Saat jam tangan Rio berbunyi dia melihat jika yang melakukan panggilan adalah mamanya, Rio sangat terkejut karena tidak biasanya mamanya melakukan panggilan like jam tangannya kecuali ada hal yang sangat penting dan berbahaya, Riopun segera mengaktifkan suara dari panggilan yang mamanya lakukan.
" iya ma ada apa?" tanya rio.
"(Nak ada yang memasuki pulau kita saat ini, mereka berjumlah 15 orang, mereka semua bersenjata apa yang harus mama lakukan sekarang") mama Rio berucap dengan nada takut dan khawatir.
"Apakah semua orang sudah berkumpul di rumah seperti biasa ma?" tanya Rio.
"(Sudah nak kami semua sudah berkumpul di dalam rumah") ucap mamanya dari sebrang.
"Baiklah sekarang mama dengarkan instruksi Rio" kemudian Rio memberi instruksi kepada mamanya apa saja yang harus mamanya lakukan untuk keselamatan mereka di rumah.
Setelah selesai memberikan instruksi dan semua yang di katakan Rio sudah di lakukan oleh mamanya Riopun dengan sigap segera mengalihkan monitor Yang ada di kendaraannya untuk memantau keadaan rumah mereka.
Saat Rio dan Andrian sedang memperhatikan keadaan rumah, tiba-tiba monitor yang ada di sebelah kanan monitor yang sedang memperlihatkan keadaan rumah mereka tiba-tiba tersambung dengan markas pusat.
"Chita apa kah anda memonitor kami?" tanya orang yang ada di sebrang yang saat ini wajahnya sedang ada di monitor.
"Iya benar, saat ini saya sedang memonitor, apakah ada yang darurat pak?" tanya Rio.
"Anda benar Chita keadaan saat ini memang sangat darurat, bahkan anak buah saya yang saya tugaskan untuk memata-matai pergerakan lawan, mereka melaporkan jika lawan kita saat ini sedang bergerak maju memasuki kawasan kita, bahkan ada yang menyampaikan satu kapal diantara mereka menuju pulau terpencil, saya takut mereka akan menuju ke pulau di mana anda tinggal saat ini." orang yang saat ini berada di dalam monitor pun menjelaskan keadaan yang sebenarnya pada Rio.
"Anda benar pak, karena baru saja mama saya menghubungi, beliau bilang jika ada sekelompok orang yang berjumlah 15 orang sedang mendarat di pulau dimana kami saat ini sedang tinggal mereka semua bersenjata, sedangkan saya dan papa saya saat ini sedang ada di kendaraan pribadi saya sedang menuju kembali ke negara kita" ucap Rio.
"Lalu apa yang harus saya lakukan Chita, begini saja bagai mana jika kami akan mengirimkan beberapa anggota kita kepulau anda itu untuk mengamankan pulau itu?" orang yang ada di dalam monitor itu berucap memberikan pendapatnya.
"Terima kasih pak, tapi saya rasa tidak perlu, karena jika hal itu terjadi maka akan memancing keributan di sana, dan saya tidak mau hal itu terjadi, karena untuk saat ini situasi masih aman saya dan papa saya sedang memantau keadaan di sana dari sini". ucap Rio.
"Baiklah kalau begitu, lalu kapan anda akan ke markas Chita?." tanyanya lagi.
"Saat ini saya sedang menuju ke sana pak tapi saya akan bersama papa saya, karena memang kebetulan kami sedang bersama saat ini, apakah di ijinkan jika saya ke markas bersama papa saya?" tanya Rio kemudian.
"Baiklah, saya mengijinkan anda ke markas bersama papa anda, sampai bertemu di markas besar kami menunggumu Chita." ucapnya
"Baik pak" ucapan Rio mengakhiri hubungan jarak jauh mereka lalau monitor pun mati.
"Bagai mana pa, apa masih bisa terkendali keadaan di sana?" tanya Rio pada papanya.
"Papa rasa masih masih bisa terkendali, tapi... perasaan papa ada yang janggal dengan keamanan rumah kita saat ini, coba kamu perhatikan, ada beberapa titik di rumah kita yang kelihatan berbeda seperti ada celah lubang di beberapa bagian." ucapan Andrian membuat Rio terkejut sehingga dengan cepat dia mengambil posisi di mana yang sebelumnya papanya berada.
Dengan cepat Rio mengotak atik peralatan yang ada di situ, dia memperbaharui sistem yang sebelumnya.
"Astaga, kenapa aku jadi ceroboh seperti ini?" Rio bergumam namun masih bisa didengar oleh papanya.
"Ada apa nak?" tanya Andrian.
"Maaf Pa, ijinkan Rio untuk konsentrasi sebentar, nanti Rio jawab pertanyaan papa" dengan jawaban yang Rio berikan Andrian tau jika yang sedang di hadapi saat ini merupakan hal yang sangat genting, Andrianpun tidak berani bertanya kembali ini demi keselamatan keluarganya yang sedang berada di pulau itu saat ini terutama sang istri karena anak mereka sedang bersamanya.
Dua puluh menit berlalu, akhirnya Rio berhasil memperbaharui sistem keamanan yang ada di rumahnya, bertepatan dengan kedatangan orang-orang asing itu. Jika terlambat dua menit saja pastilah keberadaan mereka di pulau itu akan di ketahui oleh mereka, dan mereka pasti tidak akan tinggal diam.
"Akhirnya selesai juga, mudah-mudahan mereka tidak sempat melihatnya." ucap Rio.
"Ada apa sebenarnya nak?" tanya Andrian.
"Maaf pa, sebenarnya yang papa lihat tadi adalah senjata yang Rio pasang di titik-titik tertentu untuk menjaga keamanan rumah kita, dan ternyata belum Rio beri mode pengamannya jadi, senjata-senjata itu bisa di lihat oleh mereka dan jika mereka melihatnya dan memegangnya maka rumah kita pun akan terlihat oleh mereka, tetapi sekarang sudah aman walaupun mereka memegang senjata-senjata itu tanpa sengaja mereka tidak akan bisa mendeteksi keberadaan tempat tinggal kita. Papa tenang saja semua sudah beres, sekarang kita langsung menuju ke markas besar karena pimpinan sudah mengijinkan Rio mengajak papa ke sana." ucap Rio dan di sambut dengan anggukan kepala oleh Andrian, dia tidak mau banyak bertanya lagi.
Tiga puluh menit kemudian mereka telah sampai ketempat yang mereka tuju, saat mereka mendaratkan kendaraan mereka, ada beberapa orang yang menyambut mereka.
"Selamat datang Chita, anda sudah ditunggu di dalam oleh atasan" ucap salah seorang yang menyambut mereka.
"Baik trimakasih, dan kenalkan ini papa saya, saya telah mendapatkan ijin dari atasan untuk membawa papa saya ke sini". ucap Rio dengan tegas.
"Baiklah saya percaya pada anda Chita, silahkan, anda udah ditunggu"
Akhirnya Rio dan Andrian berjalan menuju sebuah rumah yang bisa di katakan tidak layak dikatakan sebagai markas besar seperti yang selama ini Rio sebutkan, hal itulah yang membuat Andrian heran dan menimbulkan banyak pertanyaan di benak Andrian. bagai mana rumah yang hanya berukuran sekitar 10 x 12 m ini bisa dikatakan markas besar kata Andrian di dalam hatinya.
Saat memasuki rumah itu lagi-lagi mereka di sambut oleh beberapa orang, dan Andrian semakin heran karena di dalam sana terlihat hanya seperti rumah biasa dan saja, namun ada sedikit perbedaan di sana terdapat beberapa tak yang berisikan senjata berat, namun jumlahnya tidaklah terlalu banyak.
"Selamat datang Chita, anda di tunggu di ruang utama"
"Baik terima kasih"
Rio menuju sebuah ruangan dan membuka pintu itu, sekali lagi Andrian terkejut melihat ruangan itu karena di dalam sana hanya terdapat dua buah almari pakaian dan tidak ada apa-apa lagi, Rio mendekati salah satu almari itu dan membuka pintu almari itu.
"Pa, ayok masuk kita sudah di tunggu" ucap Rio pada papanya.
Andrian mengikuti langkah Rio untuk masuk kedalam almari pakaian itu. Namun setelah Rio menutup almari itu dan memencet sebuah tombol lantai bawah almari itupun mulai bergerak turun, Dari situ Andrian faham jika almari itu sebenarnya sebuah lift.
Akhirnya mereka sampai di ruangan yang mereka tuju, Di sana Andrian di buat terkejut saat menyaksikan keadaan ruangan itu, ruangan yang begitu besar dan banyak alat-alat canggih di dalamnya.
Namun yang membuat Andrian lebih terkejut lagi saat mengetahui orang yang menyambut mereka,orang yang dikatakan oleh Rio sebagai atasannya, dia masih ingat betul dengan orang tersebut , dia menggosok matanya seakan tidak percaya dengan orang yang sedang menyambut mereka.
"B*****k s****n b******n kau" umpat Andrian sambil mencengkeram baju orang tersebut.
Siapakah orang itu yang bisa sampai membuat Andrian marah seperti saat ini ya apakah ada yang tau? nantikan kelanjutannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments