Babak Pertama yang Menyedihkan

Pertandingan yang dinanti oleh pemain SMAN 105 melawan SMAN 14 Jakarta, sebentar lagi dimulai. Sebelum kick-off, wasit lapangan di pimpin oleh Jimmy Napitupulu. Pak Jimmy memanggil kedua tim untuk melakukan toss koin, menentukan siapa yang akan memulai kick off.

Tim Sepak bola SMAN 105 Jakarta, yang menjadi kapten adalah Bintang yang juga merupakan ketua OSIS SMAN 105 Jakarta. Pria itu memiliki nomor punggung 9, posisinya seorang penyerang yang cukup berpengalaman di kejuaran antar SMA.

Sedangkan tim lawan yang menjadi kapten adalah pemain belakang dengan nomor punggung 5. Dia adalah sang pahlawan yang menghantarkan SMAN 14 menjadi finalis kejuaraan nasional. Dia bernama Hari Mahardika. Salah satu pemain yang memiliki aura mengerikan dan patut untuk diwaspadai, karena dia memiliki pertahanan yang solid serta visi bermain yang cukup tinggi. Jika disejajarkan dia hampir mirip seperti Van Dijk muda, kemungkinan dia adalah pemain yang cukup sangar serta berbahaya. Sulit untuk tim SMAN 105 mencetak gol.

Lempar koin pun dilakukan dan tim SMAN 105 yang akan memulai kick-off lebih dulu.

Sena yang melakukan peregangan di pinggir lapangan hanya bisa mengamati pertandingan tersebut.

Kick off dilakukan, penyerangan brutal dilakukan oleh Tim SMAN 14 Jakarta yang mampu merebut bola dari Juhans. Mereka menguasai penguasaan bola dengan umpan segitiga di setiap sisi. Rasanya seperti strategi Erick Ten Hag dimana bisa melakukan umpan dan komposisi di setiap sudut pemain kami sehingga tim 105 terlihat kepayahan. Mereka mengandalkan umpan-umpan pendek dan membentuk segitiga sehingga sering membuat kami bingung ke mana mereka akan mengumpan, tim SMAN 105 terdesak hingga mundur ke belakang dan tim bermain setengah lapangan.

Sena berpikir, ini cukup sulit tetapi ada ruang kosong di tim lawan yang mana sebenarnya ruang kosong itu sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai senjata serangan balik. tetapi karena Sena hanya bisa mengamati sambil melakukan scanning area. Dia perlu memikirkan bagaimana cara merebut bola dari mereka.

Kelemahan dari tim SMAN 105 adalah mereka tidak bisa memanfaatkan titik-titik ruang yang kosong dan diubah menjadi peluang, begitu pula dengan ketika mereka sudah merebut bola, aliran bola mereka cukup payah dan jarang ada umpan terobosan yang mematikan.

Tim sepak bola SMAN 105 harus berhadapan dengan tim SMAN 14, yang dikenal sebagai salah satu tim terbaik di Jakarta. Mereka memiliki pemain-pemain yang tangguh, cepat, dan memiliki teknik yang bagus. Tim SMAN 105 tahu bahwa mereka harus bermain lebih baik jika ingin menang.

Namun, sejak awal pertandingan, tim SMAN 105 sudah kewalahan. Mereka tidak bisa mengimbangi pergerakan dan serangan tim SMAN 14, yang selalu memanfaatkan ruang-ruang kosong di lapangan. Tim SMAN juara dua itu pun sering memberikan umpan-umpan terobosan yang mematikan, yang membuat pertahanan tim SMAN 105 kocar-kacir.

Pada menit 15, Yuniar pemain dari SMAN 14 kembali membuat kejutan. Dia melakukan umpan satu dua dengan seniornya yang bernama Ren, yang berposisi sebagai gelandang serang. Mereka berdua memainkan bola dengan cepat dan akurat, mengelabui pemain belakang SMAN 105.

“Kau hebat, Yuniar. Kau sudah berkembang pesat sejak SMP.” puji Ren sambil mengumpan bola ke Yuniar.

“Terima kasih, kak Ren. Kau juga hebat. Kau adalah idola dan inspirasiku.” balas Yuniar sambil mengembalikan umpan ke Ren.

