Sejak satu setengah tahun menikah dengan Selvie, malam itu adalah kali pertama Morgan makan malam di rumah. Makan malam selayaknya sebuah keluarga harmonis, suami yang di layani oleh istri di meja makan, bercengkrama di meja makan dan lain lain adalah hal membosankan yang selalu ia hindari. Hal itu yang membuatnya tak betah berada di rumah nya sendiri.
Namun seketika semuanya berubah. Ada sebuah ketertarikan yang membuat Morgan merasa hidup kembali. Seakan ada sebuah kekuatan yang menariknya pulang ke rumah.
Di meja makan, semua hidangan sudah terhidang di atas meja. Berbagai macam pilihan menu, dengan tampilan yang special dan aroma yang lezat.
“Ada acara apa bu? Kenapa menunya banyak sekali dan?” Morgan mengamati menu tak biasa yang hanya ada si restaurant bintang lima.
“Salah seorang pelayan disini adalah seorang koki handal, nyonya sengaja memesan menu ini untuk Tuan,” jawab bu Sukma yang sedang menuang air putih ke dalam gelas.
“Iya mas, saya sengaja menyiapkan executive cheff yang bisa stay agar setiap kepengen makan nggak perlu keluar rumah lagi,” sahut Selvie sambil menyiapkan piring untuk Morgan.
“Aku bisa sendiri,” tolak Morgan saat Selvie hendak memasukkan nasi ke piringnya. Morgan mengambil sendiri nasi ke atas piringnya.
“Ini yang buat dessert nya, beda koki lagi mas. Dia patiserie chef lulusan Prancis, nanti mas coba cicip kue nya. Sangat lesat,” lanjut Selvie.
“Pantes saja ia menghabiskan ratusan juta hanya untuk membayar pelayan di rumah ini,” gumam Morgan dalam hatinya.
“Oh ya mas, aku sudah menyiap kan tukang. Mulai besok pagar depan rumah akan saya ganti warna light brown. Biar rumah kita bisa terlihat sedikit lebih modern,” ucap Selvie lagi.
“Siapa yang ijinkan?” tanya Morgan ketus.
“Masalah nya mas, model rumah ini model lama. Jika warnanya di ubah sedikit lebih terang bisa mengubah tampilan,”
“Aku tidak mengijinkan siapa pun merubah warna rumah ini termasuk pagar. Minta tukang mu, mengecat seperti warna yang sekarang,” ucap Morgan.
Selvie terdiam.
“Baiklah mas,” jawabnya patuh.
Morgan kembali mengunyah makanan nya tanpa basa basi lagi. Beberapa menit berlalu, masih tak ada yang bicara.
“Mas,” ucap Selvie.
“Em,” sahut Morgan.
“Mas bisa temani aku ke rumah papa?” tanya Selvie penuh harap.
Morgan meneguk cepat air putih dalam gelas kemudian bangkit dari kursi nya. “Besok aku sibuk, tidak ada waktu,” Morgan langsung beranjak dari kursinya meninggalkan meja makan.
Selvie berjalan menyusul di belakang Morgan. Emosi nya mulai tersulut atas perilaku Morgan, yang acuh tak acuh. Selvie berusaha mengejar Morgan hingga tiba dalam kamar, ia membanting pintu dengan keras dan menatap garang ke arah Morgan.
“Sampai kapan mas akan memperlakukan aku seperti ini? Aku sudah berusaha sabar. Hampir dua tahun kita menikah, tapi mas tak pernah menganggapku,” ujar Selvie lantang.
Morgan berbalik manatap wajah Selvie. “Apa aku harus menjawab pertanyaan yang sama dengan jawaban yang sama terus? Sudah ratusan kali aku menjawab dan kamu masih bertanya?” ucap Morgan.
“Setidaknya, hargailah aku. Coba perlakukan diriku sebagai istrimu sekali saja,” ucapannya tertahan, siaranya terdengar seperti hampir menangis.
“Jika aku tidak menghargai mu, kamu pasti tidak akan tinggal dirumah ini. Jika aku tidak menghargai mu, kamu tidak akan memiliki saham sebesar 10 % di perusahan ku,” tegas Morgan.
Mendengar ucapan Morgan Selvie memejamkan matanya. “Aku menyetujui permintaan papa dan menikah dengan mu karena mengira bisa mendapatkan hati mu mas. Nyatanya hati mu terbuat dari batu.” Selvie berjalan mendekati Morgan. “Tapi mas, papa ku tidak mau tau alasan pernikahan kita seperi apa, ia terus mendesakku agar mas secepatnya mengesahkan pernikahan ini,” ujar Selvie seraya memohon. “Aku mohon mas, pulang lah ke rumah papa bersama ku, aku capek di desak terus oleh papa, papa tak pernah mempercayai ku. Jika mas yang kerumah dan mengatakan langsung ke papa mungkin dia akan berhenti mendesakku lagi.”
Morgan menggertakkan giginya, ia tau Selvie juga sedang berada dalam posisi terjepit. Ia berdiri di antara Morgan dan papanya.
“Baiklah, aku akan siapkan waktu besok atau lusa. Kita akan bertemu papa mu,” jawab Morgan seraya menarik bantal dan selimut dari dalam lemari kemudian berjalan keluar kamar. Ia menuju ruangan kerjanya untuk tidur disana.
Ya, sejak menikah dengan Selvie, tidak pernah sekalipun Morgan tidur dikamarnya itu. Ia akan tidur diruang pakaian walau hanya beralaskan selimut tebal. Atau ia akan keluar menuju ruang kerjanya walau hanya tidur di sebuah sofa diruangannya itu. Hal itu terasa lebih nyaman dari pada harus tidur satu ranjang dengan wanita yang tidak ia cintai.
Setiba di ruang kerja, Morgan tak langsung tertidur. Ia mengecek beberapa dokumen penting dalam laptop nya kemudian teringat akan satu hal yaitu paman Niko.
Paman Niko atau ayah nya Selvie beberapa bulan terakhir telah menjadi pemilik saham mayoritas pada anak perusahan yang mereka bangun bersama. Dan posisi paman Niko sekarang adalah direktur di perusahan itu. Sejak berkantor di gedung yang berbeda, intensitas Morgan untuk bertemu paman Niko jadi semakin sedikit.
Saat ada rapat pemegang saham Umum di perusahan Induk, paman Niko akan hadir disana, namun mereka tidak pernah membahas mengenai pernikahan. Paman Niko lebih sering mendesak Morgan agar perusahan bisa secepatnya merambah hingga ke luar negri.
“Kenapa tiba tiba paman mendesak Selvie untuk segera mengesahkan pernikahan? Ide menikah tanpa surat itu adalah ide paman, ia bahkan pernah menyarankan agar kami menikah kontrak selama 2 tahun saja. Ada apa dengan paman? Dia tega melakukan itu pada putrinya. Atau ada sesuatu yang mereka rahasiakan?”
Saat itu juga Morgan langsung menghubungi Jerry asisten nya.
“Jer, besok aku butuh dokumen, datagram atau kurva mengenai kepemilikan saham anak perusahan yang di kelola paman Niko. Usahakan agar datanya di dapat secara diam diam sebelum di sabotase mereka. Bila perlu ambil juga semua data transaksi perusahan itu selama setahun terakhir,” perintah Morgan.
“Kamu mencurigai paman Niko?” tanya Jerry dari seberang telpon.
“Semoga saja ini hanya firasat buruk ku,” jawab Morgan.
“Paman Niko terus berada disisi mu, aku rasa firasat mu terlalu berlebihan. Dia yang membantumu membimbing mu di perusahan milik mu sendiri, tanpa paman Niko, kamu tak akan bisa seperti ini,” ujar Jerry.
“Benar juga, seprtinya aku salah jika harus mencurigainya berlebihan. Mungkin saja Selvie yang sudah melebih lebihkan keadaan papanya,” lanjut Morgan.
.
.
.
Bersambung…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
⭕ BluJoker
Mengabaikan insting adalah petaka
2023-01-22
2
Penulis Dadakan
done back ya
2023-01-16
1
Orang Cantik
Lanjutkan kak
2023-01-16
1