“Kamu tinggal bersama laki laki? Jadi ini alasan nya kenapa kamu sangat ingin kuliah di luar kota?” tatapan Morgan membulat, ia marah sekaligus kecewa dengan apa yang baru saja di lihatnya.
“Aku menyukai Rayhan, dia pria yang baik. Begitu juga Rayhan, dia menyukai diriku apa adanya,” jawab Utari sambil tertunduk, ia tak berani menatap wajah Morgan.
“Tari, sadarlah. Jangan melakukan hal ini, ini perbuatan salah. Bagaimanapun tinggal berdua dengan seorang pria dalam kamar adalah hal yang salah. Ayo kembali lah bersama ku ke Jakarta aku akan mencarikan tempat kuliah yang lebih baik buat mu. Aku akan membiayai segala keperluan mu selama kuliah,” bujuk Morgan seraya menyerahkan sebuah boneka berpita kepada Utari.
“Ini apa?” tanya Utari melihat boneka di tangannya.
“Ini hadiah ulang tahunmu. Maaf aku lupa akan hari ulang tahunmu, waktu itu-“
“Aku bukan anak kecil lagi tuan, aku sudah tidak bermain boneka,” potong utari seraya menyerahkan kembali boneka ke tangan Morgan. “Sebaiknya tuan kembali sekarang, aku mencintai Rayhan, aku akan hidup bersama nya. Tuan tidak lerlu khawatir akan hidup ku. Aku sudah besar, sudah bisa mengambil keputusan untuk diriku sendiri,” ucap Utari.
“Kembali lah bersama ku, aku membutuhkan mu,” ulang Morgan.
“Tuan, aku juga memiliki cita cita ku sendiri. Aku tidak ingin selamanya menjadi seorang pembantu!” ucap Utari tegas.
Morgan mundur selangkah. Ia pun mengangguk. “Benar, kamu benar. Aku tak akan menghalangi dirimu. Aku Akan kembali sekarang,” saat itu juga Morgan berbalik arah, ia pergi dari hadapan Utari.
“Ya, sekarang kamu bukan anak kecil lagi. Kamu bebas memilih jalan hidup mu. Dan… aku tidak pernah menganggap mu sebagai pembantu. Aku.. aku..”
Morgan kembali ke Jakarta dalam keadaan kalut. Ucapan terakhir Utari membuatnya harus mengikhlaskan Utari.
Waktu terus berlalu dan hidup harus terus berjalan. Waktu, tenaga, dan pikiran ia luangkan untuk terus bekerja.
Morgan membesarkan anak perusahan baru yang ia rintis bersama pak Niko hingga masuk dalam pasar saham hanya dalam waktu dua tahun. Perusahan kecil di bawah naungan Milano grup berkembang begitu pesat. Membuat nama Morgan Milano menjadi makin tersohor hingga ke segala penjuru negri. Bahkan kekayaan yang dimiliki nya masuk dalam jajaran 100 orang terkaya dalam negri.
Sebuah pencapaian yang sangat luar biasa. Seorang pemuda tampan berusia 27 tahun dengan segudang pencapaian yang luar biasa.
Sejak itu, sosok Morgan menjadi incaran setiap surat kabar. Berita mengenai dirinya berseliweran sana sini di halaman depan setiap media. Terlebih yang menjadi tajuk berita saat itu adalah mengenai pertunangan Morgan dengan wanita cantik bersama Selvie. Mereka meresmikan hubungan mereka dan akan segera menikah dalam beberapa minggu ke depan.
.
.
.
Di kota Surabaya, di sebuah kamar kos kosan nomor 9. Utari masih asik membuka lembar demi lembar sebuah majalah berita. Wajah Morgan terpajang pada laman depan majalah tersebut. Pertunangan Konglomerat yang menjadi tajuk berita pada pada sampul majalah tersebut.
Setalah selesai mebaca, Utari melempar majalah tersebut ke atas beberapa majalah lainnya yang berisi berita utama yang sama. Sambil mendengus kesal, Utari pun berbaring di atas lantai.
“Dia akan menikah! Selvie wanita yang sangat cantik, latar belakang mereka sama. Sangat serasi,” batin Utari.
Karena kelelahan mata Utari mulai terpejam. Kemudian suara ketukan pintu terdengar.
Tok tok tok.
“Tar, buka tar,” suara Jessie sahabatnya.
Utari bangkit dari pembaringannya membukakan pintu untuk sahabatnya itu.
“Kalian,” mata Utari menatap jengah kedua orang pria dan wanita di hadapannya. Dua orang sahabat yang selalu datang dengan berbagai makanan ditangan mereka.
“Kami bawa makanan Tar,” ucap Jessie lagi.
“Aku tau,” balas Utari lemah. Ia kembali berbaring di atas lantai di ikuti kedua temannya duduk di sampingnya.
“Ada kue, ada nasi lalap dan gorengan. Ayo makan,” ajak Jessie.
Sementara itu Rayhan asik mengotak atik majalah di sebelahnya.
“Ini pria yang waktu itu datang ke sini kan tar?” tanya Rayhan.
“Emm,” jawab Utari yang masih membelakangi kedua temannya.
“Pria apa? Pernah kesini?” tanya Jessie pada Rayhan.
“Iya, sudah lama. Sekitar dua tahun yang lalu, saat pertama kali kita ngumpul di kamar ini, kita masih semester satu.” jawab Rayhan. “Ingat kan waktu kita ngumpul disini, saat itu Utari nggak mau makan makanan yang kamu beli?”
“Pacar Utari yang waktu itu mengira kalian tinggal bersama?” Jessie menarik majalah dari tangan Rayhan. “Dia akan menikah besok,” lanjut Jessie setelah membaca majalah itu.
“Ja jadi gimana dong? Tar, dia akan menikah.” tanya Jessie pada Utari.
“Biarkan saja,” jawab Utari singkat.
“Loh biarkan saja? Kamu nggak Nyesel? Tar kamu masih menyukainya kan? Ayo lakukan sesuatu,” ucap Jessie.
“Melakukan apa? Biarkan saja mereka, aku bukan siapa siapa di mata Morgan. Dia majikan ku,” bentak Utari.
Jessie terdiam. Begitu juga Rayhan, mereka tak berani berucap beberapa saat setelah mendengar ucapan Utari.
“Kalau begitu makanlah. Kamu perlu makan agar, hiks,” suara Jessie tiba tiba terisak.
“Loh, kok kamu yang nangis?” Rayhan tiba tiba kebiingungan melihat Jessie yang mulai menangis.
“Aku sedih melihat Tari Ray, pria yang dia cintai akan menikah. Hiks,” ucap Jessie sambil terisak.
Utari bangkit dari pembaringan, ia memeluk Jessie dan mulai menangis bersama nya.
“Besok aku akan ke Jakarta!”
Mendengar hal itu, Jessie dan juga Rayhan langsung menyemangatinya.
…..
Keesokan harinya Utari terbang menuju Jakarta. Ia tidak datang ke acara pernikahan Morgan, ia langsung pulang ke rumah. Niatnya kembali ke Jakarta hanya untuk mengucapkan selamat kepada majikannya itu. Utari memutuskan akan melupakan pria itu. Ia ikhlas melepaskan Morgan dari hatinya karena statusnya kini adalah suami dari wanita lain.
Setibanya di rumah, rumah terlihat sepi. Setiap orang berada di aula perhelatan acara mewah tersebut. Hingga menjelang malam hari belum ada seorangpun yang kembali ke rumah.
Dengan perut yang mulai keroncongan Utari berjalan ke arah dapur. Ia membuka pintu kulkas untuk melihat bahan apa yang bisa ia kelola untuk makan malamnya itu.
Setelah menumis beberapa menu, Utari mulai menghabiskan seporsi makanan ala kadarnya dengan lahap.
Kemudian dari ruangan depan terdengar suara Krasak krusuk.
“Apakah pencuri?” Utari menatap jam dinding di ruangan makan itu. “Baru jam 7 malam. Apa mereka sudah kembali?” Utari berjalan cepat menuju ruangan depan. Setibanya di sana Morgan sedang berjalan sambil berpegangan pada dinding.
“Tuan,” ucap Utari.
“Haha, bahkan dihari pernikahan ku wajahmu masih saja mendatangiku,” gumam Morgan seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri. “Pergilah, jangan ganggu hidupku. Aku sudah menikah, pergi sekarang juga,” teriak Morgan sambil terhuyung ke arah bufet.
“Tuan,” Utari berusaha menopang tubuh Morgan dan membawanya masuk ke dalam kamar.
“Kamu jahat, tidak bisakah kamu pergi dari hidupku. Kenapa kamu selalu saja muncul begitu saja. Bagaimana aku bisa mengusir mu dari ingatanku?” racau Morgan. Ia terus bicara tak jelas hingga dalam kamarnya.
Kamar yang dihiasi dengan indah. Taburan mawar di atas ranjang dan cahaya remang ruangan kamar, sungguh suasana yang romantis untuk pasangan yang baru saja menikah.
Utari membaringkan tubuh Morgan di atas ranjang empuk. Saat itu juga Morgan menarik tubuh Utari.
“Ijinkan aku memilikimu walau hanya dalam mimpi, aku merindukanmu.” ucap Morgan penuh permohonan. Tatapannya sendu dan kasih, membuat Utari sulit untuk menolaknya.
Kejadian yang pernah terjadi sebelum nya kini kembali terulang. Dikamar yang sama bersama orang yang sama. Penyatuan yang tak bisa di hindari karena rasa saling suka di antara keduanya. Perasaan diluapkan dengan menggebu. Tak ada yang tau perasaan mereka masing masing. Bahkan mereka berdua tak sadar akan perasaan yang mereka miliki, perasaan yang semakin dalam dan semakin berakar di hati mereka.
.
.
.
Bersambung…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
CUKUP T∆U $∆J∆
hadehhhh gmn sih Lo tar 🤕
2024-05-12
1
🔵🍾⃝Ɲͩᥲᷞⅾͧเᥡᷠᥲͣh❤️⃟Wᵃf࣪𓇢𓆸
aku mampir ya thor
balik mampir yok
btw semangat
2023-02-04
2
@Risa Virgo Always Beautiful
ceritanya menarik semangat
2023-02-02
1