Sepeninggal Morgan ke kantor pagi itu, Utari masih terus mencari di dalam kamar Morgan. Ia masih ragu soal tak memakai under wear nya semalam. Bahkan Utari berencana akan bertanya kepada Morgan soal soal cela na dalam miliknya secara langsung.
Namun hingga beberapa hari kedepan Morgan semakin terlihat sibuk. Ia pulang hanya untuk tidur kemudian keluar awal paginya untuk mengecek proyek pembangunan anak perusahan yang baru saja ia rintis. Utari jadi tak punya waktu untuk membahas pakaian dalam, ataupun hal lainnya kepada Morgan.
Hari hari berlalu, Utari pun menjadi sibuk. Setelah mengukuti seleksi ujian masuk di beberapa universitas terkemuka, Utari lolos tes di semua universitas yang ia daftar. Ia harus memilih sebuah universitas terbaik untuk ia melanjutkan pendidikannya kedepan. Ia berencana meminta pendapat Morgan mengenai universitas mana yang sebaiknya ia pilih.
Malam harinya, setelah penantian panjang, akhirnya suara klakson mobil terdengar dari arah depan. Utari bergegas menuju rumah utama untuk menemui Morgan.
Setibanya di sana, Morgan tidak sendiri. Ia sedang bersama Jerry asistennya membahas sesuatu di ruangan kerjanya.
Pintu tidak tertutup rapat, dari luar pintu Utari bisa mendengar jelas percakapan mereka. Pembahasan panjang mengenai akuisisi perusahan, hingga para rekan bisnis. Percakapan mulai beralih ke hal pribadi Morgan, dan Utari masih setia berdiri di sana sambil asik mendengar obrolan mereka.
“Kamu sudah mengambil keputusan mengenai permintaan pak Niko?” tanya Jerry serius. Suara mereka mulai meredup sehingga Utari harus maju beberapa langkah agar bisa mendengar lebih jelas percakapan Morgan dan Jerry.
“Aku tidak merasa yakin. Selama ini aku menganggap Selvie sebagai sahabat.”
“Tapi, pak Niko terlihat sangat antusias akan hubungan kalian,” imbuh Jerry.
“Ya mungkin aku harus menerima tawaran nya. Aku berhutang budi pada paman Niko. Aku akan menerima tawaran pertunangan nya. Lagi pula, aku harus melakukan hal itu agar fondasi anak perusahan yang baru kami rintis semakin kuat,” ucap Morgan terdengar lemah.
Mendengar percakapan mereka, Utari mundur perlahan. Kata kata pertunangan Morgan dan Selvie menyayat hatinya.
“Kenapa aku harus sedih? Aku bukan siapa siapa nya!”
Utari berlari cepat meninggalkan rumah utama itu. Ia kembali ke kamarnya. Bagaimanapun ia hanyalah pembantu di rumah itu. Ia tidak bisa menyimpan perasaan apa pun kepada majikan nya.
Malam itu juga Utari memutuskan untuk meninggalkan Jakarta. Ia akan melanjutkan kuliahnya di Surabaya. Sebuah universitas bergengsi di kota Surabaya akan membuatnya jauh dari Morgan.
Beberapa hari terakhir bayangan Morgan terus menghantui pikirannya, berkuliah di Surabaya adalah pilihan terbaik yang harus ia ambil agar bisa menghindari pria yang akan bertunangan itu.
Keesokan paginya, Utari sudah menunggu ibunya di depan pintu kamar.
“Bu, ada yang ingin Tari bicarakan dengan ibu.”
“Pagi pagi begini? Cepat katakan, ibu dan mbak Eka akan ke pasar.”
“Ayah sudah pulang?” tanya Utari.
“Ayah mu belum pulang. Dia akan pulang setiap dua minggu. Tuan muda menugaskan nya berjaga di gudang konstruksi. Ada apa?” tanya Sukma sedikit mendesak.
“Utari akan kuliah di universitas MT di Surabaya,” ucap Utari.
“Surabaya? Jauh sekali. Ngapain kuliah jauh jauh kesana? Pekerjaan kamu gimana?” ucap Sukma agak ketus.
“Tari mengambil jurusan design dan jurusan design grafis universitas MT adalah yang terbaik di Indonesia.”
“Tapi, bukannya ibu menyuruhmu kuliah di universitas biasa saja. Uang pendaftaran siapa yang akan bayar? Uang bulanan kamu?”
“Tabungan Utari cukup bu. Ibu tidak perlu memikirkan soal uang. Di sana Tari akan bekerja part time untuk keperluan sehari hari. Tari nggak akan merepotkan ibu soal biaya kuliah Tari.”
“Benarkah? Tapi kamu belum minta pendapat tuan Morgan, nanti siapa yang akan menyiapkan keperluannya? Ia tidak suka sembarangan orang masuk ke dalam kamarnya.”
“Tari akan bicara dengan tuan, tuan pasti akan setuju. Bukankah tuan sendiri yang menyuruh Tari kuliah. Tidak mungkin Tari terus menerus menjadi pembantunya.”
“Ya sudah kamu ngomong sendiri, ingat ibu tidak akan mengeluarkan uang sepeserpun untuk membiayai kamu!”
“Iya bu. Nanti ibu tolong sampaikan ke ayah. Pekan depan Tari akan berangkat ke sana,” lanjut Utari.
“Pekan depan? Cepat betul. Ya sudah terserah kamu.” Sukma pun bergegas pergi dari situ. Ia harus menuju ke pasar pagi untuk mendapatkan daging dan ikan segar dari para nelayan.
Sementara itu Utari langsung menuju rumah utama, menyiapkan sarapan untuk Morgan. Utari berniat membicarakan rencana kepada Morgan pagi itu juga sebelum Morgan berangkat ke kantornya.
Di meja makan, Morgan terlihat lebih banyak diam. Semenjak sibuk dengan pekerjaan barunya ia menjadi lebih banyak diam.
“Tuan.”
“Eemm,” sahut Morgan singkat.
“Saya sudah memutuskan akan berkuliah di Surabaya.”
Akhirnya Morgan mengangkat kepalanya. “Surabaya?”
“Saya diterima di universitas MT, jurusan design grafis disana adalah yang terbaik. Saya memutuskan akan kuliah di sana.”
Morgan terdiam sejenak.
“Kamu yakin? Kenapa nggak kuliah di Jakarta saja. Lebih dekat dengan rumah.” tanya Morgan.
Utari menganggukkan kepalanya dengan tekad dalam hatinya. “Saya ingin belajar mandiri, saya juga tidak ingin selamanya bekerja sebagai pembantu. Saya ingin mencoba pekerjaan lainnya,” jawab Utari mantap.
“Padahal selama ini aku tidak pernah menganggapnya sebagai pembantu. Aku tidak pernah menyuruhnya melayaniku. Aku hanya merasa nyaman jika dia yang berada di sampingku dan merawatku.” gumam morgan dalam hatinya.
Suasana hening sejenak. Wajah Morgan terlihat sangat suram.
“Akhir akhir ini ia terus menghindariku. Apa ia marah hingga harus kuliah sejauh itu? Ta tapi mungkin ada baiknya juga. Melihatnya setiap hari membuatku terus memikirkan mimpi itu. Aku tidak bisa tenang setiap mengingat hal itu. Bagaimana pun Utari sudah seperti adik bagiku.” gumamnya lagi.
“Baiklah, aku mengijinkan. Nanti kamu berikan detail pendaftarannya. Aku akan berikan uang dan semua keperluan kamu disana.” Saat itu juga Morgan mengakhiri sarapannya, ia bergegas pergi dari hadapan Utari.
“Baguslah. Tuan Morgan sudah mengijinkan. Sebaiknya aku berangkat secepatnya ke Surabaya. Banyak yang harus aku urus, mulai dari mencari kos kosan dan Membeli perlengkapan selama aku berada di sana.”
.
.
.
“Ada apa dengannya. Dia sudah berangkat? Padahal dia baru mengatakan akan kuliah di surabaya tiga hari yang lalu. Kenapa dia buru biru ke sana?” tanya Morgan dengan mimik marah.
“Itu tuan, tari masih harus mencari kos kosan. Ia juga memerlukan perlengkapan untuk tinggal. Oh iya, juga ada ujian tes masuk dan urusan administrasi lainnya,” bela Sukma ibu Utari.
“Padahal aku sudah mengatakan akan membayar uang pendaftarannya. Ia tidak mengatakan apa pun dan pergi begitu saja,” Morgan meletakkan gelas dengan kasar di atas meja kemudian pergi begitu saja meninggalkan Sukma yang masih berdiri menunduk.
“Ada apa dengan bocah itu? Apa dia sedang marah?” Apa aku sudah melakukan kesalahan?”
Sepanjang perjalanan menuju kantor pikiran Morgan di penuhi berbagai pertanyaan. Sikap Utari yang tiba tiba berubah, ia seakan sengaja pergi untuk menghindar dari Morgan. Bocah cerewet yang sangat cerewet itu sebulan terakhir memang sudah tidak pernah bercuit ciut di kamarnya membangunkan tidurnya setiap pagi.
“Ya pasti dia sedang marah,” Morgan meletakkan tas laptopnya dengan kasar di atas meja Marina.
“Pak ada apa?” tanya Marina si gadis paruh baya cantik sekertaris Morgan.
“Tanggal berapa sekarang?” tanya Morgan.
“Tanggal 28 pak,” jawab Marina.
“Juni?”
“Bukan pak, Juli.”
“Juli? Sekarang bulan Juli? Kenapa aku melupakan bulan Juni? Pesankan tiket ke Surabaya sekarang.”
“Sekarang pak?”
“Ya sekarang, secepatnya.”
“Utari pasti marah karena aku tidak memeberikan hadiah ulang tahun nya. Kenapa? Kenapa aku bisa lupa. Ya, malam saat aku mabuk berat setelah menjamu Mr. Yamamoto. Malam itu 26 Juni adalah ulang tahun Utari.”
Saat itu juga Morgan terbang menuju Surabaya. Ia langsung menuju kos kosan dimana Utari tinggal.
Morgan berjalan cepat melewati koridor menuju kamar nomor 9. Ia akan segera bertemu dengan wanita yang selalu menghantui benaknya akibat mimpi tak masuk akal. Ia tidak perlu lagi menghindari Utari hanya karena mimpi yang terus membuat hatinya berdesir.
Tok tok tok
“Masuk lah Jess,” teriak Utari dari dalam kamar.
Saat itu Morgan langsung membuka pintu kamar. Ia tercengang melihat seorang pria di dalam kamar Utari. Matanya menyorot tajam wajah Rayhan yang tengah duduk disamping Utari.
“Siapa Tar?” tanya pria itu yang adalah sahabatnya Rayhan.
“Dia majikan ku, tunggu sebentar,” jawab Utari pada pria itu.
Utari keluar dari kamar, ia menarik tangan Morgan menuju ujung koridor. Morgan yang seperti tersengat listrik masih terdiam. Ia menurut kemana Utari akan membawanya.
“Baru beberapa hari dia meninggalkan rumah, dia sudah membawa laki laki tinggal bersama di dalam kamar kos kosannya? Utari, kamu kenapa seperti ini?”
“Laki laki itu pacarmu?” tanya Morgan.
“Ya!”
.
.
.
Bersambung…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
CUKUP T∆U $∆J∆
astaga ibu😌
2024-05-12
1
@Kristin
Hadir
2023-02-13
1
@Risa Virgo Always Beautiful
aku mampir nih
2023-01-15
1