Bentuk Gedung Sekolah dari SMAN 105 itu cukup mainstream. Kalau dari atas, terlihat seperti huruf U. Kalau ditambah gedung Masjid dan ruang audio-visual, maka sekolah kita terlihat seperti mata kail yang biasa digunakan untuk memancing. Gedung yang menjadi ruangan kelas berbatasan dengan tembok SMPN 9 Jakarta, berseberangan dengan gedung para guru. Sebuah lorong anjang yang ada di lantai satu dan lantai dua menghubungkan gedung tersebut membentuk sebuah kail persegi.
Area-area kosong yang mengelilingi sekolah adalah tempat yang nyaman untuk anak muda berkumpul membahas sesuatu ataupun pacaran. Ketika jam makan siang, Para murid makan di Kantin yang tidak jauh di kantor OSIS dan ruang UKS. Lalu beberapa murid dari klub olahraga beberapa main di tengah lapangan terutama klub Basket, Sepak Bola, dan Sepak takraw. Beberapa siswa Olahraga berada di gedung olahraga, biasanya digunakan untuk Voli, Badminton, dan beberapa olahraga dalam ruangan.
Saat ini dari sudut pandang orang-orang, Ibu Sonia membawa Sena ke ruang OSIS bagaikan penjahat yang melakukan kejahatan yang nista. Pandangan orang-orang melihat Sena, itulah pandangan yang paling dibencinya. Padahal semua ini bukanlah salahnya. Seandainya waktu bisa diputar dan Sena bisa kembali bereinkarnasi, mungkin Sena ingin sekali berperan sebagai pohon atau makhluk hidup sejenis itu dibanding harus menjadi hewan yang bertahan hidup dengan membunuh atau dibunuh.
Sena pun melihat arah langkah sepatu Ibu Sonia 'tak tak tak' yang membentur lantai, ruangan yang dekat sekali dengan kantin sekolah. Ruang Persidangan Anggota OSIS, tempat yang paling enggan Sena datangi bahkan jika dia harus ke ruangan itu.
Bulu kuduk Sena merinding ketika mendekati ruangan tersebut. Itu tanda dia merasakan hal yang buruk soal ini.
Sebagai permulaan dari masalah, ini jauh lebih bermasalah karena Sena tahu dia harus bertemu orang itu. Banyak sekali murid-murid yang mengimpikan untuk menjadi anggota OSIS. Namun bagi Sena, anggota OSIS hanyalah sekumpulan anak muda naif yang seharusnya lenyap dari muka Bumi. Meraka memimpikan sesuatu yang indah dan tak realistis.
Padahal kenyataannya, hal seperti itu tidak akan pernah terjadi. Mereka bekerja layaknya anggota dewan yang gajinya besar, padahal mereka hanya mendapatkan lelah yang tak berarti. Ibarat kata, kalau dibayar sih tidak masalah. Seperti kata pepatah tua lama, uang bisa membeli segalanya bahkan hatimu dapat terobati dengan uang. Maka seharusnya orang-orang tak perlu bermimpi untuk menjadi ketua OSIS untuk mewujudkan keadilan di dunia yang busuk ini. Dengan kata lain, OSIS sendiri terdengar buruk.
Tapi satu hal dari yang terburuk, Sena harus masuk ke ruangan pengadilan rapat OSIS yang cukup mengerikan sampai harus dibuat gedung khusus. Sena berpikir jika pekerjaannya akan menjadi masalah di mana dia harus membantu klub musik memindahkan Piano dari ruang musik ke ruang pertunjukan, membersihkan sampah-sampah eksperimen Klub Ilmiah Remaja SMAN 105, membantu petugas perpustakaan membereskan buku-buku dan dikembalikan sesuai dengan nomor raknya, dan yang paling menyedihkan menjadi tim cadangan untuk Tim Olahraga yang kekurangan orang seperti Paskibraka atau Voli ruangan.
Ketika Sena memasuki ruangan OSIS, anggota OSIS duduk layaknya ruang rapat di Gotei 13 dari anime Bleach. Tampilan dan gaya mereka layaknya para Yakuza dan Kapten di sana. Tampang mereka sungguh menyeramkan meskipun orang tersebut perempuan. Bagaimana tidak mirip dengan Gotei 13, mereka memiliki ketua seksi sebanyak sepuluh orang dan dua ketua yang menduduki kursi sekretaris dan Bendahara. Mereka pun dipimpin oleh ketua OSIS yang menjadi kepala sama seperti Kapten Yamamoto dan digantikan oleh Kyoraku. Dengan begitu jumlah pimpinan di OSIS 10 berjumlah 13 orang yang mana aura kematian yang Sena rasakan.
"Ehm, Bu Sonia. Saya seperti merasakan aura kematian ketika memasuki ruangan OSIS ini."
"Apa itu mirip dengan aura membunuh Hyosoka di menara surga sehingga mencegah Gon dan Kilua untuk mendaftar? Atau perasaan turnamen Tenkaichi Budokai saat melawan Cell?"
"Lebih ke perasaan, Gotei 13 di anime Bleach. Hah, ibu membaca manga juga?" Sena yang bingung karena ternyata Ibu Sonia termasuk wibu.
"Apa maksudmu Gotei 13, Kau di sini untuk disidang tahu." ucap pria yang menggunakan jaket tim futsal. Dari penampilannya dia kemungkinan dari Seksi IV atau dikenal sebagai Pembinaan Prestasi Akademik, Seni, dan Olahraga sesuai bakat dan minat.
Sena tahu betul orang itu bernama Zinedine Husein Jordan Ali. Pria perawakan Arab yang waktu itu memaksa Sena masuk klub olahraga, sains, dan selain klub penelitian kebudayaan. Pria yang paling dibenci Sena karena selain terkenal dia juga menyebalkan sehingga Sena enggan masuk ke klub-klub tersebut.
"Ya tentu saja saya tahu." ucap Sena dengan senyum palsu.
"Ku harap kau kesini untuk membantu kami dalam bidang seni, wahai anak muda." ucap pria yang sedang memegang gitar. Pria itu ibarat seperti Ariel Noah dan sangat dicintai oleh para wanita. Pria bernama Frans Sinatra itu merupakan Ketua VIII Seksi Pembinaan sastra dan budaya.
"Aku tidak yakin soal itu, Frans Sinatra, kita tanyakan saja kepada orang itu bukan." jawab Sena yang masih tersenyum palsu.
"Apa kau membawa orang bermasalah lagi seperti Puteri atau dibuat sulit olehnya?" ucap wanita yang biasa disebut ratunya IT di sekolah ini yang dikenal sebagai Ratu. Dia adalah ketua dari Seksi IX atau Seksi Pembinaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
"Hahaha, bisa jadi sehingga aku harus masuk ke ruangan nista ini."
"Apa maksudmu ruangan nista? Justru ini adalah ruangan untuk menyucikan orang-orang sepertimu." ketus seorang wanita yang merupakan salah satu anggota Paskibraka Jakarta dari SMA ini. Wanita itu bernama Isnawati ketua dari Seksi III atau Seksi Pembinaan kepribadian unggul, wawasan kebangsaan, dan bela negara.
"Suci, apakah ini sama seperti masjid atau gereja? Tetapi ruangan ini tidak seperti itu bukan?"
"Astagfirullah hal Adzim, Kamu harusnya sadar dan kembalilah ke jalan agama." ucap Ahmad Khair Asikin atau biasa disapa AKA. Dia adalah teman baikku yang menjadi Ketua Seksi I atau Seksi Pembinaan Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME.
"Ya aku minta maaf AKA, kapan-kapan aku traktir Mie ayam dan kita main marawis lagi."
"Apakah Ibu Sonia tidak mengajarkanmu tata krama, kita ini sedang dalam situasi rapat. Saya harap kamu bisa sopan, Sena. Sudah berapa kali kau ku peringatkan agar mematuhi tata krama yang ada." ucap Jennie sang polisi sekolah sekaligus ketua Seksi Pembinaan budi pekerti luhur atau akhlak mulia atau Seksi Bidang II.
"Tapi bukankah setidaknya dia sudah jujur dan transparan. Lagi pula, Sena itu adalah orang yang paling profesional dan independen yang pernah aku kenal. Bahkan dibanding anggota Jurnalis, Klub Sena ini memiliki ketajaman argumen yang pantas untuk di debatkan." ucap Kristofer Joshua yang mengetuai Seksi Pembinaan demokrasi, hak asasi manusia, pendidikan politik, lingkungan hidup, kepekaan dan toleransi sosial dalam konteks masyarakat plural atau Seksi Bidang V.
"Aku setuju dengan Kristofer. Dia memiliki beberapa sertifikat keahlian yang kalian pun tidak mampu untuk memilikinya. Dia memiliki nilai ekonomi yang menarik. Tapi, aku harap kemampuan miliknya itu bisa dimaksimalkan." ucap wanita berambut keriting. Dia adalah Stevannie ketua dari Seksi Pembinaan kreativitas, keterampilan dan kewirausahaan, atau Seksi Bidang VI.
"That's the point! In this meeting, Sena's communication skills can be improved so that he doesn't hurt other people's feelings with his words." ucap pria perawakan bule yang merupakan Seksi Pembinaan komunikasi dalam bahasa Inggris atau Seksi Bidang X. Pria itu biasa dikenal sebagai Bejo alias Bule Jowo. Padahal nama aslinya, Piter Robert Parkinson.
"Aku tidak paham perkataanmu Bejo. Tapi bisakah kita tidak berlama-lama, Saya sendiri memiliki kesibukan di Klub Penelitian Budaya Masyarakat. Aku yakin, Ibu Sonia juga pasti memiliki kesibukan lain, bukan? Ayolah, kita sudah buang-buang waktu. Kalau begini terus aku bisa-bisa pingsan sebelum rapat dimulai."
"Pingsan? Kau butuh bantuanku, Sena?" ucap wanita bersuara lembut. Dia adalah ketua dari seksi Pembinaan kualitas jasmani, kesehatan dan gizi berbasis sumber gizi yang terdiversifikasi atau disebut juga Seksi Bidang VII. Wanita itu bernama Ariantika Dewi Sastramira.
"Ehh, tidak. Bukan seperti itu Ariantika."
"Sudah-sudah, Dimana Febriansyah Bintang Saputra? Bukankah kita akan memulai rapat kali ini?" tanya Ibu Sonia.
Mungkin ruangan OSIS ini memiliki aura yang mengerikan. Kalau dipikir-pikir, iblis saja malas untuk keruangan ini karena penghakiman mereka yang sangat kejam. Meskipun, ruangan ini tidak ada bedanya dengan ruangan klub Sena. Tapi yang membedakannya ruangan ini adalah terdapat seorang gadis paling cantik di sekolah ini. Dia sebenarnya kembaran identik dari Puteri hanya saja senyumannya lebih membuat orang-orang tertarik. Dia adalah seorang Wakil Ketua OSIS dan memiliki nama Puteri Ina Cantika atau biasa disebut Ina.
Namun sayang kecantikannya itu bagaikan ratu es. Bahkan, momen di mana Sena melihatnya sambil tersenyum halus, baik pikiran dan tubuhnya serasa membeku. Beda sekali saat dia melihat Puteri Amelia Cantika atau yang biasa disebut Puteri temannya di Klub Penelitian Budaya Masyarakat.
Sena sangat terpesona oleh pemandangan ini.
Jalan dengan anggun sambil tersenyum halus kemudian wanita anggun itu berkata, "Maafkan aku, Ibu Sonia. Kak Febriansyah menyerahkan rapat kali ini kepadaku, selaku wakil ketua OSIS. Dia berpesan kepada Ibu, dirinya tak bisa menghadiri sidang Kurniadi Avicenna selaku ketua Klub Peneliti Budaya Masyarakat karena dia harus menghadiri rapat antar ketua OSIS di Jakarta."
"Oh jadi begitu, baiklah kalau begitu. Bagaimana jika kita mulai sidang kali ini? Lagi pula orang yang selama ini kalian cari dan kalian inginkan sudah ada di ruangan ini, bukan?"
Apa maksud dari Ibu Sonia? Seolah-olah Sena memiliki banyak dosa dan janji yang belum dia tunaikan sebelum menjadi ketua klub penelitian budaya masyarakat. Sena berpikir bahwa sidang kali ini lebih menghakimi dosa-dosa dan janji-janji yang belum dia tunaikan kepada Anggota OSIS.
Ketika sidang dimulai, tatapan amarah mereka sangat Sena rasakan. Kecuali satu orang, Ina malah menatapnya dengan tatapan yang dingin. Seolah-olah Sena memiliki janji kepada Ina.
Jika kita kembali ke masa lalu. Dosa dan janji yang Sena ingkar cukup banyak kepada anggota OSIS. Bahkan dosa dan janji yang Sena ingkari sampai membuat dirinya mustahil untuk mengingatnya. Sebab, dia memiliki dosa tersebut pada seluruh seksi kecuali kepada Febriansyah yang merupakan teman kecilnya.
Situasi rapat itu sungguh menegangkan layaknya persidangan Sambo, Sena harus diinterogasi oleh sebelas orang anggota OSIS yang memiliki kursi jabatan. Dia dicecar oleh banyak pertanyaan dan jawaban.
Tidak heran jika dia diperlakukan seperti itu karena dia memang orang yang sangat pandai di berbagai bidang tetapi tidak ahli.
Di SMAN 105, Sena memiliki julukan sendiri salah satunya adalah Cyborg. Bukan tanpa alasan dia dipanggil Cyborg, keahliannya serba bisa membuat dirinya seolah-olah seperti manusia yang dipadukan oleh mesin sehingga dia serba bisa melakukan apa pun yang dia inginkan. Bahkan saking mengerikannya Sena, dia sampai ditawari enam studi mata pelajaran untuk mengikuti OSN, sepuluh cabang olahraga untuk mengikuti O2SN, dan lomba band tingkat Jakarta. Namun hanya beberapa saja yang dia terima dan semua itu menghasilkan medali dan piala yang mana orang biasa tidak akan mungkin bisa.
Akan tetapi, Sena dengan kelakuan anehnya membuat dirinya tidak menjadi perhatian orang-orang. Bahkan menurut rumor, Sena itu seorang introvert yang menyedihkan sehingga tidak banyak orang tahu prestasi yang dimilikinya. Bahkan saat penyerahan medali atau piala dia malah kabur ke kantin sekolah atau pura-pura sakit ke UKS sehingga tidak banyak orang tahu tentang dirinya.
Dengan demikian, Sena yang dikenal orang adalah pria standar, siswa level medioker. Oleh karena itu, kalau murid-murid di sini tidak mengenalnya, Sena tidak akan tersinggung. Namun sayangnya, orang-orang di jajaran guru dan anggota OSIS, Sena adalah seorang berlian yang belum terasah sehingga mereka mau agar Sena berkembang ke arah yang seharusnya.
"Ini, Kurniadi Avicenna, Ketua dari Klub Penelitian Budaya Masyarakat. Masalah yang ditimbulkan sangat banyak meskipun berbanding lurus dengan prestasi yang dia miliki. Namun tetap saja, kesalahan yang dia lakukan harus mendapatkan hukuman." ucap Jordan yang penuh emosi.
"Ayolah, kalian harusnya berlaku adil meski aku sepertinya memiliki banyak dosa terhadap kalian. Tapi jujur aku lupa." ucap Sena dengan santai.
"Tapi kesalahanmu cukup tak bisa ditolerir terutama di negeri timur ini. Mungkin jika kau tinggal di Amerika hal tersebut bisa dimaklumi. Akan tetapi, artikel yang klub mu tulis membuat perpecahan," ucap Jennie.
"Hmmm, aku tidak setuju. Karena dari segi bahasa dan kritikan, itu sesuai dengan koridor dan kaidah bahasa Indonesia yang tepat sehingga poin-poin dan nilai-nilai yang disampaikan sebenarnya tidak menyalahi aturan maupun UUD '45. Bagaimana pendapat kalian Isna, Jo, dan Piter? Aku yakin kalian setuju." balas Sena.
"Yes, he was not wrong if you see the writing. Arguments and facts on the ground do not violate journalistic norms. So, he has strong views and philosophies in the changes he embraces. Precisely his cynical view of the world is what he thinks we can use to solve problems." ucap Piter.
"Aku setuju dengan Piter." ikut Jo.
"Justru pandangan seperti itu yang berbahaya, sulit untuk menjaga keutuhan dan keharmonisan jika memiliki pandangan tersebut." ucap Isna
"Hadeh, sepertinya kalian ingin menjebakku untuk kerja sosial membantu masalah para remaja, ya? Aku sendiri memiliki masalah mengapa aku harus membantu orang yang bermasalah. Bukankah itu sungguh ironi?" tanya Sena.
"Karena kau memiliki kemampuan tetapi tidak kau maksimalkan." ucap Ali.
"Jangan-jangan masalah itu lagi ya? Kan sudah aku bilang, tidak ada seorang jenius dan berbakat yang tidak bekerja keras. Jika aku harus melakukan yang kalian minta, yang ada aku tidak memiliki waktu untuk diriku sendiri sehingga aku kehilangan masa remaja. Meskipun, aku bisa saja melakukan apa yang kalian minta. Akan tetapi, hal tersebut butuh usaha yang besar sedangkan banyak orang yang mendekati kualitas tersebut sehingga tidak terpaku pada satu orang yang serba bisa." balas Sena.
"Sepertinya dia memang memiliki masalah yang kompleks. Kalian sudah paham dan bisa mengetahui dari melihatnya. Siswa satu ini memiliki pendirian yang kuat hanya saja dia sedikit perlu diperbaiki. Jika kita tidak memperbaikinya, dia akan menjadi seperti seorang penyendiri yang perlu dikasihani." ucap Ibu Sonia.
Sena tak mengerti hingga dia terdiam. Dia berharap Ibu Sonia bisa menjelaskan lebih singkat tanpa perlu menjelaskannya dengan detail.
Ibu Sonia langsung menatap Ina dan berkata, "Ina! Kalau dia bisa belajar caranya memperlakukan seseorang dengan baik dengan hukuman klubnya untuk membantu OSIS dan siswa di sekolah ini, mungkin bisa ku pertimbangkan. Untuk itu, bisakah kuserahkan pengawasan dia dan klubnya kepadamu? Permintaanku hanyalah agar mereka bisa hidup di masyarakat luas dan untuk Sena bisa kau hilangkan sikap pesimis dan tertutupnya itu."
"Begitu ya, aku pikir akan lebih bagus jika mereka harus ditindak keras dan menanam kan disiplin kepada mereka." balas Ina meresponsnya dengan tegas.
Sejujurnya dia gadis yang menakutkan.
"Aku tidak setuju dengan wanita itu. Aku akan senang hati melakukan tugas sosial dan konsultasi yang ibu usulkan. Bahkan, aku akan senang hati jika bisa melakukannya, tapi kamu juga punya masalah yang harus kami selesaikan masing-masing. Di sisi lain, bukankah tidak diperbolehkan adanya kekerasan fisik."
"Jangan khawatir Sena. Justru pekerjaan ini bisa membuat kalian menemukan makna kehidupan dan kebahagiaan sejati yang kalian sangat inginkan. Kau adalah seorang pemimpin yang sangat adaptif dan mengalkulasi baik buruk risikonya. Kau tahu risiko dan kebaikan dan keburukan dari suatu keburukan bahkan kau termasuk siswa yang ahli filsafat sejak dini sehingga dapat memecahkan maslaah yang kau hadapi. Meskipun kau memiliki tampilan jahat yang menyedihkan." ucap Ibu Sonia.
"Aku pikir tadi pujian, ternyata itu bukanlah pujian.... Apakah anda tidak salah berbicara? Saya bukannya mampu mengalkulasi risiko, lebih tepatnya membuat keputusan yang rasional sehingga aku dapat kenyamanan hidup. Namun hukuman ini malah membuat diriku terjepit."
"Ohh, ternyata kau memang siswa sekaligus penjahat yang menyedihkan.... Sungguh sangat menyedihkan...." Kata Ina. Sial Ibu Sonia berhasil menghipnotis pimpinan rapat, atau tampilan ku yang mirip penjahat ini membuat mereka semua tidak percaya. Anggota OSIS kini menganggap aku seperti seorang penjahat. terlebih untuk diriku yang memiliki banyak dosa menjadikan ini semua menjadi rumit
"Oke sudah diputuskan, hukuman untuk Klub Penelitian Budaya Masyarakat adalah untuk menjadi sarana konsultasi dan penyelesaian masalah murid-murid di SMAN 105 dan akan diawasi langsung oleh anggota OSIS. Dengan demikian rapat selesai." Ina mengatakan itu dengan nada agak jijik terhadap sesuatu.
Aku melihat anggota OSIS dan Ibu Sonia tersenyum Puas.
Ibu Sonia pun berkata, "Oke, kalau begitu KPBM ini kuserahkan pada anggota OSIS."
Setelah itu, dia keluar ruangan dengan terburu-buru.
Sedang aku hanya termenung bahwa diriku harus kalah dengan cara seperti ini.
Sejujurnya, aku lebih tenang kalau mereka meninggalkanku sendirian. Tetapi, bagaimana aku harus beritahu anggota-anggota ku. Sejujurnya, OSIS adalah lingkungan paling asing dan itu membuat diriku harus kalah seperti ini. Bagaimanapun, jika kau punya dosa pada manusia semuanya akan menjadi rumit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments