Hari itu Utari harus mengerjakan tugas semua pelayan dirumah itu. Ia membersihkan rumah dari depan hingga belakang. Mencuci pakaian, piring, ngepel lantai, membersihkan kamar mandi dan lain lain. Saat siang ia harus membantu chef untuk masak, kemudian sore harinya ia masih harus menyusun kembali semua buku di ruang baca.
“Sejak kapan buku buku ini berantakan seperti ini?” gumam Utari. Ia tak pernah melihat ruangan baca itu se berantakan itu sebelum nya, seolah seseorang sengaja menghambur semua buku kemudian menyuruhnya agar membereskan kembali.
Sambil melirik jam digital di atas meja, yang sudah menujukkan pukul 16.20 Utari pun mulai memungut satu persatu buku di atas lantai. Ia meilah milah buku sesuai tema kemudian menyusun kembali ke atas rak. Ia harus melakukan pekerjaan nya dengan cepat sebelum si kecil Miracle bangun.
Utari sudah berusaha maksimal, namun buku yang harus ia rapih kan terlalu banyak.
Suara Miracle terdengar dari hand talk monitor di kantong bajunya.
“Miracle sudah bangun, gimana ini?” Utari berjalan keluar dari ruang baca menemui ibunya di teras dapur.
“Bu, anak ku menangis. Aku harus mengakhiri pekerjaan ku. Atau bisakah ibu menjaganya untuk ku, biar aku bisa melanjutkan pekerjaan ku?” tanya Utari pada ibunya.
“Cih, bukan urusan ku,” Sukma berbalik badan menatap taman belakang kemudian menyeruput segelas kopi di tangannya.
Suara tangisan Miracle semakin besar, Utari terpaksa berlari menuju kamarnya.
“Shshs, mama disini sayang. Ssshsh sudah jangan nangis lagi,” ujar Utari saat menggendong anaknya.
Miracle masih terus menangis. Utari mengganti popok nya yang basah kemudian membuat sebotol susu untuk anak nya itu.
“Sudah, jangan nangis lagi. Maaf mama sibuk sekali hari ini, pekerjaan mama banyak sekali.”ujar Utari pada Miracle. Seolah mengerti ucapan sang mama saat itu juga Miracle langsung diam. “Kamu pasti lapar kan? Hari ini kamu sudah banyak nangis, mama terpaksa meninggalkan mu sendiri. Anak baik harus belajar mandiri ya. Jangan cengeng.”
Miracle menghabis kan satu botol susu dengan lahap. Ia pun mulai fokus pada mainan yang diberikan Utari. Setelah diberikan mainan, Miracle akan bermain sendiri. Jadi Utari bisa melanjutkan pekerjaannya.
“Mama tinggal dulu ya,” pamit Utari pada Miracle.
Saat hendak keluar, Wiwi pelayan kesayangan nyonya rumah sudah berdiri di depan pintu.
“Pekerjaan mu hari ini selesai, kata nyonya jangan melapor apa pun kepada tuan. Jangan katakan kamu yang melakukan semua pekerjaan di rumah ini,” ujar nya sedikit mengancam.
“Baiklah,” ucap Utari.
Sepeninggal Wiwi, Utari kembali masuk ke dalam kamar. Ia mengambil Miracle dan membawanya ke atas ranjang.
“Besok kamu mau ikut mama bekerja? Kamu duduk di stroler dan temani mama bekerja, mau?” tanya Utari.
“Mama akan coba bawa kamu, semoga kamu nggak rewel seperti tadi siang. Mama kebingungan ga tau harus membujuk mu seperti apa,” ujar nya lagi.
Kemudian terdengar pintu kamarnya di ketuk seseorang. Belum sempat utari bangun dari ranjang, pintu sudah terbuka. Morgan sudah berjalan masuk ke dalam kamar nya.
“Paman terlambat sore ini, paman harus temui rekan bisnis paman sebelum pulang,” jelas Morgan sambil menatap wajah si kecil Miracle.
Utari bangkit dari pembaringan kemudian berdiri di samping ranjang. Sebenarnya ia sangat ingin berbaring, tubuhnya terasa remuk semua akibat melakukan pekerjaan yang menguras tenaga.
Utari berjalan menuju lemari mengambil sebuah handuk kemudian menyerahkan handuk itu kepada Morgan. “Rambut tuan masih menetes, baju tuan mulai basah,” ucap Utari lemah.
“Ah, karena aku ingin buru buru ke sini. Aku kangen sekali dengan anak mu,” ujar Morgan. Ia meraih handuk itu kemudian mengusapkannya berulang ulang ke kepalannya.
“Sudah, aku bisa menggendong nya sekarang?” tanya Morgan dan dibalas anggukan oleh Utari.
Morgan mengambil Miracle dari atas tempat tidur, ia membawanya sebuah stroler kemudian meletakkan Miracle di sana. Berbagai jenis mainan dari box mainan di berikan kepada Miracle. Bayi kecil itu terlihat tertawa bahagia sambil sesekali berceloteh ria khas bayi kecil yang sedang gembira.
Di atas ranjang, Utari yang kelelahan mulai terlelap. Ia baru bisa merebahkan tubuhnya setelah seharian bekerja. Suara ngorok kecil terdengar, membuat Morgan menoleh ke arah ranjang.
“Mama kamu tertidur sayang,” Morgan menuju ranjang untuk menyelimuti Utari. Wajah Utari yang terlihat lelah, membuat Morgan semakin perihatin akan keadaan Utari.
“Aku akan mencari laki laki itu dan memberinya pelajaran. Dia tega membuat mu seperti ini?Ti dak memliki rasa tanggung jawab sedikitpun, aku harus memberinya pelajaran,” ujar Morgan sambil terus berdiri menatap Utari.
…..
Sementara itu dirumah utama, Wiwi dengan langkah seribu menuju ruang tengah dimana Selvie sedang duduk.
“Nyah, tuan di kamar mereka lagi,” lapor Wiwi.
“Katanya nggak punya waktu ke rumah papa, tapi bermain main di kamar perempuan murahan itu punya waktu,” ujar Selvie geram.
“Makanya Nyah, lakukan saja malam ini. Obatnya sudah saya dapatkan,” ujar Wiwi.
“Sudah? Cara nya gimana?” tanya Selvie antusias.
“Malam ini tuan pasti makan malam di rumah, masukkan satu kapsul obat ke dalam air tuan.” ucap Wiwi.
“Kalau dia nggak makan dirumah?” tanya Selvie ragu.
“Masih banyak kesempatan nyah. Air putih di ruang baca tuan, dan air putih di kamar bisa di campurkan bubuk obat itu. Tapi nyonyah harus ingat, jangan sampai nyonyah yang meminumnya,” ujar Wiwi.
Selvie mengangguk paham. “Ya sudah berikan obat nya,” pinta nya.
Wiwi menyerahkan satu botol obat ke tangan Selvie. Saat itu juga selvie langsung menuju dapur, ia meminta chef agar memasak menu kesukaan Morgan saat itu juga.
Pukul 7.30 malam, makan malam sudah terhidang di atas meja. Morgan masuk dari arah belakang melewati dapur.
“Tuan makan malam sudah siap,” ucap Wiwi yang memang sudah menunggunya di dekat ruang makan.
“Saya kenyang,” sahut morgan sambil terus berlalu masuk ke dalam rumah.
Mendengar hal itu, Selvie langsung mengejarnya.
“Mas, koki sudah menyiap kan makanan kesukaan mas. Nggak nyicip dulu?” tanya nya.
“Saya kenyang, tadi sudah makan bersama investor. Kamu makanlah,” ujar Morgan.
“Kalau begitu, aku buatkan mas minuman panas,” ucap Selvie.
Karena Morgan tidak makan malam itu berarti obat dari Wiwi akan di campurkan ke dalam kopi nya. Plan B nya segera ia lakukan. Selvie membawa segelas kopi ke dalam ruang kerja Morgan.
“Mas, ini kopi nya. Langsung di minum selagi hangat mas.”
“Makasih,” sahut Morgan.
“Dia seprtinya akan meminumnya, aku harus siap siap ke kamar sekarang. Sebuah lingrie transparan?”
Selvie dengan penuh semangat meninggalkan ruang kerja Morgan. Ia menuju kamar, mengenakan lingrie hitam transparan, mengenakan parfum dan dandan minimalis. Namun hingga dua jam kemudian, Morgan tak kunjung masuk ke dalam kamar.
Selvie pun kembali keruang kerja Morgan, dengan mengenakan sebuah bathrobe.
Kopi dalam cangkir telah menjadi dingin, dan kemungkinan Morgan belum mencicip nya sedikit pun.
“Mas, kopinya tidak di minum?” tanya Selvie.
“Iya, masih terlalu awal. Aku tidak berniat begadang malam ini, karena besok meeting awal pagi,” ujar Morgan.
“Ya sudah, aku akan membawanya keluar,” Selvie membawa keluar kopi dari ruang baca. Ia menuju dapur mengganti kopi dengan dengan segelas air putih.
“Semoga ia akan meminum air putih ini.” gumam Selvie kemudian kembali ke ruang baca.
.
.
.
Bersambung…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Mr Crabb
aku next
2023-01-20
1