Pagi pagi Daren sudah bangun, ia membersihkan badannya dengan mandi memakai air hangat. Udara daerah Batu memang sangat dingin dipagi hari. Daren jadi teringat ketika ia dan Slamet rekan bareskrim mencari korban mutilasi di desa Ranu Pani dikaki gunung Semeru.
Setelah selesai mandi dengan hanya mengenakan sehelai handuk ia keluar kamar mandi yang berada diluar kamar tidur. Langkahnya terhenti menuju kekamar tidur ketika Thea melintas menuju keruang dapur.
"Oh maaf" ujar Daren sambil bergegas masuk kekamar tidur. Namun telat, Thea secara tidak sengaja melihat tubuh atletis Daren.
Thea menunduk malu dan berjalan cepat keruang dapur. Sempat juga terbersit dihatinya, melihat kegagahan Daren yang hanya memakai sehelai handuk.
Aduuh..kenapa aku ga pake baju..busyet bikin malu..pikir Daren. Ia melepaskan handuk dan mengeringkan sisa bintik bintik air ditubuhnya.
Tidak lama terdengar ketukan dipintu..
"Pak..saya buatkan sarapan pagi ya"
"Oh terima kasih buk..monggo"
Cepat cepat Daren memakai pakaian, menyisir rambut dengan tangannya dan keluar. Ia tersenyum kearah Thea yang menoleh kearahnya.
"Ko ibu sudah bangun pagi pagi?"
"Aduuh..rada susah tidur tadi malam..mikirkan kejadian kemarin. Ga apa apa saya sudah merasa lebih baik pagi ini..Saya mau buatkan roti panggang dan telur ya"
"Oh sukurlah..wah roti panggang..baik, terima kasih, mana pak Wir?"
"Biasanya kalo pagi begini dia nyapu halaman depan" ucap Thea sekalian melayangkan pandangan kearah luar dari jendela dapur.
"Apa rencana hari ini pak Daren?"
"Saya mau lapor ke kabareskrim dan juga rumah sakit"
"Iya saya juga ingin tau hasil terahir, kemungkinan hari ini kalau sudah selesai kita akan mengebumikannya..nanti jam 10 saya mau call papa mama juga"
"Kalau begitu saya akan kerumah sakit memeriksa laporan..apa bu Thea mau ikut?"
"Ya lebih baik saya ikut..kita naik mobilku saja bareng kesana"
Sarapan pagi itu meskipun sederhana cukup membuat perut Daren kenyang.
Lebih baik aku call pak Roni sebelum ia berangkat kerja.
"Sebentar buk saya call bos dulu ya"
Daren berjalan dan berdiri diteras belakang.
"Selamat pagi pak, maaf mengganggu"
"Halo Daren pagi juga..tidak apa apa, wah kemaren sampe begitu ya kejadiannya..kasus ini menjadi tambah ga karuan"
"Iya pak..sayang sekali orang itu meninggal setelah mengeluarkan banyak darah, jadi dia tidak sempat memberitakan siapa dibelakang semuanya"
"Ini tadi malam saya dapat laporan dari Jakarta, hasilnya cukup mengejutkan"
"Bagaimana laporannya pak?"
"Korban Utha ini memang punya banyak musuh ya..Jadi, selain masalah utang ternyata dia juga ada selingkuh dengan Utha, hanya belom dikonfirmasi masih diperdalam lagi. Jadi dia pernah minta keUtha untuk dikawinkan karena ternyata sudah lama hubungan gelapnya..tapi Utha menolak, dia Luna itu juga ingin menguasai semua usaha Utha..pokonya dia marah dan jengkel terus terusan dijanjikan sampai satu saat Utha memutuskan hubungan, dia ngamuk besar"
"Waduh!"
"CCTV yang kamu dapatkan ada perempuan malam itu ternyata bukan dia"
"Oh bukan dia? saya pikir dia"
"Bukan..bukan dia, tapi dia punya orang yang masuk kevilla malam itu..masih kita perdalam lagi. Tapi berulang ulang dia bilang orang yang masuk kedalam villa itu juara Karate dan teman baiknya..saat ini dia sedang stres berat, tidak mau makan dan minum kondisinya juga menurun drastis"
"Wow..wow..gila! Kemungkinan besar yang melakukan pukulan diperut dan leher ya temannya itu, kan jago Karate"
"Bisa jadi..tapi bagaimana dia bisa masuk kekamar masih misteri..masalahnya dia ga mau bicara lagi dan pengacaranya selalu membentengi jawaban dia..minggu depan setelah semua file beres kita akan ajukan langsung kepengadilan"
"Iya pak..semoga saya disini juga bisa mengungkap dalang yang lainnya..korban Utha ini mungkin matinya karena terbunuh beberapa orang yang saling bergantian..tapi terjadi dimalam yang sama"
"Mengerikan..oke, rencana hari ini apa?"
"Saya kerumah sakit mau lihat hasil ahir forensik pak dan menanyakan orang tuanya kapan akan dikuburkan soalnya sudah beberapa hari korban disana"
"Baik..oke segitu dulu Daren, saya diupdate terus"
"Siap pak" Daren geleng geleng kepala..Luna adalah salah satu musuh Utha sekarang ada lagi satu orang yang juga pembunuhnya.
Daren masuk kekamar pak Wir dan sekali lagi memutar rekaman CCTV waktu malam pesta itu. Ia memperhatikan dengan cermat gerakan wanita dengan celana panjang, caranya ia berjalan dan bergerak. Menurut Luna bukan dia yang kevilla lalu siapa sosok itu?
"Pak Daren!" terdengar suara diluar memanggilnya.
"Iya buk saya disini dikamar pak Wir"
"Oh lagi ngecek CCTV? saya sudah siap kerumah sakit"
Daren bangkit dan bersama Thea mereka menuju kemobil.
"Pak Wir..kita kerumah sakit dulu"
"Oh ya buk"
Setelah mereka pergi pak Wir masuk lagi kedalam kamarnya, oo..rupanya pak Daren memeriksa CCTV lagi. Ia kemudian merogoh ponsel dan mengetik sebuah pesan.
...○○○○...
"Buk Thea..pak Wir sudah lama kerja divilla?"
"Lumayan sih..dulu dia kerja dirumah kita, dari Surabaya terus kita bawa keMalang dan sekarang divilla..dulu dia punya anak perempuan tapi karena sering sakit sakitan, anak itu sudah tidak bekerja lagi sama kita"
"Oh dulu dia kerja anaknya juga kerja..menjadi pembantu juga?"
"Ya..dia dulu tukang masak dan pak Wir tukang kebun"
Sebetulnya ada sesuatu dalam benak Daren, tapi ia belum siap memeberitahukan kepada Thea..tadi malam menjelang pagi kira kira jam 2 pagi sebetulnya Daren sudah bangun dari tidurnya, ia bermaksud duduk diluar sambil merokok tapi niatnya ia urungkan..Masalahnya didekat teras belakang ia melihat pak Wir sedang bercakap cakap dengan seseorang di ponselnya.
Jam 3 pagi ia mendengar lagi pak Wir berbicara dengan seseorang, dan beberapa kali pak Wir menoleh kearah kamar atas kamarnya Thea. Seakan ia sedang merencanakan sesuatu entah apa...Ada apa dengan pak Wir??
...○○○○...
Setelah Daren dan Thea meninggalkan villa. Tidak lama nampak seseorang berjalan kaki sendirian memasuki halaman villa, pak Wir memperhatikan dari dalam.
"Assalamualaikum.." terdengar suara perempuan dipintu samping. Pak Wir yang sudah menunggu didekat pintu langsung menghampiri dan memberi salam.
"Mualaikumsalam yuk masuk" ucapnya sambil tersenyum.
Dihadapan pak Wir ia melepaskan kain penutup rambut, menunduk dan mencium tangan kanan pak Wir.
"Sudah pada pergi pak?"
"Ya barusan saja..mau minum?"
"Ga usah pak terima kasih"
wanita itu menarik sebuah kursi dimeja makan dan duduk. Wajahnya cantik tubuhnya semampai dan kulit tubuhnya putih bersih.
"Dimana Dimas?"
"Sama Yu Ngatir dia emang manja banget sama Yu Ngatir..biar saja"
"Hari ini mereka kerumah sakit kayanya mau liat hasil otopsi terahir, ini masalahnya CCTV pak Daren berkali kali memeriksa khususnya waktu kamu mondar mandir disamping rumah dan waktu kamu ambil ular dari dalam mobil bapak"
"Ya ampun..semoga tidak terdeteksi, tapi waktu itu emang aku sudah siapkan semuanya..memang malam itu adalah malam terahir dia, sudah seharusnya dia mati bapak, aku benci dia!"
"Ya anakku bapak tau dan mengerti, apalagi dia sudah tidak pernah membayar kerja bapak..bapak juga rugi banyak, hampir 5 bulan tidak pernah terima gajih!"
"Awas pak! jangan sampe ketauan ya"
"Beres..mereka masih berpikiran positip kebapak, semua aman..hanya saja bapak bingung selain kamu siapa lagi yang bunuh dia?"
Pak Wir menarik napas panjang sambil menggaruk garuk kepalanya..
...■■■■■...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments
aas
oalah si Pak Wir sekongkol juga nih ternyata
2025-02-13
0