Pelatih Benny Gleniza langsung memanggil Sena, "Sena, kemari! Kau sudah memahami cara mereka bermain?"
"Tentu saja pelatih, ada beberapa cara untuk mengalahkan SMAN14. Mereka meskipun tangguh tetapi ruang kosong yang mereka ciptakan akan membuat mereka kalah." ucap Sena dengan nada yang datar.
"Bagus, babak kedua di pertandingan ini kamu main ssebagai defensive yang akan berubah menjadi ofensive tapi ingat kamu adalah jangkar di lini tengah. Permainan Sepak bola yang mengejutkan layaknya sirkulasi darah yang memanfaatkan ruang. Itulah filosofi permainan Sepak Bola SMAN 105. Reno di babak kedua ini kamu istirahat akan diganti leh Sena." balas Pelatih Benny.
Sena mengangguk dan berlari menuju lapangan. Dia melihat Reno, pemain tengah sebelumnya, yang sedang duduk di bangku cadangan dengan wajah muram. Sena menepuk pundaknya dan berkata, “Jangan khawatir, Reno. Kamu sudah bermain bagus di babak pertama. Aku akan melanjutkan kerja kerasmu di babak kedua. Kita pasti bisa menang bersama.”
Reno tersenyum tipis dan membalas, “Terima kasih, Sena. Aku percaya padamu. Kamu adalah pemain terbaik di tim ini. Tunjukkan kepada mereka siapa yang berkuasa di lapangan.”
Sena tersenyum dan berlari menuju posisinya di tengah lapangan. Dia melihat lawannya, SMAN14, yang tampak percaya diri dan angkuh. Sena merasakan semangatnya membara dan berkata dalam hati, “Aku akan membuat kalian menyesal telah meremehkan kami. Aku akan membuktikan bahwa kami adalah tim yang hebat.”
Peluit wasit berbunyi dan babak kedua dimulai. Kick off dimulai dari SMAN 14, Risky Ridho membagikan bola ke arah Yuniar. Tetapi Yuniar membagi bola ke arah Robert. Robert dan temannya Rozak layaknya seorang Kapten Tsubasa dan Misaki. Umpan satu dua yang sangat cantik. Permainan yang indah ditunjukkan.
Yuniar yang maju ke depan melewati Sena dan berbisik, "Kau akan terbantai di sini penyihir. Legendamu akan mati di sini."
Sena hanya tersenyum dan memberikan isyarat kepada Bintang dan Juhans untuk terus maju. Biarkan dirinya yang akan menghadang peman lawan. Selain itu Sena berkata kepada Bek SMAN 105, "Opik, Sandi, Giara, Rio. Ayo kita mainkan
Sena disebut penyihir bukan sekedar dia bisa merubah keadaan ketika kalah menjadi menang. Tetapi dia bisa mempermainkann pemain tengah yang telah melewatinya bola di kaki tiba-tiba terebut. Entah itu Sena yang merebut bola dari kaki dengan cepat atau bek SMAN 105 yang akan merebutnya sehingga membuat alur irama pemain lawan menjadi kacau. Tidak hanya itu umpan ajaib Sena bahkan bisa mengumpan ke lawan tetapi bola itu kembali memantul ke arah Sena. Seolah-olah Sena seperti menggunakan tali di bola tersebut. Selain itu drible bola yang dilakukan Sena sama seperti seorang konduktor dalam sebuah orkestra musik. Tetapi dia hanyalah pemain gelandang bertahan sepak bola.
Kemudian Robert berkata kepada Rozak, "Ayo umpan satu dua!"
"Baik!" balas Rozak.
“Ayo, Rozak, kita main umpan satu dua. Biar Sena bingung,” kata Robert sambil mengirimkan bola ke Rozak.
“Oke, Robert. Aku siap menerima bolamu,” jawab Rozak sambil mengembalikan bola ke Robert.
“Ha! Kalian kira aku tidak bisa mengantisipasi umpan kalian? Aku lebih pintar dari itu,” ujar Sena sambil menghadang bola dengan kakinya.
“Sialan, Sena. Kamu mengacaukan rencana kami,” gerutu Robert sambil mengejar Sena.
“Cepat, Robert. Kejar dia. Jangan biarkan dia menggiring bola ke depan,” seru Rozak sambil membantu Robert.
