"Apa yang terjadi? Buka lah mata mu Jesi!" seru Kim Jung.
Kim Jung melihat jadi sedang duduk dilantai, "Katakan pada ayah, apa yang terjadi?" tanya Kim Jung.
"Ayah, maafkan aku," jawab Moly dengan suara yang gemetar.
"Apa yang sudah kau lakukan kepada Jesi!" seru Kim Jung.
Moly pun semakin keras menangis, menatap Kim Jung penuh rasa bersalah. Kim jung menarik baju moly sampai hampir mencekiknya.
"Apa kau yang membunuh adikmu?" tanya Kim Jung mulai tidak bisa menahan amarahnya.
"Katakan sekarang!" triak Kim Jung dihadapan Moly.
"Jesi..." ucap Moly menangis mengingat saat Jesi tergeletak dipinggir jalan dengan berlumuran darah.
"Ada apa! Cepat katakan!" seru Kim Jung penuh amarah.
"Jesi tertabrak mobil, maafkan aku ayah tidak bisa menjaga Jesi dengan baik," ucap Moly.
"Apa! Siapa yang menabrak Jesi? Siapa!," seru Kim Jung.
"Dasar bodoh!" hardik Kim Jung menghempaskan tarikan baju Moly membuat Moly hampir terjatuh.
"Kau menjaga adikmu saja tidak bisa! Lalu apa saja kerjamu!?" Kim Jung menarik Moly sampai Moly terjatuh.
Dengan penuh amarahnya Kim Jung menyeret Moly keluar ruang perawatan itu, lalu menghempas Moly dengan kasar.
"Kenapa tidak kau saja yang mati!" seru Kim Jung yang reflek memukul, menampar Moly tapi tak ada perlawanan dari Moly. Moly hanya terdiam dan terus menangis menahan sakit.
Salah satu perawat yang melihat kejadian itu langsung memanggil satpam untuk mengamankan Kim Jung.
Petugas keamanan pun datang melihat Kim Jung terus menyerang Moly, langsung mengamankan Kim Jung.
"Dasar anak kurang ajar!" teriak Kim Jung.
"Lepaskan aku! Biarkan aku membunuh anak ini," ucap Kim Jung mulai dibawa oleh satpam.
"Biarkan aku masuk!" seru Kim Jung berusaha masuk tapi dihalangi oleh satpam.
"Maaf tuan, anda telah membuat keributan dirumah sakit ini, jadi anda dilarang masuk." ucap satpam itu.
"Sialan!" Seru kim jung berjalan keluar.
Moly sedang diobati oleh perawat itu, Airin yang melihat moly terluka langsung mendekat.
"Maafkan ibu, ibu tidak bisa membantumu," kata Airin.
Moly hanya terdiam menahan sakit karena banyak memar dibagian wajahnya.
Sejak kematian jesi, Kim Jung berubah menjadi pria yang kasar, dirinya selalu memukul, menampar Moly dikala Kim Jung merasa kesal dengan seseorang. Moly lah yang menjadi pelampiasan kemarahannya.
Keadaan itu memperburuk kondisi mental ayahnya, Kim Jung selalu minum alkohol sebagai teman nya saat ini.
Moly selalu dipenuhi rasa bersalah, tetapi ada Airin yang selalu memberinya semangat dan selalu menyayanginya.
FLASH OFF.
Moly mengusap air matanya. Yuri langsung memeluk Moly, agar Moly jauh lebih tenang.
"Jamu harus kuat ya, aku percaya sama kamu," kata Yuri melepaskan pelukan itu.
"Tante Airin gimana kondisinya?" tanya Yuri.
"Ibu masuk rumah sakit." jawab Moly dengan nada yang lemah.
"Apa! Lalu sekarang siapa yang menjaga tante Airin?" tanya Yuri merasa cemas.
"Saat ini aku menyuruh Josen untuk menjaganya," jelas Moly kepada Yuri
"Besok aku yang jagain tante Airin, kebetulan besok aku libur kerja," ucap Yuri.
"Apa tidak keberatan Yur? Besok Josen harus sekolah dan aku harus masuk kerja." ucap Moly.
"Biar besok aku yang menjaganya." ucap Yuri.
"Terimakasih kau selalu membantuku," ucap Moly.
"Aku harus ke rumah sakit sekarang," ucap Moly bangkit dari duduknya.
"Hey ... apa kau tidak melihat ini jam berapa?" tanya yuri menghalangi Moly untuk pergi.
Moly menggelengkan kepalanya menandakan tidak tahu.
"Ini sudah jam 3 pagi, kau haru beristirahat. Aku tidak mau jika kau memaksa untuk pergi, terjadi sesuatu diluar sana bagaimana?" ucap Yuri menyakinkan moly.
Moly pun memejamkan matanya untuk beristirahat. Yuri yang melihat moly tertidur ikut mengistirahatkan tubuh nya disofa.
Keadaan dirumah sakit sangat hening. Josen tertidur di kursi dengan lelap, Airin pun sampai detik ini belom sadarkan diri.
Tak terasa waktu pun berjalan begitu cepat, bumi terus berputar berganti waktu. Pagi pun datang menyambut bumi dengan senyuaman mentari. Moly merasa silau dengan cahaya dari luar.
"Hem..." Moly mulai membuka matanya, terasa begitu berat membuatnya enggan untuk bangun, badan terasa sakit semua.
"Astaga aku kesiangan!" teriak Moly.
Moly langsung beranjak dari tempat duduknya dan langsung membersihkan dirinya. Moly mencari keberadaan Yuri, tetapi tidak menemukannya.
"Kemana yuri? " tanya Moly kebingungan.
