Utari masih meringkuk di balik selimut sambil menangis tersedu. Sudah sejam sejak mereka tiba di kamar kos Utari, dan ia masih saja enggan berbicara sedikitpun dengan kedua sahabatnya.
Melihat keadaan Utari, Rayhan dan juga Jessie tak berani bertanya mengenai kehamilan nya. Mereka hanya duduk bermuram durja di samping ranjang Utari.
Beberapa saat kemudian Jessie mulai angkat bicara.
“Tari… Kamu akan menangis terus seperti ini? Kamu tidak ingin bicara dengan kami? Kami selalu ada di samping mu jika kamu butuh,” ucap Jessie.
“Tar, sudah jam empat. Kamu belum makan sejak siang. Menangis terus seperti itu hanya akan menguras energi. Makanlah sedikit saja, kamu juga butuh tenaga,” tambah Rayhan.
Mendengar suara kedua sahabatnya Utari kembali menangis tersedu. Rayhan dan Jessie kembali kebingungan, mereka tak tau harus bagaimana membujuk Utari. Tangisan pilu Utari membuat Jessie ikut menangis bersama nya.
“Hiks hiks.”
Rayhan menjadi semakin bingung, ia mengepal kan kedua tangannya kemudian memukul dinding di samping ia berdiri.
“Siapa yang berbuat itu kepada mu, aku akan menghajarnya habis habisan,” gumam Rayhan.
Jessie terdiam sambil mengusap air matanya. Dan saat itu juga tangisan Utari mereda.
“Siapa yang melakukan itu pada mu?” tanya Rayhan.
“Tar, kalau kamu diam seperti ini terus, bagaimana kami bisa membantumu. Kita bisa mencari jalan keluar bersama,” imbuh Jessie seraya mengusap ngusap punggung Utari.
“Kalian tak bisa berbuat apa apa, tidak ada jalan keluar untuk ku.”
“Setiap masalah pasti ada jalan keluar,” ucap Rayhan.
“Tidak, tidak ada jalan keluar!”
“Kamu bisa memberikan anak itu kepada orang lain begitu ia lahir, nggak akan ada yang tau kalau kamu punya anak,” ide yang di anggap brilian dari otak Jessie malah mendapat tatapan tajam dari Rayhan.
“Kamu sudah gila, kamu pikir anak itu barang yang bisa di berikan begitu saja kepada orang?” sergah Rayhan.
“Aku akan melahirkan dan membesarkan anak ini seorang diri. Aku akan menjadi seorang ibu dan juga seorang ayah untuknya.”
“Apa jangan Jangan anak dikandungan mu adalah anak dari majikan mu itu?” tanya Jessie asal.
Rayhan menoyor dahi Jessie karena pertanyaannya itu. Dan dibalas tatapan tajam oleh Jessie.
Utari berpikir sejenak, ia percaya kedua sahabatnya itu adalah sahabat terbaik yang tidak akan pernah mengecewakan nya. Utari pun berbalik badan kemudian menatap Jessie dan Rayhan bergantian. “Ya. Tapi… anggap saja ayah nya sudah meninggal. Kalian harus janji tak akan pernah membuka rahasia ini kepada siapa pun.”
“Baiklah kami janji. Jika itu yang terbaik menurutmu, kami pasti akan mendukung mu.” Reyhan meraih piring dan gelas dari atas nakas kemudian memberikan kepada Jessie yang saat itu sedang duduk di ranjang.
“Kalau begitu Tar, kamu makan dulu. Kamu harus menjaga kesehatan kamu. Kamu harus lebih sehat agar bisa menjaga nya,” Jessie terus berusaha membujuk Utari.
Mendengar ucapan itu, Utari bangun dari pembaringannya. Ia menatap kedua sahabatanya yang terus berada di sisinya. Ia menghapus sisa sisa airmata di kedua pipi.
“Terima kasih karna kalian selalu ada disisi ku,” ucap Utari kemudian memeluk Jessie.
Rayhan pun melangkah maju kemudian mendekap kedua wanita itu bersamaan.
Senyuman kembali terpancar dari wajah mereka.
Sejak hari itu, Utari harus kembali menata masa depan yang sudah ia susun dengan rapih dalam benaknya. Ia harus terus melanjutkan kuliah sambil bekerja. Tentu ia butuh pekerjaan ekstra lainnya. Biaya hidupnya tentu akan lebih mahal. Uang tabungannya tak akan bertahan hingga setahun kedepan jika ia tidak lebih giat lagi bekerja.
Utari menerima pekerjaan lain yang tidak mengganggu jam kuliahnya. Sebuah Studio photo kecil di ujung jalan menerima karyawan free lance yang bisa bekerja dari rumah. Tugasnya hanya mengedit foto, dan hal itu dapat di lakukan Utari dimana saja di waktu senggang nya.
Di trimester pertama usia kandungan Utari, ia harus bertahan melewati masa sulitnya sebagai wanita hamil. Terkadang rasa mules dan ingin muntah melanda di saat jam kuliah. Juga aroma amonia pada perawatan rambut di salon yang selalu membuat nya pusing saat ada pelanggan yang sedang melakukan pewarnaan rambut. Semua harus ia lalui dengan tabah.
Pada trimester kedua kandungan, Utari harus melewati hidup di sebuah pedalaman di daerah Pamekasan. Ia menjalani KKN sekitar dua bulan di sana. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan harus giat menjalani setiap kegiatan diluar rumah.
Memasuki trimester ketiga, perut Utari mulai tampak membesar. Gosip buruk mengenai kehamilannya mulai menerpa setiap mahasiswa di kampus itu. Ia tak bisa lagi menutupi kehamilannya dari siapa pun. Ia harus menjalankan ujian akhir kuliah dengan perut yang sangat besar. Kemuidan harus melakukan wisuda pada 9 bulan usia kandungan nya.
Disebuah auditorium Universitas MT di balik toga hitam Utari terlihat kesulitan, bulir keringat membasahi seluruh pakaiannya. Ia berjalan menerobos ratusan mahasiswa yang sedang berkumpul di aula luas itu. Acara wisuda sudah selesai, ia harus mencari udara segar di luar. Rasa penat gerah dan tak nyaman pada perutnya, membuat ia harus berjalan cepat menerobos kerumunan orang.
“Tari,” terik Jessie yang tiba tepat waktu saat itu.
“Jess, bawa aku keluar dari sini. Gerah banget, perut ku juga rasanya agak kram. Aku ingin mencari udara segar diluar,” ucap Utari.
Jessie langsung menarik lengan Utari dan membawanya keluar dari gedung itu.
“Gimana udah enakan?” tanya Jessie sembari menyodorkan sebuah minyak kayu putih dari dalam tasnya.
“Perutku. Rasanya agak sakit Jess,” ujar Utari.
“Mungkin kamu akan lahiran? Aku telpon Rayhan sekarang?” tanya Jessie disertai nada panik.
Utari mengangguk. Karena semakin lama nyeri di perut nya semakin terasa.
Saat itu juga Jessie langsung menghubungi Rayhan.
“Ray, dimana?”
“Ini masih nyari parkiran, kalian dimana?”
“Buruan kesini, kami didekat pintu samping Aula. Kita harus bawa Tari ke rumah sakit!” seru Jessie.
Wajah Utari nampak dipenuhi oleh bulir keringat. Ia berusaha menahan sakit pada perutnya. Beberapa orang yang berada disekitar situ berkerumun menonton, ada yang mencibir, ada yang merasa kasihan, dan ada yang tertawa mengejek.
Hari itu adalah hari terakhir Utari sebagai mahasiswa di kampus itu. Ia tak peduli dengan hinaan orang, yang Ia harapkan saat itu adalah segera menuju ke rumah sakit. Sepertinya sang jabang bayi sudah tak sabar untuk terlahir kedunia.
Selang beberapa menit, suara klakson mobil Rayhan berbunyi panjang tak jauh dari pintu samping Aula. Jessie langsung menuntun Utari menuju mobil. Saat itu juga mereka langsung menuju sebuah rumah sakit bersalin dimana dokter kandungan langganan Utari praktek.
.
.
.
Bersambung…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Nur Adam
morgan bi,ar ingat lg intim sm tari dong thoor,lnjut
2023-01-08
1