Sena langsung saja mengoper kepada temannya, Bintang, yang berada di sisi kiri lapangan. Bintang mengoper balik ke Sena, yang sudah berlari ke tengah. Meskipun kadang salah mengoper, tetapi bola tersebut malah memantul ke arah ruang kosong yang Sena tuju antara dirinya atau rekan setimnya di SMAN 105. Sena pun memanfaatkan kesempatan itu dan mengejar bola dengan cepat.
Melihat permainan Sena yang beresiko tetapi pelatih SMAN 14 melihat dan berkata, "Gila! SMAN 105 punya pemain segila ini. Pemain Gelandang yang sangat gila bahkan untuk ukuran anak SMA ini pemain sepak bola yang punya visi bagus dan tidak bisa ditebak. Apakah dia seorang Penyihir sepak bola?"
Sementara itu, di bangku cadangan SMAN 105, pelatih Benny Gleniza hanya tersenyum dengan santai. Dia sudah memperkirakan semua ini akan terjadi. Dia tahu betul potensi Sena sebagai pemain sepak bola. Dia sudah melatih Sena sejak dia masih kelas 10, dan dia melihat perkembangan Sena yang luar biasa. Dia juga tahu bahwa Sena adalah pemain yang berani dan kreatif, yang tidak takut mengambil resiko dan menciptakan peluang. Dia percaya bahwa Sena adalah penyihir yang bisa menyihir permainan sepak bola.
“Tenang saja, Pak. Sena memang begitu. Dia adalah penyihir sepak bola,” kata Benny Gleniza kepada asistennya, sambil menepuk pundaknya.
Sena segera merebut bola dari kaki lawannya dengan gesit dan menggiring bola ke depan dengan lincah. Dia melihat Bintang dan Juhans yang sudah berlari ke sisi sayap, siap menerima umpannya. Serta Jo yang siap membantu melayani sirkulasi bola.
Kemudian, dia memiliki ide yang gila. Dia memberikan isyarat ke arah Bintang dan Juhans dengan mata dan tangannya. Mereka pun mengerti maksud Sena dan bersiap-siap untuk melakukan aksi spektakuler.
Ketika waktunya tepat di menit 60, Sena seolah-olah mengumpan ke arah Bintang yang dijaga ketat oleh Hary mahardika, bek setangguh Van Dijk. Tapi tiba-tiba umpan Sena seperti tendangan Roberto Carlos yang melengkung. Umpannya langsung ke arah Juhans yang sudah berada di depan gawang lawan.
“Apa-apaan itu? Umpan apa itu?,” teriak Hary mahardika yang kaget dan bingung.
“Itu adalah umpan ajaib dari Sena, penyihir sepak bola,” kata Pelatih Beny dengan suara penuh semangat.
Juhans menendang bola sama seperti tendangan voli dari Zinedine Zidane. Bola meluncur deras ke gawang lawan, tanpa bisa dihalau oleh kiper SMAN 14. Gol! SMAN 105 berhasil memperkecil kekalahan menjadi 1-2, keunggulan masih dipegang SMAN 14.
“Gol! Gol! Gol! Juhans mencetak gol indah dengan tendangan voli yang spektakuler. Umpan ajaib dari Sena yang melengkung seperti tendangan Roberto Carlos. Ini adalah permainan sepak bola yang menakjubkan dari SMAN 105. Mereka tidak menyerah dan terus berjuang. Mereka masih punya harapan untuk menyamakan kedudukan atau bahkan membalikkan keadaan,” teriak suporter tim SMAN 105 dengan suara histeris.
Sena dan teman-temannya bersorak gembira, merayakan gol indah yang mereka ciptakan. Mereka berpelukan dan menepuk-nepuk punggung Sena, yang menjadi kreator gol tersebut. Sena tersenyum lebar, merasakan kepuasan dan kebanggaan. Dia telah membuktikan bahwa dia adalah penyihir yang bisa menyihir permainan sepak bola.
“Bagaimana bisa? Itu tidak mungkin. Sena tidak bisa mengumpan seperti itu. Dia pasti beruntung saja,” protes Robert yang tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Robert, kamu salah. Sena memang bisa mengumpan seperti itu. Dia adalah pemain yang luar biasa. Aku tahu karena aku pernah setim dengannya saat SMP. Dia selalu punya ide-ide gila yang bisa membuat lawan kewalahan,” kata Yuniar yang terkesima dengan permainan Sena.
