Di kediaman orang tua Selvie.
Di ruang makan seusai makan malam. Putri sulung Niko dan Lena terus merengek. Ia membujuk kedua orang tuanya agar ia bisa tinggal bersama mereka selama beberapa hari.
“Ayah, aku benci pulang ke rumah itu. Aku mau tinggal disini saja yah,” ujar Selvie.
“Kenapa? Kamu menyesal sudah menikah? Morgan berlaku kasar atau memukulmu?” tanya Niko.
“Mas Morgan tidak pernah kasar. Hanya saja, ia tidak memperlakukan aku seperti istrinya, aku tidak di anggapnya sama sekali,” ujar Selvie.
“Kamu terlalu lugu, merayu laki laki saja kamu tidak bisa. Gimana bu anak ibu?” ujar Niko.
“Iyo ndu, kamu tinggal tidur terlentang dihadapannya. Anak ibu cantik, nggak mungkin toh laki laki tidak tergoda,” sambung Lena.
“Menggoda Morgan sama seperti menggoda batu bu. Pokok nya selvie mau pulang ke sana, Selvie mau tinggal di sini.”
“Ckckck,” desis sang ayah. Namun dalam hatinya ia tidak tega melihat putrinya itu terus mengeluh. “Ya sudah, cepat rayu suamimu itu agar cepat mengesahkan pernikahan. Setelah sah dalam hukum kalian bisa bercerai setahun setelahnya,” ujar Niko.
“Bercerai? Nggak, aku nggak mau cerai, aku mencintai mas Morgan yah,” ujar Selvie.
“Yah kamu gimana? Nggak mau pulang ke sana tapi nggak mau cerai juga?” ujar Lena.
“Aku hanya mau tinggal di sini beberapa hari saja, biar mas Morgan tau rasa. Seperti kata pepatah, seseorang akan menjadi sadar betapa berharganya diri kita setelah kita kehilangan orang itu!” ujar Selvie.
“Cepat sah kan pernikahan kalian. Setelah sah dalam hukum, ayah akan membuat bocah itu tidak bisa bertingkah. Ia hanya akan menuruti semua ucapanmu,” ujar Niko.
Wajah Selvie menjadi murung. “Bagaimana aku membujuknya? Mendekatinya saja susah,”gerutu Selvie namun tersengar di telinga sang ibu.
“Temen ibu pernah cerita, sekarang ada di jual obat yang bisa membuat pria terang sang. Bagaimana jika kamu memberikan nya kepada Morgan. Ibu rasa jika kalian bisa tidur bersama, hubungan kalian pasti akan lebih baik. Apalagi jika kamu hisa hamil, ia akan menerima mu sebagai ibu dari anaknya,” ujar Lena.
“Obat? Nggak nggak bu, aku nggak mau melakukan itu lagi,” tolak Selvie.
“Ayah hanya butuh tanda tangan kalian di atas surat nikah, tanpa surat nikah ayah tidak bisa membantu kamu. Sekarang tinggal usaha mu sendiri, apa kamu bisa mendapatkan itu? Hanya sebuah tanda tangan yang kamu berikan kepada ayah, dan ayah akan berikan Morgan dan seluruh perusahannya kepadamu,” ujar Niko.
“Benarkah?” sahut Selvie antusias.
“Ya sudah sekarang kamu pulang,” ucap Lena.
“Nggak bu, Selvie mau di sini dulu.” rengek Selvie. Ia malah bersandar di bahu ibunya dan mulai memeluk pinggang ibunya dengan erat. “Please.”
Kemudian ponsel Selvie yang terletak di atas meja berbunyi.
“Halo,” jawab Selvie.
“Kamu dimana? Cepat pulang ke rumah, ada yang harus kita bicarakan,” ujar Morgan kemudian menutup panggilan telponnya.
Selvie terdiam.
“Sangat jarang Morgan menghubungiku, padahal belum semalam, sekarang dia sudah mencariku. Hehe, emang enak?” gumam Selvie dalam hati. Sambil tersenyum kecil, Selvie bangkit dari kursinya.
“Aku pulang sekarang yah, bu. Mas Morgan menyuruhku pulang,” ucap nya gembira.
“Ya sudah, buruan sana pulang. Sudah hampir jam sebelas malam, jangan mampir ke tempat lain,” ujar sang ibu.
Selvie langsung berlari kecil meninggalkan ruangan itu. Ia bergegas pulang ke rumah Morgan.
….
Wanita yang di tunggu Morgan akhirnya tiba.
“Ada apa ini?” tanya Selvie dengan mimik heran. Matanya menatap satu persatu pelayan yang berada di ruangan luas itu.
Mata Selvie berhenti pada sosok Wiwi yang tengah tertunduk, Kemudian pandangan ia lempar ke arah Morgan. “Ada apa ini mas?” tanya nya lagi.
“Seharusnya aku yang bertanya? Ada apa dengan mu? Apa yang sudah kamu lakukan terhadap Utari?”
“Apa maksud mas? Aku tidak melakukan apa pun kepada nya!” dengan wajah tak bersalah, Selvie berdiri tegap dihadapan Morgan.
Morgan mengitung satu persatu pelayan yang ada di ruangan itu. “Pelayan 11 orang ini buat apa di rumah ini? Kenapa semua pekerjaan akhirnya di kerjakan oleh Utari?!”
Mendengar hal itu, Selvi jadi tau akan satu hal, Morgan sedang mencari keadilan untuk Utari.
“Untuk membayar semua barang yang sudah mas belikan untuk dia dan anak nya. Pekerjaan yang dilakukannya sesuai dengan apa yang ia dapat,” ujar Selvie tak sedikitpun menurunkan wibawanya dihadapan para pelayan itu.
“Aku membelikan itu untuk Utari dan anaknya, tidak ada perjanjian potong gaji atau dibayar dengan tenaga! Saat kamu sudah memotong sebagian besar gajinya, kamu juga memeras tenaganya. Sementara kamu tau sendiri dia memiliki bayi berusia 6 bulan yang harus dirawatnya!” ucap Morgan dengan tegas tanpa terbelit sedikitpun.
Saat itu mata Selvie menatap bu Sukma yang berdiri di samping meja Morgan.
“Brengsek, pasti bu Sukma yang melaporkan semuanya.” gumam Selvie dalam hatinya.
“Pantesan Miracle selalu tertidur di siang hari. Utari sengaja membuatnya terjaga dimalam hari agar dia bisa tidur lebih lama saat siang. Siang harinya Utari harus bekerja banting tulang mengerjakan tugas kalian semua?!” bentak Morgan.
Utari mengepal jemarinya. Ia jengah mendengar nama Utari, seakan dalam kamus kata kata Morgan hanya ada nama Utari.
“Sudah cukup hidup mereka menderita diluar sana, aku membawa mereka pulang supaya mereka bisa hidup lebih baik. Nyatanya?! Utari dan Miracle sudah aku anggap-,”
“Utari Miracle Utari Miracle,” sela Selvie sambil maju mendekati Morgan. “Kenapa hanya ada nama wanita murahan dan anak haram itu dalam otak mu mas? Aku benci mereka. Aku benci kamu terlalu membela merka,” bentak Selvie. Ia tak sanggup langi mendengar nama itu. Baginya, nama itu sudah meracuni akal sehat Morgan.
“Apa katamu?” Morgan bangkit dari kursinya. Ia mengangkat telapak tangannya berayun di udara dan hampir saja menampar pipi Selvie.
“Tuan, jangan. Jangan melakukan itu, ibu mohon,”tegur bu Sukma.
Tangan Morgan terdiam. Ia hampir saja kalap menampar Selvie di hadapan semua pelayan itu.
“Ayo, ayo pukul. Cih, hanya demi wanita itu kamu berani memukul istrimu?!” ujar Selvie.
“Sadarlah dirilah. Aku sudah memberimu posisi penting itu di rumah ini. Kamu sudah seenaknya mengatur urusan rumah. Mulai sekarang kamu tidak boleh mengurus apa pun disini. Status istrimu hanya untuk orang diluar sana tapi tidak di rumah ini.”
“Bu Sukma, pecat beberapa pelayan ini. Kita hanya butuh 3 atau 4 orang pelayan. Sekuriti 4 orang, tukan taman 4 orang dan 2 orang sopir. Sisanya pecat semua,” lanjut Morgan.
“Baik tuan,” ujar bu Sukma.
Saat itu ruangan menjadi agak riuh. Suara suara keluahan kecil para pelayan disertai wajah sedih. Sebagian besar diantara para pelayan itu akan di pecat.
“Ayo bubar semua, gaji kalian yang berhenti dan kompensasi akan diberikan bu Sukma besok pagi,” Ujar Morgan.
Semua pelayan telah keluar menyisakan Selvie dan Morgan di dalam ruangan itu. Suasana hening sejenak. Selvie mengatur nafasnya kembali. Ia tau sebelumnya sempat emosi. Jika ia berani membantah atau melawan lagi, mungkin Morgan akan mengusirnya keluar dari rumah itu.
“Tidak, aku masih harus mendapatkan surat nikah kami. Jika memang harus berakhir perpisahan, setidaknya aku tidak mengecewakan ayah,” batin Selvie.
“Oh ya, mulai besok Eko putra bu Sukma yang akan menjadi sopir pribadi kamu. Perusahan sedang melakukan pengurangan karyawan, Eko adalah salah satu yang kena imbasnya,” ujar Morgan.
“Mas, sopir pribadiku tak masalah di ganti. Tapi bisakah Wiwi pelayanku tetap berada di sini. Aku mohon mas,” pinta Selvie.
Morgan mentap wajah Selvie, ia terlihat tulus memohon untuk pelayannya agar tidak di pecat.
“Pelayanmu tidak akan di pecat jika dia patuh pada bu Sukma. Selaku Kepala ART, maka semua pelayan harus hormat kepada bu Sukma.”
.
.
.
Bersambung…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Nur Adam
lnjyt
2023-01-24
1
Amelia
kapan sih Thor Morgan tau anak bersama Utari.kasian Utarinya
2023-01-24
1
[🦉]Susi Soemarsi
ishhh padahal kan si wiwik itu ulernya😌😡
2023-01-23
1