Utari mulai mengerjakan tugas nya membersihkan kamar mandi pukul 3 sore itu. Saat Miracle sedang terlelap ia bergegas menyelesaikan tugasnya.
Setelah pekerjaan nya selesai, Utari keluar dari kamar itu. Ia segera keluar dari rumah Utama menuju belakang rumah.
“Utari,” panggilan terdengar dari arah samping Rumah.
“Tuan?” Utari berbalik badan mencari sumber suara.
Benar saja, yang memanggilnya barusan adalah Morgan. Pria itu tengah berlari kecil menghampiri Utari.
“Tuan, ada apa?” tanya Utari.
“Semua perlengkapan bayi sudah sampai kan? Apa masih ada lagi yang kamu butuhkan?” tanya Morgan.
“Sudah lebih dari cukup tuan, terima kasih,” ucap Utari.
“Ah biar aku sendiri yang melihat, siapa tau masih ada yang kurang,” Morgan berjalan mendahului Utari menuju kamarnya.
Utari menyusul di belakang Morgan hingga tiba di kamarnya.
“Kamu meninggalkannya sendiri seperti ini?” tanya Morgan penuh khawatir.
Utari mengeluarkan sebuah benda dari kantong baju nya. “Ada baby monitor, saya akan tau jika ia menangis,” ujar Utari kemudian menujuk sebuah monitor yang teretak di atas meja.
“Jangan terlalu sering di tinggal bisa kan, kalau di gigit nyamuk gimana?” ujar nya lagi.
“Satu jam sebelum tidur sudah saya semprot obat anti nyamuk tuan.”
Morgan mengangguk paham. Ia mengamati Miracle sambil tersenyum kecil. “Kapan dia akan bangun?” tanya nya.
“Setengah jam lagi, atau mungkin lebih cepat, tapi sebelum jam lima saya akan membangunkannya,” jawab Utari.
Tok tok tok
Suara ketukan dari arah pintu yang sedang terbuka lebar. Di sana, pak Danu sopir pribadi Morgan sedang berdiri di ambang pintu dengan sebuah kardus besar ditangannya.
“Neng Utari, bapak taro di mana ini?” tanya pak Danu.
“Pak Danu? Itu apa pak?” tanya Utari sambil berjalan menghampiri pak Danu. “Letakkan di sini pak,” ujar Utari sambil membantu pak Danu dengan kardus besar yang terlihat kewalahan itu.
“Tuan tadi mampir di toko perlengkapan bayi. Itu untuk dedek bayinya neng,” ucap pak Danu yang sudah akrab dengan Utari sejak kecil.
Utari berbalik menatap Morgan, ia ingin protes atas apa yang baru saja di beli pria itu. Namun ia tak bisa berkata kata, tubuh pria itu sudah masuk separuh nungging ke dalam box dimana Miracle sedang terlelap.
“Bapak ngapain?” tanya Utari.
“Anak mu memasukkan jari ke dalam mulut, bisa sakit perut,” Morgan berhasil melepas jempol Miracle namun saat itu juga Miracle mulai menangis besar. Morgan kebingungan atas apa yang di lakukannya.
“Utari, kenapa dia.” Dengan panik Morgan berusaha membujuk Miracle. “Shhshshssss, eh anak baik, jangan nangis, ini paman kembalikan jempol kamu, ssshhshsss,” bujuk Morgan sambil meletakkan kembali jempol kedalam mulut Miracle.
Saat itu juga Miracle langsung diam.
“Jempol di **** gitu gak bahaya ya?” tanya nya.
“Kalau jempol tuan yang di **** ya bahaya,” ucap Utari asal.
“Jempol ku? ngapain di ****. Kamu bisa aja.” senyum manis keluar begitu saja dari wajah jarang senyum itu.
Miracle yang sudah bangun langsung dikeluarkan Utari dari dalam box nya.
“Berapa usia dedek bayi nya neng?” tanya pak Danu yang masih berdiri di situ.
“Dua minggu lagi 6 bulan,” jawab Utari.
“Kata orang punya anak di usia muda lebih baik, agar saat usia tua anak anak sudah besar semua,” ujar pak Danu.
“Pak Danu sudah menikah kan? Sudah punya anak?” tanya Utari yang masih memeluk Miracle.
“Bapak menikah di usia tua, untung saja masih dikaruniai keturunan, anak bapak sekarang berusia satu tahun setengah,” ujar pak Danu.
“Makanya bapak suka mewanti wanti tuan, seharusnya sudah bisa mengejar target untuk segera punya momongan,” lanjut pak Danu.
Morgan melirik pak Danu tajam. “Jangan bahas hal itu dengan saya, pak Danu tau saya tidak punya waktu memikirkan anak,” ujar Morgan.
“Haha, buktinya tuan punya waktu singgah di toko mainan tadi. Usia tuan sudah tidak muda lagi, usia 29 tahun seharusnya sudah punya 2 anak,” ujar Pak Danu kepada Morgan, ia sudah menganggap Morgan seperti keluarganya. Pak Danu sudah bekerja di rumah itu sejak Morgan berusia 12 tahun.
Begitu juga dengan Morgan, ia menghormati pak Danu seperti menghormati orang tua sendiri. Nasihat pak Danu akan terpatri di hatinya namun untuk memilik anak bukan hal gampang untuk nya. Karna itu artinya ia harus tidur dengan Selvie wanita yang tidak pernah ia cintai.
“Saya akan pikirkan saran pak Danu, kalau saya sudah siap punya bayi, Miracle orang pertama yang akan saya kabari,” sahut Morgan asal.
Tanpa sadar, saat Morgan bicara, mata Miracle akan tertuju padanya.
Mendengar namanya di sebut bayi itu tertawa. Ia seolah sedang bercengkrama dengan Morgan.
“Oh ya, Miracle kelak akan jadi orang kepercayaan paman, kamu akan jadi orang penting buat paman. Miracle? Ini Miracle ya?” lanjut Morgan, namun kali ini ia sedang berbicara dengan si kecil Miracle. Dengan nada yang di buat buat, Miracle tertawa terbahak bahak seketika.
Pak Danu dan Utari ikut tertawa di buatnya.
Hingga beberapa saat, Morgan masih asik bermain dengan Miracle. Ia akan bercerita panjang lebar, dan bayi kecil itu akan menanggapinya dengan celotehan celotehan tak jelas.
Sudah hampir dua jam morgan berada di ruangan itu. Bu Sukma kemudian tiba di situ sambil mengetuk.
Tok tok tok
“Tuan nyonya sudah pulang,” lapor bu Sukma.
Morgan tak menanggapi, ia sibuk sendiri memegang jemari si kecil Miracle.
“Tuan akan makan malam di rumah?” tanya bu Sukma.
“Boleh, sudah lama aku tak pernah makan makanan rumah,” sahut Morgan.
“Ada menu yang ingin tuan makan, biar pelayan akan segera siapkan,” lanjut bu Sukma.
“Masak apa saja boleh,” sahut Morgan.
Setelah jawaban singkat itu, Sukma pun pergi dari situ. Ia tak ingin banyak tanya lagi, ia tau jika jawaban seperti itu, artinya suasana hati Morgan lagi baik. Tapi jika ia pilih pilih makanan, artinya majikannya itu lagi sensitif soal pekerjaan di kantornya.
“Bapak juga pamit, bapak akan menunggu di pos depan, mari tuan, mari neng Tari,” pamit pak Danu kemudian pergi dari ruangan itu.
Morgan masih asik memegang jemari Miracle, jemari kecil dan lembut itu membalas pegangan tangan Morgan. Seperti sebuah keajaiban, dalam sekejap Miracle berhasil menarik perhatian Morgan.
“Utari, boleh aku mencium nya?” tanya Morgan.
Utari diam sejenak, sebenarnya sejak tadi ia sudah merasa risih. Berada dalam jarak sedekat itu dengan Nirgan membuatnya sesak.
“Te tentu saja,” jawab Utari spontan, ia berusaha terlihat biasa saja. Tak ada alasan untuk ia menolak permintaan Morgan. Toh yang ingin di ciumnya adalah Miracle.
Morgan mulai mendekati wajah Miracle yang saat itu tengah bersandar di pipi Utari.
Deg
Detak jantung Utari berdetak kencang, seakan yang akan di cium Morgan saat itu adalah dirinya.
Perasaannya campur aduk, setelah sekian lama akhirnya Utari kembali menatap Morgan dari jarak yang sangat dekat.
Saat itu kecupan mendarat di pipi Miracle, namun mata Morgan sedang menatap Utari. Tatapan sendu yang menyiratkan sejuta makna. Tatapan yang sangat intens. Dalam sepersekian detik, tatapan itu mampu membuat darah berhenti mengalir, Utari berhenti bernafas. Detak jantung yang makin menggila seakan ingin melompat keluar dari tubuhnya dan ingin menyampaikan pada pria itu, betapa hatinya masih berdetak kencang untuknya.
Deg deg deg
“Mwah.” Setelah suara kecupan terdengar Utari langsung mundur selangkah.
“Tuan, tuan belum mandi, anak anak rentan dengan berbagai kuman dari luar rumah, tuan pulang dan mandi dulu sebelum bermain dengan anakku,” ucap Utari.
Morgan menatap dirinya yang masih mengenakan setelan jas lengkap dengan dasi.
“Oke, Miracle. Paman mandi dulu. Paman akan ke sini lagi,” ucap Morgan.
“Dan satu lagi, jam berkunjung untuk Miracle hanya 1 jam. Tuan berada di sini sudah dua jam, anak bayi akan sangat lelah jika terlalu banyak bermain,” lanjut Utari asal. Ia sengaja mencari alasan agar Morgan tidak berlama lama berada di sampingnya.
“Benarkah?” Morgan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Emang ada peraturan seperti itu?”
Utari mengangguk. “Peraturan baru dari dokter anak,” jawab Utari semakin asal. “Tuan pulang mandi, makan trus istirahat, bukankah tuan sudah lelah seharian bekerja?”
Utari berjalan ke arah pintu dengan tujuan agar Morgan pergi dari situ.
“Baiklah aku pergi sekarang, paman pergi dulu Miracle,” pamit Morgan kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.
.
.
.
Bersambung…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
⭕ BluJoker
Kayanya aku juga akan rajin mampir untuk Miracle
2023-01-22
1
Orang Cantik
Next
2023-01-15
1