Moly terus menatap kondisi ibunya yang terpasang alat medis untuk memantau kondisinya.
"Kak, bagaimana keadaan ibu? Apa yang dikatakan oleh dokter?" tanya Josen merasa khawatir.
Dengan berat hati Moly harus mengakatan semuanya kepada Josen.
"Ibu harus segera dioperasi, tapi..." ucap Moly tak kuasa melanjutkan ucapannya.
"Kenapa kak? Tapi apa? Katakan sekarang juga!" desak Josen menatap wajah Moly.
"Kondisi ibu saat ini kritis, harus dilakukan operasi segera, tapi sangat beresiko tinggi jika dilakukan operasi sekarang. Ibu hanya bisa bertahan dengan alat yang menempel ditubuhnya, sampai tekanan darahnya menurun," jelas Moly kepada Josen.
"Lalu kita harus bagaimana kak?" ucap Josen dengan raut jawah yang lesu.
"Kita serahkan semuanya kepada dokter, semoga tekanan darah nya segera turun dan ibu bisa di operasi," pinta Moly.
"Kak, maafin Josen, Josen tidak bisa menjaga ibu dengan baik," ucap Josen merasa bersalah.
"Kamu gak perlu meminta maaf, ini bukan salahmu." sahut Moly memeluk Josen untuk menenagkan dirinya.
Salah satu perawat menghampiri Moly untuk melakukan pengisian data pasien yang belom lengkap.
Setelah selesai melengkapi pendaftaran, Moly menanyakan tentang semua biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan ibunya.
"Maaf sus, boleh saya bertanya?" tanya Moly.
"Tentu boleh nona, ada yang bisa kami bantu?" ucap administrasi rumah sakit.
"Berapa biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan ibu saya ya sus?" tanya Moly.
"Tunggu sebentar ya nona, saya periksa dulu." ucap adminstrasi rumah sakit.
Saat staf bagian admin sedang mengecek perkiraan biaya yang dibutuhkan. Moly menunggu sambil matanya melihat setiap sudut rumah sakit.
"Untuk biaya atas nama pasien Airin, biaya operasi mencapai Rp.350.000.000. Belum termasuk biaya yang lainnya nona, mungkin akan mencapai angka Rp.650.000.000." ucap adimistrasi rumah sakit itu.
Moly pun langsung melebarkan matanya dan merasa sangat-sangat terkejut mendengar nominal dari biaya yang harus dikeluarkan.
"Wah, nominal yang tidak sedikit? Bagaimana ini? Apa aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Apa aku harus menjual setifikat itu? Oh tidak! Jangan lakukan Moly!" gumam Moly dalam hati.
"Nona, hallo non, apa ada yang ingin ditanyakan lagi?" tegur staf rumah sakit itu, melihat Moly hanya terdiam menatap tulisan dibelakang ruang administrasi.
Moly tersadar dari lamunannya, "kenapa sus?" Moly merasa bingung karena dirinya sempat melamun.
"Apa yang ingin anda tanyakan lagi nona?" Tanya administrasi rumah sakit.
"Tidak sus, makasih ya sus atas informasinya." Jawab Moly berlalu pergi meninggalkan ruang staf itu.
Moly berjalan dan terus memikirkan bagaimana mendapatkan uang sebanyak itu.
"Aku tidak mungkin menjual sertifikat itu? Kemungkinan besar aku harus menerima tawaran dari pak Bima." gumam Moly didalam hati.
Moly terlihat mulai frustasi dengan situasi ini, melihat josen yang sedang duduk termenung Moly langsung menghampiri Josen.
"Kakak harus pulang mengambil beberapa pakaian, nanti kakak akan kembali lagi. kamu harus jaga diri baik-baik selama kakak pergi," pinta Moly kepada Josen.
"Baik kak, kakak jaga diri baik-baik." ucap Josen.
"Kak!" seru Josen.
"Ada apa?" ucap Moly menjawab panggilan Josen.
"Ayah dimana? Kenapa ayah tidak berada di sini?" ucap Josen merasa penasaran.
"Mungkin ayah sibuk? Sudah jangan terlalu dipikirkan!" ucap Moly memberi peringatan kepada josen.
Mendapat anggukan dari Josen. Moly pun pergi menjauh dari hadapan Josen.
Moly pun segera pergi kerumah untuk mengamankan sertifikat yang menjadi incaran ayah nya.
