Sena masuk ke ruangan klub sambil melirik jam tangannya dengan gelisah. Wajar saja, sebentar lagi jam pulang sekolah akan berbunyi. Jika tidak diberi tahu masalah dan hasil dari rapat tadi siang, Sena akan lupa dan itu akan jadi awal semua masalah. Namun karena dia harus berdebat kusir dengan ketua OSIS dan Aka di Kantin, sempat saja dia lupa memberi tahu bahwa klubnya akan menjadi klub bantuan konsultasi sosial.
"Kenapa kau terlihat gelisah dan kesal begitu Sena? Kau gagal meyakinkan mereka untuk menghilangkan hukumannya?" komentar Puteri es dengan penekanan sinis di setiap kata.
"Justru karena dirimu klub kita harus menerima hukuman dan mendapat tugas tambahan untuk menerima konsultasi. Haaah, pekerjaan kita hampir sama seperti seorang Vtuber Clara Puni-puni, jika saja dia melakukan stream detik ini aku pasti akan curhat masalah klub ku yang berisi orang-orang bermasalah." Sena duduk sambil menggaruk-garuk kepala yang pusing karena masalahnya yang tak kunjung selesai. Sena pun kembali melanjutkan perkataannya, "Jup, apakah kau punya rencana untuk menyelesaikan masalah siswa yang datang curhat ke ruangan ini?"
"Tentu saja tidak! kita ini adalah kumpulan orang-orang bermasalah dan kenapa harus diberi hukuman untuk menjadi tepat orang-orang menyelesaikan masalah?" balas Jupri
"Jangan tanya aku, kau tanyakan pada si puteri es mengapa dia membuat tulisan yang mengerikan dan hampir mirip seperti mengutuk seseorang." ucap Sena sambil menunjuk Puteri.
"Justru mereka yang tidak mau dikritik, bukankah pandanganku sangat jelas jika mereka itu menjijikkan sebagai seorang manusia. Kenapa aku yang disalahkan karena hukuman ini lebih memberatkan pada kalian. Terutama kau Sena, kalau boleh jujur kau itu orang paling jenius dalam menyelesaikan masalah. Bahkan, kau juga orang yang menyelesaikan masalah sebelum kita berkumpul di sini. Kemana sifat Kurniadi Avicenna yang optimis dan jenius itu. Kok sikapmu menjadi bermental kerupuk kayak gini sih?" perasaan yang sinis dari sang dewi es terdengar semakin tajam.
Sena hanya menghela napas. Kemudian berkata, "Baiklah, kita memang sudah tak bisa kembali kita hanya bisa menyelesaikan masalah tanpa harus ada masalah. Meskipun, hal demikian itu sangat tidak mungkin tetapi bisa dilakukan. Semua masalah pasti ada penyelesaiannya."
"Caranya? Tidak ada kan? Kau itu selalu saja sembrono dan melakukan apa saja yang diminta. Aku harap kau bisa merubah sikapmu yang seperti itu." ucap Puteri sambil menunjuk dengan pulpen.
"Iya, Iya. Aku tahu itu. Tapi bukan berarti itu semua salah. Sikapku yang seperti ini tidaklah salah. Asal kau tahu saja." balas Sena.
Ria pun melerai keduanya sambil berkata, "Sudah-sudah, aku tidak masalah dengan sikap Sena yang merasa bertanggung jawab dan itu tidaklah salah. tetapi, pemikiran dari Puteri pun juga tidak maslaah. Sekarang kita harus cari jalan keluar bagaimana masalah ini bisa selesai secara sistematis dan tidak menyulitkan kita semua."
"Sistematis? Itu dia! Kita harus membagi tugas dan bersedia pada hari itu untuk bertugas menyelesaikan masalah. Jika memang tidak bisa terselesaikan maka kita akan menyelesaikan secara bersama. Bukankah itu ide yang bagus." ucap Sena.
"Membagi tugas? Seperti piket, seperti itu bukan?" tanya Jupri.
"Iya, berdasarkan kesibukkan. Aku akan bertugas pada hari Senin, Hari Selasa adalah Puteri, Ria yang selalu senggang di hari Rabu maka cocok untuk hari Rabu, Jupri kau di hari Kamis dimana itu hari yang paling kau suka bukan. untuk hari Jumat sementara aku yang pegang. Bagaimana pendapatku." ucap Sena sambil menulis di papan tulis.
"Cukup pas sih Sena, tapi bagaimana jika pada hari itu orang tersebut tidak bisa menyelesaikan masalah murid yang datang berkonsultasi?" tanya Jupri.
"Justru disitu poinnya, jika masalah terbilang sering diselesaikan dan tak perlu bantuan tidak ada masalah. Yang jadi masalah adalah saat kita menyelesaikan maslaah dan akhirnya buntu maka, satu-satunya cara dalam pikiranku adalah menyelesaikan bersama-sama terutama yang bisa saat itu, bagaimana?"
"Ya tidak ada masalah, untuk saat ini." ucap Puteri
"Jangan seperti itu Puteri! kan bisa sedikit berpikir positif."
"Iya maaf Ria."
"Ok aku setuju."
"Setidaknya aku tidak sendirian ketika menyelesaikan masalah."
Jam pulang pun berbunyi, mereka semua pun bersiap-siap pulang sendiri-sendiri. Namun sudah mencapai kesepakatan bahwa ketika menyelesaikan masalah para siswa mereka tidak akan sendirian jika tidak bisa diselesaikan secara sendirian. Semoga apa yang terjadi pada Sena di SMP tidak terulang lagi di SMA.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments