Lagi lagi Utari harus keluar diam diam dari kamar Morgan, kamar pengantin yang dihiasi untuk malam pengantin nya bersama sang istri telah ia gunakan bersama Utari. Dan sebelum semua orang tau akan hal itu, Utari segera berjalan cepat keluar dari rumah utama itu.
“Tari,” sapa mbak Eka tiba tiba dari halaman belakang.
“Mbak Eka,” jawab Tari dengan kikuk.
“Kamu lihat tuan Morgan?” tanya mbak Eka salah seorang pembantu di rumah itu. Usianya sekitar dua puluhan lima-an tahun, hingga lebih akrab berbincang santai dengan Utari.
“Nggak, aku baru saja sampai,” jawab Utari.
“Sini deh,” mbak Eka menarik tangan Utari menuju gedung belakang tempat mereka tinggal.
“Ada apa mbak?” tanya Utari sedikit keheranan.
“Tuan sudah minum minum sejak siang, sepertinya dia tidak bahagia dengan pernikahan nya,” ujar mbak Eka serius.
“Tapi acara pernikahannya berjalan lancar kan?” tanya Utari.
“Iya, tapi tuan pergi begitu saja sebelum acaranya selesai. Para tamu mencarinya, istri dan ayah mertuanya yang meladeni para tamu dan undangan penting di sana.”
“Hmm, baguslah. Sekarang ada istrinya yang akan membantu nya,” sahut Utari. “Oh ya, ibu mana?”
“Masih di sana. Bu Sukma sebagai panitia penyelenggara. Ia harus menunggu sampai acara selesai baru bisa pulang.”
“Ya sudah, aku ke kamar dulu mbak,” pamit Utari. Ia berlalu dari hadapan Eka menuju kamarnya.
Didalam kamar nya, Utari berbaring di atas ranjangnya. Ia kembali teringat kejadian barusan.
“Aku harus meninggalkan rumah ini secepatnya. Kembali ke sini hanya akan menjadi masalah. Bagaimana jika kejadian barusan ketahuan? Tuan Morgan sekarang sudah beristri. Hal ini tidak boleh terulang lagi!” gumam Utari dalam batinnya.
Keesokan paginya Utari kembali berbenah. Ia baru saja memesan satu ticket pesawat untuk kembali ke Surabaya siang nanti.
Pagi itu, Utari harus menemui sang ibu. Sudah hampir dua tahun ia tak bertemu ibunya. Bagaimana pun, ibu Sukma lah yang membesarkan Utari, Ia sudah menganggap bu Sukma seperti ibu kandungnya sendiri. Walau pun dimata bu Sukma, Utari hanyalah anak yang terpaksa ia adopsi karena permintaan majikannya. Namun Utari tetap menghormati ibu dan ayahnya seperti orang tua kandungnya.
Seperti pagi pagi yang telah lalu, bu Sukma pasti sudah berada di dapur rumah Utama memantau pelayan lainnya membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan.
Utari berjalan menuju rumah utama. Dua orang pelayan sedang bergunjing di teras dapur dekat pintu masuk. Melihat kedatangan Utari mereka langsung membubarkan diri. Utari langsung bergegas menghampiri mereka.
“Mbak lihat ibu saya?” tanya Utari pada salah seorang pelayan baru itu.
“Oh anaknya bu Sukma yang kuliah di Surabaya itu kan?” tanya pelayan itu dan dijawab anggukan kepala oleh Utari. “Ibu di dalam, mbak jangan masuk dulu. Nyonya rumah sedang marah marah,” ujar pelayan itu.
“Marah marah? Kenapa?” tanya Utari penasaran.
“Seperti nya karena masalah di acara pernikahan kemaren. Tuan pergi begitu saja saat acara belum selesai,” jawab salah seorang lainnya bernama Dina.
“Sepertinya nyonya rumah kita agak galak, dia mulai mengatur peraturan baru buat kami,” ujar Rara pelayan yang satunya.
“Seperti apa sih tampang istrinya tuan, jadi penasaran,” gumam Utari.
“Nyonya sedang di meja makan, kebetulan sedang duduk menghadap ke sini. Mbak bisa melihatnya dari balik jendela,” ucap Rara.
“Benarkah?” Utari berjalan mengendap masuk ke dalam rumah. Ia mencari celah yang bisa ia gunakan untuk mengintip ke arah meja makan.
Pertengkaran pertengkaran kecil terdengar dari arah ruangan makan. Utari terus berjalan jongkok di bawah jendela hingga ke arah dapur. Tanpa sengaja Sukma yang sedang berjalan cepat menuju dapur menabrak Utari.
“Bug.”
“Siapa kamu?” teriak Sukma kaget. Saat itu juga Tari langsung berdiri.
“Ini saya bu. Tari,” jawab Utari gugup seperti orang yang kedapatan habis mencuri sesuatu. Saat itu juga Utari langsung berdiri.
“Tari! Apa yang kamu lakukan disitu? Kapan kamu pulang?” tanya Sukma yang kini agak menurunkan tekanan suaranya.
“Tari tiba semalam, sudah larut jadi Tari sengaja nggak bangunkan ibu,” jawab Utari. Saat itu juga Utari menatap ke arah meja makan. Di sana Morgan sedang berdiri tercengang menatap ke arah Utari. Sedangkan istrinya dengan anggun mengunyah makanan di mulutnya.
Sukma menarik tangan Utari menuju meja makan.
“Nyonya Selvie, perkenalkan ini Utari anak saya. Dia kuliah di luar kota,” ucap Sukma memperkenalkan putrinya.
Wanita cantik dan anggun yang sedang duduk di meja makan mengangguk dengan senyuman kecil pada sudut bibirnya menatap ibu dan anak itu.
Sementara itu, Morgan masih berdiri menatap Utari. Ia terus memperhatikan Utari dengan seksama.
“Ada apa ini, kenapa dia melihatku seperti itu?” batin Utari.
“Tuan, nyonya selamat atas pernikahannya. Semoga bahagia selalu,” ucap Utari seraya menunduk hormat.
“Terima kasih. Aku nggak nyangka ternyata bu Sukma memiliki seorang putri yang sangat cantik,” puji Selvie.
Utari memang berubah drastis setelah dua tahun meninggalkan rumah. Bahkan Sukma sendiri hampir tidak mengenali putrinya itu. Utari terlihat lebih berisi seperti gadis dewasa yang cantik dan sekseeh. Mungkin itulah sebabnya Morgan terus menatapnya dengan penuh seksama.
“Tuan, nyonya lanjutkan sarapannya. Saya akan kembali ke dapur,” pamit Sukma. Ia menarik lengan Utari ikut bersamanya.
Di teras dapur Sukma mulai menceramahi putri nya yang tiba tiba muncul tanpa pemberitahuan. Namun bagi Utari ia menganggap ceramah sang ibu sebagai sebuah kebiasaan. Suatu hal yang dirindukan Utari dari ibunya, dua tahun tidak mendengar omelan sang ibu membuat Utari kangen dan terus menyimak setiap kata ibunya dengan senyuman.
“Jadi kamu akan langusng kembali?” tanya Sukma.
“Iya bu, jam sepuluh Tari harus ke bandara. Tari pulang karena kangen ibu dan ayah. Dan Juga Tari ingin mengucapkan selamat kepada tuan dan nyonya.”
“Baguslah, kamu bukan kacang yang lupa kulit. Aku pikir kamu sudah lupa dengan orang yang membesarkan mu,” ujar Sukma ketus.
Utari tersenyum menanggapi sang ibu. “Tari ingin temui ayah, ayah di mana bu?” tanya Utari.
“Paling paling lagi sarapan bersama para tukang kebun di gazebo belakang.”
“Kak Eko?” tanya Utari lagi.
“Kakak mu sekarang tinggal di rumahnya sendiri. Ibu sengaja membelikan sebuah apartmen untuk nya. Dan dia sekarang sudah bekerja sebagai sopir di perusahan, tuan Morgan memberinya pekerjaan yang sesuai untuknya,” jawab Sukma.
“Baguslah, padahal Tari ingin bertemu dengan kakak.”
“Nanti ibu sampaikan saja ke kakak mu, kalau kamu mencarinya.”
“Baiklah bu, kalau begitu Tari akan ke taman belakang menemui ayah.”
Saat itu juga Utari bergegas menuju taman belakang rumah untuk menemui sang ayah.
.
.
.
Bersambung…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
@Kristin
Mampir Thor 🖐️
2023-02-24
1
[🦉]Susi Soemarsi
masa iya sih Morgan nggc pernah inget sama hal yg dilakuin ke tari😌
2023-01-23
1
Nur Adam
lnjur
2023-01-05
1