Keesokan harinya, dikediaman orang tua Selvie…
Niko baru saja tiba dirumah, ia langsung di sambut oleh istri dan anaknya. Dengan wajah masam putri semata wayangnya itu mengadu kepada sang ayah.
“Ayah, aku nggak betah lagi tinggal bersama mas Morgan ayah, aku mau ti gak disini,” ujar Selvie sambil terisak.
“Apa lagi yang dilakukannya, bukannya semalam dia menghubungimu agar pulang?” ujar Niko.
“Ternyata dia menyuruhku pulang hanya untuk memarahiku dihadapan semua pelayan. Ia memecat semua pelayan yang aku pekerjakan dirumah. Bahkan pak Mun sopirku juga ikut dipecatnya ayah,” adu Selvie.
“Berani nya dia berbuat seperti itu,” ucap Niko geram.
“Ayah, dan juga pembantu itu. Mas Morgan sedang menyiapkan kamar tamu untuk mereka, aku tidak sudi tinggal seatap bersama wanita murahan itu. Pokoknya aku mau tinggal disini!” rengek Selvie.
“Ayah, anak mu diperlakukan tidak adil oleh suaminya. Ayah akan tinggal diam saja?” tambah Lena yang tentu saja akan membela putrinya.
Niko mengepal telapak tangan kanannya sambil mengerang marah. “Arggghh, bocah itu. Benar benar membuat kesabaranku hilang,” gumam Niko.
“Kamu kembalilah ke sana. Ayah akan carikan jalan keluar untuk mu,” ujar Niko datar.
“Ayah, anak mu hidup menderita dirumah itu malah disuruh kembali ke sana?! Dimata ayah uang yang paling utama?!” sergah Lena pada suaminya itu.
“Lena! Ingat. Jika bukan karena menikahi Morgan mungkin saat ini kita sudah hidup dijalanan. Aku melakukan ini untuk keluarga kita. Tidak bisakah anakmu ini bersabar sedikit lagi? Jika saja ia bisa mendapatkan hati Morgan, tentu jalan akan menjadi lebih mudah buat kita. Nyatanya, mendapatkan hati orang itu saja dia tidak becus,” bentak Niko.
“Ayah yang salah, ayah terlalu terobsesi dengan kekayaan. Ayah investasi sana sini dan gagal. Kenapa malah anak yang harus bertanggung jawab?” balas Lena.
“Ini karena kamu terlalu memanjakan anak mu. Hidupnya terlalu mewah, tidak bisa susah sedikit langsung mengeluh. Wajar saja jika Morgan memecat semua pelayannya. Butuh apa apa harus dilayani,” ujar Niko.
Mendengar pertengkaran kedua orang tuanya, Selvie pun pergi dari situ. Hatinya sangat frustasi, tempat untuk ia mengadu malah menjadi cekcok karena dirinya.
Selvie mengusap sisa sisa airmata yang masih membasahi pipinya kemudian menghampiri sopir baru yang sedang duduk tangga teras depan rumah.
“Kamu. Siap kan mobil,” ujar selvie dengan angkuh.
“Baik Nyah,” Eko berlari kecil menuju halaman rumah untuk mengambil mobil.
Beberapa saat kemudian mobil sudah terparkir di depan teras rumah.
“Silahkan masuk Nyah,” ujar Eko sembari membukakan pintu mobil untuk Selvie.
Tanpa melirik sosok Eko, Selvie masuk kedalam mobil. Hatinya masih kesal akibat pertengkaran kedua orang tuanya, ia juga kesal dengan sopir baru yang menggantikan pak Mun sopir kepercayaannya.
“Kita akan kemana Nyah?” tanya Eko.
“Jalan, kemana saja,” ujar Selvie.
Mobil mulai keluar dari pekarangan rumah itu.
“Apa kita akan pulang ke rumah Nyah?” tanya Eko lagi karena takut salah arah.
“Sudah aku katakan jalan saja. Aku nggak ingin pulang. Kita jalan saja terus, entahlah, kamu bisa membawaku kemana saja,” ujar Selvie geram.
Eko pun tak berani bertanya lagi, ia membawa majikannya itu kemana saja arah mobil melaju.
Dua jam berlalu, mobil mewah itu telah melintasi hampir seluruh jalanan di ibukota. Mulai dari jalan sepi hingga jalan yang ramai, jalan kecil dan jalanan besar.
Sesekali Eko melirik wanita yang sedang duduk murung dikursi belakang dari balik spion nya. Ia pun memberanikan diri bertanya.
“Nyonya, sudah dua jam kita berkeliling apa nyonya ingin makan sesuatu?” tanya Eko hati hati.
“Aku tidak lapar,” sahut Selvie sambil menatap spion didepan, barang sejenak ia bersua tatap dengan Eko kemudian kembali melempar pandangan keluar jendela. Saat itu juga mata Selvie tertuju ke sebuah neon box bertuliskan Happy Bar and karaoke. “Stop didepan!” ucap Selvie tiba tiba.
Mobil yang dikendarai perlahan menepi.
Selvie langsung melangkah keluar dari mobil memasuki bangunan meriah yang dipenuhi kelap kelip lampu. Sementara di dalam ruangan, suara bising akan musik terus menggema memelakkan telinga.
Suasana bar masih terbilang sepi, Selvie duduk disebuah kursi didepan meja bartender kemudian memesan sebotol minuman. Sementara Eko, ia mondar mandir di depan pintu kelab sambil sesekali mengintip sang majikan yang sedang asik menikmati minumannya.
Mendekati hampir tengah malam, para pengunjung mulai memadati ruangan bar. Beberapa meja yang tadinya kosong mulai terisi dengan beberapa orang yang ingin menikmati minuman sambil ditemani suara alunan musik merdu.
Sedangkan Selvie, ia tengah bersandar di atas meja. Reaksi dari beberapa gelas alkohol yang diteguknya mulai terlihat. Kepalanya mulai berat untuk di angkat, ia meracau tak jelas. Kemudian dua orang pria mulai mendekati Selvie.
“Halo cantik, mau gabung bareng kita nggak?” tanya seorang pria.
“Mau kami antar pulang?” tanya seorang lagi.
“Pergi, aku tidak kenal kalian,” usir Selvie.
“Bos, kita bawa saja. Sepertinya dia sudah sangat mabuk,” ujar pria yang satunya.
Selvie tak sanggup menolak saat pria itu memapah tubuhnya. Ia hampir tak memiliki kekuatan sedikitpun untuk menghindar dari kedua pria itu.
“Lepaskan majikanku,” ucap Eko dengan lantang, Ia sudah berdiri menghalang dihadapan kedua pria itu.
“Kamu siapa? Mengaku ngaku kenalan wanita ini, apa kamu pikir kami tolol?” tanya pria kekar itu sambil mengangkat kerah baju Eko.
“Saya sopirnya,” tanpa ragu Eko melayangkan tinjunya ke arah pria itu kemudian merebut Selvie dari tangan mereka. “Jangan menyentuh majikan saya dengan tangan kotor kalian. Atau aku akan menghabisi kalian.”
“Nyonya kita harus pulang sekarang.” Eko pun membawa Selvie keluar dari ruangan bising itu meninggalkan dua pria yang terhuyung akibat pukulan Eko.
“Wah kamu hebat. Hanya sekali pukul pria besar itu langsung mundur,” ujar Selvie sambil mencoba menepuk tangan.
“Masuk lah,” Eko membukakan pintu mobil dan membantu selvie masuk kedalam mobil.
“Kamu belajar kungfu? Bisa terbang sambil menendang? Wuaaahh, luar biasa,” sorak Selvie lagi.
Namun Eko tidak menggubris semua celotehan orang mabuk. Mobil mulai melaju meninggalkan pekarangan kelab itu.
“Aku tidak ingin pulang. Please jangan bawa aku pulang. Jika kamu membawaku pulang, aku akan pergi semakin jauh hingga tidak ada satu orang pun yang bisa menemukanku,” racau Selvie.
“Kalau tidak pulang, Nyonya akan tidur dimana malam ini?” tanya Eko.
“Aku bisa tidur dimana saja, di mobil, di trotoar, aku bisa tidur dimana saja asal tidak dirumah mereka,” lirih Selvie sambil tersayup sayup. Wanita mabuk itu tak sanggup lagi mengangkat kepalanya, ia kini terkapar di kursi belakang. Sambil meracau tak jelas Selvie memuntahkan semua isi perutnya dalam mobil saat itu juga.
Akhirnya Eko memutuskan membawa Selvie pulang ke kediaman nya. Semalaman ia sibuk membersihkan tubuh wanita mabuk itu. Wanita keras kepala yang tidak bisa di bujuk atau pun di ancam. Wanita mabuk yang akhirnya membuat ia kehilangan akal sehatnya hingga melakukan hubungan ranjang yang penuh gai rah.
Hingga keesokan harinya. Suara nyaring ponsel dari atas nakas terus berbunyi. Selvie berusaha bangun dari tidurnya, ia meraba disekitarnya seakan sedang mencari ponselnya. Ranjang, selimut dan bantal yang sangat asing baginya.
Perlahan ia mengumpulkan kesadarannya kemudian membuka matanya. Sosok Eko sedang berbaring disisi ranjang tanpa mengenakan pakaian. Ia pun akhirnya sadar sepenuhnya.
“Baji ngan!” teriak Selvie kemudian mulai memukul tubuh Eko dengan bantal yang ada disitu. Selvie sangat marah, ia tak rela sopir yang juga anak dari seorang pembantu meniduri dirinya.
.
.
.
Bersambung…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
🍌 ᷢ ͩˡ Murni𝐀⃝🥀
wkwkwkwk Selvi sering bilang kalau Utari perempuan murahan, padahal dia sendirilah yang murahan.
2023-02-06
2
[🦉]Susi Soemarsi
hahaaaa akhirnya nanti si Selvie nikahnya sama si eko🤣
2023-01-29
1