Malam harinya pukul sebelas malam Morgan dan Utari tiba di kediaman Milano. Suasana rumah sudah sepi. Para penghuni pasti sudah terlelap di dalam kamar mereka masing masing.
Karena sudah terlalu larut, Utari langsung membawa si kecil Miracle menuju ke kamarnya.
Keesokan paginya, Utari bangun lebih awal. Seperti biasanya, pada jam jam segitu si kecil Miracle sudah bangun dari tidurnya. Bocah kecil itu mulai rewel karena popok nya yang basah dan jam nya untuk mimik susu.
Kemudian dari arah pintu terdengar ketukan pintu dengan keras.
Tok tok tok.
Utari bergegas menuju pintu, Sukma sang ibu sudah berdiri di sana dengan wajah penasaran akan tangisan bayi yang ia dengar dari kamarnya.
“Ada suara bayi, benar dari kamar kamu.” Sukma menerobos masuk kedalam kamar. Ia mendapati si kecil Miracle agak sedikit rewel. “Anak siapa ini?” tanya Sukma.
“Anakku bu,” Utari langsung mendekap Miracle dalam dekapannya.
Saat itu wajah Sukma tampak marah. Ia kembali bertanya dengan lebih tegas. “Jelas kan anak siapa itu?”
“Anakku, aku yang melahirkannya,” jawab Utari lebih berani.
Tak habis pikir dengan apa yang baru saja di dengarnya, Sukma menjadi naik pitam.
Plak
Sebuah tamparan mendarat dipipi Utari.
“Aku tidak main main, anak siapa yang kamu bawa pulang itu? Sejak kapan rumah ini bebas menerima anak yang tidak jelas asal usulnya?” mimik Sukma di penuhi amarah, nada geram melengking yang terlontar keluar dari mulutnya membuat semua pelayan terbangun dan berkumpul di depan pintu kamar Utari.
“Sudah aku katakan, ini anak ku bu. Aku yang melahirkan nya. Mana mungkin aku berbohong tentang keberadaannya.”
“Dimana ayahnya? Siapa ayahnya? Jangan bilang kamu melahirkan anak tanpa suami. Kamu hamil diam diam tanpa pertanggung jawaban seorang suami kemudian pulang ke rumah ini dengan membawa aib bagi kami.”
Mendengar ucapan ibunya, Utari tertunduk. Ia malu sekaligus sedih diperlakukan seperti itu oleh ibunya. Ia tau ibunya akan marah saat tau ia memiliki anak, tapi ia tidak menyangka tindakan ibunya akan seperti itu.
Melihat Utari tertunduk, Sukma langsung memukul punggung Utari berulang ulang. Membuat si kecil Miracle menangis kencang.
“Pergi, pergi dari sini. Aku tidak pernah mendidik mu seperti ini. Sudah aku duga, kamu hanya akan menjadi aib bagi keluarga ku. Bawa pergi dari sini anak mu, jangan membawa kesialan mu ke rumah ini.” Sukma menarik tubuh Utari keluar dari kamar. “Pergi, pergi dari sini. Kamu tidak boleh ada disini.”
Utari menangis sejadi jadi nya. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat untuk ia pulang saat sedang kesulitan ternyata tidak bisa menerimanya. Sang ibu terus mendesaknya agar segera pergi dari rumah. Utari terus di dorong Sukma hingga ke halaman rumah.
Keributan itu terdengar hingga ke rumah utama. Suara tangisan Miracle memecah keheningan pagi itu. Hingga sosok sang tuan rumah muncul.
“Ada apa ini?” hardik Morgan ketika melihat Utari diperlakukan kasar oleh Sukma.
“Maaf tuan, saya tidak mendidik anak saya dengan benar. Dia berani membawa pulang aib ke rumah ini,” ujar Sukma besar kepala. Dengan angkuh nya ia terus mendorong Utari, merasa perbuatannya itu akan dibenarkan oleh Morgan.
Namun saat itu juga Morgan menarik Utari, ia memeluk nya yang hampir terjatuh akibat desakan terus menerus dari Sukma.
“Hentikan. Hentikan aku bilang hentikan,” bentak Morgan. Matanya membelalak menatap Sukma yang terus mendorong Utari. Kemudian semuanya terdiam, terlihat ketakutan pada wajah mereka, Morgan terlihat sangat marah.
“Aku yang membawanya pulang ke sini. Susah payah aku membujuk nya, kamu malah ingin mengusirnya dari sini. Mulai sekarang Utari akan tinggal disini. Dia bisa melakukan apa pun disini, jika ia tidak bisa bekerja jangan memaksanya, ia memiliki bayi yang harus ia rawat.” Morgan menatap Sukma kemudian menatap satu per satu pembantu yang berdiri di halaman itu. “Tugas Utari dirumah ini adalah memantau pekerjaan kalian yang kurang becus itu,” tegas Morgan.
Sukma serta para pelayan yang berdiri di situ diam tak berani membantah. Selvie yang baru saja tiba di situ kebingungan akan apa yang terjadi di awal pagi itu. Tak pernah ia melihat Morgan semarah itu. Morgan juga tak pernah mengatur urusan rumah tangga.
“Ada apa ini?” tanya Selvie sambil menatap sebelas pelayan yang berdiri berjejer sambil menunduk.
“Mulai saat ini Utari akan tinggal, tidak ada yang boleh mengusirnya dari rumah ini. Atau aku akan mengusir orang itu keluar dari sini.”
Morgan mendekati Utari yang tengah berdiri menimang nimang si kecil Miracle. Bayi itu sudah terlihat lebih tenang, begitu juga Utari. “Masuk lah, istirahat di kamar mu.” Morgan kemudian menatap pelayan pelayan itu termasuk Sukma.
Utari kemudian berjalan kembali masuk ke dalam kamar nya.
Sejak kejadian itu, setiap pelayan di rumah itu tak ada yang berani menekan Utari termasuk Sukma ibunya.
Siang harinya, sebuah mobil pick up bermuat perlengkapan bayi tiba dirumah itu. Morgan membeli semua keperluan Miracle mulai dari perlengkapan makan, tempat tidur dan pakaian.
Ia memperlakukan Utari seperti orang special di rumah itu. Membuat setiap pelayan menjadi iri pada Utari.
Di teras dapur beberapa pelayan berkumpul disana. Tangan mereka sibuk mengupas bawang disertai bibir yang juga ikut sibuk membicarakan Utari. Salah seorang pelayan kepercayaan Selvie ikut nimbrung di situ. Mereka sepakat untuk protes kepada nyonya rumah mereka terkait tuan Morgan yang terlalu membeda bedakan pelayan. Utari memang sudah melayani tuan sejak ia kecil, namun Utari bukan siapa siapa di rumah itu, mereka tidak ingin melayani nya seperti mereka melayani tuan dan nyonya rumah.
Wiwi pelayan kepercayaan Selvie langsung memprovokasi sang majikan mengenai tuan Morgan yang terlalu mengspesialkan Utari. Wiwi bahkan sengaja melebih lebih kan cerita agar Selvie ikut membenci Utari.
Karena tersulut amarah, Selvie memanggil Sukma dan juga Utari ke ruangan baca.
“Ada apa Nyah,” ucap Sukma yang terlebih dahulu tiba di situ.
“Anak perempuan mu itu, siapa namanya?” tanya Selvie rada ketus.
“Utari Nyah.”
“Disiplinkan anak mu, karena kamu kepala asisten rumah tangga di sini jangan membeda bedakan anak mu dengan pelayan lain disini. Mulai besok anak mu yang akan bertugas membersihkan semua kamar mandi dirumah ini. Uang gaji nya harus di potong karena perlengkapan bayi yang dibelikan suamiku adalah barang barang mewah,” ujar Selvie panjang lebar.
“Berapa gaji yang harus saya berikan kepadanya?” tanya Sukma.
“1 juta.”
“Baik Nyah.” ucap Sukma terpaksa patuh. Biasanya ia akan memotong separuh dari gaji Utari dengan alasan biaya keperluan sehari hari. Sebelumnya gaji Utari senilai 4 juta, sekarang hanya senilai 1 juta, jika ia potong lagi maka Utari hampir tidak mendapatkan gajinya.
Kemudian Utari tiba di ruangan itu.
Selvie menatap Utari dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Benarkah suamiku yang menjemput kamu di Surabaya?” tanya Selvie.
Utari mengangguk.
“I’m watching you. Ingat kamu hanya pembantu di rumah ini. Jangan merasa besar kepala karena suamiku baik kepada mu. Sadar diri apa posisi mu dirumah ini dan berkaca lah betapa murahnya harga dirimu. Seharusnya kamu dan anak mu tidak boleh berada disini!” ujar Selvie. Kata kata menohok itu tentu akan membuat Utari sadar akan siapa dirinya.
“Bu Sukma, arahkan anak mu itu. Tugasnya adalah membersihkan kamar mandi sebelum pukul enam pagi. Khusus kamar mandi kami dibersihkan pukul tiga atau pukul empat sore. Kamu ibunya, jadi aku akan minta tanggung jawabmu atas pekerjaan yang dilakukannya,” ucap Selvie.
“Baik nyah.” Sekali lagi Sukma menunduk dengan patuh.
Selvie mengangkat kepalanya dengan angkuh, ia menatap gadis cantik yang belum di poles di hadapannya. Ia pun meninggalkan ruangan itu tanpa sepatah kata lagi.
.
.
.
Bersambung…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
💗 AR Althafunisa 💗
Ibu angkatnya juga benalu, dasarrr
2024-05-11
1
X'tine
dasar nyonya gak tau diri,, belum kena karma apa sama othor.../Panic/
2023-09-28
0
⭕ BluJoker
Bab ini hampir semua orang marah"... aku duduk di pojok aja
2023-01-22
1