Jaka malah tertawa mendengar perkataan Sukma.
"Heh, kamu kalau menghayal jangan terlalu tinggi, memangnya siapa yang sudi mengakui Anak haram yang sedang kamu kandung?" sindir Jaka.
Hati Sukma rasanya semakin hancur mendengar Jaka yang secara terang-terangan menolak bayi yang berada dalam kandungannya.
"Kamu tega sekali berkata seperti itu Mas, apa karena perempuan ini kamu menjadi berubah?" ujar Sukma dengan menarik rambut Yuli, sehingga Yuli berteriak kesakitan.
"Mas Jaka tolong, perempuan ini sudah gila. Berani-beraninya kamu menarik mahkotaku," teriak Yuli, dan Jaka langsung saja menarik tubuh Sukma sampai akhirnya Sukma terjatuh di atas tanah.
"Mas, kenapa kamu berubah Mas, apa kamu sudah lupa dengan semua yang telah kita lalui? Mas tolong jangan seperti ini, mana Mas Jaka yang dulu?" tanya Sukma dengan menangis karena bagaimanapun juga Sukma masih mencintai Jaka.
"Jaka yang dulu sudah mati karena semua penghianatan yang telah kamu lakukan Sukma, dan Jaka yang dulu terlalu bodoh karena mencintai perempuan sepertimu. Sayang, sebaiknya kita pergi saja dari sini," ujar Jaka dengan menggandeng tubuh Yuli dan meninggalkan Sukma yang masih menangis di atas tanah, apalagi dagangan Sukma sampai berceceran di atas tanah karena Jaka dengan tega menendang keranjang dagangan Sukma.
Setelah Sukma merasa lebih tenang, Sukma kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah yang selama ini ia tinggali, tapi pada saat Sukma sampai di depan rumahnya, ternyata saat ini barang-barang Sukma sedang dikeluarkan dari dalam rumah, karena selama beberapa bulan ini Jaka tidak membayar cicilan rumah tersebut.
"Pak, kenapa semua barang-barang saya dikeluarkan?" tanya Sukma yang merasa heran.
"Maaf Bu, rumah ini harus segera dikosongkan karena Pak Jaka sudah beberapa bulan tidak membayar cicilannya," jawab orang yang mengeluarkan barang-barang Sukma.
"Tapi saya tidak tau harus tinggal dimana kalau tidak tinggal di rumah ini, saya mohon Pak, saya minta tambahan waktu, saya pasti akan menyicil rumah ini."
"Maaf Bu, Pak Jaka sendiri sudah menyerahkan semuanya kepada kami, bahkan Pak Jaka sudah mendapatkan kembali pembayaran uang muka yang dulu pernah ia bayarkan, jadi kami tidak bisa memberikan perpanjangan waktu."
Sukma akhirnya hanya bisa pasrah dengan nasib malang yang saat ini menimpanya.
"Aku harus pergi kemana? aku tidak mengenal siapa pun di kota ini. Apa aku kembali saja ke Jawa, si Mbok, pasti bahagia kalau aku kembali pulang," gumam Sukma kemudian memasukan baju ke dalam tas nya.
Pada saat Sukma sedang sibuk memasukan baju, Sukma mendengar ucapan Salam, dan ternyata orang tersebut adalah Riki.
"Assalamu'alaikum Mbak," ucap Riki.
"Wa'alaikumsalam. Mas Riki apa kabar? kemana saja baru kelihatan lagi?" tanya Sukma.
"Alhamdulillah saya baik-baik saja Mbak, justru saya ke sini karena takut kalau Jaka sakit, karena sudah beberapa minggu Jaka tidak masuk kerja tanpa kabar, makanya Bos menyuruh saya untuk mengeceknya," jawab Riki.
"Beberapa bulan ini, Mas Jaka sudah tidak tinggal di sini lagi Mas, bahkan tadi saya melihat dia sedang bersama perempuan yang bernama Yuli," ujar Sukma dengan tertunduk sedih.
"Jadi benar perkataan teman yang lain, kalau sekarang Jaka sudah tinggal bersama Yuli? saya juga tidak tau kenapa sekarang Jaka menjadi berubah, Mbak Sukma yang sabar ya. Oh iya, barang-barangnya kenapa dikeluarin Mbak?" tanya Riki.
"Mas Jaka sudah tidak membayar lagi cicilan rumahnya, jadi saya di usir dari rumah ini," jawab Sukma.
"Terus sekarang Mbak Sukma mau pergi kemana?" tanya Riki yang kasihan melihat keadaan Sukma saat ini.
"Saya mau pulang kampung saja Mas, tapi saya tidak tau harus menjual barang-barang ini kemana, kalau barangnya laku, lumayan kan buat tambahan ongkos pulang," jawab Sukma.
Riki nampak berpikir, dia sebenarnya ingin membantu Sukma secara cuma-cuma, tapi Sukma pasti akan menolaknya, sampai akhirnya Riki memutuskan untuk membeli barang-barang Sukma.
"Kalau begitu saya beli saja semua barangnya, kebetulan saya baru saja gajihan, tapi maaf Mbak, kalau saya hanya bisa membeli semuanya seharga lima juta saja sesuai uang yang saya punya.," ujar Riki.
"Tapi bagaimana nanti untuk kehidupan Mas Riki sehari-hari kalau uang gajih Mas Riki dipakai untuk membeli semua barang-barang ini? Mas Riki hanya mau membantu saya saja kan? Mas, saya justru gak enak kalau Mas melakukan semua itu untuk saya."
"Mbak Sukma tenang saja, kalau untuk keperluan sehari-hari, saya masih mempunyai sedikit tabungan di rumah, saya juga perlu perabotan kok Mbak, mungkin sebentar lagi saya juga akan menikah. Alhamdulillah kebetulan saya sudah bertemu dengan perempuan yang tepat," ujar Riki.
"Alhamdulillah kalau seperti itu, semoga nanti lancar sampai hari H nya ya Mas. Terimakasih banyak karena Mas Riki sudah membantu saya," ucap Sukma dengan tulus.
"Iya Mbak, kita saling do'akan saja. Ini uangnya, saya harap Mbak terima ya. Kalau begitu sekarang, saya antar Mbak Sukma ke Terminal, mungpung masih siang," ujar Rika.
"Mas Riki, sekali lagi terimakasih banyak ya, uang ini akan sangat bermanfaat untuk saya. Apa tidak merepotkan jika Mas Riki mengantar saya?" tanya Sukma yang merasa tidak enak dengan kebaikan Riki.
"Tidak apa-apa Mbak, saya justru tidak tenang kalau belum melihat Mbak naik ke dalam Bus. Ya sudah kalau begitu sekarang kita berangkat," ujar Riki, dan Sukma akhirnya naik motor Riki menuju Terminal.
Sebelum pergi, Sukma melihat kembali rumah yang selama ini ia tinggali, banyak kenangan indah yang Sukma dan Jaka ukir di rumah tersebut, sampai akhirnya Sukma tidak kuasa untuk membendung lagi airmatanya.
Selamat tinggal Mas Jaka, terimakasih atas semuanya, meskipun pada akhirnya Mas Jaka telah menggoreskan luka pada hati ini, ucap Sukma dalam hati.
Sesampainya di Terminal, Riki mengantarkan Sukma untuk masuk ke dalam Bus.
"Hati-hati ya Mbak, semoga selamat sampai tujuan. Pak saya titip saudara saya ya," ucap Riki kepada Supir dan Kondektur.
"Iya siapa Mas, kami pasti akan mengantarkan Mbak nya sampai ke tujuan dengan selamat," jawab Kondektur.
"Mas Riki tidak ada kata lain yang bisa saya ucapkan selain terimakasih. Semoga Mas Riki selalu diberikan kesehatan, dan semua kebaikan Mas Riki dibalas oleh Allah SWT," ucap Sukma yang di Amini oleh Riki.
Riki akhirnya keluar dari dalam Bus, dan melambaikan tangan kepada Sukma, karena saat ini Bus yang ditumpangi Sukma sudah terlihat melaju menuju daerah Jawa Timur.
"Selamat Jalan Sukma, semoga kamu mendapatkan kebahagiaan, dan semoga saja Jaka menyesali semua perbuatan yang telah ia lakukan terhadapmu," gumam Riki.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
❣@Sha_Putrie❣
pasti nyeselnya nanti belakangan,apalagi setelah tau itu beneran anak kamu Jaka
2023-02-11
3
mom mimu
pasti bakal nyesel banget tuh si Jaka kalau suatu hari nanti tau yg di kandung Sukma emang bener anaknya...
mampir lagi kak run, semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
2023-01-18
2
nacho
bara2 nya mana knpa tida timbul
2023-01-17
3