“Yuniar, kamu jangan terpesona oleh Sena. Dia hanya menipu kita dengan umpan palsunya. Kita harus tetap fokus dan jangan kehilangan konsentrasi. Kita masih unggul 2-1. Kita bisa menang jika kita bermain dengan hati-hati,” kata Robert yang mencoba menyemangati timnya.
“Hahaha, Robert, kamu terlalu naif. Sena memang menipu kalian dengan umpan palsunya, tapi itu bukan umpan sembarangan. Itu adalah umpan yang sangat meyakinkan dan sulit ditebak. Aku tahu karena aku melihat isyaratnya sebelum dia mengumpan. Dia memberitahuku untuk bersiap-siap menerima umpannya yang melengkung seperti tendangan Roberto Carlos. Dan aku pun menendang bola seperti tendangan voli Zinedine Zidane. Itu adalah gol yang indah dan spektakuler,” kata Juhans yang tertawa puas dengan golnya.
“Juhans, kamu hebat sekali. Kamu bisa menyambut umpan ajaib dari Sena dengan sempurna. Kamu adalah striker yang tangguh dan tajam. Kamu telah membantu kami memperkecil kekalahan menjadi 1-2. Sekarang kita harus terus berjuang untuk menyamakan kedudukan atau bahkan membalikkan keadaan,” kata Bintang yang memeluk Juhans dan memberikan pujian kepadanya.
Pelatih SMAN 14 mengganti pemain beknya Yulianto dengan bek tangguh lain yang bernama Iqbal Hakim. Dia berkata kepada Hary mahardika, bek yang dijaga oleh Sena, kalau musuhnya bukanlah pemain sembarangan.
“Yuli, aku ganti kamu dengan Iqbal. Kamu sudah lelah dan tidak bisa mengimbangi Juhans dengan baik. Dia adalah pemain yang sangat berbahaya. Dia bisa mengumpan, menembak, dan menciptakan peluang dengan mudah. Kamu harus berhati-hati dengannya,” kata Pelatih SMAN 14 sambil menepuk pundak Yuli.
“Baik, pelatih. Saya mengerti. Saya minta maaf sudah gagal menjaga Juhans. Saya akan memberikan dukungan dari bangku cadangan,” jawab Yuli sambil turun dari lapangan.
“Iqbal, kamu masuk. Kamu adalah bek terbaik yang kita punya. Kamu harus bisa menghentikan Sena. Jangan biarkan dia mendekati gawang kita. Jangan biarkan dia mengumpan atau menembak. Jangan biarkan dia menyihir permainan sepak bola,” perintah Pelatih SMAN 14 kepada Iqbal.
“Siap, pelatih. Saya akan menjaga Sena dengan ketat. Saya tidak akan memberinya ruang sedikit pun. Saya akan membuatnya frustrasi dan tidak bisa berkembang,” kata Iqbal sambil masuk ke lapangan.
Sena hanya tersenyum ketika melihat pergantian pemain lawan. Dia tidak takut dengan siapa pun yang menjaganya. Dia yakin dengan kemampuannya untuk bermain sepak bola. Dia juga yakin dengan timnya untuk bisa menyamakan kedudukan atau bahkan membalikkan keadaan.
Sena melihat SMAN 14 menggunakan strategi parkir bus. Mereka menarik semua pemainnya ke belakang dan hanya meninggalkan satu striker di depan. Mereka berusaha mempertahankan keunggulan mereka dengan cara defensif.
“Lihat itu, teman-teman. Mereka sudah ketakutan dan bermain bertahan. Mereka tidak percaya diri lagi dengan permainan mereka. Mereka takut kita akan mencetak gol lagi,” kata Sena kepada teman-temannya.
“Ya, Sena. Kita harus memanfaatkan situasi ini. Kita harus terus menyerang dan mencari celah di pertahanan mereka. Kita harus bermain cepat dan akurat,” kata Bintang yang setuju dengan Sena.
“Ayo, kita tunjukkan kepada mereka siapa yang lebih baik. Kita adalah tim yang solid dan kompak. Kita adalah tim yang berani dan kreatif. Kita adalah tim yang bisa menyihir permainan sepak bola,” kata Juhans yang memberikan semangat kepada timnya.
Benar saja, setelah kick off, mereka seperti melama-lamakan permainan umpan satu dua, membentuk segitiga yang tujuannya bukan menyerang melainkan bertahan. Sena membenci permainan bertahan kecuali permainan bertahan yang digunakan untuk menyerang. Alias serangan dari belakang. Sena pun berinisiatif dirinya akan menjadi umpan seolah-oleh mereka sudah mempermainkannya.
