“Apa tuan menyadari sesuatu? Sedari tadi dia diam, bahkan tidak melirik ku sama sekali. Dia curiga Miracle adalah anaknya? Mereka memiliki golongan darah yang sama dan alergi yang sama, bagaimana ini?” gumam Utari dalam hatinya. Apa yang akan terjadi jika Morgan tau bahwa Miracle adalah anaknya? Apakah ia akan merebut Miracle dari Utari?
“Tidak, hal itu tidak boleh terjadi. Morgan tidak boleh tau hal itu. Selain Jessie dan Rayhan, tiada seorang pun yang tau siapa ayah Miracle.”
Melihat chemistri ayah dan anak yang begitu erat membuat Utari sedikit merasa bersalah. Morgan begitu perihatin akan keadaan Miracle, ia terus duduk di samping ranjang sambil memegang tangan anak nya.
Ya, sudah dua jam sejak Miracle di pindahkan ke ruang perawatan. Morgan sama sekali tidak menganggap Utari berada di situ, seakan di dalam kamar itu hanya ada Morgan dan Miracle. Dan karena di penuhi rasa bersalah, Utari pun tak berani mendekati anak nya.
“Apa kamu akan terus berdiri di situ?” tanya Morgan tiba tiba.
Utari maju beberapa langkah berdiri di belakng Morgan.
“Kamu tau apa kesalahan kamu?” tanya Morgan lagi.
Utari menunduk. Jawaban apa yang bisa dia berikan, kesalahan nya terlalu banyak. Ia tidak becus menjaga anak nya, ia juga lupa akan sakit alergi yang pernah menimpa anaknya beberapa bulan yang lalu.
“Kamu akan terus diam?” Morgan berbalik badan menatap Utari dengan tatapan tegas.
“Aku lalai menjaga anak ku dengan baik,” jawab Utari singkat dengan seribu penyesalan dalam hatinya.
Melihat Utari, Morgan sadar akan satu hal. Wanita itu terlihat sangat menderita, mata nya memerah dan bengkak akibat terus menangis. Apa ia sudah terlalu jahat terus menerus memarahinya? Seharusnya yang paling sedih disini adalah Utari, dia adalah ibunya Miracle, pasti tidak ada seorang ibu yang rela melihat anak nya sakit.
“Duduk lah,” Morgan menggeser sebuah kursi kepada Utari. “Sudah hampir jam 9, kamu belum makan malam. Sebentar lagi pak Danu akan ke sini mengantarkan makan Malam untuk mu.”
Morgan menenangkan hatinya. Rasa kesalnya kepada Utari mulai berkurang. Ia mulai melanjutkan kata katanya dengan lebih lembut.
“Makan yang banyak, kamu harus punya tenaga lebih agar bisa menjaga Miracle. Dia butuh kamu lebih dari siapa pun, kamu adalah ibu sekaligus ayah baginya. Makanya kamu harus kuat,” ujar Morgan.
Mendengar ucapan itu Utari kembali terisak, ia sedih akan nasib anak nya itu. Ia harus terlahir tanpa sosok ayah, ia hanya memiliki seorang ibu. Kelak Utari benar benar harus berusaha lebih keras lagi dalam mengurus Miracle.
“Yah malah nangis lagi. Sudah jangan sedih seperti itu. Anggap ini pelajaran, besok besok kamu harus menjaga anak kamu lebih baik,” ujar Morgan. Ia berdiri mengusap kepala Utari. Penuh rasa iba dan perihatin.
“Tuan,” panggil Utari ia menatap sendu wajah pria yang berdiri dihadapannya. Tatapan yang mengandung sejuta makna, seolah ia sangat membutuh kan Morgan.
“Jadilah ayah untuk Miracle, kami membutuhkan mu,” gumam Utari dalam hati. Ucapan yang tak bisa ia ucapkan, bibirnya tak sanggup berkata kata.
Tanpa sadar Morgan sudah menarik Utari agar berdiri dari kursinya. Ia memeluk wanita itu, wanita yang sudah sejak usia 6 tahun tinggal bersama nya.
Deg Deg Deg
“Perasaan apa ini? Kenapa di saat seperti ini aku malah memikirkan mimpi malam itu? Aku sangat ingin mengobati luka di hatinya. Aku sangat ingin melindunginya, bukan sebagai kakak tapi melindunginya sebagai seorang kekasih,” batin Morgan.
Ia memeluk tubuh Utari semakin erat, tubuh mungil itu semakin masuk dalam dekapannya. Terlebih saat tangan Utari melingkar di pinggang Morgan, perasaan mereka seakan menyatu. Bak sebuah ungkapan cinta yang tak dapat di ukir dengan kata kata. Hanya perasaan mereka yang tau betapa hati mereka saling bertaut.
Kemudian suara ketukan pintu membuat mereka sadar atas apa yang mereka lakukan. Wajah Utari memerah, ia mendorong tubuh Morgan agar menjauh darinya.
Utari menjadi sangat kikuk, ia gelagatan dan tak berani menatap wajah Morgan.
Morgan terkekeh kecil, Utari terlihat lucu. Pipinya merona sambil tersipu malu. “Hehe, kamu pasti sedang malu?” ejek Morgan.
Saat itu pak Danu sudah berdiri dalam kamar dengan kantong berisi makan malam untuk Utari dan Morgan.
“Tuan, makanan pesanan tuan,” ujar Pak Danu sambil menyerahkan kantong ke tangan Utari.
“Terima kasih pak Danu,” ujar Utari.
Morgan membantu menyiapkan makanan kotak dari sebuah restoran ternama. Setelah makan malam bersama, Morgan pun berpamitan dengan Utari.
“Aku pulang dulu,” ia meraih jas yang terhampar pada lengan kursi.
Wajah Utari berubah manyun, ia tak menjawab ucapan Morgan seakan tak ingin Morgan pergi dari situ, ia butuh Morgan tetap berada disisinya.
“Aku harus pulang dulu, mandi dengan wangi agar bisa menemani kamu di sini. Berpelukan seperti tadi rasanya menyenangkan,” bisik Morgan ditelinga Utari.
Utari mengangguk saja, saat itu pak Danu sedang tersenyum ke arah nya.
“Dia sedang menggodaku? Apa maksudnya? Kenapa harus mandi saat menemaniku? Menyenangkan?”
Batin Utari dipenuhi banyak pertanyaan. Jika saja pak Danu tidak berada di situ, Utari pasti akan bertanya apa maksud dari ucapan Morgan.
Namun hingga Morgan keluar dari pintu, Utari hanya bisa berdiri menatap arah pintu sambil menerka nerka ucapan Morgan.
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Setiba dirumah, Morgan langsung menghubungi bu Sukma agar menemuinya di ruang kerja. Bu Sukma berdiri di hadapan Morgan sambil menunggu aba aba dari majikannya itu.
“Bu Sukma, di seluruh rumah ini hanya bu Sukma yang sudah memiliki pengalaman mengurus anak. Seharusnya bu Sukma lebih memperhatikan Utari, dia belum berpengalaman mengurus bayinya. Miracle tidak akan sakit seperti ini jika di rawat lebih baik,” ujar Morgan.
“Maafkan saya tuan. Sore tadi kepala saya sakit. Padahal Utari sudah meminta saya menjaga Miracle, tapi saya malah tertidur,” Bu Sukma mencari cari alasan yang tepat agar tidak dimarahi tuan rumahnya itu.
“Kenapa harus meminta bu Sukma yang menjaga anaknya yang sakit, Utari sendiri ngapain saja?” tanya Morgan.
“Pekerjaannya belum selesai,” jawab bu Sukma.
“Pekerjaan penting apa? Pekerjaan itu lebih penting dari kesehatan anaknya?” Morgan mulai kesal, Utari memang sungguh teledor.
“Utari di tugaskan nyonya Selvie membenahi teras. Tapi tuan, rahasiakan kalau saya yang melapor kepada tuan. Saya takut dipecat,” ujar bu Sukma.
“Kenapa harus dirahasiakan? Bu sukma di ancam?” Morgan mencium sebuah ketakutan di wajah bu Sukma, ia semakin penasaran siapa yang berani menekan bu Sukma selaku kepala asisten rumah tangga di rumah itu.
“Nyonya mengancam akan memecat siapa pun yang melapor kepada tuan, perihal Utari.”
Morgan memasang wajah serius, “Selvie?”
Bu Sukma mengangguk. “Utari anak saya di tugaskan mengerjakan semua pekerajaan di rumah ini. Menggantikan tugas semua pelayan,” jelas bu Sukma. Sebenarnya ia sedang mempertaruhkan pekerjaan nya saat melaporkan hal itu. Mungkin esok hari ia bakal di tendang keluar oleh nyonya Selvie. Atau mungkin juga, menjilat tuan Morgan akan mendapatkan keuntungan lain yang lebih besar untungnya daripada sekedar diam tak bicara.
“Maksud bu Sukma, Utari yang mengerjakan pekerjaan semua pelayan disini selama ini?” tanya Morgan lebih jelasnya.
“Iya tuan,” sahut bu Sukma.
Mata Morgan membulat, saat itu juga ia meraih ponsel dari atas meja. Ia langsung menghubungi Selvie.
“Kamu dimana? Cepat pulang ke rumah, ada yang harus kita bicarakan,” ujar Morgan kemudian menutup panggilan telponnya.
.
.
.
Bersambung…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
🍌 ᷢ ͩˡ Murni𝐀⃝🥀
habislah dirimu Selfi saat Morgan mengetahui segala ulah licikmu selama ini terhadap Utari.
2023-02-06
3
[🦉]Susi Soemarsi
untung buk sukma lapor ke Morgan. ya walaupun sikapnya sungguh menyebalkan.. setidaknya tuh nenek lampir bklan kena semprot sama si Morgan🤣🤣
2023-01-23
1
Rubyred
huhuhu.....seru mie habis kau nenwk lampir.....
2023-01-22
1