“Ahh aaaaah,” Selvie mengerang panjang di atas ranjang. Seluruh tubuhnya terasa panas, libido nya sudah memuncak. Ia begitu mendambakan sesuatu yang bisa memuaskan hasra t nya.
“Mas Morgan?” serunya memanjang berharap Morgan akan datang untuknya.
Seluruh tubuhnya bergetar di sertai keringat, sungguh sangat menyiksa. Saat itu juga ia berlari menuju kamar mandi, berdiri dibawah guyuran air dingin sambil meluap kan hasra t terpendamnya seorang diri.
Beberapa jam kemudian…
“Nyah, nyonya,” suara Wiwi dari depan pintu kamar. Pelayan kepercayaan Selvie itu begitu mencemaskan nyonya rumah nya. Sejak pagi selvie belum keluar dari kamar.
Tok tok tok.
Suara pintu kamar di ketuk Wiwi berulang ulang. Dalam keadaan lemah, akhir nya Selvie beranjak dari pembaringan.
“Nyonyah baik saja kan Nyah?” tanya Wiwi panik melihat sang majikan yang kini berdiri di ambang pintu. Wajahnya lusuh di sertai rambut yang tergerai basah.
Saat itu juga ia menerobos masuk membawa Selvie munuju ranjang. “Tangan nyonya dingin sekali, nyonya baik saja kan? Kita ke rumah sakit aja Nyah?” ajak Wiwi.
“Rumah sakit? Tidak, jangan sampai ada yang tau bahwa aku telah menjadi korban dari ranjau ku sendiri. Aku seperti ini karena kebodohanku. Bagaimana mungkin aku bangun dan langung meminum air putih dalam gelas itu?” gumam Selvie dalam hatinya.
“Aku tadi mandi terlalu lama, dan tertidur saat rambut basah. Sekarang sudah enakan,” jawab Selvie.
“Mau aku bawakan sarapan nyonyah ke sini? Aku buatkan juga segelas air hangat,” ucap Wiwi.
Selvie mengangguk.
Wiwi kelaur dari kamar kemudian kembali dengan nampan berisi makanan dan segelas air.
“Ini Nyah, dimakan dulu,” Wiwi membantu Selvie menyiapkan makanan di atas ranjang.
“Tuan jam berapa berangkat kerja?” tanya Selvie.
“Sepertinya jam 7.15, tuan terlihat buru buru seperti nya ada urusan penting,” jelas Wiwi.
“Aku menunggunya semalaman, mengintip jika air sudah di minumnya. Kemudian membawa air masuk ke kamar ini hanya dengan sebuah harapan bahwa ia akan meminum air dalam gelas itu. Ujung ujung aku yang meminum air itu. Sial! Seseorang harus membayar atas hal ini!”
“Dimana pembantu murahan itu?” tanya Wiwi.
“Lagi mencuci bak penampungan di belakang, dia sudah mengerjakan seluruh pekerjaan nya. Hanya tinggal kamar mandi di kamar ini yang belum,” jawab Wiwi.
“Apa tuan ke kamar mereka tadi?” tanya nya lagi.
“Nggak,” ujar Wiwi.
Selvie mulai melahap sarapan yang sudah di hidangkan untuknya hingga ludes.
“Minta seluruh pelayan berkumpul di ruang tengah, aku akan briefing,” ujar Selvie.
“Sekarang Nyah?”
“Ya, sekarang juga,” Selvie bangkit dari ranjang. Setelah mengisi perutnya yang kosong, tubuhnya kembali menjadi fit.
Wiwi pun segera mengumpulkan semua pelayan di ruang tengah. Selvie sudah menunggu mereka di sana.
Saat itu 12 orang pelayan sudah berbaris rapih di sana termasuk Sukma dan Utari. Mata Selvie langsung tertuju pada wanita yang paling muda di antara mereka, wanita yang terus membuatnya resah karena selalu mencuri perhatian suaminya.
“Aku mengumpulkan kalian agar kalian bisa lebih patuh dan melakukan perintah saya. Jika ada yang tidak setuju bisa langsung mengundurkan diri. Paham?” ujar Selvie.
“Paham Nyonya,” jawab mereka serempak.
“Mulai hari ini selama sebulan kedepan, semua pekerjaan akan di tangani oleh Utari kecuali memasak.” Mata Selvie menatap lekat wajah Utari. “Total barang yang ada dikamar kamu senilai dengan gaji seluruh pelayan di sini. Dan untuk mengganti semua itu, maka wajar jika tugas dan pekerjaan mereka kamu yang tangani. Setelah sebulan, pekerjaan kalian akan kembali normal. Ingat! Setiap barang yang di belikan suamiku, harus kamu bayar sesuai harga nya.” ujar Selvie pada Utari.
Utari hanya terdiam menunduk. Ia tidak berani protes atau pun membantah.
“Bu Sukma, jika hal ini sampai ke telinga tuan, kamu yang akan menjadi jaminan nya. Aku akan mencopot jabatan mu sebagai kepala ART di sini. Jadi ingat, karena semua hal dirumah ini adalah urusan ku, kalian harus patuh pada ucapanku. Aku tidak segan segan menendang kalian keluar dari rumah ini jika berani melawan,” gertak Selvie.
“Baik Nyah,” ucap beberapa pelayan lainnya.
“Ya sudah bubar. Wiwi, aku minta laporan kamu setiap hari. Jika ia tidak menjalankan pekerjaannya maka langsung usir dia dari rumah ini,” ujar Selvie.
“Ia nya,” sahut Wiwi.
Setiap pelayan itu pun meninggalkan ruangan itu.
….
Karena tugas dan pekerjaan sudah di tetapkan, Utari mulai mengerjakan semua pekerjaan nya.
Ia membagi waktu sebaik baiknya antara bekerja dan mengurus Miracle. Saat malam hari ia sengaja membuat Miracle terjaga agar bayi itu bisa tertidur lebih lama di siang hari. Utari masih muda dan energik, ia mampu menangani pekerjaan beratnya tanpa mengeluh, ia melakukan semua pekerjaan tepat waktu.
Beberapa hari pun berlalu, Morgan menjadi lebih sibuk dengan beberapa masalah di kantor. Namun begitu, ia masih saja menyempatkan beberapa menit setiap hari untuk menemui Miracle.
Hingga suatu siang, Morgan pulang kerumah lebih awal. Saat Utari sedang sibuk mencuci kain, tiba tiba Morgan sudah berdiri di hadapannya.
“Kamu melakukan pekerjaan ini juga?” tanya Morgan setelah menemuinya dalam ruang cuci pakaian.
“Tuan! Ada apa tuan dirumah jam segini?” tanya Utari, ia agak kaget akan kehadiran Morgan.
“Aku kesini untuk mengambil koper,” Morgan bergerak mendekati Utari. “Pakaian siapa yang kamu cuci?” Morgan memperhatikan pakaian dari dalam mesin cuci yang tidak terlihat seperti pakaian bayi.
“Ini tuan, gorden dan seperei dikamar aku ganti. Jadi aku cuci dulu,” jawab Utari.
“Pekerjaan mencuci kan bisa di lakukan oleh pelayan yang lain.”
“Tuan akan keluar kota?” potong Utari.
“Aku akan ke Yunani selama beberapa hari urusan pekerjaan. Oh ya, anak mu sedang tidur, aku tidak jadi menemuinya.”
Utari tak merespon ucapan Morgan, jika ia terlalu akrab dengan nya, mungkin hidupnya di rumah itu akan semakin berat.
“Jika butuh sesuatu kamu bisa hubungi aku, Jerry akan mengantar keperluan yang kamu butuhkan ke sini.”
Utari hanya diam tak menanggapi atau bahkan menatap wajah Morgan.
“Hmm, aku pergi dulu,” pamit Morgan, namun ia masih berdiri menatap Utari berharap sebuah ucapan dari nya.
“Ada apa lagi?” tanya wanita yang tidak peka itu.
“Tidak ada, aku pergi dulu,” pamitnya lagi.
“Hati hati di jalan tuan,” ucap Utari.
Morgan tersenyum kemudian pergi dari situ, aura bahagia terpancar dari wajah nya. Walau hanya sekedar ucapan hati hati, namun sudah membuat hatinya puas.
Sepeninggal Morgan, Selvie langsung mengampiri Utari diikuti Wiwi sang pembantu yang setia membuntut dibelakang Selvie.
“Apa kata tuan?” tanya nya penuh selidik.
“Tuan pamit, katanya akan berangkat ke Yunani beberapa hari,” jawab Utari.
Mulut Selvie terlihat komat kamit tak jelas, wajahnya terlihat sangat kesal. Ia kemudian maju beberapa langkah menendang ember kosong di hadapannya hingga mental mengenai tubuh Utari.
“Cepat selesaikan pekerjaan kamu, terus susun kembali buku di ruang baca. Dasar murahan, ga sadar diri. Sekali pembantu tetap saja pembantu, status mu akan selamanya seperti itu, jadi jangan pernah bermimpi terlalu tinggi.” ujar Selvie.
“Maaf Nyah, buku di ruang baca sudah aku rapih kan kemaren.”
“Sekarang berantakan lagi, cepat selesaikan pekerjaan mu, aku tidak suka melihat pemalas di rumah ini.” ujar Selvie ketus kemudian keluar dari ruangan itu.
Sepeninggal Selvie, Utari kembali menendang ember yang tergeletak di depannya.
“Dasar nenek sihir, pantes saja tuan tidak betah bersama nya. Sifat nya benar benar menjengkelkan,” umpat Utari.
Setidak nya setelah beberapa hari bekerja keras di rumah itu, Utari jadi tahu satu hal. Tuan dan nyonya rumah itu tidak tidur sekamar. Saat membersihkan ruang pakaian, selimut dan bantal tuan Morgan ada di sana. Ada kalanya selimut dan bantal itu berada di ruang kerja tuan Morgan.
Mengingat hal itu, hati Utari sedikit lega. Terkadang terbesit dalam benaknya untuk merebut Morgan dari Selvie. Namun karena statusnya yang hanya seorang pembantu, Utari selalu mengurungkan niatnya. Tuan Morgan sudah sangat baik kepadanya, ia tidak ingin merusak hal itu dengan cinta sepihak nya. Utari akhirnya mengubur dalam dalam perasaan cinta nya kepada Morgan. Rasa itu akan selalu terpendam jauh di dalam lubuk hatinya.
.
.
.
Bersambung…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Orang Cantik
Lanjuuudd
2023-01-21
2