“Ayo, Rozak, kita main umpan satu dua lagi1. Biar mereka capek ngejar kita,” kata Robert sambil mengoper bola ke Rozak.
“Oke, Robert. Aku siap menerima bolamu,” jawab Rozak sambil mengembalikan bola ke Robert.
“Lihat itu, Sena. Mereka bermain seperti anak kecil. Mereka tidak berani menyerang kita. Mereka hanya bermain aman dan membosankan,” kata Iqbal yang menjaga Sena dengan ketat.
“Oh, begitu ya? Kalau begitu, aku akan memberi mereka sedikit hiburan. Aku akan membuat mereka kaget dengan permainanku,” kata Sena sambil tersenyum licik.
Rozak dan Robert bermain umpan satu dua dengan lancar, melewati Sena dengan mudah. Mereka merasa senang dan sombong, mengira mereka bisa menembus pertahanan SMAN 105.
“Lihat itu, Sena. Kamu tidak bisa menghentikan kami. Kami adalah duo yang tak terkalahkan,” kata Robert sambil mengejek Sena.
“Ya, Sena. Kamu terlalu lemah untuk melawan kami. Kami adalah pemain yang lebih baik dari kamu,” kata Rozak sambil menambahi ejekan Robert.
Sena hanya tersenyum dan tidak terpancing oleh ejekan mereka. Dia tahu bahwa mereka sedang terlena dan lengah. Dia tahu bahwa teman-temannya siap untuk merebut bola dari mereka.
Sena memberikan isyarat kepada Giara, bek kanan SMAN 105, untuk melakukan tackle kepada Rozak. Giara pun mengerti maksud Sena dan bersiap-siap untuk bertindak.
Ketika Rozak mengoper bola ke Robert, Giara langsung menyergapnya dan merebut bola dengan gesit. Dia lalu mengumpan bola ke Rasyid, pemain tengah SMAN 105, yang sudah berada di dekatnya.
“Ha! Kalian kena tipu olehku. Ini adalah bola milikku,” kata Giara sambil merebut bola dari kaki Rozak.
“Giara, kamu hebat sekali. Kamu bisa merebut bola dari Rozak dengan cepat. Kamu adalah bek yang tangguh dan cerdas,” kata Rasyid sambil menerima umpan dari Giara.
Rasyid lalu menggiring bola ke depan dan berkolaborasi dengan Jo, pemain tengah lainnya. Mereka bermain umpan satu dua dengan akurat, melewati beberapa pemain lawan yang mencoba merampasnya.
Sena pun ikut berlari ke depan, mencari ruang kosong untuk menerima umpan dari Rasyid atau Jo. Tapi dia dijaga ketat oleh Iqbal Hakim, bek tangguh SMAN 14, yang tidak mau memberinya kesempatan.
“Sena, kamu tidak akan bisa lolos dari jagaanku. Aku akan menjaga kamu seperti bayang-bayangmu. Aku tidak akan memberimu ruang sedikit pun,” kata Iqbal sambil menempel Sena.
“Oh, begitu ya? Kalau begitu, aku akan memberimu tantangan yang seru. Aku akan membuatmu kewalahan dengan pergerakanku,” kata Sena sambil tersenyum licik.
Sena pun berpura-pura berlari ke kanan, lalu mendadak berbelok ke kiri. Dia mengelabui Iqbal dengan gerakan tubuhnya yang lincah dan gesit. Dia berhasil melepaskan diri dari jagaan Iqbal dan terbuka untuk menerima umpan.
“Sini, sini, kasih aku bola,” kata Sena sambil mengacungkan tangannya.
Sena meminta dioper dengan mengacungkan tangannya. Dia berpura-pura terbuka untuk menerima umpan dari Rasyid atau Jo. Tapi dia malah bergerak ke arah yang berlawanan dengan bola, menarik perhatian Santoso, bek SMAN 14 yang menjaganya. Santoso pun mengikuti Sena dengan bodoh, mengira dia bisa menghentikan Sena.
“Sena, kamu tidak akan bisa lolos dari jagaanku. Aku akan menjaga kamu seperti bayang-bayangmu. Aku tidak akan memberimu ruang sedikit pun,” kata Santoso sambil menempel Sena.
“Oh, begitu ya? Kalau begitu, aku akan memberimu tantangan yang seru. Aku akan membuatmu kewalahan dengan pergerakanku,” kata Sena sambil tersenyum licik.
Sena pun berpura-pura berlari ke kanan, lalu mendadak berbelok ke kiri. Dia mengelabui Santoso dengan gerakan tubuhnya yang lincah dan gesit. Dia berhasil melepaskan diri dari jagaan Santoso dan terbuka untuk menerima umpan.
Tapi dia tidak berniat untuk menerima umpan. Dia hanya ingin membuat ruang kosong untuk Jo, pemain tengah lainnya, yang sudah paham akan isyarat dari Sena. Jo pun mengambil bola dari Rasyid dan menggiringnya ke depan dengan cepat.
“Ha! Kalian kena tipu olehku. Ini adalah bola milikku,” kata Jo sambil merebut bola dari Rasyid.
“Jo, kamu hebat sekali. Kamu bisa mengambil bola dari Rasyid dengan cepat. Kamu adalah pemain tengah yang tangguh dan cerdas,” kata Rasyid sambil memberikan pujian kepada Jo.
Yuniar, pemain tengah SMAN 14, melihat aksi Jo dengan takjub. Dia sadar bahwa dia telah tertipu oleh Sena dan timnya. Dia ingat bahwa Sena adalah teman setimnya saat SMP. Dia ingat bahwa Sena memiliki julukan lain selain penyihir sepak bola, yaitu pemain ke 12, bayangan yang menakutkan.
Yuniar tahu bahwa Sena adalah pemain yang sangat jenius dalam bermain sepak bola. Dia bisa mempermainkan lawannya dengan cara yang tidak terduga. Dia bisa membuat lawannya menjadi bayangan alias tidak terlihat oleh wasit atau penonton. Dia bisa menyihir permainan sepak bola dengan cara yang spektakuler.
“Sena, kamu memang luar biasa. Kamu bisa membuat kami semua tertipu oleh permainanmu yang gila. Kamu adalah pemain ke 12, bayangan yang menakutkan,” kata Yuniar sambil mengagumi Sena.
Sena memahami pemain lawan sudah kewalahan. Dia melihat mereka kehilangan konsentrasi dan semangat. Dia tahu bahwa ini adalah kesempatan emas untuk menyamakan kedudukan atau bahkan membalikkan keadaan.
Sena memberi isyarat ke Rasyid, Jo, Bintang dan Juhans untuk melakukan hal gila lainnya. Dia ingin menciptakan gol yang spektakuler dan mengejutkan lawan.
“Ayo, teman-teman, kita lakukan sesuatu yang gila. Kita buat mereka tercengang dengan gol kita,” kata Sena sambil memberikan isyarat dengan mata dan tangannya.
“Oke, Sena, kami siap mengikuti rencanamu. Apa yang harus kami lakukan?,” tanya Rasyid yang penasaran.
“Kamu dari sisi kiri, umpan bola ke Jo di sisi kanan. Kemudian kamu, Bintang, dan Juhans masuk ke kotak penalti. Jo akan mengumpan bola ke kalian bertiga. Tapi jangan langsung menyundul atau menendang bola. Biarkan bola mengenai salah satu bek lawan dan memantul ke arahku. Aku akan menendang bola dengan keras dan akurat ke gawang lawan,” jelas Sena dengan rinci.
“Wow, itu rencana yang sangat gila. Tapi aku suka ide itu. Aku yakin itu akan berhasil,” kata Jo yang setuju dengan Sena.
“Aku juga setuju dengan Sena. Ini adalah kesempatan kita untuk mencetak gol indah. Ayo kita lakukan,” kata Bintang yang antusias.
“Aku juga siap untuk beraksi. Ayo kita buktikan bahwa kita adalah tim yang hebat,” kata Juhans yang bersemangat.
Rencana gila Sena pun dimulai. Rasyid dari sisi kiri langsung mengumpan bola ke arah Jo di sisi kanan dengan akurat. Jo pun menerima bola dengan mudah dan menggiringnya sedikit ke depan.
Sementara itu, Rasyid, Bintang, dan Juhans berlari ke depan dan berada di kotak penalti. Mereka bersiap-siap untuk menerima umpan dari Jo.
Jo pun mengumpan bola ke arah mereka bertiga dengan keras dan tinggi. Bola melambung menuju kotak penalti lawan.
Namun, Iqbal Hakim, bek tangguh SMAN 14, yang jago bola atas, segera melompat tinggi dan menghalau bola dengan kepala. Dia berpikir bahwa dia telah menyelamatkan timnya dari ancaman gol.
Sayangnya, Iqbal tidak tahu bahwa dia malah membantu rencana gila Sena. Bola yang dihalau Iqbal justru mengenai Bintang yang berada di dekatnya dan memantul ke arah Sena.
Sena yang melihat bola memantul ke arahnya langsung tertawa puas. Dia tahu bahwa ini adalah kesempatan emas untuk mencetak gol.
Sena pun menendang bola layaknya Roberto Carlos menendang tendangan bebas ke gawang Perancis. Bola meluncur deras dan melengkung ke gawang lawan, tanpa bisa dijangkau oleh kiper SMAN 14. Gol! SMAN 105 berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2.
“Gol! Gol! Gol! Sena mencetak gol indah dengan tendangan melengkung yang spektakuler. Ini adalah hasil dari rencana gila Sena dan timnya. Mereka telah mengecoh lawan dengan umpan-umpan palsu dan memantul. Mereka telah menciptakan gol yang luar biasa dan menakjubkan. Mereka telah menyamakan kedudukan menjadi 2-2,” teriak Pelatih Benny dengan suara histeris.
Sena dan teman-temannya bersorak gembira, merayakan gol indah yang mereka ciptakan. Mereka berpelukan dan menepuk-nepuk punggung Sena, yang menjadi kreator gol tersebut. Sena tersenyum lebar, merasakan kepuasan dan kebanggaan. Dia telah membuktikan bahwa dia adalah penyihir yang bisa menyihir permainan sepak bola.
Pelatih SMAN 14 merasa kesal dan frustasi karena dibodohi oleh Sena, pemain yang sangat gila itu. Dia tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dia melihat timnya yang unggul 2-0 di babak pertama, kini harus puas dengan hasil imbang 2-2 di babak kedua.
Dia tahu bahwa semua itu karena ulah Sena, pemain yang memiliki visi permainan yang sungguh di luar nalar. Dia tahu bahwa Sena adalah pemain yang sangat jenius dan kreatif, yang bisa menciptakan peluang dan gol dengan cara yang tidak terduga. Dia tahu bahwa Sena adalah pemain yang sangat berani dan licik, yang bisa mempermainkan pemain lawan sehingga jatuh sejatuh-jatuhnya.
Dia ingat bahwa Sena adalah pemain yang pernah dia incar untuk bergabung dengan timnya saat SMP. Tapi Sena menolak tawarannya dan memilih untuk bermain di SMAN 105, sekolah yang tidak terkenal di bidang sepak bola. Dia merasa heran dengan pilihan Sena, yang seharusnya sudah bermain di liga luar negeri dengan kemampuan seperti itu.
Dia merasa bahwa Sena adalah pemain yang paling menakutkan diantara pemain lainnya. Dia merasa bahwa Sena adalah pemain paling licik yang dia kenal selama melatih tim sepak bola.
“Sena, kamu memang luar biasa. Kamu bisa membuat kami semua tertipu oleh permainanmu yang gila. Kamu adalah penyihir sepak bola,” kata Yuniar, pemain tengah SMAN 14, sambil mengagumi Sena.
“Yuniar, kamu jangan terpesona oleh Sena. Dia hanya menipu kita dengan permainannya yang gila. Dia hanya beruntung saja bisa mencetak gol seperti itu. Dia bukan penyihir sepak bola, dia hanya penipu sepak bola,” kata Pelatih SMAN 14 sambil menegur Yuniar.
“Pelatih, saya minta maaf. Saya tidak bermaksud untuk mengagumi Sena. Saya hanya terkejut dengan permainannya yang gila. Saya tidak tahu bagaimana cara menghentikannya,” kata Yuniar sambil meminta maaf.
“Yuniar, kamu tidak perlu minta maaf. Kamu sudah bermain dengan baik. Kamu tidak bisa disalahkan karena kalah dari Sena. Kamu tidak sendirian, semua pemain kita kalah dari Sena. Dia adalah pemain yang sangat gila dan licik,” kata Pelatih SMAN 14 sambil menghibur Yuniar.
“Pelatih, apa kita bisa mengalahkan Sena? Apa kita bisa menang dari SMAN 105? Apa kita bisa menjadi juara?,” tanya Yuniar dengan nada ragu.
“Yuniar, kita masih punya kesempatan untuk mengalahkan Sena. Kita masih punya kesempatan untuk menang dari SMAN 105. Kita masih punya kesempatan untuk menjadi juara. Kita tidak boleh menyerah dan putus asa. Kita harus tetap berjuang dan berusaha,” kata Pelatih SMAN 14 sambil memberikan motivasi kepada Yuniar.
Sena membiarkan lawan menendang ke gawang Rizal dengan sengaja. Dia melihat bahwa lawan sudah putus asa dan tidak bisa menembus pertahanan SMAN 105. Dia tahu bahwa Rizal adalah kiper yang handal dan bisa mengatasi ancaman gol dari lawan.
Sena memberi isyarat kepada pemain belakangnya, Giara, Rio, Opik, dan Sandi, untuk melakukan hal gila. Dia ingin menciptakan peluang serangan balik dari tendangan lawan.
“Ayo, teman-teman, kita lakukan sesuatu yang gila. Kita biarkan mereka menendang ke gawang kita. Tapi jangan khawatir, Rizal bisa menangani bola dengan mudah. Kita akan mengambil bola dari tangannya dan melakukan serangan balik yang cepat,” kata Sena sambil memberikan isyarat dengan mata dan tangannya.
“Oke, Sena, kami siap mengikuti rencanamu. Apa yang harus kami lakukan?,” tanya Giara yang penasaran.
“Kamu berempat berdiri di depan Rizal dan berpura-pura menjaga gawang. Tapi jangan menyentuh bola sama sekali. Biarkan bola mengenai kalian atau melewati kalian. Rizal akan menepis atau menangkap bola dengan mudah. Kemudian kamu berempat berlari ke depan dan menerima umpan dari Rizal. Aku, Bintang, Juhans, dan Jo akan berada di sisi sayap, siap menerima umpan dari kalian,” jelas Sena dengan rinci.
“Wow, itu rencana yang sangat gila. Tapi aku suka ide itu. Aku yakin itu akan berhasil,” kata Rio yang setuju dengan Sena.
“Aku juga setuju dengan Sena. Ini adalah kesempatan kita untuk mencetak gol lagi. Ayo kita lakukan,” kata Opik yang antusias.
“Aku juga siap untuk beraksi. Ayo kita buktikan bahwa kita adalah tim yang hebat,” kata Sandi yang bersemangat.
Rencana gila Sena pun dimulai. Pemain SMAN 14 yang melihat pemain belakang SMAN 105 berdiri di depan gawang langsung berlari ke arah mereka dan mencoba menendang bola ke gawang.
“Ayo, teman-teman, kita manfaatkan kesempatan ini. Kita tendang bola ke gawang mereka. Mereka tidak bisa menghentikan kita,” kata Robert sambil mengejar bola.
“Ya, teman-teman, kita manfaatkan kesempatan ini. Kita tendang bola ke gawang mereka. Mereka tidak bisa menghentikan kita,” kata Rozak sambil menambahi Robert.
Pemain belakang SMAN 105 hanya tersenyum dan tidak terpancing oleh serangan lawan. Mereka tahu bahwa mereka sedang terlena dan lengah. Mereka tahu bahwa Rizal bisa mengatasi ancaman gol dari lawan.
Pemain SMAN 14 pun menendang bola ke gawang SMAN 105 dengan keras dan akurat. Bola meluncur cepat menuju gawang.
Namun, Rizal yang sudah siap di bawah mistar langsung melompat tinggi dan menepis atau menangkap bola dengan mudah. Dia tidak terganggu oleh pemain belakangnya yang berdiri di depannya.
“Ha! Kalian kena tipu olehku. Ini adalah bola milikku,” kata Rizal sambil menepis atau menangkap bola.
“Rizal, kamu hebat sekali. Kamu bisa menepis atau menangkap bola dengan mudah. Kamu adalah kiper yang tangguh dan cerdas,” kata Giara sambil memberikan pujian kepada Rizal.
Rizal lalu mengoper bola ke salah satu dari pemain belakangnya yang sudah berlari ke depan dengan cepat. Mereka pun menerima bola dengan mudah dan menggiringnya ke depan.
Sena, Bintang, Juhans, dan Jo pun ikut berlari ke depan, mencari ruang kosong untuk menerima umpan dari pemain belakangnya. Mereka bersiap-siap untuk mencetak gol lagi.
