Guru bimbingan konseling SMAN 105, Ibu Sonia, terlihat sangat kesal ketika Sena masuk ke ruangannya. Muka sangat masam kemungkinan dia sangat kesal dengan artikel yang dibuat Puteri minggu lalu telah menyinggung beberapa guru sehingga Sena sebagai ketua lah yang harus bertanggung jawab. Ketika Sena mengingat dengan cermat, Puteri ternyata punya potensi untuk membuat orang lain tersinggung dengan kata lain skill menulisnya jauh dari kata bagus. Kupikir Sena telah berhati-hati dalam dalam mengedit tulisan namun aku berpikir bahwa tulisan Puteri memang berusaha untuk terlihat pintar. Terlebih kosakata ini jarang digunakan oleh anak SMA dalam menulis, tapi ternyata terlihat seperti ingin mencari musuh. Meskipun, semua siswa pasti akan setuju dengan tulisan ini.
Sena harusnya sadar tulisan seseorang amatir pasti akan memiliki pro dan kontra yang menyinggung, alasan dibalik dia memanggil Sena kesini pasti karena dia ketuanya, bukan? Mungkin saja begitu. Pasti itulah alasannya. Setelah Bu Sonia selesai membacanya, dia menaruh artikel itu kepada Sena sambil menaruh tangannya di kening.
"Begini Kurniadi Avicenna, apa tugas seorang ketua dalam sebuah klub penelitian budaya masyarakat?"
"Tentu saja, kami meneliti sesuatu fenomena dan budaya masyarakat yang terjadi saat ini. Aku rasa sebagai editor, aku tidak salah terutama poin kritikan dari Puteri ini sebenarnya sudah tepat. Hanya saja tatanan bahasanya membuat tulisan ini sungguh sangat mengerikan. Hampir sama seperti surat ancaman."
"Itu poinnya, kenapa kau sebagai editor meluluskan artikel seperti kau menulis surat ancaman seperti ini? Apa kau ******* tetapi sayangnya kamu bukan seorang yang religius atau anak remaja masjid? Mungkin lebih tepatnya, kalian ini kumpulan idiot?"
"Aku tidak setuju ibu mengklasifikasikan anak Rohis dan anak remaja masjid dengan kata *******. Apakah Ibu Sonia itu Islami fobik?"
"Tentu saja tidak, hanya saja ibu tidak habis pikir klub buangan seperti kalian sering sekali membuat masalah."
Dia mengatakan itu sambil meminum boba, lalu tatapan matanya seperti ingin membunuh Sena.
"Ibu tak habis pikir, klub kalian itu selalu saja membuat masalah."
"Aku tidak yakin soal itu ibu. Faktanya, aku baru dipanggil kali ini oleh ibu terkait surat anc... maksudku artikel yang dibuat oleh Puteri. Benar begitu, bukan?"
"Hanya itu katamu, lihat ini aduan komplain terkait klub mu itu sudah banyak tahu. Tapi jika klub itu dibubarkan, orang aneh seperti kalian tidak punya tempat."
"Apa maksud ibu? Klub kami, aneh? Ah, ibu mengada-ada saja. Nyatanya klub kami disukai."
"Indikator apa yang kamu pakai jika klub mu itu?"
"Likes dan view pada konten klub kami adalah yang tertinggi untuk saat ini diantara klub-klub lain."
"Karena karya kalian itu sangat intimidasi, apakah kau paham? Jika seperti terus, klub kalian dan sekolah akan dalam masalah."
"Aku tidak setuju soal itu, karena beberapa kali kita memang...."
"Disukai oleh para murid berandalan dan pemalas tapi tidak dengan guru kalian," potong bu Sonia dengan nada marah.
"Meskipun begitu...."
"Kau terlalu banyak alasan Kurniadi."
"Setidaknya saya memiliki argumentasi tanpa harus...."
