Jaka saat ini menggandeng Sukma keluar dari ruang periksa, dan setelah berada di luar ruang periksa, Sukma mencoba mengeluarkan uneg-unegnya.
"Mas Jaka, kenapa Mas bisa berpikir kalau Sukma hamil? apa Mas lupa kalau kita menikah baru beberapa hari saja? Apa Mas Jaka curiga jika sebelum menikah dengan Mas Jaka, Sukma telah hamil oleh lelaki lain?" tanya Sukma dengan berderai airmata.
"Maaf sayang, Mas tidak bermaksud seperti itu, Mas tidak mempunyai curiga sedikit pun terhadap kamu. Maafin Mas ya, Mas tidak akan mengulanginya lagi," ujar Jaka dengan memeluk tubuh Sukma, sehingga Sukma merasa lebih tenang.
Setelah Jaka dan Sukma menebus obat, Jaka sengaja tidak langsung membawa Sukma pulang, tapi Jaka membawa Sukma ke pasar terlebih dahulu untuk mencari mangga muda.
"Lho Mas, kita ngapain ke pasar? memangnya Mas gak masuk kerja? nanti Mas kesiangan lho," tanya Sukma.
"Mas udah ijin buat masuk agak siangan, semalam katanya kamu pengen rujak mangga? karena jam segini belum ada yang jual rujaknya, jadi kita beli mangga mudanya saja ya," ujar Jaka yang saat ini sedang memilih mangga, tapi Sukma merasa heran dengan perkataan Jaka.
Bukannya semalam Mas Jaka sudah membawakan rujak mangga yang aku mau ya? apa mas Jaka lupa? batin Sukma kini bertanya-tanya.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" tanya Jaka yang melihat Sukma melamun.
"Sukma baik-baik saja Mas, tapi Sukma heran sama Mas Jaka yang akhir-akhir ini jadi pelupa. Semalam kan Mas sudah membelikan Sukma rujak mangga, apa Mas lupa juga?" tanya Sukma.
"Masa sih sayang? mungkin semalam kamu mimpi saking pengennya rujak mangga, mana ada malam-malam yang jualan rujak, kamu aneh-aneh saja," ujar Jaka dengan mengelus lembut kepala Sukma yang masih terlihat kebingungan.
Apa mungkin semalam aku hanya mimpi? tapi kenapa semua itu seperti nyata, bahkan sekarang aku sudah tidak menginginkannya lagi, ucap Sukma dalam hati.
Setelah selesai membeli mangga muda, perut Jaka terasa mulas, sehingga Jaka memutuskan untuk ke toilet umum terlebih dahulu sebelum mereka pulang, dan Jaka menyuruh Sukma supaya menunggunya dengan duduk di bangku kosong di dekat tempat pemotongan ayam.
"Sayang, perut Mas rasanya mulas, Mas ke kamar mandi dulu ya, Sukma tunggu sebentar di sini," ujar Jaka.
"Iya Mas," jawab Sukma dengan tersenyum.
Pada saat Sukma menoleh ke sampingnya, Sukma melihat darah ayam yang ditampung dalam baskom, dan tiba-tiba Sukma ingin sekali meminumnya, sehingga Sukma menelan ludah berkali-kali karena melihat darah ayam yang terlihat segar di matanya.
Sukma melihat ke sekeliling untuk memastikan tidak ada orang di sana sebelum Sukma meminum darah ayam tersebut, dan setelah Sukma merasa tidak ada orang yang akan melihatnya, Sukma langsung saja menenggak darah ayam tersebut hingga tandas, dan tiba-tiba tubuhnya merasa lebih segar.
"Sayang, maaf ya lama menunggu," ucap Jaka dengan menepuk pundak Sukma sehingga Sukma terlonjak kaget.
"Iya Mas tidak apa-apa."
Jaka merasa heran pada saat melihat wajah Sukma yang kembali berseri, bahkan Sukma terlihat lebih segar.
"Sayang, apa ini?" ucap Jaka dengan mengelap darah yang ada pada ujung bibir Sukma.
Sukma sudah takut jika Jaka akan curiga dengan perbuatannya, sehingga Sukma diam saja tanpa mau menjawab pertanyaan Jaka.
"Ini sepertinya darah. Apa kamu mimisan?" tanya Jaka yang terlihat panik.
"I_iya Mas, Sukma tadi mimisan, tapi cuma sedikit kok, dan mungkin darahnya menetes di bibir," jawab Sukma berbohong.
Maaf Mas Jaka, Sukma tidak bisa jujur kepada Mas Jaka, Sukma takut kalau Mas Jaka akan merasa jijik terhadap Sukma yang sudah menginginkan sesuatu yang tidak wajar, bahkan haram menurut agama, Mas Jaka pasti kecewa jika mengetahui semua itu, ucap Sukma dalam hati.
Sebelum Jaka dan Sukma melanjutkan perjalanannya, Jaka mengajak Sukma sarapan bubur ayam terlebih dahulu, tapi anehnya Sukma terlihat kelaparan sehingga mampu menghabiskan lima mangkok bubur ayam, dan lagi-lagi Jaka merasa heran dengan perubahan sikap Sukma.
"Mas, maaf ya, tidak tau kenapa Sukma rasanya lapar sekali," ujar Sukma dengan tersenyum malu.
"Tidak apa-apa sayang, Mas malah seneng kalau Sukma makan dengan lahap, supaya Sukma gemukan dan lebih sehat. Ya sudah kalau begitu kita pulang sekarang ya, atau Sukma ingin membeli sesuatu?" tanya Jaka.
"Mas, kita beli daging ayam saja ya buat nanti Sukma masak, sepertinya stok di kulkas juga sudah habis."
"Ya sudah kita beli tiga ekor saja buat stok juga," ujar Jaka kemudian melangkahkan kaki menuju pedagang ayam.
Sukma yang melihat daging ayam mentah rasanya sudah tidak tahan untuk memakannya hingga air liur Sukma menetes, tapi Sukma mencoba untuk menahan semuanya.
Setelah sampai rumah, Jaka langsung pamit berangkat kerja, karena waktu sudah menunjukan pukul sembilan.
"Sayang, Mas langsung berangkat kerja ya, kamu hati-hati di rumah," ujar Jaka dengan mencium kening Sukma, begitu juga dengan Sukma yang langsung mencium punggung tangan Jaka, tapi entah kenapa Sukma merasa sedih saat melihat Jaka pergi, rasanya Sukma ingin terus berada di samping Jaka.
Sukma kini melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah, dan Sukma langsung saja mengeluarkan semua belanjaannya. Saat Sukma membuka kantong kresek daging ayam untuk memasukannya ke dalam kulkas, air liur Sukma kembali menetes, sampai akhirnya Sukma langsung saja melahap daging mentah tersebut, sehingga hanya tinggal tulangnya saja yang tersisa.
Sukma yang merasa kekenyangan sampai tertidur di atas sofa.
"Kasihan sekali kamu sayang, karena Anak kita, kamu jadi menginginkan hal yang aneh-aneh," ucap Bara dengan mengelus lembut kepala Sukma.
Bara kini membawa Sukma ke dalam kamar, dan membaringkannya di atas kasur, kemudian Bara memeluk tubuh Sukma, sehingga membuat tidur Sukma semakin nyenyak.
......................
Jaka saat ini telah sampai di tempat parkir Restoran, tapi ternyata Yuli sudah menunggu Jaka di depan pintu masuk Restoran, sampai akhirnya Jaka memutuskan untuk masuk lewat pintu belakang dengan mengendap-endap supaya tidak ketahuan oleh Yuli.
"Syukurlah aku selamat," gumam Jaka dengan mengelus dadanya setelah Jaka sampai di dapur tanpa ketahuan oleh Yuli.
"Astagfirullah," teriak Jaka yang terlonjak kaget pada saat ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.
"Loe kenapa Bro?" tanya Riki.
"Rik, loe bikin gue jantungan aja, gue hampir mati berdiri gara-gara kelakuan loe," ujar Jaka dengan mengelus dadanya yang masih berdetak kencang.
"Memangnya loe pikir gue hantu? Tuh fans berat loe udah nunggu dari pagi," ujar Riki.
"Rik, gue udah punya Bini, gak mau lah ladenin Nenek lampir kayak si Yuli."
"Bro, mata loe kelilipan ya? Bidadari loe bilang Mak lampir."
Pada saat Jaka dan Riki mengobrol tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan memanggil Jaka dengan suara yang manja.
"Mas Jaka, where are you?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
@Kristin
weekk🤮
2024-04-22
1
@Kristin
ksian sukma padahal semalam bara yang bawa Alias genderuwo itu
2024-04-22
1
💞Nia Kurnaen💞
haduh...bingung mau pilih Bara atau Jaka,Jaka sebenarnya orang baik dan tipe laki setia tapi sepertinya aku harus milih yang sesuai judulnya karena kemungkinan Sukma adalah jodohnya Bara...😊
2023-07-24
1