Sena melakukan tindakan yang gila di menit 90 lebih sedikit. Dia melihat bahwa SMAN 14 sudah kehilangan semangat dan konsentrasi. Dia tahu bahwa ini adalah kesempatan terakhir untuk membalikkan keadaan.
Sena memberi isyarat kepada Rizal, kiper SMAN 105, untuk melakukan hal gila. Dia ingin menciptakan gol yang mengejutkan dan menentukan.
“Ayo, Rizal, kita lakukan sesuatu yang gila. Kita buat mereka tercengang dengan gol kita,” kata Sena sambil memberikan isyarat dengan mata dan tangannya.
“Oke, Sena, aku siap mengikuti rencanamu. Apa yang harus aku lakukan?,” tanya Rizal yang penasaran.
“Kamu oper bola kepadaku sekarang juga. Jangan peduli dengan pemain lawan yang mendekatimu. Aku akan mengumpan bola jarak jauh ke Bintang. Dia akan berlari macam Cita dan menendang bola layaknya Van Persie. Itu akan menjadi gol yang indah dan menentukan,” jelas Sena dengan rinci.
“Wow, itu rencana yang sangat gila. Tapi aku suka ide itu. Aku yakin itu akan berhasil,” kata Rizal yang setuju dengan Sena.
Rencana gila Sena pun dimulai. Rizal langsung mengoper bola ke arah Sena dengan keras dan akurat. Bola meluncur cepat menuju Sena yang sudah berada di tengah lapangan.
Namun, pemain SMAN 14 yang melihat bola mengarah ke Sena langsung berlari ke arahnya dan mencoba merebut bola dari kakinya. Mereka berpikir bahwa mereka bisa mencetak gol dari serangan balik jika mereka bisa merebut bola dari Sena.
“Sena, kamu tidak akan bisa lolos dari kami. Kami akan merebut bola darimu dan mencetak gol ke gawangmu,” kata Robert sambil mengejar Sena.
“Ya, Sena, kamu tidak akan bisa lolos dari kami. Kami akan merebut bola darimu dan mencetak gol ke gawangmu,” kata Rozak sambil menambahi Robert.
Sena hanya tersenyum dan tidak terpancing oleh ancaman mereka. Dia tahu bahwa mereka sedang terlena dan lengah. Dia tahu bahwa teman-temannya siap untuk menerima umpannya.
Sena pun mengumpan bola jarak jauh ke arah Bintang dengan keras dan tinggi. Bola melambung menuju sisi kanan lapangan lawan.
Bintang yang melihat bola mengarah kepadanya langsung berlari cepat seperti macan tutul. Dia berhasil keluar dari jebakan offside yang dibuat oleh bek SMAN 14.
Bintang pun menyambut bola dengan tendangan voli layaknya Van Persie, pemain sepak bola Belanda. Bola meluncur deras dan akurat ke gawang lawan, tanpa bisa dijangkau oleh kiper SMAN 14. Gol! SMAN 105 berhasil membalikkan keadaan menjadi 3-2.
“Gol! Gol! Gol! Bintang mencetak gol indah dengan tendangan voli yang spektakuler. Ini adalah hasil dari rencana gila Sena dan timnya. Mereka telah mengecoh lawan dengan umpan-umpan jarak jauh dan melambung. Mereka telah menciptakan gol yang luar biasa dan menentukan. Mereka telah membalikkan keadaan menjadi 3-2,” teriak suporter dengan suara histeris.
Sena dan teman-temannya bersorak gembira, merayakan gol indah yang mereka ciptakan. Mereka berpelukan dan menepuk-nepuk punggung Sena, yang menjadi kreator gol tersebut. Sena tersenyum lebar, merasakan kepuasan dan kebanggaan. Dia telah membuktikan bahwa dia adalah penyihir yang bisa menyihir permainan sepak bola.
Permainan sisa pun berlangsung dengan sengit. SMAN 14 berusaha untuk menyamakan kedudukan dengan menyerang habis-habisan. SMAN 105 berusaha untuk mempertahankan keunggulan dengan bertahan mati-matian.
Sena merasakan pusing dan mual di kepalanya. Dia merasa bahwa dia sudah kelelahan dan kehabisan tenaga. Dia merasa bahwa dia sudah memberikan segalanya untuk timnya.
Ketika pluit akhir dibunyikan, Sena langsung pingsan dan jatuh di lapangan. Teman-temannya semuanya khawatir tentang dirinya. Mereka segera menghampirinya dan memanggil bantuan medis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments