Setelah Jaka mendengar cerita Ibunya, dia sama sekali tidak terpengaruh, bahkan perasaan Jaka terhadap Sukma semakin besar, dan keinginan Jaka untuk menikahi Sukma semakin kuat.
Pokoknya aku akan tetap menikahi Sukma, apa pun yang terjadi aku tidak peduli, yang penting Sukma bisa menjadi Istriku, ucap Jaka dalam hati.
Jaka kini berniat untuk mengajak Sukma Kawin lari, karena Jaka pikir setelah mereka berdua menikah, mau tidak mau Ibunya Jaka akan memberikan mereka berdua restu.
"Apa sekarang saja aku ajak Sukma untuk Kawin lari? aku sangat mencintainya dan aku tidak mau jika nanti Sukma keburu dinikahi oleh lelaki lain," gumam Jaka.
Jaka akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah Sukma, meskipun saat ini sudah tengah malam.
Tok, tok, tok
Jaka mengetuk jendela kamar Sukma. Sukma yang mendengar suara ketukan pada Jendela nya pun langsung terbangun.
"Mas Jaka," ujar Sukma pada saat membuka gorden jendela kamarnya.
"Sukma, buka jendelanya," ujar Jaka dengan berbisik.
Sukma langsung saja membuka Jendela kamarnya, dan Jaka bergegas masuk lewat jendela tersebut.
"Kenapa Mas Jaka pake masuk lewat jendela segala sih?" tanya Sukma.
Jaka langsung menutup mulut Sukma menggunakan tangannya.
"Suttttt, jangan berisik, nanti Mbok Ningsih dengar suara kita."
Jaka melepaskan tangannya dari mulut Sukma setelah Sukma menganggukan kepalanya.
"Sukma, aku mau ngajak kamu buat kawin lari," bisik Jaka.
"Apa?" teriak Sukma yang merasa kaget dengan ucapan Jaka, sehingga membuat Mbok Ningsih bangun.
"Ndo kenapa kamu teriak? ada apa?" tanya Mbok Ningsih yang kini menuju kamar Sukma karena merasa khawatir.
Sukma yang mendengar langkah kaki Mbok Ningsih langsung saja menyuruh Jaka untuk masuk ke dalam selimutnya.
"Sukma tidak apa-apa kok Mbok, tadi cuma kaget aja lihat jam, Sukma lupa kalau belum Shalat Isya, padahal udah mau jam dua," jawab Sukma.
"Oooh...kirain Si Mbok ada apa, Mbok takut kalau ada maling yang masuk lewat jendela seperti kejadian kemarin di rumah si Parto. Yo wes kamu sekarang Shalat Isya dulu sekalian tahajud," ujar Mbok Ningsih kemudian kembali lagi ke kamarnya.
Sukma langsung bernapas lega ketika Mbok Ningsih keluar dari kamarnya.
"Sukma, aku hampir kehabisan nafas karena kamu kurung di dalam selimut," ujar Jaka dengan membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Maaf banget ya Mas, habisnya mau aku umpetin di mana lagi kalau bukan ditutupi sama selimut, wong si Mbok udah deket banget," ujar Sukma.
Jaka kemudian memeluk pinggang Sukma lalu menidurkan kepalanya di atas paha Sukma.
"Sukma, aku tresno karo koe," ujar Jaka dengan tersenyum.
Dada Sukma langsung berdebar-debar, karena baru kali ini dia berada sangat dekat dengan seorang lelaki.
"Aku juga cinta sama Mas Jaka," jawab Sukma dengan membelai rambut Jaka.
"Kalau begitu, kamu mau ya aku ajak kawin lari," ujar Jaka yang masih bersikukuh dengan keinginannya.
"Tapi Sukma takut Mas."
"Apa kamu takut kalau aku mati jika aku menikahi kamu karena kamu adalah gadis bahu laweyan?" ujar Jaka.
"Darimana Mas Jaka tau?" tanya Sukma.
"Aku sudah mengetahui semuanya dari Ibuku Sukma, makanya dia tidak merestui hubungan kita. Tapi kamu tenang saja, karena aku tidak percaya dengan cerita takhayul seperti itu," ujar Jaka.
Sukma masih melamun, karena dia takut jika perkataan orang-orang tentang gadis bahu laweyan benar adanya.
"Sukma, ayo kita segera pergi dari sini, aku berjanji akan selalu menjadikan kamu Ratu di Istana kita nanti," ujar Jaka dengan mencium tangan Sukma.
Jaka terus meyakinkan Sukma sampai akhirnya Sukma mengiyakan ajakan Jaka.
Jaka dan Sukma kini keluar lewat pintu dapur dengan mengendap-endap, dan mereka tidak membawa banyak baju, karena Jaka akan mengajak Sukma ke tempat kerjanya di Jakarta, jadi nanti di sana Jaka akan membelikan semua keperluan Sukma.
Mbok Ningsih sebenarnya mengetahui kalau mereka berdua berniat untuk kawin lari, karena sebenarnya Mbok ningsih sudah mendengar semua percakapan Sukma dan Jaka pada saat Jaka datang mengetuk jendela kamar Sukma, Mbok ningsih sudah terbangun, kemudian mengintip mereka.
"Semoga kalian berdua bahagia, Si Mbok sekarang sudah tenang karena sudah ada Jaka yang akan menjagamu Sukma," gumam Mbok Ningsih dengan meneteskan airmata ketika melihat kepergian Jaka dan Sukma.
Jaka dan Sukma terus berjalan menuju Terminal untuk naik Bus yang menuju Jakarta.
Maafin Sukma Mbok, karena Sukma pergi tanpa pamit terlebih dahulu kepada Si Mbok. Sukma harap Si Mbok akan baik-baik saja, ucap Sukma dalam hati dengan menitikkan airmata.
"Kamu tenang saja Sukma, Si Mbok pasti akan baik-baik saja, dan aku berjanji kalau aku akan selalu membahagiakanmu," ucap Jaka dengan membawa Sukma ke dalam pelukannya.
................
Saat ini tepatnya di Kerajaan Genderewo, Raja Genderewo yang bernama Bara tengah mengamuk karena Sukma hendak menikah dengan Jaka.
Bara adalah sosok makhluk halus yang sudah menandai Sukma ketika Sukma masih berada dalam kandungan.
"Kurang ajar kamu Jaka, berani sekali kamu membawa lari calon Istriku !!" teriak Bara, sehingga menggetarkan Kerajaan Genderewo.
Bara sudah berniat akan membunuh siapa pun lelaki yang nanti menikahi Sukma, dan dia sudah siap-siap untuk melaksanakan rencananya.
................
Saat ini, Sukma dan Jaka telah sampai di Kota Jakarta.
Sukma merasa aneh dengan pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang saat ini berada di hadapannya.
"Mas, opo gak takut yo kalau tinggal di gedung-gedung yang tinggi seperti itu?" tanya Sukma dengan polosnya, dan dia terus saja menempel pada tubuh Jaka karena merasa takut dengan lalu lalang orang-orang di Terminal.
"Kamu tenang saja Sukma, aku pasti akan selalu menjagamu. Sebaiknya sekarang kita langsung ke rumah penghulu yang berada di dekat rumah temanku, aku takut khilaf jika kita berdua terus bersama," ujar Jaka sehingga membuat wajah Sukma memerah seperti kepiting rebus.
Riki temannya Jaka ternyata sudah berada di sana, karena sebelumnya Jaka sudah menghubungi Riki supaya menjemputnya di Terminal.
"Mas Bro, akhirnya loe datang juga," ujar Riki dengan memeluk tubuh Jaka.
"Makasih Bro, kamu sudah repot-repot menjemput kami," ujar Jaka.
"Jadi ini ya pujaan hati loe? pantas saja loe sampai klepek-klepek, orang perempuannya cakep gini," ujar Riki yang begitu terpesona dengan wajah cantik Sukma meskipun tanpa memakai make up.
"Awas jaga mata loe, mau gue congkel ya tuh mata? jelalatan banget sih sama calon bini gue," ujar Jaka.
"Gue hanya mengagumi ciptaan Tuhan yang paling indah Bro, gak apa-apa kan hanya sebatas mengagumi tanpa bisa memiliki," ujar Riki yang memang seorang Playboy.
"Gak apa-apa kalau loe lakuin itu sama cewek lain, tapi bukan sama Sukma calon Bini gue. Ya udah sekarang kita langsung berangkat ke Penghulu, supaya nanti malam Sukma sudah bisa jadi milik gue," ujar Jaka sehingga membuat Sukma malu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Sena judifa
aish bahaya nih si jaka
2023-10-09
1
@Kristin
koq gak nahan sambil ucapin kata gitu nek...
2023-02-18
3
@Kristin
wah terciduk sudah...
2023-02-18
2