“Harus kuat. Empat hari lagi genap sebulan. Setelah itu pekerjaanku akan kembali normal. Yang sabar ya nak,” ucap Utari pada si kecil Miracle.
Usai menina Bobo kan si kecil, Utari kembali menuju ke rumah Utama. Ia harus kembali melanjutkan pekerjaan nya yang tertunda akibat tangisan Miracle.
Saat itu ia berpas pasan dengan sang ibu yang baru saja tiba dari supermarket.
“Bu,” panggil Utari.
“Aku titip anak ku ya bu, sejak semalam tubuhnya demam. Hanya sampai pukul empat sore. Aku akan bekerja lebih cepat agar bisa selesai lebih cepat,” pinta Utari pada sang ibu.
“Cih, emang aku baby siter kamu? Urus saja anak mu sendiri. Aku banyak kerjaan,” tukas Sukma.
“Tapi bu, Miracle sedang sakit, ibu bisa datang mengintip nya sesekali saja. Tolong lah bu,” Utari terus memohon karena saat itu hanya ibunya lah yang bisa ia harapkan.
“Ya sudah, kamu bereskan barang belanjaan ini. Simpan ke dalam kulkas dan cepat selesaikan pekerjaan mu. Oh ya, bulan ini kamu nggak gajian, sisa gaji mu akan ibu ambil. Hitung hitung karena ibu sudah membantu mu mengurus anak mu,” ujar Sukma, ia pun meninggalkan Utari.
Utari menatap punggung ibunya yang terus menjauh.
“Bagi ibu, uang adalah segalanya. Nurani nya dapat di nilai dari berapa banyak kamu memberinya uang.”
“Woi, ngapain bengong di situ?” bentak Wiwi dari arah pintu.
“Aku akan lanjutkan pekerjaanku,” Utari bergegas masuk ke dalam rumah. Sebisa mungkin ia menghindar dari Wiwi, akhir akhir ini dia sudah berani main tangan. Ia tak segan menampar Utari jika Utari membantah.
“Nyonyah mencari kamu, dia ada di ruang kerja tuan,” lanjut Wiwi.
Tanpa menoleh, Utari menjawabnya. “Baiklah, aku akan temui nyonyah.”
Benar saja, di dalam ruang kerja Selvie sedang duduk bersandar di kursi kerja Morgan. Ia menatap sinis ke arah Utari yang baru saja tiba di situ.
“Sudah seminggu tuan di Yunani, dia pernah mengubungi kamu?” tanya Selvie.
Utari menggeleng. “Tidak pernah Nyah.”
“Apa dia pernah katakan kapan dia akan pulang?” lanjutnya bertanya dan di jawab geleng kepala oleh Utari.
“Aneh sekali, dan papa akhir akhir ini tidak pernah menghubungiku,” gumam Selvie.
“Cepat sana lanjutkan pekerjaan mu,” usir Selvie.
Utari pun pergi dari ruangan itu.
“Emang aneh, kamu wanita aneh. Suami kamu sendir kamu tak tau. Malah bertanya pada oembantu yang selalu kamu rendahkan,” desis Utari dalam hatinya.
Ia mulai melanjutkan pekerjaannya di teras depan rumah. Satu persatu pot bunga di pindahkan. Sesuai perintah, ia harus menata kembali pot pot bunga itu agar bisa sedikit merubah tampilan rumah.
Utari mulai sedikit kewalahan, setelah memindahkan semua pot kecil, kini ia mulai mengangkat pot yang besar. Kemudian dengan hati hati ia menggeser pot yang tak bisa di la angkat karena ukuran yang terlalu besar. Sesekali suara Miracle terdengar dari hand baby monitor pada kantong bajunya. Ia menangis, namun suara tangisan itu di abaikannya. Pekerjaan harus selesai tepat waktu.
Akhirnya pukul lima sore itu semua tugas Utari selesai, ia berlari kecil menuju kamarnya. Ada yang tidak beres, suara Miracle menangis semakin kencang di sertai batuk yang tiada henti.
“Nak,” utari langsung menggendong Miracle setibanya ia di sana. Bayi itu menangis sendirian, tanpa siapapun di ruangan itu. “Nenek Sukma kemana? Dia nggak temani kamu sayang?”
Sambil menggendong Miracle, Utari berjalan menuju dapur. Ia mengambil semangkok air hangat dan kembali ke kamar. Demam Miracle semakin tinggi, wajah nya memerah karena menangis dan nafasnya terlihat sangat cepat.
“Maafin mama sayang, mama belum bisa membawa kamu ke dokter. Mama belum punya uang. Bahkan mama belum bisa gajian bulan ini,” ujar Utari.
Hingga beberapa saat berlalu namun belum ada perubahan pada Miracle. Karena kelelahan menangis bayi kecil mulai terlelap. Tubuhnya masih demam tinggi di sertai menggigil yang tak henti.
Hal itu membuat Utari semakin panik, ia pun memutuskan menemui sang ibu.
Tok tok tok.
Sukma membuka pintu kamarnya. Ia terlihat baru bangun dari tidur.
“Bu, pinjami aku uang. Aku akan membawa anak ku ke dokter,” pinta Utari.
“Nggak ada uang,” bentak Sukma kemudian menutup kembali pintu kamarnya.
Tok tok tok
“Bu Tari mohon, akan Tari ganti beserta bunganya bu,” ucap Utari.
“Nggak ada, hutang saja belum ibu bayar. Ibu juga lagi butuh uang,” sahut Sukma dari dalam kamar.
Suara ibunya terdengar serius.
“Jadi Tari harus gimana bu? Miracle demam nya tinggi sekali,” ucap nya lirih. Utari masih termenung di pintu kamar ibunya sambi berpikir.
“Apa sebaiknya aku hubungi tuan? Katanya jika butuh sesuatu ia akan meminta pak Jerry menyiapkan untuk ku,” batin Utari. Ia pun bergegas menuju kamar nya untuk mengambil ponsel nya di atas meja.
Namun saat Utari tiba di kamarnya, Morgan sudah berdiri disana sambil menggendong Miracle.
“Anak mu sakit? Kenapa tidak menghubungiku?” tanya Morgan dengan suara besar.
“Kemaren demamnya tidak separah ini, jadi aku belum berpikir untuk membawanya ke dokter,” sahut Utari.
“Dari kemaren? Jadi dia sudah sakit berhari hari?” bentak Morgan.
Kepala Utari tertunduk. Ia merasa sangat bersalah sekaligus lega. Morgan tiba tepat waktu, ia sangat membutuhkannya saat itu.
“Kenapa diam saja, ayo kerumah sakit sekarang.”
Seperti orang bodoh Utari berjalan cepat menyusul lajunya langkah Morgan. Ia hanya bisa diam, dan pantas di salah kan karena tidak becus menjadi seorang ibu.
Setiba di rumah sakit Miracle langsung di tangani di ruang darurat.
“Sudah berapa hari demam anak nya bu?” tanya dokter itu.
“3 hari dok,” jawab Utari dengan suara lemah.
“Kenapa tidak langsung berobat saat bayi demam bu, jika dibiarkan pembengkakan bisa menyebar ke organ dalam tubuh seperti paru pari dan jantung,” ucap dokter itu sambil terus menangani Miracle dengan intensif.
Mata Morgan membelalak menatap Utari. Ia sangat marah. “Apa saja yang kamu lakukan di rumah? Bayi mu sekarat tapi kamu tidak melakukan apa pun? Kamu belum layak menjadi seorang ibu, seorang ibu seharusnya selalu sigap dan tau apa yang harus di lakukan saat anaknya sakit. Aku kecewa padamu Uyari!” gertak Morgan.
“Aku memang belum siap menjadi seorang ibu. Aku melahirkan Miracle saat usiaku masih 20 tahun. Aku juga tidak memiliki apa pun untuk membesarkannya. Secara mental aku bisa memenuhi hidup anak ku dengan kasih sayang, namun secara finansial aku tidak sanggup,” gumam Utari dalam hatinya.
Utari tak berani membantah ucapan Morgan, ia hanya bisa menunduk sambil menyembunyikan air matanya. Keadaan nya saat sangat terpuruk, hatinya terasa sakit.
“Anda ayah nya?” Dokter yang baru saja keluar dari ruang intensif bertanya kepada Morgan. Morgan mengangguk mengiyakan pertanyaan dokter.
“Maaf dok, karena sibuk saya tidak menjaga anak saya dengan benar,” ucap Morgan dipenuhi perasaan bersalah. “Oh ya dok, anak saya sakit apa?” lanjut Morgan.
“Di lihat dari kondisinya, sepertinya dehidrasi dan alergi. Tubuh nya memerah, di sertai pembengkakan. Oh ya, bayi nya masih ASI atau Sufor?” tanya dokter itu.
“Susu formula dok,” jawab Utari.
“Dia pernah mengalami alergi sebelumnya?” tanya dokter itu.
Utari mengangguk. “Saat ia berusia tiga bulan,” jawab Utari.
“Pemicunya?” tanya dokter itu lagi.
“Kuman dok, mungkin berupa debu atau peralatan makan yang tidak steril,” ujar Utari.
“Karena sudah tau pemicunya seharusnya sudah harus waspada. Sebentar lagi anak nya akan di bawa keruangan, ia akan membaik setelah di tangani dengan baik selama 3 hari. Jangan terlalu khawatir,” ujar dokter itu. Ia tak tega melihat Utari. Air mata tak henti menetes di pipinya.
“Reaksi alergi biasanya diturunkan dari gen ayah atau ibu, di antara kedua orang tuanya pasti ada alergi semacam itu,” lanjut dokter.
“Saya dok, saat kecil saya sering sekali bersin. Hingga sekarang saya belum bisa ke tempat tempat berdebu, reaksinya ke tubuh bisa bengkak dan memerah,” jelas Morgan.
Dokter itu mengangguk paham. “Next time, di jaga ruangan bayi agar tidak terlalu kering atau lembab. Siap kan humidifier yang aman buat si kecil.”
“Baik dok,” ujar Morgan bersemangat.
.
.
.
Bersambung…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
💗 AR Althafunisa 💗
😡😡😡😡😡😡
2024-05-11
1
Mr Crabb
thor, kamu makin cantik lo kalau crazy up, ini novel.
eh, emg udah cantik ding.
2023-01-22
2
Orang Cantik
Next thor
2023-01-21
1