"Memotong pembicaraan itu maksudmu? Ibu sudah tahu apa alasan yang ingin kamu sampaikan. Ibu rasa kamu harus merubah sikapmu, terutama penampilanmu itu sungguh sangat berantakan."
"Sama seperti artis terkenal, bukan? atau gamer terkenal yang jarang tidur karena sering berlatih."
"Ya, ya, ya, terserah kau saja? Baiklah ibu akan bertanya kepadamu satu hal saja."
"Soal apa itu?"
"Aku rasa klub mu itu sangat cocok dengan kegiatan sekaligus memperbaiki sikap kalian yang aneh itu."
"Apa maksud ibu?"
"Anggap saja hukuman dari ibu. Nanti ibu akan koordinasi dengan pak Solihin buat mengganti tugas klub kalian selain meneliti hal-hal yang viral kalian harus menyelesaikan masalah dan problematika anak muda di sekolah ini."
Ketika usulan Ibu sonia terlontar begitu, angin dingin yang mengisyaratkan tanda bahaya langsung mengundang bulu kuduk Sena berdiri. Memang benar, klub seperti itu tidak ada di sekolah kami. Jika ada, maka akan bagus jika beberapa masalah kami selesaikan. Akan tetapi, justru itu adalah awal dari masalah.
"Maafkan kami ibu, hal ini terlalu berat bagi kami. Kami saja memiliki masalah kenapa harus..."
"Justru untuk itulah, Klub kalian itu adalah klub yang paling di favoritkan siswa disini. Terutama kolom artikel curhat percintaan yang dibuat oleh Ria. Kalian ini adalah klub yang bermasalah tetapi memiliki potensi jika dibimbing dengan benar."
"Maafkan saya ibu, jika ibu mau menghukum kami bukan dengan cara seperti ini. Karena, menyelesaikan masalah terutama masalah para siswa di SMA ini. Justru akan mengundang masalah yang lebih rumit."
Seperti sudah menduga jawabanku seperti apa, ekspresi wajah Ibu Sonia tiba-tiba berubah menjadi antusias.
Dia lalu menganggukkan kepalanya dengan mengatakan "hmmmm.. ya memang benar" dan melihat ke arahku.
"Justru dengan pemikiranmu dan pemikiran teman-temanmu itu, klub mu itu harusnya berorientasi pada hal ini. Karena kalian memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan kalian adalah orang yang dapat menjaga rahasia."
"Justru itu malah menambah masalah bagi kami, Ibu Sonia. Aku tahu betul teman-temanku, mereka adalah orang-orang...."
"Tapi, fakta kalau teman-temanmu memiliki kemampuan tersebut bukanlah isapan jempol. Aku akan menggambarkan seluruh kemampuan."
"Tidak perlu, lagipula jika ingin melakukan hal tersebut. Kita perlu persetujuan dari pembina dan juga Ketua OSIS. Kemudian, teman-temanku pun juga harus mengetahuinya. Bukankah begitu?"
Tak lama setelah itu, Guru Sosiologi sekaligus pembina Klub Penelitian Budaya Masyarakat masuk ke dalam ruang BK. Guru itu bernama Pak Hartono. Dengan senyuman yang sumringah dan tutur kata yang halus, Pria paruh baya itu un berkata, "Eh, Apakah ada Kurniadi Avicenna? Katanya dia dipanggil oleh Bu Sonia? Ada masalah apa ya bu? Ku harap masalah tersebut tidak menyebalkan."
"Hah, tepat sekali bapak datang. Silahkan duduk bapak! Kebetulan bapak disini jadi kita bisa berdiskusi soal ini. Apakah Bapak setuju bila klub yang bapak bimbing itu melakukan penelitian dalam membantu orang? Bukankah itu sangat menarik dan klub seperti itu belum ada di sekolah ini? Akan tetapi, silahkan diminum teh ini." ucap Bu Sonia sambil menuangkan secangkir teh hangat.
Sena malah heran melihat tingkah laku Bu Sonia, dia menuangkan teh hangat kepada Pak Hartono tetapi tidak kepadanya. Sena berpikir sungguh tidak adil, pikirnya.
Sambil mengangkat cangkir pak Hartono menghirup uap teh dan meminum teh tersebut sambil berkata, "Ahh terima kasih ibu. Hmmmm... Teh melati. Ibu punya selera yang bagus juga. Ahh maaf, bisa ibu Sonia ulangi terkait ide ibu tadi."
"Begini pak, bagaimana jika klub penelitian kebudayaan masyarakat memiliki tugas tambahan sebagai klub yang membantu siswa-siswa di sekolah ini. Dengan memecahkan beberapa masalah dari siswa disini, maka anggota klub bapak bisa meneliti bagaimana interaksi dan hubungan yang terjadi pada masyarakat luas."
"Oh begitu, ide yang menarik itu. Saya setuju-setuju saja. Kau juga asti setuju toh Sena? Karena dengan membantu murid-murid disini, kita bisa merumuskan bagaimana masalah dan penyelesaian masalah itu terjadi. Cukup menarik. Bapak Setuju! Menurutmu bagaimana Sena?"
"Bagaimana ya pak? tapi anggota kita hanya berlima dan itu tidak bisa menampung dan menyelesaikan masalah dari teman-teman kami yang datang untuk berkonsultasi."
"Bapak rasa kalian bisa kok. Karena kalian juga perlu pengembangan diri, penelitian sosial seperti budaya ini hanya bisa dilakukan jika kalian ingin sekali memecahkan permasalahan yang ada. Dengan begitu, kemampuan kognitif kalian berkembang. Kalau begitu saya setuju, asalkan ada beberapa pembimbing dari guru bimbingan Konseling.
"Ahh, bapak tidak usah khawatir. Untuk hal itu, saya yang akan bertanggung jawab bersama dengan bapak. Saya akan membantu sebisa saya."
"Kalau begitu tak ada masalah, jalankan saja."
sial, kata Sena dalam hati.
Dalam pemikiran Sena, Ibu Sonia adalah orang paling licik yang memanfaatkan kondisi dengan cara yang tak terduga.
Ngomong-ngomong licik, ini mengingatkan Sena dengan dengan hal lain... Dia lupa tapi dia sangat tidak ingin ke ruangan itu. Orang yang dua kali lebih licik daripada Ibu Sonia. Dimana Sena harus kabur dari sebuah realitas yang akan membuatnya ke dimensi penyiksaan lebih lanjut. Meskipun bukan sebagai ketua, tetapi dia adalah wanita yang mengerikan.
Ini layaknya sebuah penghukuman jika aku harus bertemu dengan dirinya.
Menurut pemikiran Sena, hukuman macam apa yang akan dia berikan.
"Baik pak itu saja pak. Saya harus membawa Sena ke ruangan OSIS untuk mengurus nomenklatur dan aturan yang ada. Saya permisi."
"Ah iya bu, jika bukan masalah apa-apa ya sudah saya akan kembali ke kantor."
Sena merasa kebingungan. Dia merasa Ruangan OSIS adalah ruang penghakiman lebih lanjut. Dia merasa tidak enak terhadap anggota OSIS lain. Terlebih, Sena memiliki banyak sekali masalah dengan OSIS karena kejadian tertentu.
"Ayo ikut Sena."
Ibu Sonia melangkah dan membawa lengan Sena. Ketika Sena berdiri karena bingung tidak ada penjelasan kenapa dia harus melakukan ini, ternyata Sena dan Ibu Sonia sudah ada di dekat pintu, dia menepuk pundakku layaknya ahli hipnotis.
"Ayo cepatlah!"
Dengan Penasaran Sena Ikuti arah dimana langkahnya menuju. Baginya, ini semua adalah awal dari masalah yang lebih besar dan harus ku hadapi. Semoga saja perasaannya itu tidak benar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments