Hilangnya Tanaman Kebun Secara Misterius di Pagi Hari

Ketika berjalan menuju ruang berkebun Jupri berkata dengan penuh semangat, "Dee jadi ini benar-benar 7 misteri di SMAN 105 ya. Pertama adalah ruangan seni yang bisa memainkan lagu sendiri di saat Sore hari padahal ruangan itu kosong. Kedua adalah Pemain legendaris Tekkan 7 yang tak pernah terkalahkan dan masih di cari siapa siswa tersebut. Ketiga, Pria tingi besar misterius di ruangan Geografi. Keempat, Bau Durian yang misterius di ruangan Kimia. Kelima, Suara monster yang megerikan di ruangan Matematika. Keenam, Alien yang sedang berlatih sepak bola. Dan terakhir dari klub kebun, hilangnya tanaman kebun secara misterius di pagi hari. Benar begitu, Dee? Lalu apa dampaknya terhadap kalian?"

"Klub kami jadi sepi peminat padahal dulu sangat banyak sekali yang ikut berkebun dan membuat kompos di klub berkebun kami. Kemudian tanaman yang sering hilang adalah tanaman hidroponik wotel kebanggan sekolah kami. Setiap pagi selalu saja menghilang." ucap Dee dengan nada yang halus dan menenangkan.

Pria yang disebut sebagai detektif Jupri, berpikir kenapa hal tersebut bisa terjadi? apa Penyebabnya? sampai sekarang belum terpecahkan.

“Dee, aku kasihan sama klub kalian. Aku tahu rasanya jadi bagian dari 7 misteri SMAN 105. Aku sendiri juga pernah jadi korban dari salah satu misterinya, yaitu suara monster di ruangan matematika. Aku pernah dengar suara itu pas lagi ujian matematika, dan aku jadi gagal karena kaget dan nggak bisa konsen.” cerita Jupri dengan simpati.

“Serius, Jup? Aku nggak tahu kalau kamu pernah mengalami hal itu. Aku juga pernah dengar suara itu, tapi aku nggak pernah lihat siapa yang membuatnya. Aku pikir itu cuma iseng dari teman-teman yang mau ngerjain kita.” kata Dee dengan heran.

“Iya, Dee. Aku juga nggak tahu siapa yang bikin suara itu. Tapi aku yakin itu bukan iseng, karena suaranya terdengar sangat nyata dan menyeramkan. Aku sampai mimpi buruk gara-gara itu.” ujar Jupri dengan ngeri.

“Ya ampun, Jup. Aku turut prihatin sama kamu. Semoga kamu nggak mengalami hal itu lagi. Aku juga berharap kita bisa menyelesaikan misteri-misteri yang ada di sekolah kita ini, termasuk misteri hilangnya tanaman hidroponik kami.” ucap Dee dengan haru.

“Dee, boleh aku tanya sesuatu? Tanaman hidroponik yang hilang itu jenisnya apa aja? Apakah ada yang spesial atau langka?” tanya Jupri dengan penasaran.

“Tanaman hidroponik yang hilang itu kebanyakan adalah wortel, Dee. Wortel adalah tanaman hidroponik kebanggaan kami, karena kami berhasil menanamnya dengan sistem NFT (Nutrient Film Technique) yang canggih dan efisien. Wortel kami juga sangat sehat dan berkualitas, karena kami memberinya nutrisi dan cahaya yang optimal. Wortel kami bahkan pernah menang lomba tanaman hidroponik tingkat nasional.” jelas Dee dengan bangga.

“Wah, hebat sekali, Dee. Aku salut sama klub kalian. Tapi kenapa wortel kalian bisa hilang begitu saja? Apakah ada yang mengambilnya? Atau dimakan oleh hewan?” tanya Jupri dengan bingung.

“Kami juga nggak tahu, Jup. Kami sudah mencoba mencari tahu siapa yang mengambil atau memakan wortel kami, tapi kami nggak menemukan jejak apapun. Kami juga sudah memasang pagar dan kamera pengawas di sekitar klub, tapi tetap saja nggak ada hasilnya.” jawab Dee dengan frustrasi.

“Jadi, kalian nggak punya petunjuk sama sekali? Apakah kalian sudah mencurigai siapa-siapa?” tanya Jupri dengan penasaran.

“Sebenarnya ada satu klub yang kami curigai, yaitu klub pecinta binatang. Kami pikir mungkin ada hewan-hewan yang dirawat oleh klub itu yang keluar dari kandangnya dan memakan wortel kami. Tapi kami nggak punya bukti untuk menuduh mereka.” kata Dee dengan ragu.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi ke klub pecinta binatang dan lihat sendiri apa yang terjadi di sana? Mungkin kita bisa menemukan sesuatu yang mencurigakan atau bisa membantu kita menyelesaikan misteri ini.” usul Jupri dengan semangat.

“Boleh juga, Jup. Ayo kita pergi ke sana sekarang.” ajak Dee dengan antusias.

“Oke, Dee. Ayo kita berangkat. Semoga kita bisa menemukan jawabannya.” kata Jupri sambil menggandeng tangan Dee.

Ketika Dee dan Jupri datang ke klub pecinta binatang, mereka disambut oleh ketua klub pecinta binatang bernama Fahreza Pahlevi atau biasa disebut Palev. Pria itu cukup ramah dan sangat sopan. Bahkan meskipun dia sering sekali memberikan makan pada ayam, burung, ikan, kelinci, dan kucing di klubnya tetapi aroma badannya seperti bunga lavender yang harum dan menarik hati siapapun yang membaui.

Ketika Dee dan Jupri sampai di klub pecinta binatang, mereka disambut oleh Palev dengan ramah. Palev mengajak mereka masuk ke dalam ruangan klub, yang penuh dengan kandang-kandang berisi hewan-hewan lucu dan menggemaskan. Ada ayam, burung, ikan, kelinci, dan kucing yang dirawat oleh anggota klub dengan penuh kasih sayang.

“Selamat datang di klub pecinta binatang, Dee dan Jupri. Aku senang kalian mau berkunjung ke sini. Apa kabar kalian?” sapa Palev dengan sopan.

“Kami baik-baik saja, Palev. Terima kasih atas sambutannya. Kami datang ke sini karena ingin melihat-lihat hewan-hewan yang ada di sini. Kami juga ingin bertanya sesuatu kepada kamu.” jawab Dee dengan halus.

“Oh, begitu ya. Silakan lihat-lihat sepuasnya. Hewan-hewan di sini sangat ramah dan jinak. Mereka suka bermain dan bercanda dengan manusia. Kalau ada yang ingin kamu tanya, silakan tanya saja.” kata Palev dengan senyum.

“Terima kasih, Palev. Hewan-hewan di sini memang sangat lucu dan imut. Aku suka sekali sama mereka.” puji Jupri sambil mengelus-elus seekor kucing yang mendekatinya.

“Jupri, aku mau tanya sesuatu sama Palev. Kamu mau ikut atau mau di sini aja?” tanya Dee kepada Jupri.

“Aku ikut aja, Dee. Aku juga penasaran sama yang mau kamu tanya.” jawab Jupri sambil mengikuti Dee dan Palev ke sudut ruangan.

“Baiklah, Palev. Aku mau tanya sesuatu yang mungkin agak sensitif, tapi aku harap kamu nggak tersinggung ya.” kata Dee dengan hati-hati.

“Apa itu, Dee? Aku nggak akan tersinggung kok. Aku yakin kamu nggak bermaksud buruk.” ujar Palev dengan tenang.

“Begini, Palev. Kamu tahu kan tentang misteri hilangnya tanaman hidroponik di klub berkebun kami? Kamu nggak curiga kalau ada hewan-hewan di klub ini yang mungkin keluar dari kandangnya dan memakan tanaman kami?” tanya Dee dengan lugu.

Palev terkejut mendengar pertanyaan Dee. Dia menatap Dee dan Jupri dengan tatapan bingung dan sedikit marah.

“Dee, apa maksudmu dengan pertanyaan itu? Kamu nggak percaya sama aku? Kamu kira aku nggak bisa menjaga hewan-hewan di klub ini? Kamu kira aku nggak peduli sama tanaman hidroponik kamu?” protes Palev dengan nada tinggi.

“Tenang, Palev. Aku nggak bermaksud menuduh kamu atau hewan-hewan di klub ini. Aku cuma ingin tahu apakah ada kemungkinan hal itu terjadi. Aku juga peduli sama hewan-hewan di sini. Aku juga suka sama mereka.” jelas Dee dengan lembut.

“Maaf ya, Dee. Aku jadi emosi mendengar pertanyaanmu. Tapi aku bisa pastikan bahwa hewan-hewan di klub ini nggak ada yang keluar dari kandangnya dan memakan tanaman hidroponik kamu. Aku selalu mengunci pintu ruangan ini setiap malam, dan aku selalu memeriksa kandang-kandangnya setiap pagi. Aku juga memberi makan mereka dengan pakan yang sehat dan bergizi. Mereka nggak perlu mencari makanan lain.” bukti Palev dengan tegas.

“Kalau begitu, bagaimana kamu menjelaskan hilangnya tanaman hidroponik kami? Apakah ada orang yang mengambilnya? Atau ada hewan lain yang masuk ke klub berkebun kami?” tanya Jupri dengan penasaran.

“Aku juga nggak tahu, Jupri. Aku juga bingung sama misteri ini. Aku nggak pernah lihat ada orang atau hewan yang mencurigakan di sekitar klub berkebun kamu. Aku juga nggak pernah dengar suara-suara aneh dari sana. Aku juga nggak punya alasan untuk mengambil atau memakan tanaman hidroponik kamu. Aku juga nggak suka sama wortel.” jawab Palev dengan jujur.

“Jadi, kalian nggak punya petunjuk sama sekali? Apakah kalian sudah mencoba mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas misteri ini?” tanya Dee dengan harap-harap cemas.

“Belum, Dee. Kami masih buntu sama misteri ini. Kami nggak punya bukti atau saksi yang bisa membantu kami. Kami juga nggak punya alat-alat detektif yang canggih seperti kalian. Kami cuma punya hewan-hewan yang lucu dan imut.” kata Palev dengan sedih.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita bekerja sama untuk menyelesaikan misteri ini? Mungkin kita bisa saling membantu dan berbagi informasi yang kita punya. Mungkin kita bisa menemukan sesuatu yang terlewatkan.” usul Jupri dengan semangat.

“Boleh juga, Jupri. Aku setuju dengan usulanmu. Aku senang kalau kita bisa bekerja sama untuk menyelesaikan misteri ini. Mungkin kita bisa menemukan siapa pelakunya dan mengembalikan tanaman hidroponik yang hilang.” kata Dee dengan antusias.

“Oke, Dee dan Jupri. Aku juga setuju dengan usulan kalian. Aku juga mau bekerja sama dengan kalian untuk menyelesaikan misteri ini. Mungkin kita bisa menjadi tim detektif yang hebat.” kata Palev dengan gembira.

Jupri, Dee, dan Palev mulai menyelidiki misteri hilangnya tanaman hidroponik di klub berkebun. Mereka memeriksa setiap sudut ruangan klub, mencari jejak atau bukti yang bisa membantu mereka menemukan pelakunya. Mereka juga menginterogasi beberapa anggota klub berkebun dan klub pecinta binatang, menanyakan apakah mereka melihat atau mendengar sesuatu yang aneh.

Namun, usaha mereka sia-sia. Jupri tidak menemukan petunjuk apapun yang bisa membantunya menulis artikel pembongkaran misteri ini. Dia merasa frustasi dan putus asa. Dia mulai berpikir bahwa mungkin misteri ini tidak bisa diselesaikan.

Tetapi berbeda dengan Palev. Dia memiliki mata elang yang tajam dan telinga serigala yang peka. Dia berhasil menemukan sesuatu yang mencurigakan di sekitar tanaman hidroponik yang hilang. Dia segera memanggil Jupri dan Dee untuk melihat temuannya.

“Lihat ini, Jupri dan Dee. Aku menemukan sesuatu yang aneh di sekitar tanaman hidroponik yang hilang. Ini adalah kotoran kelinci atau bisa jadi kotoran tikus.” kata Palev sambil menunjukkan sebutir kotoran kecil berwarna coklat.

“Kotoran kelinci atau tikus? Apa maksudmu, Palev? Apakah kamu yakin itu kotoran hewan?” tanya Jupri dengan bingung.

“Iya, Jupri. Aku yakin itu kotoran hewan. Aku bisa membedakan kotoran hewan dari kotoran manusia atau benda lainnya. Aku kan ketua klub pecinta binatang. Aku tahu banyak tentang hewan.” jawab Palev dengan yakin.

“Kalau begitu, apa hubungannya kotoran hewan ini dengan hilangnya tanaman hidroponik kita? Apakah ada hewan yang memakan tanaman kita?” tanya Dee dengan penasaran.

“Itu yang harus kita cari tahu, Dee. Kalau itu kotoran kelinci, seharusnya tidak mungkin dari klub kami karena kandangnya rapat. Kami selalu mengunci pintu ruangan kami setiap malam, dan kami selalu memeriksa kondisi kelinci-kelinci kami setiap pagi. Kami juga memberi mereka makan wortel segar yang kami beli dari pasar.” jelas Palev dengan logis.

“Tapi kalau itu kotoran tikus, ruangan ini cukup rapih dan terjaga dengan baik. Tidak mungkin ada tikus yang masuk ke sini tanpa diketahui oleh kita atau oleh si orange kucing yang memburu tikus di klub berkebun.” tambah Palev dengan bimbang.

“Si orange kucing? Siapa itu?” tanya Jupri dengan heran.

“Si orange kucing adalah kucing peliharaan dari ketua klub berkebun, yaitu Dee. Dia adalah kucing jantan berwarna oranye yang sangat lincah dan cerdas. Dia selalu berada di klub berkebun untuk menjaga tanaman-tanaman dari hama atau pencuri. Dia juga suka bermain dengan hewan-hewan di klub kami, terutama dengan kelinci-kelinci.” cerita Palev dengan senyum.

“Kalau begitu, apakah mungkin si orange kucing yang memakan tanaman hidroponik kita? Apakah dia suka makan wortel?” tanya Dee dengan curiga.

“Tidak mungkin, Dee. Si orange kucing tidak suka makan wortel. Dia lebih suka makan ikan atau daging. Lagipula, dia tidak akan mengambil tanaman hidroponik kita tanpa sepengetahuan Dee. Dia adalah kucing yang setia dan patuh.” bantah Palev dengan tegas.

“Lalu, siapa pelakunya? Aku bingung sekali.” kata Dee dengan putus asa.

“Aku juga bingung, Dee. Tapi kita tidak boleh menyerah. Kita harus terus mencari tahu siapa pelakunya dan mengembalikan tanaman hidroponik yang hilang.” kata Jupri dengan semangat.

“Baiklah, Jupri. Aku setuju dengan kamu. Ayo kita lanjutkan penyelidikan kita. Mungkin kita bisa menemukan petunjuk lain yang bisa membantu kita.” kata Palev dengan setuju.

Mereka pun melanjutkan penyelidikan mereka dengan lebih teliti dan hati-hati. Mereka tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari balik semak-semak. Mata itu milik si pelaku sebenarnya dari misteri ini, yaitu kelinci yang dulunya diculik oleh si orange kucing dari klub pecinta binatang.

Kelinci itu adalah kelinci betina berwarna putih yang sangat cantik dan manis. Dia adalah kelinci kesayangan Palev, yang diberi nama Lili. Dia sangat suka makan wortel, terutama wortel hidroponik dari klub berkebun. Dia merasa wortel hidroponik lebih segar dan lezat daripada wortel biasa.

Suatu hari, ketika Palev sedang sibuk mengurus hewan-hewan lain di klubnya, Lili berhasil keluar dari kandangnya dan berlari ke luar ruangan. Dia melihat si orange kucing sedang bermain di halaman sekolah. Dia penasaran dengan kucing itu dan ingin berteman dengannya.

Namun, si orange kucing tidak suka dengan Lili. Dia menganggap Lili sebagai mangsa yang lezat dan ingin memakannya. Dia pun mengejar Lili dengan ganas dan mencoba menangkapnya dengan cakarnya.

Lili ketakutan dan berlari secepat mungkin untuk menyelamatkan diri. Dia berlari ke arah klub berkebun, yang pintunya sedang terbuka karena Dee sedang membersihkannya. Dia masuk ke dalam ruangan klub dan bersembunyi di balik rak-rak tanaman hidroponik.

Si orange kucing tidak bisa masuk ke dalam ruangan klub karena pintunya ditutup oleh Dee setelah dia selesai membersihkannya. Dia hanya bisa menggeram dan menggaruk pintu dengan frustasi.

Lili merasa lega karena berhasil lolos dari si orange kucing. Dia melihat sekeliling ruangan klub dan terpesona oleh tanaman-tanaman hidroponik yang ada di sana. Dia melihat banyak wortel hidroponik yang tumbuh subur dan menggoda selera.

Lili tidak bisa menahan diri untuk mencicipi wortel hidroponik itu. Dia pun mulai memakan wortel-wortel itu dengan lahap dan nikmat. Dia merasa sangat senang dan puas karena bisa makan wortel hidroponik sepuasnya.

Lili tidak menyadari bahwa dia telah membuat kerusakan besar di klub berkebun. Dia telah memakan banyak wortel hidroponik yang hilang tanpa bekas. Dia juga meninggalkan kotorannya di sekitar tanaman hidroponik yang tersisa.

Lili juga tidak menyadari bahwa dia telah menjadi pelaku dari salah satu misteri terbesar di SMAN 105, yaitu misteri hilangnya tanaman hidroponik di klub berkebun.

Setelah beberapa hari menyelidiki misteri hilangnya tanaman hidroponik di klub berkebun, Jupri, Dee, dan Palev akhirnya berhasil menemukan petunjuk yang menentukan. Mereka menemukan sehelai bulu putih yang tersangkut di salah satu rak tanaman hidroponik. Mereka juga menemukan jejak kaki kecil yang mengarah ke semak-semak di sudut ruangan.

Mereka pun mengikuti jejak kaki itu dan mendekati semak-semak itu dengan hati-hati. Mereka terkejut ketika mereka melihat apa yang ada di balik semak-semak itu. Mereka melihat seekor kelinci putih yang sedang tidur nyenyak di sana.

Kelinci itu adalah Lili, kelinci kesayangan Palev yang hilang beberapa hari lalu. Dia adalah pelaku sebenarnya dari misteri hilangnya tanaman hidroponik di klub berkebun.

“Li…Lili? Apa kamu yang memakan tanaman hidroponik kami?” tanya Dee dengan tak percaya.

“Lili? Apa kamu yang berhasil lolos dari si orange kucing?” tanya Palev dengan terharu.

“Lili? Apa kamu yang menjadi salah satu dari 7 misteri SMAN 105?” tanya Jupri dengan kagum.

Lili terbangun dari tidurnya karena mendengar suara-suara itu. Dia membuka matanya dan melihat tiga wajah manusia yang menatapnya dengan berbagai ekspresi. Dia merasa bingung dan takut.

Dia pun berdiri dan berlari menjauh dari mereka. Dia ingin kembali ke klub pecinta binatang, tempat dia merasa aman dan nyaman.

Namun, dia tidak bisa lolos dari mereka. Jupri, Dee, dan Palev segera mengejarnya dan berhasil menangkapnya. Mereka memeluk Lili dengan erat dan mengelus-elus bulunya yang lembut.

“Lili, kami tidak akan menyakiti kamu. Kami hanya ingin tahu kenapa kamu memakan tanaman hidroponik kami.” kata Dee dengan lembut.

“Lili, kami senang sekali kamu masih hidup. Kami khawatir kamu sudah mati dimakan oleh si orange kucing.” kata Palev dengan haru.

“Lili, kami kagum dengan kamu. Kamu berhasil membuat kami bingung dengan misterimu.” kata Jupri dengan senyum.

Lili merasa tenang dan nyaman di pelukan mereka. Dia merasa bersalah karena telah memakan tanaman hidroponik mereka. Dia juga merasa senang karena telah bertemu kembali dengan Palev, pemiliknya yang sangat menyayanginya.

Dia pun mengeluarkan suara “nguik-nguik” yang manis sebagai tanda permintaan maaf dan rasa sayangnya kepada mereka.

Mereka pun tersenyum dan memaafkan Lili. Mereka juga merasa lega karena mereka telah menyelesaikan misteri hilangnya tanaman hidroponik di klub berkebun.

Mereka pun membawa Lili kembali ke klub pecinta binatang, tempat dia seharusnya berada. Mereka juga memberitahu anggota klub berkebun dan klub pecinta binatang tentang penemuan mereka.

Anggota klub berkebun merasa sedih karena tanaman hidroponik mereka telah dimakan oleh Lili. Namun, mereka juga merasa kasihan pada Lili yang hanya mencari makanan yang enak. Mereka pun memutuskan untuk tidak marah pada Lili atau Palev.

Anggota klub pecinta binatang merasa senang karena Lili telah kembali ke pelukan Palev. Mereka juga merasa bangga pada Lili yang telah menjadi salah satu dari 7 misteri SMAN 105. Mereka pun memutuskan untuk memberi Lili hadiah berupa wortel segar yang banyak.

Jupri merasa puas karena telah menulis artikel pembongkaran misteri hilangnya tanaman hidroponik di klub berkebun. Dia juga merasa senang karena telah berteman dengan Dee dan Palev. Dia pun memutuskan untuk kembali dengan Klub Penelitian Budaya Masyarakat (KPBM).

Saya akan melanjutkan adegan dan percakapan tersebut dengan, Sena memuji kinerja dari Jupri. Mereka berdiskusi semoga Jupri bisa menemukan Pemain legendaris Tekkan 7 yang tak pernah terkalahkan dan masih di cari siapa siswa SMAN 105 yang melakukan legenda tersebut. Sena tidak sabar mau melawannya. Ini adalah hasilnya:

Setelah menyelesaikan artikel pembongkaran misteri hilangnya tanaman hidroponik di klub berkebun, Jupri kembali ke Klub Penelitian Budaya Masyarakat (KPBM). Dia disambut oleh Sena, ketua klub KPBM dan teman baiknya. Sena memuji kinerja Jupri yang telah berhasil menulis artikel yang menarik dan informatif.

“Jup, kamu hebat sekali. Artikelmu tentang misteri hilangnya tanaman hidroponik di klub berkebun sangat bagus. Kamu berhasil mengungkap siapa pelakunya dan bagaimana caranya. Kamu juga berhasil membuat artikelmu menjadi salah satu artikel terpopuler di majalah sekolah kita.” kata Sena dengan bangga.

“Terima kasih, Sen. Aku senang kamu suka dengan artikelku. Aku juga berterima kasih kepada Dee dan Palev yang telah membantuku dalam penyelidikan ini. Mereka adalah teman yang baik dan cerdas.” balas Jupri dengan senyum.

“Dee dan Palev memang teman yang baik dan cerdas. Aku juga senang kamu bisa berteman dengan mereka. Aku harap kamu bisa bekerja sama dengan mereka lagi di masa depan.” ujar Sena dengan senyum.

“Aku juga berharap begitu, Sen. Aku merasa nyaman dan bahagia bersama mereka. Mereka juga memiliki minat yang sama denganku, yaitu menyelesaikan misteri-misteri yang ada di sekolah kita.” kata Jupri dengan antusias.

Akhirnya, misteri hilangnya tanaman hidroponik di klub berkebun terpecahkan. Klub berkebun dan klub pecinta binatang menjadi lebih ramai dan harmonis. Jupri, Dee, dan Palev menjadi tim detektif yang hebat.

Episodes
1 Prolog
2 Awal dari Masalah
3 Jika Kau Punya Dosa, Semuanya Akan Rumit
4 Kenangan Harusnya Dilupakan, Tapi Tidak Kenangan Buruk
5 Kehidupan Layaknya Musik Jazz, Terlalu Banyak Improvisasi dan Spontanitas
6 Kamu Tidak Sendirian
7 Bagaimana Aku Harus Menyelesaikan Masalah Ini?
8 Pandangan Putri Salju Terhadap Kurniadi Avicenna
9 Roda Takdir Akhirnya Mulai Kembali Bergerak
10 Masalahpun Dimulai
11 Kenapa Kehidupanku Menjadi Kehidupan yang Abnormal?
12 Penyihir yang Kembali Lapangan
13 Babak Pertama yang Menyedihkan
14 Penyihir yang Licik, Kurniadi Avicenna
15 Ketika Pangeran Sepak Bola Sadar Akan Karir
16 Membuat Kue Tanda Persahabatan
17 Setidaknya Masalah Kali Ini, Semuanya Bahagia
18 Datangnya Salah Satu Kasus Dari 7 Misteri SMAN 105 yang Belum Terpecahkan
19 Hilangnya Tanaman Kebun Secara Misterius di Pagi Hari
20 Ketika KPBM Dibicarakan oleh Anggot OSIS
21 Badai Itu Datang Lagi, Skandal Teman Satu Klub
22 Badai Itu Mulai Datang Lagi
23 Permasalahan Vtuber yang Semakin Rumit
24 Ketakutan Ria dan Kenangannya Dengan Klub Penelitian Budaya Masyarakat (KPBM)
25 Ibu Sonia yang Memegang Janji Pada Ria
26 Sidang yang Menyebalkan
27 Pertaruhan Sena dengan Ina
28 Bantuan Datang! Siapa Pelaku Pembongkaran Ria sebagai Calara Puni-puni?
29 Pria di Belakang Masalah
30 Awal Mula Pertarungan IT
31 Jaka Si Joker IT
32 Pertandingan Yang Berat
33 Pembantaian yang Terbalik
34 Adu Siasat
35 Ke Arah yang Tidak Menguntungkan
36 Baku Pukul Tak Terhindarkan
37 Penyelesaian Masalah Menimbulkan Masalah
38 Hubungan Ayah dan Anak
39 Ketika Sena Tidak Ada di Klub
40 Masa Lalu Sena
41 Ketika Puteri Jatuh Hati
42 Puteri Tanpa Hati Ternyata Punya Hati
43 Monolog Ini Punya Siapa?
44 Bintang Mulai Berbohong
Episodes

Updated 44 Episodes

1
Prolog
2
Awal dari Masalah
3
Jika Kau Punya Dosa, Semuanya Akan Rumit
4
Kenangan Harusnya Dilupakan, Tapi Tidak Kenangan Buruk
5
Kehidupan Layaknya Musik Jazz, Terlalu Banyak Improvisasi dan Spontanitas
6
Kamu Tidak Sendirian
7
Bagaimana Aku Harus Menyelesaikan Masalah Ini?
8
Pandangan Putri Salju Terhadap Kurniadi Avicenna
9
Roda Takdir Akhirnya Mulai Kembali Bergerak
10
Masalahpun Dimulai
11
Kenapa Kehidupanku Menjadi Kehidupan yang Abnormal?
12
Penyihir yang Kembali Lapangan
13
Babak Pertama yang Menyedihkan
14
Penyihir yang Licik, Kurniadi Avicenna
15
Ketika Pangeran Sepak Bola Sadar Akan Karir
16
Membuat Kue Tanda Persahabatan
17
Setidaknya Masalah Kali Ini, Semuanya Bahagia
18
Datangnya Salah Satu Kasus Dari 7 Misteri SMAN 105 yang Belum Terpecahkan
19
Hilangnya Tanaman Kebun Secara Misterius di Pagi Hari
20
Ketika KPBM Dibicarakan oleh Anggot OSIS
21
Badai Itu Datang Lagi, Skandal Teman Satu Klub
22
Badai Itu Mulai Datang Lagi
23
Permasalahan Vtuber yang Semakin Rumit
24
Ketakutan Ria dan Kenangannya Dengan Klub Penelitian Budaya Masyarakat (KPBM)
25
Ibu Sonia yang Memegang Janji Pada Ria
26
Sidang yang Menyebalkan
27
Pertaruhan Sena dengan Ina
28
Bantuan Datang! Siapa Pelaku Pembongkaran Ria sebagai Calara Puni-puni?
29
Pria di Belakang Masalah
30
Awal Mula Pertarungan IT
31
Jaka Si Joker IT
32
Pertandingan Yang Berat
33
Pembantaian yang Terbalik
34
Adu Siasat
35
Ke Arah yang Tidak Menguntungkan
36
Baku Pukul Tak Terhindarkan
37
Penyelesaian Masalah Menimbulkan Masalah
38
Hubungan Ayah dan Anak
39
Ketika Sena Tidak Ada di Klub
40
Masa Lalu Sena
41
Ketika Puteri Jatuh Hati
42
Puteri Tanpa Hati Ternyata Punya Hati
43
Monolog Ini Punya Siapa?
44
Bintang Mulai Berbohong

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!