Jessie dan Rayhan tak henti hentinya menatap seorang bayi mungil yang tengah berbaring di samping Utari. Ia terlihat begitu tampan, dengan wajah kecil yang sangat menggemaskan.
Tanpa sadar tangan Jessie mulai menggandeng lengan Rayhan.
“Uhhh, anak kita imut sekali sih,” gumam Jessie sambil tersenyum haru.
Mendengar ucapannya itu, mata Utari membola menatap Jessie. “Anak kalian?”
“Miracle akan kami anggap sebagai anak kami juga.” Sebuah pengakuan yang tak sengaja terlontar dari mulut Jessie.
Utari menatap Jessie dan Rayhan bergantian. “Kalian?” tanya Utari seakan tak percaya.
Jessie mengangguk. “Ya, kami sepakat untuk menjalin hubungan percobaan selama tiga bulan kedepan. Jika kami cocok, aku akan membawa Ray bertemu ayah. Aku akan langsung meminta agar bisa segera menikah dengan nya,” jelas Jessie.
“Kalian serius?” tanya Utari seakan tak percaya. Karena ia tau bagaimana mereka selalu bertengkar dimana pun mereka berada. Bak kucing dan tikus, Jess dan Ray selalu tak pernah akur.
“Karena sekarang kami adalah pasangan jadi anak mu akan kami anggap sebagai anak kami juga. Jadi dia bisa memanggilku ibu, dan panggil Ray ayah. Kamu tidak bisa menolak hal itu.” ujar Jessie mantap.
“Kalian serius ingin berpacaran?” tanya Utari masih tak percaya.
“Ya, pacaran uji coba selama tiga bulan,” sahut Jessie lebih yakin.
Utari menggeleng gelengkan kepalanya. Bagaimana ia akan menjadi semakin repot saat keduanya bertengkar. Pertengkaran biasa saja sudah membuatnya pusing kepala, dan ini…
Begitulah kira kira Jessie dan Rayhan melanjutkan hubungan mereka. Karena mereka sudah membulatkan tekat, Utari akhirnya mencoba menerima keputusan mereka dengan harapan, persahabatan mereka akan tetap langgeng hingga mereka tua.
Sejak kehadiran si kecil Miracle, Utari memutuskan berhenti bekerja di salon. Ia hanya akan menerima job sebagai editor free lance dari studio foto tempat ia biasa bekerja. Walaupun dengan penghasilan sedikit, namun lumayan untuk menambah uang makannya bersama si kecil.
Hari hari berlalu. Utari menikmati kegiatan barunya sebagai seorang ibu. Ia sudah tidak pernah nongkrong dan berleye leye seperti saat masih sendiri.
Mengurus seorang bayi tidak lah mudah, apalagi ia mengurus Miracle seorang diri. Beberapa bulan ini, Jess dan Ray sedang KKN di luar kota. Ia menjadi semakin kesulitan keluar untuk membeli barang keperluan Miracle.
Suatu pagi, tubuh putra semata wayang nya itu demam. Ruam merah menyelimuti seluruh tubuh Miracle. Utari yang panik langsung membawa putranya itu ke rumah sakit.
Miracle menderita demam karena bakteri, namun karena tubuh Miracle masih sangat lemah, ia terpaksa harus di rawat beberapa hari dirumah sakit.
Demi kesembuhan Miracle, Utari harus fokus merawatnya dengan kebih baik, Utari memutuskan berhenti bekerja.
Disaat kebutuhan hidup semakin meningkat, Utari kini tak punya penghasilan tambahan. Uang tabungan nya semakin menipis, bahkan mungkin hanya bisa bertahan hingga dua bulan ke depan.
“Bagaimana ini? Aku tidak bisa meninggalkan anakku kepada sembarang orang. Namun jika aku tetap menjaganya seperti ini, kami akan makan apa kedepannya. Miracle baru berusia empat bulan.” batin Utari.
Setiap hari Utari hidup hanya dengan makan seadanya agar kebutuhan sang bayi selalu terpenuhi. Terkadang terbesit dalam benaknya untuk menghubungi kedua orang tua angkatnya, namun niat nya itu ia urungkan. Untuk beberapa bulan kedepan Utari terpaksa harus meminjam uang kepada Jessie sahabatnya.
.
.
.
Di kediaman Milano…
Pertengkaran hebat sering terjadi dirumah itu. Morgan mulai merasa tak betah berada di rumah nya sendiri. Selvie istrinya terlalu banyak mengatur hal hal yang ia lakukan. Padahal pernikahan mereka hanya sebatas perjanjian mutualisme antara kedua belah pihak.
Selvie merasa marah, dirinya berstatus istri tapi tidak pernah di anggap oleh Morgan. Setiap hari ia akan mencari masalah hanya untuk mendapatkan perhatian Morgan.
“Berikan aku uang 5 miliar,” pinta Selvie sebelum Morgan keluar dari rumah itu.
“5 miliar? Kamu gila? Kamu pikir 5 miliar itu uang sedikit?” ujar Morgan.
“Aku akan mengikuti acara lelang amal bersama ibu ibu pejabat. Aku nggak ingin malu di mata mereka,” ucap selvie.
“Sebulan yang lalu kamu juga menghabiskan uang segitu untuk donasi ke korban banjir. Dan sekarang kamu akan membeli barang di lelangan? Kamu pikir uang perusahan jatuh dengan sendirinya dari langit?” tolak Morgan.
“Aku akan temui Jerry dan minta ia mencairkan uang untuk ku,” ujar Selvie.
“Aku sudah melarang Jerry melakukan hal itu. Lupakan saja lelang amal mu itu, acara itu hanya menjadi ajang pamer, bukan sebuah hal yang berguna,” Morgan pun pergi meninggalkan selvie begitu saja.
Masih pukul 7 pagi namun ia bergegas keluar dari rumah tanpa sarapan. Seatap dengan Selvie hanya membuatnya jengah setiap hari.
Awalnya Morgan berniat perlahan belajar mencintai Selvie, namun tak ada satupun alasan yang bisa ia sukai dari wanita itu. Apalagi sikap selvie semakin menjadi jadi akhir akhir ini.
“Apa aku ajukan cerai saja?” terbesit keinginan dalam hati untuk pisah dengan istrinya itu.
“Cerai, bagaimana bisa cerai. Pernikahan kami saja belum terdaftar di pemerintah. Kami belum melakukan pendaftaran nikah waktu itu, berkasnya saja masih tersimpan dalam laci kantorku,” gumam Morgan dalam hatinya.
Mobil mercy keluaran terbaru itu terus membawa Morgan menuju gedung menjulang tinggi di bilangan Jaksel. Gedung pencakar langit Milano Group, perusahan miliknya sendiri.
Kantor masih terlihat sepi, belum semua karyawan tiba di kantor pagi itu, bahkan sekertaris nya Marina belum berada di ruangannya.
Dengan perut menahan lapar, Morgan menghubungi Jerry melalu ponselnya.
“Jer dimana?”
“Masih dirumah pak,” jawab Jerry.
“Bawakan aku sarapan. Nggak usah beli, bawa apa saja yang ada di rumah mu.” ucap Morgan.
“Nasi Goreng mau?”
“Boleh. Buruan ke sini, aku kelaparan,” jawab Morgan Kemuidan memutus panggilan telponnya.
Selang sepuluh menit berlalu, Jerry tiba diruangan kerja Morgan dengan sebuah kotak bekal ditangannya. Morgan langsung meraih kotak itu dan melahap habis isi didalamnya.
“Kasihan aku melihat dirimu, seperti orang terlantar karna harus mengemis makanan kepada asistennya sendiri,” ucap Jerry.
Morgan mengangguk. “Ya sejak semalam aku belum makan. Dan pagi tadi aku keluar lebih awal dari rumah. Oh ya, semalam aku tidur di ruang kerja. Pokoknya aku hidup seperti seorang pencuri di rumahku sendiri,” Sambil meneguk air mineral, Morgan mengusap perutnya yang kini kenyang. “Thank sarapannya.”
“Ck,” decak Jerry. “Selvie yang seksi dan cantik itu saja tidak bisa menggerakkan hatimu. Mungkin tipe wanita kamu cari seperti peri dari khayangan?” canda Jerry.
“Ah jangan jangan kamu termasuk golongan pelangi? Apa kamu tidak tergiur membayangkan istrimu di atas ranjang?” tanya Jerry.
“Pelangi pala mu,” bantah Morgan. Selama ini wanita yang selalu ia bayangkan diatas ranjang adalah Utari. Mimpi bersama utari terasa begitu nyata, hingga ia tak bisa melupakan bagaimana wajah gadis itu saat menge rang nik mat. Suara des ahannya membuat Morgan semakin blings atan.
“Tok tok tok.”
Suara ketukan pintu tiba tiba menginterupsi percakapan Morgan dan Jerry.
“Ya masuk,” teriak Jerry.
“Pak Jerry, bagian HRD ingin mengkonfirmasi interview dengan karyawan baru hari ini pukul 8.30,” ucap Marina.
“Oke, saya akan ke sana 10 menit lagi,” jawab Jerry.
.
.
.
Bersambung…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻𝘼𝙎𝙍𝙄k⃟K⃠
aku dah mampir ya thor,semangat
2023-02-18
2
🍌 ᷢ ͩˡ Murni𝐀⃝🥀
apakah karyawan baru itu Utari🤔🏃🏃🏃🏃
2023-02-05
1
⭕ BluJoker
Perutnya kentang kaya ponselku
2023-01-12
1