Moly melihat kearah meja makan, ada sepiring nasi dan lauk ditemani teh hangat terlihat ada kertas kecil berada dekat dengan piring itu.
"Maaf aku sudah berangkat kerumah sakit membawakan seragam Josen dan bekal untuknya, jaga dirimu baik-baik ya jangan khawatir kan ibu mu, aku akan menjaga nya." pesan Moly melalui selembar kertas diatas meja makan
Moly yang membaca surat itu langsung bersenyum tipis, dirinya merasa cukup lega. Moly pun memakan sarapan yang telah disiapkan oleh Yuri.
Selesai makan.
Moly langsung berkemas untuk berangkat keresto, karena hari ini Moly harus belanja keperluan resto tempat dirinya bekerja.
Moly langsung menutup wajah nya rapat-rapat agar mata sembab nya tidak terlihat, karena semalaman dia menangis. Dengan penuh percaya diri moly melangkahkan kakinya.
Sampailah diresto.
Choi yang melihat Moly menggunakan kacamata dan masker sangat terheran-heran.
"Apa itu Moly? Ah ... rasanya tidak mungkin, mana pernah Moly memakai kacamata hitam seperti artis saja?" gerutu Choi.
Moly semakin mendekat kearah Choi.
"Moly! Apa itu kamu?" teriak Choi melihat Moly melewati dirinya menuju ruang ganti.
"Hem..." jawab Moly.
"Wah, kau keren sekali Moly. Aku sampai tidak mengenal mu." kata Choi mendekat kearah Moly.
Moly yang melihat Choi sedari tadi mengikutinya merasa sangat kesal, langkah kaki moly terhenti dan mata Moly menatap tajam Choi.
"Ada apa?" tany Choi merasa bingung.
"Apa aku harus membuka bajuku disini!" seru Moly dengan tegas.
"Benar juga, aku sampai lupa. Baiklah aku akan pergi." ucap Choi langsung berjalan menuju resto.
Moly yang melihat Choi menjauh darinya langsung mengganti pakaiannya dan Moly langsung masuk keresto untuk mengejek barang apa saja yang akan dibelanjakan.
Pak bima dengan style nya yang terlihat sangat keren menurut nya, berjalan penuh percaya diri mendekati Moly yang sedang sibuk diujung sana.
"Apa kamu sudah mencatat semua yang dibutuhkan untuk resto kita?" tanya pak Bima
Moly langsung menghentikan aktivitasnya menoleh ke sumber suara, "saya sudah mencatatat semua yang dibutuhkan resto ini pak." ucap Moly memberikan laporan yang akan dibelanjakan.
"Okay baik lah, kalo gitu nanti biar saya langsung yang nganter kamu ya." ajak pak Bima berlalu pergi meninggalkan moly.
Moly dan choi yang mendengar ucapan dari pak Bima saling pandang satu sama lain. Choi yang senang bergosip langsung mendekati moly.
"Tumben auranya positif banget." ucap Choi.
"Entahlah aku tidak tahu?" ucap Moly tidak mau memikirkan hal itu.
Choi mengelap dan memeriksa jenis-jenis piring yang nanti akan digunakan untuk menyajikan hidangan.
"Aku berangkat dulu ya, jaga baik-baik resto ini," pesan Moly.
"kau tenang saja." ucao Choi.
Moly langsung melepaskan rompi kerjannya dan berjalan keluar resto, Moly melihat pak bima sudah menunggu diparkiran.
Moly mendekat dan memasuki mobil itu. Didalam perjalanan moly hanya terdiam membisu.
Membuat pak Bima ragu ingin membuka percakapan diantara mereka. Alasan pak Bima mengantar Moly, pak Bima ingin membahas tentang pernikahan kontrak itu. Tapi dirinya tak kuasa menanyakan semua itu kepada Moly.
"Cuaca hari ini cukup panas ya." celetuk pak bima sekedar basa basi.
"Iya pak," kata Moly.
"Saya ini bosnya kenapa malah saya yang gerogi begini?" gumam Bima didalam hati.
Moly yang melihat tingkah aneh pak bima langsung berkata, "apa pak Bima sedang sakit?"
"Tidak, saya hanya merasa gerah," jawab pak Bima merasa gugup.
"Apa perlu saya buka pintu mobil ini pak? Biar anginnya masuk?" ucap Moly.
"Tidak usah! Biar aku hidupkan ac nya." kata pak Bima dengan gugup menghidupkan ac mobil.
Sampailah mereka dipusat perbelanjaan, Moly langsung masuk kedalam membawa troli. Moly sibuk memilih bahan yang kualitas premium karena resto mereka mengutamakan kualitas berbagai jenis makanan.
Hampir 2 jam moly berbelanja langsung membawa barang itu masuk kemobil pak Bima.
"Maaf pak lama, soalnya bahannya banyak yang habis." ucap Moly masuk kedalam mobil.
"Iyaa gak papa, kita balik keresto ya." ucap pak Bima.
"Baik pak" ucap Moly.
Dengan penuh keberanian, pak Bima langsung menanyakan tentang tawarannya kemarin yang dia berikan kepada Moly
"Bagaimana dengan tawaran itu? Apa kau sudah memutuskan sesuatu?" tanya pak Bima dengan santai.
Moly pun terdiam menatap pak Bima dan berkata.
Next ya guys masuk episode selanjutnya.
oiya masalah gambar ilustrasi itu aku nyari diinternet ya guys, biar kalian bisa berimajinasi dengan nyata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Jadi itu alasan Moly di benci ayahnya ..... 🔨🔨🔨
2023-01-18
1
Ayu Ap
siap kak
2023-01-07
0