“Aku akan kembali ke ruangan ku. Aku masih harus siap siap interview karyawan. Aku ingin merekrut satu orang karyawan untuk menjadi notulen ku. Aku akan memilihnya sendiri karna aku butuh seorang yang bisa aku percaya,” ucap Jerry kemudian beranjak dari kursinya.
“Berapa yang di interview?” tanya Morgan.
“Sekitar 10 orang, mereka akan mengisi posisi beberapa karyawan yang di mutasi ke anak cabang,” jelas Jerry.
Morgan mengangguk setuju. “ Ok, Aku akan ikut interview, aku nganggur pagi ini,” ujar Morgan.
Pagi itu interview akan segera berlangsung di ruang interview lantai 6. Morgan memutuskan untuk melakukan interview secara langsung untuk mengisi waktu luangnya.
Setiba diruangan luas itu, seorang Manager HRD dan dua orang karyawan lainnya sudah berada disana. Morgan ikut duduk di salah satu kursi yang sudah di siapkan di samping Jerry dan pak Ridwan.
Para interviewer itu satu persatu masuk ke dalam ruangan. Resume para pelamar sudah berada di atas meja, Morgan memperhatikan dengan teliti data dari setiap calon karyawan yang lolos hingga 10 besar itu.
Saat pelamar dengan nomor urut 9 masuk ke ruangan. Satu persatu pertanyaan dilemparkan oleh pak Ridwan. Morgan hanya duduk dan menyimak tanya jawab diantara mereka.
“Raniah Sari?” tanya pak Ridwan.
“Saya pak,” ucap wanita dengan setelan hitam putih itu.
“Dari Universitas MT jurusan design grafis?” tanya pak Ridwan lagi.
“Betul pak,” sahut Raniah.
Morgan sedikit tercengang mendengar nama Universitas MT dan jurusan Design Grafis yang di ucapkan pak Ridwan. Saat itu juga Morgan langung mengambil alih percakapan.
“Dari Surabaya?” tanya Morgan.
“Iya pak.”
“Angkatan?” tanya nya lagi.
“2019 pak.” Jawab Raniah mantap.
Saat itu Morgan langsung bangkit dari kursinya.
“Saya akan interview dia di ruangan saya,” ucap Morgan.
“Raniah, kamu ikut bapak ini ke ruangannya,” ucap pak Ridwan.
Saat itu Morgan langsung keluar dari ruang interview dan kembali ke lantai 27 ruangannya.
Raniyah terus ikut di belakang Morgan hingga tiba di ruangan bertuliskan ruangan CEO.
Begitu mengetahui pria yang diikutinya itu adalah CEO, Raniyah langsung menunduk.
Morgan langsung duduk pada singgasananya sementara Raniyah berdiri tertunduk dihadapannya.
“Kamu angkatan 2019 jurusan design grafis di universitas MT?” tanya Morgan.
“Be benar pak,” jawab Raniyah gugup.
“Kamu kenal dengan Utari Darsono?”
Raniya mengangkat kepalanya menatap Morgan. “Utari Darsono? Saya dan Utari rekan satu angkatan pak.”
“Bagaimana kuliahnya?” tanya Morgan.
“Utari dan saya di wisuda bersamaan pak, kami alumnus angkatan 2019 yang pertama di wisuda dengan gelar cumlaude.”
“Utari?” tanya Morgan.
“Kalau dia sudah selesai kuliah, kenapa dia belum pulang?” gumam morgan dalam hatinya.
“Kamu akrab dengannya?”
“Tidak pak, saya tidak akrab. Saya hanya mengenalnya saja. Saya rasa satu universitas MT kenal siapa Utari Darsono.”
“Anak itu memang pintar, sejak kecil ia memang suda menjadi pusat perhatian orang. Dia cantik dan pintar,” gumam Morgan untuk dirinya sendiri.
“Bapak siapa nya utari?” tanya Raniah.
“Saya kenal dekat dengan keluarga Utari sejak ia masih kecil.”
“Mungkin sekarang bayinya sudah berusia 5 bulan. Dia melahirkan bayi nya usai acara wisuda kami waktu itu,” lanjut Raniya.
“Bayi?” Ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Bayi siapa?” tanya Morgan.
“Ba bapak tidak tau kalau Utari hamil dan punya anak?” Raniya berusaha sebaik mungkin menjawab setiap pertanyaan Morgan, siapa tau dia langusng di terima bekerja dengan jabatan yang menjanjikan.
“Jadi Utari sudah menikah?” tanya Morgan masih tak percaya.
“Setahu saya Utari belum menikah saat ia melahirkan anak nya.”
Morgan berdiri dari kursinya, kedua tangannya bertumpu pada meja kerjanya. “Kamu tidak sedang mengarang ceritakan,” mata Morgan menatap serius wanita dihadapnnya.
“Tidak pak, saya tidak berbohong. Jika bapak tidak percaya bapak bisa cek langsung ke orang nya,” jawab Raniyah.
“Keluar dari sini sekarang!” Bentak Morgan.
“Tapi pak, saya tidak bohong. Buat apa saya bohong. Saya di terima bekerja disini kan pak?” Raniah masih berusaha mendapatkan simpati dari Morgan.
“Pergi,” usir Morgan. Saat itu juga ia menarik gagang telpon di tangannya. “Marina, pesan ticket ke Surabaya sekarang juga!”
Hati Morgan sangat kecewa. Bagaimana mungkin gadis kecil yang tumbuh dan besar dirumahnya hidup seperti itu? Tak puas hanya berdiri dan menunggu di ruangannya, morgan pun keluar dari ruangannya.
“Saya akan ke Surabaya sekarang.” ucap nya kepada Marina.
“Pak, pertemuan dengan utusan grup Medex sore ini?” tanya Marina.
“Cancel semua pekerjaan saya hari ini.” Ucap Morgan kemudian pergi dari situ.
Setiba di bandara, Morgan langsung terbang menuju Surabaya saat itu juga.
.
.
.
Tok tok tok.
Pintu kamar kos Utari diketuk dengan kasar dari luar.
Saat itu Utari bergegas menuju pintu untuk membuka pintu. Seorang wanita paruh baya yang berdiri disana.
“Bu Alma,”
“Sekarang sudah tanggal 25, waktu bayar kos kamu sudah lewat tiga bulan dari waktu pembayaran,” ucap bu Alma si pemilik Kos.
“Iya bu, akan saya bayar secepatnya,” jawab Utari.
“Kamu sudah janji ke ibu akan melunasinya hari ini.”
“Anak saya sempat sakit bu, uang untuk bayar kos terpakai untuk bayar rumah sakit.”
“Ibu sudah memberi kamu kesempatan waktu cukup lama untuk pelunasan. Semakin lama dibayar akan semakin menunggak dan akan semakin sulit untuk kamu lunasi. Ibu sarankan agar kamu mencari kos kosan dengan budget yang lebih murah saja,” ujar bu Alma.
“Ta tapi bu, saya memiliki bayi. Terlalu repot jika harus pindah sekarang.”
“Kalau begitu bayar segera, ibu tidak bisa memberi kamu kelonggaran lagi. Terakhir besok, jika kamu tidak bayar, kamu bisa keluar dari sini!”
Sepeninggal bu Alma, Utari kembali menutup pintu kamar. Ia masih berdiri mematung di balik pintu sambil berpikir.
“Jika uang yang ada aku gunakan untuk membayar kos, aku tidak lagi memiliki sepeserpun uang simpanan. Miracle masih terlalu kecil.” batinnya.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu kembali terdengar. Utari yang masih belum beranjak dari tempat ia berdiri langsung membuka gagang pintu itu. Namun sosok yang berdiri di hadapannya bukan bu Alma, melainkan sosok Morgan Milano, pria yang membuat seluruh rencana dalam hidupnya berantakan.
Utari berdiri kaku, ia hampir tak bisa mengucapkan sepatah katapun.
“Utari. Berapa bulan tunggakan uang kos kamu?” tanya Morgan tiba tiba.
“Tu an, apa yang tuan lakukan disini?” tanya nya yang masih berdiri tak bergerak sedikitpun. Ingin rasanya ia menutup pintu itu dan mengusir Morgan pergi dari situ.
Namun Morgan malah melangkah maju mendekati Utari, ia berdiri diambang pintu menatap wajah Utari lebih dekat.
“Kenapa tidak pernah menghubungiku? Jadi selama ini kamu hidup seperti ini?” ujar Morgan. Ia terus menatap Utari, dengan jarak sedekat itu ingin sekali Morgan menyentuh wajah Utari.
“Tidak tidak, aku harus menyuruhnya pergi dari sini. Dia tidak boleh tau soal Miracle,” batin Utari. Saat itu juga ia mendorong tubuh Morgan menjauh dari hadapannya. Tubuh Morgan terdorong beberapa meter mundur ke belakang.
.
.
.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Nur Adam
lnjjt
2023-01-11
0
꧁𝙉Ⓐノ𝙎ム꧂💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
jangan gugup ya raniyah sans aja, mampir ku ka
2023-01-11
1