Kehidupan Layaknya Musik Jazz, Terlalu Banyak Improvisasi dan Spontanitas

Terlalu memusingkan, rasanya harus menghadapi cinta lama membuat diri Sena pusing. Andai dia punya ruangan seperti Bocchi, Sena pasti sudah membuat lagu yang suram untuk kejadian kali ini. Berada di lingkungan yang asing, membuat dirinya kehabisan energi untuk berkomunikasi. Di dalam kepalanya, suara jam dinding menjadi jauh lebih kencang seperti biasa. Jika saja dia punya kemampuan raga sukma, sudah pasti jiwanya langsung pulang ke rumah dan memainkan game terkini.

Apa mereka selalu melakukan hal gila seperti ini? Apakah kehidupan mereka seserius ini? Sena merasa seperti berada di lingkungan mafia yang sungguh mengerikan. Intimidasi selalu saja menjadi kekuatan dalam politik di dunia ini. Sena harusnya komplain dengan perlakuan seperti ini.

Sena pun bersumpah akan melakukan hal yang lebih gila dari pengalaman yang dia rasakan hari ini. Cara tercepat adalah dengan mencari kelemahan dan celah dari hukuman tersebut meski itu harus membuat Sena hidup dengan terlalu banyak improvisasi dan spontanitas. Tidak apa kalah kali ini agar bisa menang di kemudian hari. Meski harus mengorbankan harga diri, Sena bertekad untuk menang. Meski popularitasnya harus menjadi manusia kelas bawah.

Dengan kata lain, OSIS dan para pendukungnya adalah musuhnya saat ini.

Seusai rapat selesai, semua yang tersisa di rapat itu kembali ke ruangan klub masing-masing. Sungguh sangat berat kehidupan menjadi seorang ketua klub yang isinya orang-orang penuh masalah. Sena melihat ke langit dan melihat burung yang terbang bebas penuh keceriaan. Sena ingin sekali hidupnya damai dan tidak penuh masalah.

Ini semua bukan karena keinginan Sena. Dia terjebak pada dimensi ruang dan waktu yang salah serta peraturan sekolah yang mengikat membuat itu semua menjadi merepotkan. Bisa dibilang, semua ini campur tangan Tuhan yang cukup buruk baginya Sena.

Saat Sena ingin kembali ke ruangan klub, layaknya seorang ninja yang berkamuflase bersama hembusan angin, Aka langsung menarik ku sambil berkata, "Sena bisakah kau ikut denganku sebentar?"

Aka tiba-tiba meraih lenganku.

Aku yang sadar langsung menjawab pertanyaan dan kembali bertanya kepada Aka, "Aka? Bisa-bisa saja aku ikut denganmu. Tapi apa alasannya aku harus ikut denganmu? Kau ingin mengajakku bermain marawis dan makan mi ayam di kantin sekolah seperti yang aku janji di rapat tadi?"

"Tidak. Aku paham kenapa kau terjebak pada rapat yang menyebalkan itu. Jadi aku ingin kau membantuku agar kau tidak terjebak pada masalah yang lebih besar."

"Apakah ini misi pertama yang diberikan anggota OSIS pada klub ku? Huh! Seharusnya anggota OSIS memberikanku bayaran yang sepadan. Tapi kalian malah membuat hal ini menjadi sebuah hukuman, sungguh sangat menyebalkan."

"Kau memang sudah berubah sejak putus dengan ....." belum kalimatnya selesai pandangan sinis Sena langsung saja mengintimidasi Aka. Dengan rasa ketakutan Aka melanjutkan perkataannya, "Iya aku minta maaf, aku tidak akan menyinggung masa lalu yang suram mu itu. Lagi pula ini SMA, kau tidak akan mendapatkan upah apalagi menerima pembayaran lembur. Terkadang orang jenius selalu saja berkelakuan aneh."

Sekilas, Sena merasa seperti melihat kegelapan yang ada di masyarakat kelas pekerja. Ibaratnya, aktivitas klub lebih buruk daripada pekerja yang dibayar dibawah UMR wilayah karena mereka bekerja tetapi tidak dibayar dan lebih seperti budak dibanding siswa sekolah. ketika Sena mendengarnya, bulu kuduknya bergidik. Bahkan kelas pekerja yang diupah tidak layak masih mendapat upah lembur dan cuti, mereka mungkin terlihat menyedihkan tetapi siswa SMA yang bekerja sebagai OSIS dan klub lebih menyedihkan terlebih mereka masih sekolah. Seharusnya sekolah tidak mewajibkan muridnya untuk kerja rodi di bawah kata OSIS atau klub sehingga penderitaan siswa setidaknya berkurang sedikit.

Sena mengutuk sistem sosial yang sungguh sangat merugikan waktuku untuk mengembangkan diriku di luar sekolah ini. Dia ingin sekali mengatakan bawa dirinya sendiri adalah pelanggan yang baik, tetapi orang tuanya adalah orang yang membayar uang sekolah sehingga setiap perlawanan  lebih lanjut berarti pertanda kematian. Dengan kata lain, itu semua perlawanan yang sia-sia.

"Hei kau duluan yang menginjak ekor seorang kucing yang sedang tidur dan itu membuat diriku kesal. Aka bisakah kau setidaknya membiarkanku minum es john dan siomay ibu kantin belakang? Ku dengar Es John menjual Es Semangka yang limited edition, aku sangat suka dengan es tersebut karena rasanya yang lezat menurutku, kau tahu. Aku berharap bisa membelinya, tetapi karena itu akan menjadi medan perang karena siswa-siswa yang berada di klub olahraga yang rakus itu. Akan menjadi mimpi buruk jika aku tidak pergi sekarang. Aku bermaksud membeli Es itu kemudian kembali ke ruangan klub. Aku tidak tahan dengan kelezatan semangka itu, kau tahu?"

Aka langsung saja menarik lenganku dan tidak melepaskannya. Sena mencoba memberontak untuk pergi, tetapi tenaga Aka lebih kuat terlebih sejak SMP Aka-lah yang selalu menarik ku ketika Sena sedang malas kegiatan OSIS di SMP. Layaknya seekor kuda yang ditahan oleh tali yang ditarik oleh seorang pria, Sena terlihat seperti orang menyedihkan.

"Kita akan berbicara di sini, kau senang bukan? Kau bisa memesan Es Semangka yang sangat kau ingin dan Siomay kantin. Aku akan mentraktir mu itu semua asal kau mau mendengar dan mengabulkan permintaanku. Apakah itu semua setimpal?" jelas Aka sambil duduk tepat di stand es john.

"Sepakat! Kenapa kau tidak bilang dari tadi sehingga aku tidak mengalami hal yang memalukan. Kau tahu, aku sungguh malu ketika kau menarik diriku seperti kuda, kau tahu kan?"

"Lebih menarik seperti itu, karena kenangan SMP denganmu sungguhlah menyenangkan."

"Pak John, Es Semangka satu dan minum di sini ya! Nanti si Aka yang bayar. Ah Bu Somay satu gak pakai pare dan tahu putih, nanti Aka yang bayar." ucap Sena tanpa peduli yang dikatakan oleh Aka sambil memesan makanan dan minuman.

"Seperti biasa ya, kau tidak suka yang pahit-pahit bahkan kepahitan dalam hidupmu yang membuatmu trauma saja ingin kau lupakan."

"Diam! Tak mau membahas hal itu, jadi keperluanmu untuk bicara denganku sebenarnya ada apa? Langsung saja ke poin utamanya!" ucap Sena yang sangat kesal dengan reaksi Aka yang membuka luka lamanya.

"Kau satu klub dengan Puteri Amelia Cantika, bukan?"

"Iya, aku memang satu klub dengannya dan dia yang membuatku harus berurusan dengan guru BK dan kalian para anggota OSIS sehingga aku diberikan hukuman yang tidak masuk akal itu. Ada apa dengan si mulut sinis yang beracun itu? Aha, kau suka padanya ya?"

"Bukan itu! Justru aku ingin membantu dirimu, agar kau tidak berurusan dengan OSIS lagi. Kau tak mau ketemu dengan ketua lagi, bukan?"

"Betul, kau memang sahabatku dari SMP yang terbaik. Tidak seharusnya aku menjadi ketua dan bertemu dengannya di persidangan OSIS yang menyedihkan. Lantas apa idemu dan apa hubungannya dengan si mulut berbisa itu? Aku saja tak mau berhubungan dengan dirinya jika tidak diperlukan."

"Justru itu Sena, kau harus berhubungan dengan dirinya! Jika kau berhubungan dengan dirinya, bisa jadi dia menjadi seseorang yang feminim dan manis." ucap Aka dengan wajah serius.

"Uhuuk... uhuuuk... uhuuuk. Aku harus berhubungan dengan si mulut ular itu. Hei kau tahu bahwa hubungan seperti itu dosa ini kau malah mengundangku ke neraka jahanam. Aku menolak! Untuk apa aku harus masuk ke neraka yang sedalam itu." ucap Sena sambil membanting sendok ke lantai.

"Tidak, justru kamu harus membetulkan mental-mental mereka sebenarnya tidak hanya Puteri, melainkan seluruh anggota klub selain dirimu seperti orang yang mentalnya terganggu justru kamu harus memperbaiki mereka terutama Puteri yang membuat dirimu harus masuk ke meja persidangan OSIS."

"Aka, aku paham bahwa anggota klub ku itu bermasalah bahkan sebelum kau mengatakan hal itu aku harus banyak sekali merevisi pekerjaan mereka yang berpotensi menimbulkan masalah. Misi ini juga diberikan Ketua OSIS, Bintang. Tapi, aku tidak menyangka jika masalah yang dibuat mereka di luar nalar manusia.  Kamu tahu sendiri, jika manusia itu sendiri tidak mau dirubah maka akan sulit untuk mengubah sikap mereka."

"Tapi cinta bisa mengubah mereka lho Sena."

"Huh, Lagi-lagi kau berkata yang tidak masuk akal. Cinta tidak akan merubah itu semua, mereka hanya bisa berubah jika mereka sendiri yang menginginkannya."

"Tapi Sena, mereka tidak akan sadar untuk berubah jika tidak ada orang yang membimbingnya. Aku pikir, Kak Bintang sudah tepat menempatkan dirimu di antara mereka. Kamu itu punya jiwa yang bisa merubah orang lain dengan mudah. Kamu punya karismatik yang membuat orang lain menga..." kata Aka yang tiba-tiba mulutnya ditutupi oleh tangan Sena.

"Diam kau Aka! Jangan lanjutkan lagi perkataanmu itu!" ucap Sena sambil perlahan melepaskan tangannya dari mulut Aka

"Baiklah."

"Aka, itu semua hanyalah masa lalu. Aku saja sudah gagal ketika itu.Tidak mungkin aku bisa bertahan dengan tekanan itu lagi."

"Sudah kuduga, Kau memang masih terjebak pada rasa bersalah mu di masa lalu meski kau sebenarnya sudah menyelamatkan banyak orang. Akan tetapi, kamu harus keluar dari rasa trauma mu itu."

"Tidak semudah itu, Ka. Hantu bernama kegagalan itu terus saja mengikuti, kau tak tahu rasanya."

"Ya, aku memang tidak tahu. Tapi jika tak dilawan kau akan masuk ke dalam masalah yang lebih rumit."

"Justru bukankah dengan kita masuk ke kehidupan orang lain akan menjadi lebih rumit lagi?"

"Sena, bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa kehidupan itu seperti musik jazz, kau harus memiliki spontanitas dan improvisasi sehingga terdengar nada yang indah."

"Maaf, kau seharusnya tidak memperdulikan kata-kata omong kosong itu. Lanjutkan saja kehidupanmu tanpa kata itu agar hidupmu lebih damai. Aku sempat berpikir apakah diriku dulu itu terlalu banyak ikut campur hingga bisa mengeluarkan kata-kata omong kosong seperti itu." ucap Sena sambil minum es semangka setelah memakan habis siomaynya dengan garpu.

Aka tersenyum ke arah Sena dan kemudian dia berbicara seperti pose Gendo di anime Evangelion. Kemudian dia berkata, "Apakah hidupmu saat ini menyenangkan Sena?"

"Dalam artian basa-basi aku akan jawab iya, tapi jika kau tanya situasiku saat ini maka ku jawab tidak baik-baik saja. Terlebih aku dijebak oleh Bintang untuk masuk ke neraka jahanam ini."

"Sena, aku pikir kamu harus berusaha untuk menghilangkan tempramen sinis mu itu dan sembuhkan mata busuk mu itu agar menjadi manusia yang lebih baik lagi."

"Hah! Apa maksudmu?"

"Bukankah dirimu yang dulu pernah berkata kepadaku saat kita SMP bahwa, Kau bahagia bila bisa membantu orang lain menyelesaikan masalah mereka dengan membuat mereka sendiri berkembang. Aku ingin kau sadar bahwa yang membutuhkan pertolongan dan kau harus menolongnya adalah anggota klub mu sebelum kau bisa membantu banyak orang. Kau punya cita-cita seperti guru Jiraiya yang bisa membuat seorang bocah bermasalah seperti Naruto bisa menjadi hokage atau seorang Gojo Satoru yang membuat Yuji itadori lebih kuat lagi."

"Iya, kau ingin membuatku mati seperti Jiraiya atau jadi orang bodoh yang terperangkap oleh jebakan Kenjaku seperti Gojo. Saat ini bagiku, keduanya sama-sama konyol hingga terjebak seperti itu."

"Aku rasa jika Fans Naruto atau Fans Jujutsu Kaisen mendengar itu kau bisa mati Sena."

"Peduli apa tentang mereka. Kehidupanku tidak terpengaruh oleh mereka. Lagi pula mereka yang marah-marah hanyalah manusia menyedihkan yang tidak memiliki pekerjaan."

Tiba-tiba seseorang meniup belakang telingaku sambil berkata, "Fuh.... Fuuhh... Kau seharusnya memperhatikan perasaan orang lain Sena."

"Haaaaa, Sialan kau Bintang. Kau telah mengagetkanku. Apa tak ada cara lebih baik dalam menyapa, Ketua OSIS Bodoh!"

"Hoi... Hoi.. Sena bukankah itu kata untuk Kak Bintang? Maafkan atas perlakuan dan ucapan kasar temanku ini kak."

"Hahahahah, tidak apa-apa. Tidak usah pedulikan diriku. Kalian kulihat sedang asyik berdiskusi sehingga aku sempat berpikir melihat keadaan kalian. Sena, aku pikir kau harus mengurangi sifat tempramen dan pesimis mu yang semakin lama semakin memburuk. Padahal kegiatan barumu bisa membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik lagi." Bintang tersenyum ke arahku dan duduk di sebelah Aka dan berseberangan denganku. Dia melihat ke arahku kemudian kembali berkata, "Mas Joh biasa, Es teh 1! Ada rapat dengan bos besar ini. Hah, akhirnya kalian berdua bisa akur sungguh menyenangkan melihatnya."

"Akur? Bagaimana kau menyimpulkan kalau aku dan Aka itu akur ketua OSIS bodoh."

"Sena! Kau tak seharusnya begitu. Kau harus bisa lebih sabar dan jaga perkataanmu itu, bukan?"

"Aduh Sena, Sena. Sejak saat itu terjadi kau masih saja seperti ini. Kau seharusnya bisa berubah menjadi lebih baik dan hilangkan sikap temperamen sinis mu. Aku menempatkan mu ke klub itu agar kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik." ucap Bintang .

"Aku setuju dengan kak Bintang. Sikapmu itu perlu dirubah Sena. Padahal jika kau serius kau dikenal sebagai manusia cyborg yang serba bisa saat  SMP. Kenapa sahabatku malah berubah menjadi begitu menyedihkan." ucap Aka.

"Tu-tunggu dulu! Apa maksudnya ini? Kenapa aku jadi terpojok oleh kalian berdua?"

"Sena, kau harus tahu, kenapa aku menyuruhmu masuk ke klub itu. Pertama, kau itu memiliki kemampuan yang cukup baik dalam hal penelitian sosial. Terlebih saat SMP, kau adalah seorang yang mampu meraih peringkat 3 DKI Jakarta dalam hal OSN Geografi. Itu cukup menunjukkan bakatmu dalam penelitian sosial karena kamu cukup berbakat dalam hal ruang."

"Apakah setiap orang yang ahli Biologi harus menjadi dokter? Sedangkan dokter harus menguasai keilmuan fisika yang lebih dominan. Bukankah begitu?" balas Sena setelah itu langsung meminum es semangkanya kembali.

"Itu berbeda, Sena. sejak di OSIS SMP, meski aku bukan ketua saat itu tetapi kau adalah tanggung jawab seksiku saat itu. Kau punya potensi yang cukup besar dalam mengubah seseorang menjadi pribadi lebih baik. itu terjadi pada diriku di masa lalu. Kau membawa diriku ke level yang lebih lanjut. Aku berpikir itu juga yang akan dirasakan oleh orang-orang yang bermasalah ini sehingga mereka bisa menjadi pribadi yang lebih baik."

"Masalahnya ya anda ini.... Memasukkan diriku ke dalam neraka sehingga aku harus menerima hukuman dari kalian. Bukankah itu sama saja dengan membuatku terlihat seperti anak muda yang bermasalah? Lantas untuk apa aku harus mengubah pola pikir mereka jika mereka saja tidak mau berubah. Itu adalah pekerjaan sia-sia. Jadi ini semua tentang apa? Bintang, kau sendiri saja tidak tahu ini semua tentang apa?"

Bintang lalu menggaruk-garuk kepalanya seperti memikirkan sesuatu. Kemudian dia pun berkata, "Baiklah aku akan katakan tujuan klub ini sebenarnya, klub ini dibuat oleh sekolah fungsinya adalah untuk membantu para siswa menyelesaikan masalah mereka dan membuat diri mereka sendiri berkembang. Dengan kata lain, ini adalah program revolusi mental untuk para siswa dalam menghadapi masalah mereka. Aku memerlukan satu siswa yang ku percayakan untuk mengarahkan para siswa yang di cap bermasalah menjadi sesuatu yang lebih berharga di masyarakat. Karena kau  ini seorang wibu, aku umpamakan ini sebagai tempat latihan Urahara di Bleach. Kau harus berimprovisasi dalam pemecahan masalah orang-orang. Layaknya pemain musik jazz, kau harus menyelesaikan masalah dengan cara improvisasi dan spontanitas."

"Penjelasanmu semakin membuatku sulit untuk mengerti, malahan kau membuat diriku semakin bingung akan penjelasanmu."

"Aka, tampaknya temanmu ini sudah berubah dan berjalan melenceng dari jalan yang kita tetapkan saat itu. Dia sudah berubah dan justru dia sendiri orang yang harus disembuhkan dari rasa trauma masa lalu saat aku tak ada."

"Bukankah sudah aku beri tahu berulang kali bahwa Sena telah berubah ke arah yang salah terutama saat berhubungan dengan wakil ketua OSIS mu itu. Ini saja sudah menjadi fakta kalau dirinya sendiri memiliki masalah. Bisa kubilang, seharusnya dia pasien pertama yang harus disembuhkan agar semuanya berjalan lancar selain dari kecanduan game yang berlebihan." ucap Aka sambil meminum es teh.

Sena cukup kesal dengan suasana ini. Suasana ini mirip ruang interogasi orang tau setelah menemukan buku porno di bawah kasurnya dan setelah itu juga menemukan situs porno dalam history komputernya. Itu rasanya seperti omelan yang berulang-ulang dilontarkan ketika Sena membuat kesalahan dan sampai sekarang masih saja menceramahi dirinya.

Dalam pikiran Sena pun berkata, tidak... kurasa tidak seburuk itu. Aku masih berargumen tentang hal itu.

Tiba-tiba saja Sena langsung berkata, "Kalian ini terlalu banyak mengeluarkan kata-kata magis. Bahkan kata-kata itu cukup tidak masuk akal dalam benakku seperti memperbaiki-lah, membuat siswa berkembanglah, berimprovisasi, spontanitas, revolusi mental. Aku tidak pernah mengerti akan hal itu. Jika kalian harus berkata aku harus disembuhkan maka itu melewati batas, aku tidak pernah meminta kalian menyembuhkan rasa trauma diriku. Aku adalah aku tidak akan ada yang berubah akan hal itu. Aku sendiri mencintai diriku meski pilihanku itu dimata kalian adalah dosa besar."

Bintang memiringkan kepalamu sambil berkata, "Hmmm?"

"Sena apa yang kau katakan? Jika kau tidak berubah, kau akan berada di level yang akan membuat dirimu lebih menyedihkan. Hal itu akan membuatmu lebih sulit untuk hidup dengan pemikiran yang seperti itu. Kehidupanmu akan jauh semakin berat." ucap Aka.

"Huh, Sena kau memang sudah berubah ke arah yang salah andai aku ada di sisimu saat itu. Kau tidak melenceng ke arah yang salah . Asal kau tahu Sena, Rasa kemanusiaanmu saat ini jauh berbeda dengan manusia kebanyakan orang. Itu akan merugikan mu. Apa kau tidak mau mengubah itu?" balas Bintang.

"Kalian memang tidak mengerti, di saat seseorang ditodong oleh pistol kemudian dia tidak ingin ditolong apakah kalian akan menolong mereka sedangkan penderitaan mereka dalam hidup jauh lebih buruk dibanding dengan ditodong pistol. Kalian itu berusaha mengontrol diriku dan mendikte diriku harus menjadi seperti apa. Bukankah, mengubah dirimu agar sesuai dengan dunia atau orang lain itu sudah pertanda kau sudah tidak menjadi dirimu lagi? Apa itu yang kalian sebut menjadi diri sendiri? Itu sungguh konyol." balas Sena sambil mengambil semangka di dalam gelas kemudian dia makan. Sena pun melanjutkan perkataannya kembali, " Dirimu sendiri adalah hal yang tidak bisa kau lihat oleh dirimu sendiri secara objektif."

"Menurutmu kau keren berkata seperti itu Sena? Justru perkataanmu itu banyak sekali celah di dalamnya. Aku juga sudah tahu kebiasaanmu ketika ingin berkata melarikan diri. Kau harus sembuhkan luka masa lalu kamu, jika tidak kau tidak bisa bergerak maju. Untuk itulah jalan ini disediakan untukmu, seseorang yang memiliki seribu bakat." ucap Bintang dengan nada yang halus nan menghipnotis. Siapa saja yang mendengarnya seraya berkata iya.

Sena berpikir kenapa dirinya harus selalu berseberangan dengan pemikiran ketua OSIS ini? Dia merasa dirinya harus keluar dari masalah yang lebih merepotkan. Dengan kata lain berimprovisasi layaknya bermain musik Jazz. Meskipun menyebalkan, dia harus melakukannya.

"Kata-katamu itu seperti biasa cukup menghipnotis. Aku sampai ingin berkata iya, tetapi hal tersebut jauh dari kata prinsip tegas ku. Aku hanya akan berubah jika aku menginginkannya. Jangan terus kau memberitahu untuk berubah layaknya aku ini seorang idiot yang tak tahu akan hal itu. Jika kau berkata seperti itu, kau sama seperti penumpang yang ingin mengubah haluan jalannya pesawat, sebesar apa pun usahamu jika pilot berkata jalan inilah yang tepat maka kau tidak akan bisa melakukan apa pun sebagai penumpang."

"Tapi seorang pilot yang ingin menabrakkan diri ke gunung, harus segera disadarkan untuk tidak membahayakan banyak orang. Tolong jangan alihkan topik ini ke arah pembicaraan pilot dan pesawatnya. Lagi pula, pilihanmu ini menentukan masa depan dari orang-orang terbuang ini, sama seperti dirimu." ucap Bintang sambil meyakinkan Sena.

"Sama seperti diriku? Kau sesat pikir, mereka tidak sama dengan diriku. Masalahku dan masalah mereka itu berbeda. Jangan kau samakan masalah mereka dengan masalahku. Lagi pula siapa yang mau dipaksa untuk berubah? Aku pikir dengan berubah hanya akan membuat masalah lain agar kamu bisa lari dari masalah tersebut. Jadi, siapa yang menurutmu melarikan diri dari masalah. Dengan kau menghadapi masalah tanpa mengubah dirimu, itu adalah seorang yang paling jantan. Kenapa kau tidak terima kenangan pahit masa lalu dan masa sekarang?" ucapku sambil menunjuk bintang dengan garpu makan siomay milikku.

Melihat aku yang seperti itu, raut wajah Bintang menjadi sedikit merah dengan penuh amarah. Dia pun berkata, "Kau memang benar-benar mengesalkan sejak dulu. Kalau kau berprinsip seperti itu, kau tidak akan menyelesaikan satu pun masalah ataupun menyelamatkan mereka yang sangat membutuhkan bantuan dirimu."

Sena sadar dia cukup bersalah dalam mengintimidasi Bintang. Tetapi perasaan Sena juga kesal ketika Bintang kata 'menyelamatkan'. Seolah dirinya adalah seorang pahlawan seperti Kamen Rider. Dia tidak sebaik itu. Pahlawan itu terlalu naif bisa menolong mereka. Nyatanya kehidupan tak sebaik itu. Namun suasana memang sudah panas '

"Sepertinya suasana sudah panas. Bisakah kalian mendinginkan kepala kalian terlebih dahulu." ucap Aka dengan santai yang bersiap menahan tubuhku dan Bintang. Tindakannya justru membuat suasana perdebatan semakin tidak menyenangkan.

"Kau benar Aka, sebaiknya aku harus menenangkan pikiranku agar bisa mendapatkan kesimpulan yang tepat . Aku tidak menyangka dia menjadi seorang protagonis yang kita harapkan. Aku sangat menantikan perkembangan selanjutnya. Ini seperti cerita-cerita di anime romance atau pun shounen. Akan lebih menarik jika ada tantangan untuk dirimu, bukan begitu Aka?" ucap Bintang yang matanya berapi-api layaknya karakter anime shounen padahal dia adalah seorang perempuan.

"Kau benar Kak Bintang, Sena hampir mendekati karakter anime hanya saja perlu pengembangan karakter lebih lanjut. Sepertinya kita harus memberikan tantangan dan jika dia berhasil kita akan kabulkan keinginannya yang itu. Kau masih ingat bukan kak Bintang?" ucap Aka.

"Oh keinginan itu, sepertinya akan lebih seru jika kita tawarkan hal yang menarik itu. Apalagi itu impiannya sejak dulu. Karena kita sudah memasuki fase dimana kita akan meniru plot manga di Shounen, untuk membuat karakter utama terjebak pada pilihan di sebuah pertempuran akhir. Cukup menarik, ide yang bagus Aka." Balas Bintang.

"Hei, hei, hei, kita ini bukan di dunia manga. Kalian harus sadar kan hal ini." ucap Sena. Tetapi Bintang dan Aka tidak memedulikan kata-kata Sena.

"Begini saja, jika kamu bisa memperbaiki masalah orang-orang klub itu bersama siswa bermasalah lain yang aku kirim ke klub mu atas rekomendasiku dan guru BK yang lain. Aku akan memberikan dirimu sebuah kesempatan untuk melakukan pertunjukkan pentas seni sambil menyanyikan lagu Japanese song sebanyak yang kamu suka. Tapi jika tidak berhasil, kau harus mengikuti kata-kataku. Bukankah itu adil, jika kau melakukan tugasmu dengan benar kamu bisa mendapatkan rekomendasi untuk bernyanyi di atas panggung seni sampai kau lulus? jika gagal maka sebaliknya kau patuhi aku selama kamu di sekolah ini meskipun aku sudah lulus nanti."

"Aku menolak." Sena langsung menolak usulannya. Kedua matanya mengatakan dia dalam berbahaya. Persis di masa SMP alu, ini jebakan yang lazim digunakan oleh Bintang untuk menjebaknya dalam menolong seseorang dan hasilnya kegagalan total.

"Kau tidak ingin seperti Risu yang menyanyikan lagu Reason for Existence atau Gawr Gura yang menyanyikan lagu Megu Megu Fire Endless Night. Ini menguntungkan mu lho? Tentu saja, hukuman saat SMP juga lepas dari belenggu dirimu. Bagaimana? Menarik bukan?"

"Bukan itu masalahnya. Jangan kau katakan Oshi milikku dari Hololive dengan lancang.:"

"Tapi itu tawaran yang lebih baik daripada aku harus berdebat dengan dirimu. Jika kau menang, itu jadi pembuktian bahwa dirimu bisa menjadi superstar di pentas seni sekolah ini dan kau bisa mempertunjukkan kemampuan terpendam dirimu wahai tuan Kurniadi ..... Kau tidak punya alasan untuk menolak bukan." ucap Bintang dengan nada membisik ketika dia mengatakan Kurniadi pada Sena.

"Dari mana kau tahu nama itu? sungguh menyebalkan tindakan tirani seperti ini." ucap Sena dengan penuh kekesalan karena harus kalah dalam sekali gerakkan. Bintang memang orang yang sulit dikalahkan. Sena pun berkata kembali, "Hah! Baiklah aku akan bermain kembali dengan dirimu dan tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya kali ini.

"Kau sebagai saksi dan jurinya Aka, kalau begitu sudah dipastikan pertempuran ini akan terjadi. Antara kau dan aku Sena." ucap Bintang sambil menunjuk Aka kemudian menunjuk Sena.

"Sena, akulah yang akan memutuskan pemenang di antara kalian, jangan b/uat diriku kecewa akan kemampuan dirimu. Tentunya, keputusan itu berdasarkan opiniku yang bias. Tetapi jika kau bisa menang mutlak atas dirinya aku pasti akan memenangkan mu begitu sebaliknya. Jangan terlalu dipikirkan dan lakukanlah yang terbaik seperti biasanya, Sena." ucap Aka dengan tersenyum licik khas miliknya sambil matanya yang sipit itu tertutup.

"Aka, ayo kita pergi ada urusan OSIS yang harus aku bicarakan pada seksi kerohanian dalam menjelang  kegiatan Puasa Ramadhan bulan depan." perintah Bintang kepada Aka.

"Baik, kita bicarakan saja di ruangan OSIS."

"untukmu Sena, semangat! Lembaran barumu dimulai hari ini."

setelah mengatakan kata-kata itu, Bintang dan AKa meninggalkan Kantin sekolah. Meninggalkan Sena yang dalam perasaannya menyesali pilihan hidupnya dan kembali bertaruh pada ketidakpastian kembali.

Tentunya, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Sebagai lelaki, Sena tidak mungkin menarik taruhan tersebut. Harga dirinya sebagai si paling ahli bisa hancur sama seperti ketika SMP. Kenapa Sena harus melakukan improvisasi dan spontanitas yang bodoh.

Sena harus berkoordinasi dan membetulkan jiwa-jiwa temannya yang rusak menjadi seorang yang bisa diandalkan sehingga dia harus kembali ke klubnya sebelum jam sekolah mengizinkan murid-murid pulang. Hanya itu agar kesempatan Sena bisa menang dan mengalahkan keegoisan dari Bintang sang ketua OSIS.

Kisah Kurniadi Avicenna kembali berjalan dan harus terjadi lagi. Kehidupan layaknya musik Jazz, terlalu banyak improvisasi dan spontanitas yang dilakukan. Setelah kalah pada pertaruhan ketika SMP dulu. Dia harus memenangkan pertandingan ini dengan improvisasi dan spontanitas yang menakjubkan.

Terpopuler

Comments

deeyaa

deeyaa

semangat kak

2023-09-13

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Awal dari Masalah
3 Jika Kau Punya Dosa, Semuanya Akan Rumit
4 Kenangan Harusnya Dilupakan, Tapi Tidak Kenangan Buruk
5 Kehidupan Layaknya Musik Jazz, Terlalu Banyak Improvisasi dan Spontanitas
6 Kamu Tidak Sendirian
7 Bagaimana Aku Harus Menyelesaikan Masalah Ini?
8 Pandangan Putri Salju Terhadap Kurniadi Avicenna
9 Roda Takdir Akhirnya Mulai Kembali Bergerak
10 Masalahpun Dimulai
11 Kenapa Kehidupanku Menjadi Kehidupan yang Abnormal?
12 Penyihir yang Kembali Lapangan
13 Babak Pertama yang Menyedihkan
14 Penyihir yang Licik, Kurniadi Avicenna
15 Ketika Pangeran Sepak Bola Sadar Akan Karir
16 Membuat Kue Tanda Persahabatan
17 Setidaknya Masalah Kali Ini, Semuanya Bahagia
18 Datangnya Salah Satu Kasus Dari 7 Misteri SMAN 105 yang Belum Terpecahkan
19 Hilangnya Tanaman Kebun Secara Misterius di Pagi Hari
20 Ketika KPBM Dibicarakan oleh Anggot OSIS
21 Badai Itu Datang Lagi, Skandal Teman Satu Klub
22 Badai Itu Mulai Datang Lagi
23 Permasalahan Vtuber yang Semakin Rumit
24 Ketakutan Ria dan Kenangannya Dengan Klub Penelitian Budaya Masyarakat (KPBM)
25 Ibu Sonia yang Memegang Janji Pada Ria
26 Sidang yang Menyebalkan
27 Pertaruhan Sena dengan Ina
28 Bantuan Datang! Siapa Pelaku Pembongkaran Ria sebagai Calara Puni-puni?
29 Pria di Belakang Masalah
30 Awal Mula Pertarungan IT
31 Jaka Si Joker IT
32 Pertandingan Yang Berat
33 Pembantaian yang Terbalik
34 Adu Siasat
35 Ke Arah yang Tidak Menguntungkan
36 Baku Pukul Tak Terhindarkan
37 Penyelesaian Masalah Menimbulkan Masalah
38 Hubungan Ayah dan Anak
39 Ketika Sena Tidak Ada di Klub
40 Masa Lalu Sena
41 Ketika Puteri Jatuh Hati
42 Puteri Tanpa Hati Ternyata Punya Hati
43 Monolog Ini Punya Siapa?
44 Bintang Mulai Berbohong
Episodes

Updated 44 Episodes

1
Prolog
2
Awal dari Masalah
3
Jika Kau Punya Dosa, Semuanya Akan Rumit
4
Kenangan Harusnya Dilupakan, Tapi Tidak Kenangan Buruk
5
Kehidupan Layaknya Musik Jazz, Terlalu Banyak Improvisasi dan Spontanitas
6
Kamu Tidak Sendirian
7
Bagaimana Aku Harus Menyelesaikan Masalah Ini?
8
Pandangan Putri Salju Terhadap Kurniadi Avicenna
9
Roda Takdir Akhirnya Mulai Kembali Bergerak
10
Masalahpun Dimulai
11
Kenapa Kehidupanku Menjadi Kehidupan yang Abnormal?
12
Penyihir yang Kembali Lapangan
13
Babak Pertama yang Menyedihkan
14
Penyihir yang Licik, Kurniadi Avicenna
15
Ketika Pangeran Sepak Bola Sadar Akan Karir
16
Membuat Kue Tanda Persahabatan
17
Setidaknya Masalah Kali Ini, Semuanya Bahagia
18
Datangnya Salah Satu Kasus Dari 7 Misteri SMAN 105 yang Belum Terpecahkan
19
Hilangnya Tanaman Kebun Secara Misterius di Pagi Hari
20
Ketika KPBM Dibicarakan oleh Anggot OSIS
21
Badai Itu Datang Lagi, Skandal Teman Satu Klub
22
Badai Itu Mulai Datang Lagi
23
Permasalahan Vtuber yang Semakin Rumit
24
Ketakutan Ria dan Kenangannya Dengan Klub Penelitian Budaya Masyarakat (KPBM)
25
Ibu Sonia yang Memegang Janji Pada Ria
26
Sidang yang Menyebalkan
27
Pertaruhan Sena dengan Ina
28
Bantuan Datang! Siapa Pelaku Pembongkaran Ria sebagai Calara Puni-puni?
29
Pria di Belakang Masalah
30
Awal Mula Pertarungan IT
31
Jaka Si Joker IT
32
Pertandingan Yang Berat
33
Pembantaian yang Terbalik
34
Adu Siasat
35
Ke Arah yang Tidak Menguntungkan
36
Baku Pukul Tak Terhindarkan
37
Penyelesaian Masalah Menimbulkan Masalah
38
Hubungan Ayah dan Anak
39
Ketika Sena Tidak Ada di Klub
40
Masa Lalu Sena
41
Ketika Puteri Jatuh Hati
42
Puteri Tanpa Hati Ternyata Punya Hati
43
Monolog Ini Punya Siapa?
44
Bintang Mulai Berbohong

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!