Ketika berjalan ke ruangan Guru. Anna yang merupakan seorang model berkata, "Santi dan Ria kalian benar-benar orang yang membuat artikel tentang kue itu?"
Santi yang agak malas menjawab, "Ya, ya, begitulah."
Ria Justru dengan semangat dan menegur Santi dengan berkata, "Kau harus semangat Santi. Ya itu kami. Gimana resepnya, enakkan?"
"Lumayan. Keluargaku menyukainya. Kenapa kalian bisa kepikiran membuat hal itu?" tanya ana.
"Lebih tepatnya keterpaksaan dari seorang Puteri Amelia Cantika dan ketulusan hai dari Sena. itu saja." ucap Santi dengan wajah yang mengantuk dan malas.Santi menghela napas dan berkata, “Hah, Sena itu memang pintar, tapi dia juga aneh. Dia selalu diam dan tidak pernah bergaul dengan siapa pun. Dia bahkan tidak peduli dengan nilai ujian atau tugas. Dia hanya suka membaca buku-buku tebal yang tidak ada yang mengerti. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya.”
Ria tersenyum dan berkata, “Kau benar, Santi. Sayangnya Sena itu penampilannya suram tetapi sebenarnya sangat baik hati dan peduli dengan teman-temannya. Dia hanya tidak pandai mengekspresikan dirinya. Dia juga punya bakat luar biasa dalam menulis dan menggambar. Aku pernah melihat karyanya di majalah sekolah. Dia adalah sebuah permata dalam tumpukan sampah.”
Anna cukup kaget mendengar pujian Ria terhadap Sena. Dia tidak pernah berpikir bahwa Sena adalah orang yang begitu berbakat dan menyenangkan. Dia selalu menganggap Sena sebagai orang paling pendiam dan pemalas di antara kelas meskipun dia termasuk yang paling pintar di kelas.
“Benarkah begitu?” tanya Anna dengan rasa penasaran.
“Ya, benar,” jawab Ria dengan yakin. “Kau harus mencoba berbicara dengan Sena. Aku yakin kau akan terkejut dengan apa yang dia bisa lakukan.”
Mereka mengetuk pintu ruangan guru dan menunggu beberapa saat. Kemudian, pintu terbuka dan muncul wajah Ibu Jenny, guru matematika yang juga menjadi pembina klub mereka.
“Oh, kalian bertiga yang dari Klub Penelitian Budaya Masyarakat,” kata Ibu Jenny dengan senyum ramah. “Katanya Ibu Sonia kalian mau buat kue jenang ya?”
“Ya, Bu. Kami ingin belajar cara membuatnya dan mencicipinya,” jawab Ria dengan antusias.
“Kalau begitu, ini buku resep dan ini kunci ruangannya. Kalian boleh menggunakannya tetapi jangan lupa dirapihkan,” kata Ibu Jenny sambil memberikan sebuah buku dan sebuah kunci kepada Santi.
“Terima kasih banyak, Bu. Kami akan berhati-hati dan menjaga kebersihan,” ucap Santi dengan sopan.
“Baiklah, selamat mencoba. Semoga berhasil,” kata Ibu Jenny sambil menutup pintu.
Anna, Ria, dan Santi sudah sampai di ruangan yang akan mereka gunakan untuk membuat kue jenang. Mereka membuka buku resep yang diberikan oleh Ibu Jenny dan mulai mempersiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan.
“Kenapa kita harus membuat kue jenang sih?” tanya Anna dengan rasa penasaran. “Apa ada arti khusus di balik kue ini?”
Santi dengan mata mengantuk dan sangat malas menjawab, “Kue jenang itu memiliki filosofi khusus yang berhubungan dengan sepasang kekasih. Proses pembuatan jenang yang lama dan perlu kesabaran, mengandung makna tentang sebuah hubungan yang harus dibina penuh kesabaran agar tidak mudah putus dan saling meninggalkan. Sementara tekstur jenang yang lengket adalah sebuah simbol agar sepasang kekasih selalu bersama dan berusaha menjaga hubungan.”
Ria pun berkata, “Wah, asyik kalau kita bisa membuat kue tradisional yang melambangkan cinta. Tidak beda jauh dengan kue coklat.”
Anna bertanya kepada Ria, “Memangnya kalau kue itu sudah jadi, kau mau memberinya ke siapa?”
Ria menjawab, “Ke Jupri dan Sena tentu saja. Mereka berdua teman baikku. Aku ingin berbagi kue jenang dengan mereka sebagai tanda persahabatan.”
Santi pun juga menjawab hal yang sama tetapi berbeda. “Aku juga mau memberi kue jenang ke Jupri dan Sena. Tapi bukan karena aku suka mereka. Aku hanya ingin melihat reaksi mereka saat mencicipi kue ini. Mungkin mereka akan muntah atau pingsan.”
Ria menatap Santi dengan kesal. “Kau itu jahat sekali, Santi. Kau tidak boleh mengganggu Jupri dan Sena. Mereka orang baik-baik.”
Santi mengangkat bahu dan berkata, “Ah, santai saja, Ria. Aku hanya bercanda kok. Lagipula, aku yakin Jupri dan Sena tidak akan mau makan kue jenang dari kita. Mereka pasti sudah punya pasangan masing-masing.”
Anna tersenyum mendengar perkataan Santi. Dia lalu bertanya kepada Ria, “Kalau Anna mau memberinya ke siapa?”
Anna dengan malu-malu menjawab, “Ke Reza teman sekelas sekaligus pangeran sepak bola SMAN 105.”
Ria dan Santi langsung terkejut mendengar jawaban Anna. Mereka tidak menyangka bahwa Anna memiliki perasaan terhadap Reza.
“Reza? Kamu suka Reza?” tanya Ria dengan tak percaya.
“Ya, aku suka Reza,” ucap Anna dengan merona.
“Wow, Anna. Aku tidak tahu kamu punya selera tinggi,” kata Santi dengan sinis.
“Jangan begitu, Santi. Aku rasa Reza itu orang yang baik dan tampan,” bela Ria.
“Ya, ya, ya. Apa saja deh,” kata Santi dengan acuh.
Anna merasa malu dengan reaksi teman-temannya. Dia lalu berkata, “Aku hanya ingin memberi tahu Reza bahwa aku suka dia dengan cara yang berbeda. Aku rasa memberi kue jenang adalah salah satu caranya.”
Ria mengangguk-angguk dan berkata, “Aku mendukungmu, Anna. Aku harap Reza akan menyukai kue jenangmu dan membalas perasaanmu.”
Santi menggeleng-geleng dan berkata, “Aku tidak yakin itu akan berhasil, Anna. Aku rasa Reza sudah punya pacar atau banyak penggemar lainnya. Aku rasa dia tidak akan peduli dengan kue jenangmu.”
Anna menatap Santi dengan sedih. Dia lalu berkata, “Aku tidak peduli, Santi. Aku hanya ingin mencoba. Siapa tahu dia akan melihatku dengan cara yang berbeda.”
Santi menghela napas dan berkata, “Baiklah, baiklah. Terserah kamu saja. Tapi jangan salahkan aku jika Reza menolak atau menghina kamu.”
Anna mengangkat dagu dan berkata, “Tenang saja, Santi. Aku yakin Reza tidak akan begitu kasar atau sombong. Aku yakin dia adalah orang yang baik dan sopan.”
Ria tersenyum dan berkata, “Itu dia, Anna. Jangan putus asa. Aku yakin kamu bisa mendapatkan Reza.”
Santi menggeleng-geleng dan berkata, “Apa-apaan ini. Kita di sini mau membuat kue jenang atau ngobrol tentang cinta?”
Ria dan Anna tertawa dan berkata, “Ya, kita mau membuat kue jenang dan ngobrol tentang cinta.”
Mereka pun mulai membuat kue jenang dengan semangat dan ceria. Mereka berharap kue jenang mereka akan menjadi kue yang spesial untuk orang-orang yang mereka sayangi.
Anna, Santi, dan Ria akhirnya malah menjadi sahabat yang suka memasak bersama. Mereka memutuskan untuk membuat kue sesuai dengan resep yang diberikan oleh ibu Jenny. Mereka mengambil bahan-bahan yang diperlukan dan mulai mengikuti langkah-langkah pembuatan kue sesuai .
Anna adalah seorang yang teliti dan cermat. Dia mengukur semua bahan dengan tepat dan mengikuti resep dengan hati-hati. Dia juga menambahkan sedikit cokelat dan kismis untuk memberikan rasa tambahan pada kuenya.
Santi adalah seorang yang sederhana dan hemat. Dia tidak mau membuang-buang bahan dan hanya menggunakan secukupnya. Dia juga mengurangi gula dan santan yang digunakan untuk membuat kuenya agar tidak terlalu manis dan berlemak.
Ria adalah seorang yang ceria dan suka mencoba hal baru. Dia tidak terlalu peduli dengan resep dan lebih mengandalkan instingnya. Dia menambahkan banyak gula, mentega, keju, dan selai untuk membuat kuenya menjadi lebih lezat dan menarik.
Setelah kue selesai dipanggang, mereka menikmati hasil karya mereka bersama-sama. Kue dari Ria rasanya sangat manis seperti karakternya yang selalu ceria. Santi mencicipi kue Ria dan berkata, “Ini terlalu manis buatku. Aku tidak bisa makan banyak.” Anna juga mencicipi kue Ria dan berkata, “Ini enak tetapi memang sangat manis. Aku khawatir nanti jadi gendut.”
Kue dari Santi rasanya cukup hambar sesuai karakteristik dari Santi yang hidupnya ya standar dan begitu-begitu saja. Ria mencicipi kue Santi dan berkata, “Kau itu terlalu pelit sekali dengan gula dan santan. Kuenya kurang lembut dan kurang rasa.”
Anna mencicipi kue Santi dan berkata, “Ini sehat tetapi memang kurang manis. Aku rasa bisa ditambahkan sedikit topping atau sirup.”
Kue dari Anna rasanya sangat enak hingga membuat Ria berkata, “Seharusnya kamu jadi model iklan kue mu sendiri pasti laku keras. Kuenya lembut, manis, dan beraroma cokelat.”
Santi juga setuju dengan Ria dan berkata, “Ini rasanya pas untukku. Tidak terlalu manis dan tidak terlalu hambar. Aku suka dengan tambahan kismisnya.”
Anna tersenyum mendengar pujian dari sahabat-sahabatnya. Dia berkata, “Terima kasih atas komentarnya. Aku senang kalian suka dengan kuenya.”
Mereka pun melanjutkan makan kue sambil bercerita tentang hal-hal lain.
Suatu sore, Anna mendatangi Reza yang sedang optimis untuk kembali berlatih di tim sepak bola. Anna membawa sebuah kotak berisi kue jenang yang dibuatnya bersama Santi dan Ria dari KPBM. Kue jenang itu adalah makanan kesukaan Reza.
“Reza, aku mau ngasih ini buat kamu. Semoga kamu suka.” kata Anna dengan malu-malu sambil menyerahkan kotak itu kepada Reza.
“Wow, terima kasih, Anna. Ini kue jenang kesukaanku. Kamu tahu darimana?” tanya Reza dengan senang sambil membuka kotak itu.
“Aku… aku dengar dari Sena. Dia bilang kamu suka makan kue jenang.” jawab Anna dengan gugup.
“Ah, Sena itu memang baik sekali. Dia selalu ingat hal-hal kecil tentangku.” ujar Reza dengan hangat.
“Kamu mau coba?” tawar Anna sambil mengambil sepotong kue jenang dan memberikannya kepada Reza.
“Iya, tentu saja.” kata Reza sambil menggigit kue jenang itu.
Reza merasakan sensasi manis dan lembut di mulutnya. Kue jenang itu terasa sangat enak dan membuatnya merasa bahagia.
“Wah, enak banget ini. Buatanmu?” puji Reza sambil menatap Anna dengan kagum.
“Iya, dibantu Santi dan Ria dari KPBM. Kami belajar membuat kue jenang dari buku resep yang kami pinjam dari perpustakaan.” cerita Anna dengan bangga.
“Kamu hebat sekali, Anna. Aku kagum dengan kemampuanmu dalam belajar dan memasak.” kata Reza dengan tulus.
“Terima kasih, Reza. Kamu juga hebat dalam olahraga dan persahabatan.” balas Anna dengan senyum.
“Kapan-kapan buatkan aku lagi ya. Aku suka sekali dengan kue jenangmu.” pinta Reza dengan manis.
“Baiklah, kalau kamu mau.” janji Anna dengan senang.
Mereka pun berjalan bersama menuju rumah sakit untuk menjenguk Sena. Di perjalanan, mereka bercerita tentang hal-hal yang mereka sukai dan impikan. Mereka merasa ada benang merah yang menghubungkan hati mereka. Mereka tidak menyadari bahwa cinta telah tumbuh di antara mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments