Keesokan harinya, seperti biasa pukul 7.30 Morgan akan berangkat menuju kantornya. Pak Danu sudah memarkir mobil di halaman depan rumah menunggu sang majikannya masuk ke dalam mobil.
“Pagi tuan,” sapa pak Danu seraya berdiri di samping pintu mobil yang sedang terbuka lebar.
“Pagi,” jawab Morgan singkat. Tanpa sengaja matanya tertuju pada seorang pelayan yang sedang menyiram tanaman.
“Apa yang di lakukan Utari, dia sudah bangun?” gumam nya dalam hati.
“Pak Danu tunggu sebentar,” Morgan berjalan menuju arah pelayan itu.
“Utari sudah bangun?” tanya Morgan tiba tiba.
Pelayan yang dibuat kaget melompat sambil melatah, “eh Utari bangun, aku Utari kaget.”
“Saya tanya Utari sudah bangun?” ulang Morgan.
“Itu anu, tuan. Utari sudah bangun,” jawab pelayan latah itu.
“Dia ngapain?” tanya Morgan lagi.
“Tadi subuh Utari membersihkan kamar mandi. Sekarang dia bersama bayi nya sedang di samping rumah tuan,” jawab pelayan itu.
“Di samping?” tanpa butuh jawaban Morgan pun melangkah menuju samping rumah.
Dari kejauhan tampak Utari sedang berdiri di bawah matahari pagi sambil menggendong si kecil Miracle. Morgan bergegas menemui mereka.
“Tari.”
Utari menoleh ke arah datangnya suara. “Tuan? Berangkat kerja awal pagi ini?” tanya Utari karena biasanya Morgan akan berangkat menuju kantornya di atas pukul delapan.
“Sudah biasa ke kantor jam segini,” Jawabnya datar. “Boleh aku menggendong nya?” tanya Morgan.
“Miracle belum mandi tuan, badannya masih bau asem dan dia keringetan sekarang,” ucap Utari.
“Aku tidak tanya dia sudah mandi apa belum. Aku hanya ingin menggendong nya,” Morgan memaksa merebut Miracle dari pelukan Utari.
“Tu tuan, tidak boleh seperti itu. Miracle belum cukup kuat di gendong seperti itu,” Utari berusaha menahan bagian belakang kepala Miracle yang direbut begitu saja oleh Morgan.
“Seperti ini?” tanya Morgan setelah Utari mengatur posisi Miracle bersandar di dada Morgan.
“Ya, tulang belakang nya masih belum terlalu kuat untuk menyangga berat kepalanya. Saat di gendong harus selelu menahan bagian belakang kepala. Atau tuan bisa meyandarkan badannya di dada tuan.” Utari kembali merubah posisi Miracle menghadap ke arah belakang Morgan.
“Wah, dia merasa senang saat bersama ku. Lihat, dia begitu lincah,” ujar Morgan.
“Tuan, tidak sarapan?”
Morgan menggeleng. “Selain ibumu, semua orang di rumah ini terasa asing. Selera makan ku hilang,” jawab Morgan.
Utari terdiam, ia tidak ingin membahas lebih jauh lagi masalah di rumah itu karena ia sudah meninggalkan rumah itu cukup lama.
“Tapi benar juga, rumah ini terasa sangat asing sekarang. Padahal aku tumbuh dan besar dirumah ini. Mbak Eka dan beberapa orang pelayan yang dulu kerja di sini berganti dengan wajah wajah baru. Bahkan ibu ku pun ikut menjadi asing bagi ku,” gumam Utari dalam hatinya.
Morgan asik bermain dan bercengkrama dengan Miracle. Bayi lincah itu terus melompat lompat di badan nya. Bulir bulir keringat mulai menetes deras di dahi dan leher Morgan.
“Sudah cukup main mainnya, tuan berkeringat,” ucap Utari.
“Ya sudah cukup, nanti sore paman akan pulang lebih awal, biar kita bisa bermain lebih lama,” ujar Morgan pada Miracle. “Ini,” Morgan menyerahkan Miracle ke tangan Utari. “Anak baik jangan nakal ya, patuh sama mama,” ucap Morgan lagi. Ia kemudian tersenyum menatap Utari, “Aku berangkat dulu, jaga anak mi baik baik,” pamit Morgan.
“Dia pamit padaku? Hati hati di jalan. Sampai jumpa nanti sore. Apa harus aku balas?”
Utari hanya bisa mematung menatap punggung Morgan yang semakin menjauh. Kata kata yang sudah tersusun dalam benaknya tak bisa ia lontarkan keluar dari mulutnya.
“Waktu berjemur kamu sudah cukup, sekarang waktunya mandi,” ujar Utari sambil berjalan menuju kamarnya.
Sementara itu, dari balik kaca, sepasang mata sedang mengamati Utari dan Morgan. Matanya menyalang disertai gertakan gigi.
“Selama menikah, tak pernah sekalipun ia berpamitan seperti itu padaku. Ia bahkan menatap pembantu itu dengan mesra! Tatapan yang tidak pernah dia berikan kepada ku!” gumam Selvie.
“Wiwi?” teriak Selvie kemudian. “Wiwi, kamu dimana? Apa kamu tuli sekarang?” teriaknya lagi dengan emosi.
“Nyah, dari tadi saya di belakang nyonyah,” sahut Wiwi pelayan kepercayaan Selvie itu. Ia sadar sang majikan sedang tersulut emosi akibat pemandangan yang baru saja di lihatnya. Wiwi pun berusaha mengaduk ngaduk perasaan Selvie.
“Nyah, pelayan itu memang harus di beri pelajaran. Karena tuan baik hati, ia malah ngelunjak. Hanya karena ia memiliki seorang bayi ia menjadi besar kepala,” ujar Wiwi.
“Bayi haram yang tak jelas asal usul itu yang membuat nya besar kepala? Cih,” Selvie mendesis sambil tersenyum.
“Tapi tuan sangat menyukai bayi itu, kemaren sore tuan menghabiskan waktu dua jam dalam kamar mereka. Ia bermain dan tertawa gembira bersama bayi itu,” terang Wiwi.
Selvie mengepalkan jari jemari nya. “Dasar wanita murahan,” umpat nya.
“Nyonya harus melakukan sesuatu,” ujar Selvie.
“Apa yang bisa aku lakukan? Kamu dengar sendiri ucapan Morgan kemaren. Dia akan mengusir kita jika wanita itu pergi dari sini,” ujar Selvie.
“Maksud saya, tuan sangat menyukai anak kecil. Kenapa nyonya nggak berusaha mendapatkannya untuk tuan?”
“Maksud kamu aku mengambil bayi haram itu? Nggak nggak, itu bukan solusi! Yang ada malah aku kena sial!” tolak Selvie.
“Nyah, tentu saja nyonya harus mendapatkan anak dari rahim nyonya sendiri. Anak tuan dan nyonyah tentunya,” ujar Wiwi.
Selvie melotot menatap Wiwi. “Kamu tau pria itu tak pernah melirik ku? Dia bahkan tidak ingin tidur di dekat ku? Bagaimana aku bisa hamil anaknya?” tanya Wiwi.
“Nyah,” Wiwi tersenyum licik atas ide yang terbesit dalam benak nya. Ia kemudian maju beberapa langkah mendekati Selvie kemudian berbisik. “Banyak obat perangsang di jual bebas. Saat tuan pulang dalam keadaan mabuk, saat itu lah kesempatan nyonya.”
Mata Selvie berbinar cerah atas apa yang diucapkan Wiwi. Kenapa ide itu tidak ia lakukan sejak dulu? mungkin saja ia dan Morgan sudah menjadi keluarga sesungguhnya saat ini.
“Bawakan obat itu kepada ku, gaji kamu bulan ini aku double,” ucap Selvie.
“Baik Nyah, secepatnya saya siapkan,” ujar Wiwi kegirangan.
“Oh ya Wi, semua pekerjaan rumah akan di kerjakan oleh wanita murahan itu. Kalian semua hari ini bisa libur. Katakan itu perintah nyonyah,” ujar Selvie.
“Baik Nyah, perintah siap dilaksanakan.” ucap Wiwi penuh semangat.
Sudah beberapa tahun Wiwi menjadi orang kepercayaan Selvie, ia tau persisi seperti apa majikannya itu. Menjadi penjilat tak masalah demi bonus gaji bulanan. Ia terus mengumpulkan pundi pundi uangnya hanya dari menjilat, hasilnya bisa berkali kali lipat lebih banyak dari gaji pokoknya.
.
.
.
Bersambung…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Nur Adam
lnjut
2023-01-18
1