Sepanjang perjalanan, Sukma terus saja melamun, ada rasa bahagia sekaligus sedih yang ia rasakan saat ini.
Sukma bahagia karena akan bertemu kembali dengan Mbok Ningsih, sedangkan Sukma sedih karena harus berpisah dari Jaka yang sudah berubah dan melupakannya.
Sepuluh jam sudah Sukma menempuh perjalanan dari Jakarta menuju Jawa Timur, dan Sukma akhirnya sampai juga di Terminal Bus yang tidak jauh dari rumahnya pada pukul sepuluh malam.
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga. Sebaiknya aku mencari ojeg saja biar cepat sampai, lagian angkot juga kalau jam segini pasti sudah tidak ada," gumam Sukma, kemudian menuju pangkalan ojeg yang tidak jauh dari sana, dan ternyata hanya sisa satu ojeg saja.
Sukma kini naik ojeg menuju rumahnya yang masih berjarak dua kilo meter lagi.
"Mbak habis darimana? kenapa malam-malam begini masih diluar, kemana Suaminya, padahal Mbak lagi hamil besar?" tanya tukang ojeg.
"Saya baru pulang dari Jakarta Mas, kebetulan Suami saya gak bisa ikut pulang karena sedang banyak kerjaan," jawab Sukma yang berbohong.
"Oh begitu, untung saja saya belum pulang, padahal saya sudah berniat untuk pulang karena sudah tidak ada lagi teman."
"Iya Alhamdulillah masih ada Bapak. Pak berhenti di rumah depan sana ya."
"Yang banyak orang itu ya Mbak? sepertinya ada yang meninggal, itu ada bendera kuning," ujar tukang ojeg.
Degg
Perasaan Sukma merasa tidak enak pada saat mendengar perkataan tukang ojeg, Sukma takut jika dugaannya benar kalau Mbok ningsih yang telah meninggal dunia, karena bendera kuning tepat berada di depan rumahnya.
Semoga saja dugaanku salah, Si Mbok pasti baik-baik saja, ucap Sukma dalam hati.
Tukang Ojeg pun kini menghentikan motornya tepat di depan rumah Sukma.
"Pak terimakasih ya, ini ongkosnya," ujar Sukma dengan memberikan uang lima puluh ribu.
"Mbak ini kembaliannya," ujar tukang ojeg, karena ongkos ojeg dari Terminal ke rumah Sukma hanya lima belas ribu saja.
"Tidak usah Pak, kembaliannya ambil saja," ujar Sukma.
"Terimakasih banyak Mbak," ucap tukang ojeg kemudian kembali melajukan motornya.
Perasaan Sukma sudah tak menentu, hati Sukma rasanya tidak enak karena saat ini banyak orang di rumahnya.
"Assalamu'alaikum," ucap Sukma, dan semuanya menjawab ucapan Salam Sukma, kemudian dari dalam rumah terlihat Bu Atun menghampiri Sukma.
"Sukma, Alhamdulillah akhirnya kamu sampai Nak. Mana Jaka? kenapa kamu hanya pulang sendiri saja? padahal Ibu sudah memberitahukan Jaka tentang kematian Si Mbok supaya dia mendampingi kamu, apalagi saat ini kamu sedang hamil tua," ujar Bu Atun.
Degg
Jantung Sukma berhenti berdetak, padahal niat Sukma pulang adalah untuk menemui Mbok Ningsih, apalagi Sukma tidak tau tentang kematian Neneknya tersebut.
"Innalillahi waina ilaihi raji'un. Mbok, jangan tinggalin Sukma Mbok, maafin Sukma karena sudah pergi meninggalkan Si Mbok tanpa pamit terlebih dahulu, Kenapa Si Mbok tega ninggalin Sukma sendirian," teriak Sukma dengan menangis histeris.
Pada saat Sukma hendak memeluk jenazah Mbok Ningsih, Bu Atun melarangnya karena saat ini Sukma sedang hamil.
"Ndo, sing sabar, sing ikhlas, do'akan Si Mbok supaya tenang di alam sana. Sukma sedang hamil, jadi tidak boleh memegang Jenazah. Apa sebelumnya Jaka tidak memberitahukan kematian Mbok Ningsih kepada Sukma?" tanya Bu Atun.
Belum juga Sukma menjawab pertanyaan Bu Atun, Sukma keburu pingsan, dan akhirnya digotong ke dalam kamar.
......................
Di tempat lain, tepatnya di rumah Yuli, Jaka saat ini terlihat berbaring di samping Yuli setelah mereka berdua bertukar keringat dengan melakukan olahraga malam.
"Mas Jaka kapan mau nikahin Yuli?" tanya Yuli dengan bergelayut manja kepada Jaka.
"Kenapa harus menikah sih sayang, tanpa menikah pun kita bebas melakukan semua yang kita mau," jawab Jaka, karena sebenarnya dalam hati kecil Jaka masih ada nama Sukma, sebab tidak mudah melupakan seorang Sukma yang sudah dicintainya semenjak masih kecil.
"Mas, aku itu butuh kejelasan, bagaimana kalau aku sampai hamil? nanti aku bakalan jadi bulan-bulanan semua orang kalau sampai hamil di luar nikah."
Jaka hanya terlihat melamun, karena dia masih kepikiran dengan perkataan Ibunya yang memberikan kabar tentang kematian Mbok ningsih, padahal sebelumnya Bu Atun sudah menyuruh Jaka dan Sukma untuk pulang pada saat Mbok Ningsih masih sakit.
Aku merasa bersalah kepada Sukma, seharusnya dari kemarin-kemarin aku memberitahukan tentang kabar Mbok Ningsih yang sakit supaya Sukma bisa bertemu sebelum Mbok Ningsih meninggal dunia. Sebaiknya aku memberitahukan kabar tentang meninggalnya Mbok Ningsih kepada Sukma, bagaimanpun juga Mbok Ningsih adalah segalanya bagi Sukma, dan Sukma pasti akan terpukul mendengar semuanya. Apa aku antar saja Sukma sampai Jawa, sekalian kan aku bisa menjenguk Ibu dan Bapak, ucap Jaka dalam hati.
Yuli yang melihat Jaka terus saja melamun sampai kesal dibuatnya.
"Mas Jaka daritadi dengerin aku ngomong gak sih?" tanya Yuli.
"Maaf Sukma sayang, Mas Jaka sedang kepikiran sesuatu," jawab Jaka yang sudah keceplosan malah menyebut Yuli dengan panggilan Sukma, sehingga Yuli semakin geram.
"Jadi daritadi Mas melamun hanya untuk mikirin si Sukma itu? Mas bener-bener keterlaluan," ujar Yuli dengan menangis supaya Jaka merasa bersalah.
"Maafin Mas sayang, bukan maksud Mas berkata seperti itu, tadi kamu sendiri dengar kan kalau Ibu aku telpon nyuruh kasih tau si Sukma kalau Neneknya meninggal Dunia?" ujar Jaka supaya Yuli tidak marah lagi kepadanya.
"Terus kapan kita berdua akan menikah?" tanya Yuli. Pokoknya aku harus segera menikah dengan Mas Jaka bagaimanapun caranya, karena aku tidak mau sampai kehilangan Mas Jaka lagi, meskipun sebenarnya aku tidak akan pernah bisa hamil, karena rahimku dulu sudah di angkat pada saat mengalami penyakit miom, lanjut Yuli dalam hati.
"Sayang, kamu tau sendiri kan kalau Mas sekarang sudah terlilit hutang sama Bos kamu, karena tempo hari Mas sudah meminjam uang untuk judi? jadi Mas harap kamu akan sabar menunggu sampai hutang Mas lunas. Mas juga belum bercerai dari Sukma," ujar Jaka yang mencoba mencari alasan.
"Mas Jaka jangan cari-cari alasan, Mas Jaka sama Sukma hanya nikah siri kan? jadi Mas gampang buat menceraikan Sukma, lagian aku hanya perlu menikah sama Mas Jaka saja, tidak perlu pesta yang mewah, yang penting kita bisa Sah menjadi Suami istri."
Jaka akhirnya hanya bisa pasrah dan menyetujui permintaan Yuli.
"Baiklah kalau itu kemauan kamu, kapan kamu ingin menikah?" tanya Jaka.
"Bagaimana kalau besok saja?" jawab Yuli, dan Jaka hanya bisa menyetujuinya.
......................
Saat ini Sukma masih dalam keadaan pingsan, di alam bawah sadarnya, Sukma bertemu dengan Mbok Ningsih yang saat ini terlihat menghampiri Sukma yang tengah menangis meratapi kepergiannya.
"Sukma sayang, jangan menangis Nak, ikhlaskan kepergian Si Mbok."
"Mbok, Sukma tidak sedang bermimpi kan? Mbok masih hidup kan" tanya Sukma dengan menangis dalam pelukan Mbok Ningsih.
"Si Mbok sudah meninggal Nak, maafin Si Mbok tidak bisa menemanimu lagi. Sebentar lagi kamu akan bertemu dengan Suami kamu Bara, dan Anak kalian, dan kamu akan hidup bahagia bersama mereka."
"Tapi Suami Sukma Mas Jaka Nek, dan Mas Jaka sudah mengkhianati pernikahan kami."
"Si Mbok tau Nak, tapi kamu sudah ditandai oleh Raja Genderewo yang bernama Bara sejak kamu masih berada dalam kandungan, jadi di alam mereka, kamu sudah Sah menjadi istrinya, dan dia tulus mencintai kamu Nak. Selamat tinggal Cucuku sayang, semoga kamu selalu bahagia," ucap Mbok Ningsih, kemudian secara perlahan menghilang dari pelukan Sukma.
"Mbok" teriak Sukma yang akhirnya sadar dari pingsannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
meli meilia
kasihan sukma...
2023-06-02
1
meli meilia
hh.. jd inget almarhumah nenek..
2023-05-29
1
🔵◡̈⃝︎☀MENTARY⃟🌻
Makin Seru Kk
Kasihan nasib Sukma
Perjuangan Ucup mampir
2023-01-20
3