"Kita harus menang hari ini. Kita harus membuktikan bahwa kita adalah tim terbaik di Jakarta.” ujar Ren sambil menembak bola ke gawang.

Namun, tembakannya berhasil ditepis oleh kiper SMAN 105, yang bernama Rizal. Dia adalah salah satu pemain terbaik di timnya, yang memiliki refleks dan antisipasi yang tinggi.

“Bagus, Rizal! Kau selamatkan kami!” teriak Bintang sambil memberi semangat kepada kiper.

“Terus bertahan, kawan-kawan! Jangan biarkan mereka mencetak gol!” seru Rizal sambil mengambil bola.

Yuniar ternyata tidak mengumpan ke Ren melainkan ke Risky Ridho, yang berlari dari sisi kanan lapangan. Risky Ridho adalah pemain sayap kanan yang memiliki kecepatan dan dribel yang luar biasa. Dia berhasil lolos dari penjagaan pemain SMAN 105 dan menuju ke kotak penalti.

“Risky, sini!” teriak Yuniar sambil mengirimkan umpan silang ke arah Risky Ridho.

Risky Ridho pun menyambut umpan tersebut dengan sundulan keras. Bola meluncur deras menuju gawang SMAN 105, yang dijaga oleh Rizal.

“Rizal, hati-hati!” teriak Bintang sambil berusaha membantu Rizal.

Rizal pun berusaha menghalau bola dengan sigap. Dia melompat ke udara dan mengulurkan tangannya sekuat tenaga. Dia berharap bisa menepis bola dan menyelamatkan timnya dari kebobolan.

“Rizal, kau bisa!” seru Sena sambil mendoakan Rizal.

Namun, bola terlalu kencang dan sulit untuk dijangkau. Rizal hanya bisa menyentuh bola dengan ujung jarinya, tetapi tidak cukup untuk mengubah arah bola. Bola pun masuk ke dalam gawang dengan sempurna.

“GOOOOOLLL!!!” teriak Risky Ridho sambil merayakan golnya.

“YEAHHH!!!” sahut Yuniar sambil memeluk Risky Ridho.

“KEREN!!!” puji Ren sambil memberikan tepukan di punggung Risky Ridho.

Tim SMAN 14 pun bersorak-sorai. Mereka berhasil mencetak gol kelima mereka ke gawang SMAN 105. Mereka semakin unggul dan percaya diri.

Sementara itu, tim SMAN 105 tampak murung dan putus asa. Mereka sudah kemasukan lima gol dan belum bisa membalas satu pun. Mereka merasa seperti tidak ada harapan lagi.

“Aduh, gimana ini?” keluh Bintang sambil menunduk lesu.

“Tenang, masih ada waktu. Kita bisa mengejar ketinggalan.” kata Sena sambil mencoba memberi semangat kepada Bintang.

“Tapi mereka terlalu kuat. Kita tidak bisa menghadapi mereka.” sahut Bintang sambil menggeleng-geleng kepala.

“Jangan menyerah, Bintang. Kita harus berjuang sampai akhir.” ujar Sena sambil menatap mata Bintang.

“Kau benar, Sena. Kita harus berjuang. Kita tidak boleh mengecewakan pelatih dan teman-teman kita.” kata Bintang sambil tersenyum tipis.

“Bagus, Bintang. Ayo kita bangkit!” seru Sena sambil mengacungkan jempol ke Bintang.

Bintang pun mengangguk dan segera berdiri tegak. Dia memandang rekan-rekannya yang lain, yang juga tampak sedikit lebih bersemangat setelah mendengar kata-kata Sena.

“Ayo, kawan-kawan! Kita bisa! Kita harus bisa!” teriak Bintang sambil memimpin sorakan timnya.

Tim SMAN 105 pun bersorak-sorai. Mereka mencoba untuk bangkit dari keterpurukan dan menunjukkan semangat juang mereka. Mereka masih memiliki harapan untuk membalikkan keadaan.

Pada menit ke 35, pertandingan sepak bola antara SMAN 105 dengan SMAN 14 semakin berat sebelah. Tim SMAN 14 terus menekan pertahanan tim SMAN 105 dengan serangan-serangan yang bervariasi. Mereka tidak hanya mengandalkan penyerang-penyerang mereka yang tangguh, tetapi juga gelandang-gelandang mereka yang kreatif. Salah satunya adalah Robert, yang berposisi sebagai gelandang tengah. Dia adalah otak dari permainan tim SMAN 14, yang selalu memberikan umpan-umpan matang kepada rekan-rekannya.

Robert memiliki kemampuan mengumpan yang luar biasa. Dia bisa memberikan umpan pendek, umpan panjang, umpan terobosan, umpan silang, dan umpan-umpan lainnya dengan akurasi yang tinggi. Dia juga bisa membaca pergerakan lawan dan rekan-rekannya dengan baik, sehingga dia selalu tahu kapan dan ke mana dia harus mengumpan. Dia adalah pemain yang sangat berbahaya bagi tim SMAN 105.

Tim SMAN 105 pun kesulitan untuk menghentikan Robert. Mereka tidak bisa merebut bola dari kakinya, karena dia selalu bergerak lincah dan cerdik. Mereka juga tidak bisa memotong jalur umpannya, karena dia selalu menemukan ruang kosong di lapangan1. Mereka membutuhkan seorang gelandang bertahan yang tangguh dan disiplin untuk menjaga Robert. Sayangnya, tim SMAN 105 tidak memiliki pemain seperti itu di lapangan.

Di bangku cadangan tim SMAN 14, pelatih dan pemain-pemain lainnya mengagumi permainan Robert. Mereka memberikan pujian dan dukungan kepada Robert, yang menjadi bintang lapangan.

“Robert, kau hebat sekali! Kau membuat tim lawan bingung!” teriak pelatih sambil bertepuk tangan.

“Robert, kau luar biasa! Kau menguasai lapangan!” seru Risky Ridho sambil bersorak.

“Robert, kau jenius! Kau memberikan umpan-umpan yang indah!” puji Yuniar sambil bersiul.

“Robert, kau fantastis! Kau membuat kami bangga!” kata Ren sambil mengacungkan jempol.

Bintang, sebagai kapten dan penyerang tim SMAN 105, merasa frustrasi melihat permainan timnya. Dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu timnya. Dia jarang mendapatkan bola dari rekan-rekannya, karena mereka selalu kehilangan bola di tengah lapangan. Dia juga tidak bisa menciptakan peluang sendiri, karena dia selalu dijaga ketat oleh pemain belakang tim SMAN 14, terutama Hari Mahardika.

“Bintang, ayo semangat! Kita masih bisa!” teriak Juhans sambil mengoper bola ke Bintang.

“Terima kasih, Juhans. Aku akan berusaha.” balas Bintang sambil menerima bola.

Bintang pun mencoba untuk menusuk pertahanan tim SMAN 14 dengan dribelnya. Dia berharap bisa menembus barisan pemain belakang mereka dan mencetak gol.

Namun, sebelum dia bisa melakukannya, dia sudah disambut oleh Hari Mahardika, yang berdiri di depannya dengan gagah.

“Halo, Bintang. Apa kabar?” sapa Hari Mahardika sambil tersenyum sinis.

“Baik-baik saja, Hari. Bagaimana denganmu?” jawab Bintang sambil menatap tajam.

“Aku juga baik-baik saja. Aku senang bisa bertemu denganmu di lapangan ini.” kata Hari Mahardika sambil menggerakkan kakinya.

“Senang juga bertemu denganmu. Tapi maaf ya, aku harus melewatimu.” ujar Bintang sambil berusaha mengelabui Hari Mahardika.

“Tidak akan mudah, Bintang. Aku akan menghentikanmu.” balas Hari Mahardika sambil merebut bola dari Bintang.

Bintang pun kehilangan bola dan terjatuh ke tanah. Dia merasa kesal dan sakit.

“Hari, kau jahat!” protes Bintang sambil bangkit dari tanah.

“Hari, kau hebat!” puji Robert sambil mengambil bola dari Hari Mahardika.

Robert pun melanjutkan serangan tim SMAN 14 dengan mengumpan bola ke Risky Ridho, yang sudah siap di depan gawang.

Hari Mahardika adalah bek tengah yang tangguh dan tangkas. Dia memiliki postur tubuh yang tinggi dan kuat, sehingga dia bisa menguasai duel udara dan fisik. Dia juga memiliki kecepatan dan stamina yang baik, sehingga dia bisa mengimbangi pergerakan Bintang. Dia adalah pemain yang sangat sulit untuk ditembus oleh Bintang.

Bintang pun merasa kesal dengan Hari Mahardika. Dia merasa bahwa Hari Mahardika terlalu kasar dan sering melanggar dirinya. Dia merasa bahwa wasit tidak adil dan tidak memberikan kartu kuning atau merah kepada Hari Mahardika. Dia pun sering protes kepada wasit dan meminta perlindungan.

“Wasit, itu pelanggaran! Dia menarik bajuku!” teriak Bintang sambil menunjuk Hari Mahardika.

“Tidak ada pelanggaran. Main terus!” jawab wasit sambil menggelengkan kepala.

“Wasit, itu handball! Dia menyentuh bola dengan tangannya!” protes Bintang sambil menunjuk Hari Mahardika lagi.

“Tidak ada handball. Main terus!” balas wasit sambil mengayunkan tangannya.

“Wasit, itu offside! Dia sudah berada di depan bek kami!” keluh Bintang sambil menunjuk Hari Mahardika yang ikut naik ke depan.

“Tidak ada offside. Main terus!” sahut wasit sambil meniup peluitnya.

Bintang pun merasa tidak puas dengan keputusan wasit. Dia merasa bahwa wasit memihak kepada tim SMAN 14 dan mengabaikan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh Hari Mahardika. Dia pun marah dan menghampiri wasit.

“Wasit, kau tidak adil! Kau selalu melindungi tim lawan! Kau harus memberikan kartu kuning atau merah kepada Hari Mahardika! Dia sudah melanggar aku berkali-kali!” bentak Bintang sambil menatap mata wasit.

“Tenang, Bintang. Aku sudah melihat semua kejadian di lapangan. Aku tidak ada maksud untuk memihak kepada siapa pun. Aku hanya menjalankan tugas dan aturan yang berlaku. Aku tidak bisa memberikan kartu kuning atau merah kepada Hari Mahardika, karena dia tidak melakukan pelanggaran yang berat atau berbahaya kepada dirimu. Aku hanya memberikan peluit atau lemparan bebas kepada timmu jika ada pelanggaran yang jelas dari Hari Mahardika.” jelas wasit sambil menenangkan Bintang.

“Tapi, wasit…” bantah Bintang sambil menggumamkan kata-kata.

“Aku sudah bilang, tenang, Bintang. Jangan membuat masalah di lapangan. Jangan mengganggu jalannya pertandingan. Jangan membuang-buang waktu dengan protes yang tidak berguna. Jika kau terus bersikap seperti ini, aku akan memberikan kartu kuning atau merah kepadamu.” ancam wasit sambil menunjukkan kartu di sakunya.

Bintang pun terdiam dan mundur dari wasit. Dia sadar bahwa dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia harus menerima keputusan wasit dan bermain dengan sportif. Dia harus fokus pada permainannya dan mencoba untuk membantu timnya mengejar ketinggalan.

Namun, di dalam hatinya, dia masih menyimpan rasa kesal dan dendam kepada Hari Mahardika. Dia berjanji untuk mengalahkan Hari Mahardika di lapangan dengan cara yang fair dan elegan. Dia berjanji untuk mencetak gol ke gawang tim SMAN 14 dan membawa timnya menang.

Namun, wasit tidak menggubris protes Bintang. Wasit merasa bahwa Hari Mahardika tidak melakukan pelanggaran yang berat atau berbahaya kepada Bintang. Wasit hanya memberikan peluit atau lemparan bebas kepada tim SMAN 105 jika ada pelanggaran yang jelas dari Hari Mahardika. Wasit berusaha untuk menjaga pertandingan tetap berjalan lancar dan sportif.

Sena, sebagai pemain cadangan tim SMAN 105, hanya bisa menyaksikan pertandingan dari pinggir lapangan2. Dia merasa sedih melihat timnya kalah telak dari tim SMAN 14. Dia merasa bahwa timnya tidak bermain dengan baik dan tidak memiliki strategi yang jelas. Dia merasa bahwa pelatih tidak memberikan instruksi atau motivasi yang cukup kepada timnya.

Sena pun ingin sekali masuk ke lapangan dan membantu timnya. Dia yakin bahwa dia bisa memberikan perbedaan bagi timnya. Dia yakin bahwa dia bisa merebut bola dari Robert dan memberikan umpan kepada Bintang. Dia yakin bahwa dia bisa mencetak gol ke gawang tim SMAN 14.

Namun, Sena tidak bisa masuk ke lapangan tanpa izin dari pelatih. Pelatih adalah orang yang berhak untuk menentukan siapa yang akan masuk atau keluar dari lapangan. Pelatih adalah orang yang bertanggung jawab atas hasil pertandingan.

Sena pun menunggu kesempatan untuk masuk ke lapangan dengan sabar dan penuh harap. Dia berdoa agar pelatih mau memasukkannya ke lapangan. Dia berdoa agar timnya bisa bangkit dan mengejar ketinggalan. Dia berdoa agar dia bisa membuktikan kemampuannya di lapangan.

Pada menit ke 44, pertandingan sepak bola antara SMAN 105 dengan SMAN 14 semakin berat sebelah. Terjadi gol untuk SMAN 14 yang membuat skor menjadi 0-2 Gol tersebut dicetak oleh Robert, yang berposisi sebagai gelandang tengah. Dia adalah otak dari permainan tim SMAN 14, yang selalu memberikan umpan-umpan matang kepada rekan-rekannya.

Robert berhasil mencetak gol dengan tendangan jarak jauh yang menghunjam ke pojok kanan atas gawang SMAN 1051. Dia melihat adanya ruang kosong di depan gawang dan memanfaatkannya dengan cepat. Dia melepaskan tendangan keras yang tidak bisa dijangkau oleh Rizal, kiper SMAN 105.

“GOOOOOLLL!!!” teriak Robert sambil melompat ke udara.

“YAHAAAAAAAAA!!!” sahut Risky Ridho sambil memeluk Robert

“KEREN!!!” puji Yuniar sambil memberikan tepukan di punggung Robert.

“FANTASTIS!!!” kata Ren sambil mengacungkan jempol ke Robert.

“Babak pertama berakhir! Skor sementara adalah 0-2 untuk tim SMAN 14!” umum wasit sambil mengacungkan tangan ke arah kedua tim.

Tim SMAN 14 pun bersuka cita4. Mereka merasa bahwa mereka sudah memenangkan pertandingan ini. Mereka berlari menuju ruang ganti dengan senyum lebar di wajah mereka.

Tim SMAN 105 pun bersedih hati. Mereka merasa bahwa mereka sudah kalah telak dari tim lawan. Mereka berjalan menuju ruang ganti dengan wajah muram dan mata berkaca-kaca.

Di ruang ganti, pelatih kedua tim memberikan instruksi dan motivasi kepada para pemainnya.

Pelatih tim SMAN 14 mengucapkan selamat kepada para pemainnya atas penampilan mereka yang luar biasa di babak pertama. Dia memuji mereka atas kerja sama dan komunikasi yang baik di lapangan. Dia juga mengingatkan mereka untuk tetap fokus dan disiplin di babak kedua. Dia tidak mau mereka lengah atau sombong karena skor yang sudah unggul.

“Kalian hebat, anak-anak! Kalian sudah bermain dengan sangat baik di babak pertama. Kalian sudah menunjukkan bahwa kalian adalah tim terbaik di Jakarta. Aku bangga pada kalian!” kata pelatih sambil memberikan tepukan di pundak para pemainnya.

“Terima kasih, pelatih. Kami senang bisa membuat Anda bangga.” balas para pemain sambil tersenyum.

“Tapi, jangan lupa, pertandingan belum selesai. Masih ada babak kedua yang harus kalian hadapi. Jangan kalian anggap remeh tim lawan. Jangan kalian merasa puas dengan skor yang sudah ada. Jangan kalian kehilangan konsentrasi atau disiplin di lapangan.” lanjut pelatih sambil menatap mata para pemainnya.

“Siap, pelatih. Kami akan tetap bermain dengan serius dan sportif. Kami akan tetap bermain dengan semangat dan kerja keras. Kami akan tetap bermain untuk menang.” jawab para pemain sambil mengangguk.

“Bagus, anak-anak. Aku percaya pada kalian. Aku yakin kalian bisa mempertahankan keunggulan kalian dan membawa pulang piala juara. Ayo, bersiap-siap untuk babak kedua!” ujar pelatih sambil mengacungkan tangan ke atas.

“Ayo, bersiap-siap untuk babak kedua!” seru para pemain sambil mengacungkan tangan ke atas juga.

Sementara itu, pelatih tim SMAN 105 memberikan nasihat dan semangat kepada para pemainnya atas penampilan mereka yang kurang baik di babak pertama. Dia mengkritik mereka atas kesalahan-kesalahan yang mereka buat di lapangan. Dia juga memberikan solusi dan saran untuk memperbaiki permainan mereka di babak kedua. Dia tidak mau mereka menyerah atau patah semangat karena skor yang sudah tertinggal.

“Kalian kurang bagus, anak-anak! Kalian sudah bermain dengan sangat buruk di babak pertama. Kalian sudah mengecewakan diri kalian sendiri dan tim kita. Aku sedih melihat kalian!” kata pelatih sambil menatap tajam para pemainnya.

“Maaf, pelatih. Kami minta maaf telah membuat Anda sedih.” minta maaf para pemain sambil menunduk malu.

“Tapi, jangan putus asa, anak-anak. Pertandingan masih berlanjut. Masih ada babak kedua yang bisa kalian manfaatkan. Jangan kalian takut atau minder dengan tim lawan. Jangan kalian puas dengan skor yang sudah ada. Jangan kalian kehilangan harapan atau motivasi di lapangan.” lanjut pelatih sambil menyentuh bahu para pemainnya.

“Baik, pelatih. Kami akan berusaha untuk memperbaiki permainan kami. Kami akan berusaha untuk mengejar ketinggalan kami. Kami akan berusaha untuk menang.” jawab para pemain sambil mengangkat kepala.

“Bagus, anak-anak. Aku masih percaya pada kalian. Aku masih yakin kalian bisa membalikkan keadaan dan membawa pulang piala juara. Ayo, bersiap-siap untuk babak kedua!” ujar pelatih sambil mengacungkan tangan ke atas.

“Ayo, bersiap-siap untuk babak kedua!” seru para pemain sambil mengacungkan tangan ke atas juga.

Pelatih tim SMAN 105 pun tersenyum dan memeluk para pemainnya satu per satu. Dia merasa harap dan yakin bahwa timnya bisa bangkit hari ini.

