pak Utha? Lalu apa salahnya kalau mereka saling bantu untuk menyelamatkan nyawa kawan mereka? Ini sungguh aneh..

"Baiklah..bapak bapak dan ibu ibu, sambil menunggu Tim saya datang..saya akan melakukan sesi kedua yaitu wawancara secara pribadi satu demi satu..mohon maaf sebelumnya"

Daren memulai dengan mewawancarai bapak Jacki dan bu Ruli, karena dari semua yang hadir 2 tamu ini nampak santai dan tanpa ekspresi.

"Sebelumnya mohon maaf saya harus memulai dengan bapak dan ibu duluan sebab dari tadi saya lihat bapak dan ibu bersikap santai..hehe jadi saya juga tenang..boleh saya mulai?"

"Silahkan..monggo mau tanya apa?"

"Kita mulai dari acara pesta ini dulu ya pak"

...■■■■■...

Terpopuler

Comments

Rifca Farih Azizah

Rifca Farih Azizah

teknik penulisan, ejaan, tanda baca perlu bgt diperbaiki ya.. supaya bacanya enak dan ga bingung

2023-01-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!