Sebelum Utari menutup pintu kamarnya, Morgan langsung bergerak cepat menghalangi pintu itu.
“Tari, aku akan membawa mu pergi dari sini. Kamu butuh bantuanku,” ucap Morgan sambil mendorong pintu kemudian masuk ke dalam kamar. “Kamu akan terus hidup seperti ini? Bahkan kamu sudah tidak sanggup membayar uang sewa kamar selama beberapa bulan. Apa yang terjadi denganmu?”
“Pergilah tuan, aku tidak butuh bantuan tuan,” Utari memalingkan wajahnya dari pria tinggi dihadapannya.
“Aku sangat malu. Saat aku pamit dari rumah nya, aku dengan sombongnya berkata ingin mandiri dan mengejar cita cita ku. Nyatanya, sekarang aku malah terpuruk seperti ini,” gumam Utari dalam hati nya.
“Pulanglah bersama ku, aku bisa menjaga mu,” lanjut Morgan.
“Menjaga ku? Cih?” desis Utari. Ia teringat kejadian yang membuatnya kini menjadi seorang ibu. Disaat wanita wanita seumuran nya mengejar karir, ia malah terkurung dalam kamar karena harus mengurus seorang bayi. “Bersama tuan malah akan memperburuk keadaan. Pergilah, tuan tidak bisa terus berada disini,” usir Utari.
“Tapi aku mendengar kabar kamu sekarang memiliki seorang bayi,” mata Morgan mencari ke sekeliling kamar, matanya kemudian tertuju ke sebuah box kayu berwarna putih. Dengan langkah cepat Morgan bergerak menuju box itu.
Utari sekuat tenaga menahan tubuh Morgan, namun pria itu sudah berada di depan box menatap Miracle yang sedang tertidur lelap.
“Tuan pergilah, tuan tidak boleh berada disini! Aku tidak butuh bantuan tuan!” Utari berusaha menarik lengan Morgan agar pergi dari situ. Namun pria itu tak bergeming, ia terus menatap bayi yang sedang terlelap. “Aku bisa hidup sendiri, aku tidak ingin menyusahkan siapa pun. Pergi dari sini!” bentak Utari.
“Kamu tega terhadap anak mu? Pulang lah bersama ku. Setidaknya kamu bisa menjaga anak mu sambil bekerja dirumahku. Sampai anak mu bisa sedikit lebih besar, dan kamu bisa mencari pekerjaan yang kamu inginkan,” bujuk Morgan.
Utari terdiam, ia tidak lagi menarik lengan Morgan. Ia teduduk lemah pada kursi disamping box bayi kemudian mulai terisak.
“Aku akhirnya kembali ke sana sebagai pembantu. Tuan Morgan adalah orang yang paling ingin ku hindari dalam hidupku, tapi hanya dia yang bisa membantuku saat ini. Demi anakku. Ya setidaknya sampai anakku berusia setahun kemudian aku akan mencari pekerjaan yang layak. Saat ini aku harus membuang ego dan perasaan ku demi anakku.”
“Melihat kamu menangis seperti ini aku makin harus membawa mu pergi dari sini,” Morgan mengusap kepala Utari perlahan. “Please, Utari. Aku sudah janji pada ayah ku akan menjaga mu. Sebagai maklumat, pulanglah bersama ku,” lanjut Morgan.
Utari mendongak menatap sinis ke arah Morgan.
“Cih, menjaga ku? Bagaimana cara mu menjaga ku, justru dirimu lah orang yang paling berbahaya jika aku terus berada di sisimu,” gumam nya dalam hati.
Lirikan maut Utari membuat Morgan berdecak. “Ckckck, anak mu sangat mirip dengan mu, kalian seperti ingin memakan ku,” ujar Morgan yang saat itu sedang membanding bandingkan wajah si kecil Miracle dan wajah Utari. “Lihat, anak mu melirik kepadaku,” lanjut Morgan.
Menyadari Miracle sudah bangun, Utari langsung menggendong anaknya.
“Shshshhhh, tidur lah lagi. Lalala,” sambil bersenandung Utari menimang nimang Miracle agar kembali tertidur.
Morgan berdiri dibelakang punggung Utari mengintip wajah tampan si bayi. “Dia sangat mirip dengan mu, syukurlah dia tidak mirip ayahnya,” lirih Morgan.
Utari berbalik badan kemudian mundur beberapa langkah.
“Shhhh, seolah tuan tau siapa ayahnya.”
“Pasti pria yang waktu itu berduaan dengan mu di kamar ini kan?” seloroh Morgan dengan ketus membuat si kecil Miracle kembali terbangun.
Mata utari membelalak, Ia menempelkan jari telunjuk nya pada bibirnya sebagai isyarat kemudian kembali bersenandung kecil. “Lalalaaaalaaala.”
Beberapa saat kemudian si kecil Miracle kembali terlelap.
Melihat hal itu Morgan terhentak dan langsung diam. Gerakan jari Utari yang menyuruhnya diam, membuat ia mengatupkan kedua bibirnya dengan rapat. Ia patuh dan tak berani mengeluarkan sepatah kata lagi.
Mata morgan terus mengawasi gerakan Utari, gadis belia itu terlihat sangat lihai mengasuh putra nya. Terkadang ia akan tersenyum saat menatap wajah Miracle. Bergoyang goyang kecil membuat daster pendek yang dikenakannya melambai menampakkan kaki jenjangnya yang sangat indah.
”Ia sangat cantik bahkan saat ia marah. Dengan daster dan rambut yang di gulung asal sambil menimang bayi, Utari terlihat semakin dewasa.”
“Apa yang aku pikirkan, Utari sudah seperti adik bagiku. Otak Mesumku harus di kontrol, apalagi sebentar lagi Utari akan kembili ke rumah. Aku harus bebaskan otak ku dari bayangannya. Ya aku harus bisa.”
Morgan mengambil kursi di samping box kemudian duduk disana. Ia duduk membelakangi Utari yang masih menimang bayinya. Seperti orang bodoh ia duduk menghadap dinding karena tak berani menatap Utari. Setiap gerakan wanita itu terus memicu zat addict dikepalanya. Utari bak Opium yang sangat memabukkan, harus ia hindari namun ingin terus ditatapnya.
“Tuan, tuan,” panggil Utari dengan nada berbisik. Ia sedikit kasihan melihat Morgan yang terus membujuknya pulang. Beberapa saat sebelumnya sambil menimang Miracle, Utari sambil berpikir, alangkah baiknya jika ia menerima tawaran majikan nya itu lagi.
“Ya ya, ada apa?” Morgan terkesiap.
“Saya akan menerima tawaran tuan,” jawab Utari pelan.
“Ya baiklah, kita akan pulang ke Jakarta hari ini juga.”
“Tapi tuan, apa pekerjaan ku dirumah tuan masih sama seperti dulu?” tanya Utari.
“Ya tentu saja,” jawab Morgan dengan yakin.
“Tuan sudah beristri, akan sangat canggung jika aku yang menyiapkan pakaian tuan. Ijinkan aku melakukan pekerjaan lain dirumah tuan,” pinta Utari.
“Selama ini bukan istriku yang mengurus pakaian dan sarapanku,” ucap Morgan.
“Aku tidak akan leluasa membereskan kamar tuan saat istri tuan ada disana, berikan aku pekerjaan yang lain. Atau aku-“
“Baiklah, baiklah, kamu bisa menjadi tukang masak,” potong Morgan.
“Tapi aku nggak pintar masak,” jawab Utari.
Morgan berpikir sejenak. Sudah banyak pelayan yang bekerja dirumahnya sejak ia menikah, Selvie seenaknya mengurus rumah, ia merekrut banyak pelayan hingga tak tau harus menempatkan Utari di bagian apa.
“Aku akan pikirkan tugas kamu setelah kita tiba dirumah.”
“Karena banyak barang yang harus aku siapkan, tuan bisa pulang duluan. Aku akan menyusul setelah semua barang barang ini di packing.”
“Tidak, kita harus pulang bersama. Tinggalkan saja barang barang ini, lagian barang mu ini tidak memiliki tempat dirumah ku. Keperluan bayi mu akan aku siapkan yang baru setelah tiba di sana.”
Utari menuruti Ucapan Morgan. Ada benarnya juga, barang barang dikamarnya itu hanya akan menjadi barang rongsokan jika di bawa ke rumah Morgan. Utari cukup mengemas pakain kemudian pergi dari kota itu.
Tadinya Morgan terbang ke Surabaya dengan perasaan marah dan kecewa. Namun setelah melihat hal yang menimpa Utari, ia menjadi tak tega. Justru ia pulang dengan perasaan lega, ia bisa menjaga Utari dan anak nya. Selama mereka hidup dalam lingkup Morgan, Morgan bisa mengawasi dan menjaga mereka.
.
.
.
Bersambung…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
💗 AR Althafunisa 💗
kenapa ga kerja di kantornya sih
2024-05-11
1
[🦉]Susi Soemarsi
kx nggc ditaruh diapartemen aja gitu..
emang tari nggc takut sama ibuknya tah..
2023-01-23
1
Orang Cantik
Antara sedih dan senang melihat utari pulang
2023-01-12
2