Episodes
1 Prolog
2 Awal dari Masalah
3 Jika Kau Punya Dosa, Semuanya Akan Rumit
4 Kenangan Harusnya Dilupakan, Tapi Tidak Kenangan Buruk
5 Kehidupan Layaknya Musik Jazz, Terlalu Banyak Improvisasi dan Spontanitas
6 Kamu Tidak Sendirian
7 Bagaimana Aku Harus Menyelesaikan Masalah Ini?
8 Pandangan Putri Salju Terhadap Kurniadi Avicenna
9 Roda Takdir Akhirnya Mulai Kembali Bergerak
10 Masalahpun Dimulai
11 Kenapa Kehidupanku Menjadi Kehidupan yang Abnormal?
12 Penyihir yang Kembali Lapangan
13 Babak Pertama yang Menyedihkan
14 Penyihir yang Licik, Kurniadi Avicenna
15 Ketika Pangeran Sepak Bola Sadar Akan Karir
16 Membuat Kue Tanda Persahabatan
17 Setidaknya Masalah Kali Ini, Semuanya Bahagia
18 Datangnya Salah Satu Kasus Dari 7 Misteri SMAN 105 yang Belum Terpecahkan
19 Hilangnya Tanaman Kebun Secara Misterius di Pagi Hari
20 Ketika KPBM Dibicarakan oleh Anggot OSIS
21 Badai Itu Datang Lagi, Skandal Teman Satu Klub
22 Badai Itu Mulai Datang Lagi
23 Permasalahan Vtuber yang Semakin Rumit
24 Ketakutan Ria dan Kenangannya Dengan Klub Penelitian Budaya Masyarakat (KPBM)
25 Ibu Sonia yang Memegang Janji Pada Ria
26 Sidang yang Menyebalkan
27 Pertaruhan Sena dengan Ina
28 Bantuan Datang! Siapa Pelaku Pembongkaran Ria sebagai Calara Puni-puni?
29 Pria di Belakang Masalah
30 Awal Mula Pertarungan IT
31 Jaka Si Joker IT
32 Pertandingan Yang Berat
33 Pembantaian yang Terbalik
34 Adu Siasat
35 Ke Arah yang Tidak Menguntungkan
36 Baku Pukul Tak Terhindarkan
37 Penyelesaian Masalah Menimbulkan Masalah
38 Hubungan Ayah dan Anak
39 Ketika Sena Tidak Ada di Klub
40 Masa Lalu Sena
41 Ketika Puteri Jatuh Hati
42 Puteri Tanpa Hati Ternyata Punya Hati
43 Monolog Ini Punya Siapa?
44 Bintang Mulai Berbohong
Episodes

Updated 44 Episodes

1
Prolog
2
Awal dari Masalah
3
Jika Kau Punya Dosa, Semuanya Akan Rumit
4
Kenangan Harusnya Dilupakan, Tapi Tidak Kenangan Buruk
5
Kehidupan Layaknya Musik Jazz, Terlalu Banyak Improvisasi dan Spontanitas
6
Kamu Tidak Sendirian
7
Bagaimana Aku Harus Menyelesaikan Masalah Ini?
8
Pandangan Putri Salju Terhadap Kurniadi Avicenna
9
Roda Takdir Akhirnya Mulai Kembali Bergerak
10
Masalahpun Dimulai
11
Kenapa Kehidupanku Menjadi Kehidupan yang Abnormal?
12
Penyihir yang Kembali Lapangan
13
Babak Pertama yang Menyedihkan
14
Penyihir yang Licik, Kurniadi Avicenna
15
Ketika Pangeran Sepak Bola Sadar Akan Karir
16
Membuat Kue Tanda Persahabatan
17
Setidaknya Masalah Kali Ini, Semuanya Bahagia
18
Datangnya Salah Satu Kasus Dari 7 Misteri SMAN 105 yang Belum Terpecahkan
19
Hilangnya Tanaman Kebun Secara Misterius di Pagi Hari
20
Ketika KPBM Dibicarakan oleh Anggot OSIS
21
Badai Itu Datang Lagi, Skandal Teman Satu Klub
22
Badai Itu Mulai Datang Lagi
23
Permasalahan Vtuber yang Semakin Rumit
24
Ketakutan Ria dan Kenangannya Dengan Klub Penelitian Budaya Masyarakat (KPBM)
25
Ibu Sonia yang Memegang Janji Pada Ria
26
Sidang yang Menyebalkan
27
Pertaruhan Sena dengan Ina
28
Bantuan Datang! Siapa Pelaku Pembongkaran Ria sebagai Calara Puni-puni?
29
Pria di Belakang Masalah
30
Awal Mula Pertarungan IT
31
Jaka Si Joker IT
32
Pertandingan Yang Berat
33
Pembantaian yang Terbalik
34
Adu Siasat
35
Ke Arah yang Tidak Menguntungkan
36
Baku Pukul Tak Terhindarkan
37
Penyelesaian Masalah Menimbulkan Masalah
38
Hubungan Ayah dan Anak
39
Ketika Sena Tidak Ada di Klub
40
Masa Lalu Sena
41
Ketika Puteri Jatuh Hati
42
Puteri Tanpa Hati Ternyata Punya Hati
43
Monolog Ini Punya Siapa?
44
Bintang Mulai Berbohong

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!