Sampailah Moly dirumah, langkah nya terhenti saat melihat pintu rumah terbuka lebar. Moly langsung masuk kedalam melihat isi rumah yang begitu berantakan membuat Moly sangat terkejut.
Pikiran Moly langsung tertuju pada kamarnya, dia tidak memperdulikan keadaan rumah yang sangat berantakan.
Moly melihat gagang kunci pintu kamarnya terlepas seperti di dobrak secara paksa. Dirinya langsung masuk kekamar dan membuka lemari yang berisi sertifikat itu.
Dan ternyata sertifikat itu tidak ada ditempatnya.
Moly merasa tubuh nya terasa lemas dan jatuh kelantai dengan posisi duduk, badannya terlihat gemetar. Moly berusaha mencarinya lagi tapi tidak menemukam surat itu.
Air matanya pun menetes dan tangis Moly pun pecah saat itu juga suaranya terdengar sangat menyedihkan.
Moly begitu gigih mempertahankan surat itu karena hanya itu satu satu nya harta yang dia miliki, kini telah tiada.
"Aku harus bagaimana? Aku harus bagaimana? Aku harus bagaimana? rengek moly dengan suara rintihan nya.
Moly akhirnya menghubungi sahabatnya untuk menitipkan beberapa barang yang bisa diselamatkan..
Setelah selesai berkemas Moly menemui sahabatnya bernama Yuri, yang sudah menjemputnya didepan rumah nya.
Moly yang melihat Yuri sudah berada didepan rumah nya, dengan terburu-buru Moly langsung mendekati Yuri dan memeluknya. Tangisnya pun kembali pecah, Yuri yang merasa kaget saat Moly menangis dipelukannya mencoba untuk menenangkan Moly.
Saat Moly mulai tenang, mereka berdua memutuskan untuk pergi kerumah yuri. Yuri terus menatap Moly yang hanya terdiam membisu selama perjalanan menuju rumah Yuri.
Sampailah dirumah yuri, mereka pun segera membereskan barang bawaan nya kedalam rumah.
Yuri adalah sahabat sewaktu mereka kecil, ibu Yuri menikah lagi dengan orang belanda dan harus pengikuti suaminya keluar ngeri.
Saat itu Yuri tidak ingin meninggalkan Moly karena kehadiran Moly membuatnya merasa nyaman, akhirnya Yuri memutuskan untuk tinggal disini bersama asisten rumah tangga yang mengurus semua kebutuhan nya.
Saat semuanya tenang, Moly akhirnya membuka suara.
"Aku harus bagaimana?" ucap Moly sangat terpukul tentang keadaan yang sedang menimpa nya.
"Jangan menangis lagi ya, ceritakan apa yang sedang terjadi?" tanya yuri kepada Moly
Moly akhirnya menceritakan tentang surat itu yang hilang.
FLASH BACK.
Dulu sewaktu Kim Jung menikah dengan Airin mereka dikaruniai 3 orang anak. Anak pertama bernama Kim Moly, Anak kedua bernama Yo Jesi, Anak ketiga sedang dikandung oleh Airin.
Saat itu Moly disuruh menjaga adik nya, Moly memang mengajak nya ke minimarket terdekat. Untuk membeli manisan karena Jesi suka sekali dengan manisan.
Ketika Moly akan membayar manisan itu, Jesi melepaskan genggaman tangan Moly, dan berlari keluar minimarket itu.
"Jesi tunggu kakak!" triak Moly tidak didengar oleh Jesi.
Transaksi di toko itu cukup lama, karena ada hambatan kecil.
Saat Moly keluar dari minimarket itu, Moly mencari Jesi tidak dimenemukannya, Moly mulai panik mencari kesana kemari tapi tidak menemukan keberadaan Jesi.
Diujung jalan Moly melihat ada kerumunan orang tengah melihat sesuatu yang tertabrak atau terjatuh, dengan rasa penasaran Moly berjalan menuju kerumunan itu.
Moly melihat gadis kecil tergeletak tak berdaya, Moly semakin penasaran, pakian yang dikenakan gadis kecil itu sama dengan pakaian yang dipakai Jesi.
Dengan keberanian dan rasa penasaran Moly akhirnya Moly membuka tutup koran yang menutupi sebagian tubuh nya.
Mata Moly melebar seperti merasa terkejut menatap gadis kecil itu, ternyata dia adalah Jesi. Moly sempat tidak percaya melihat gadis itu tergeletak berlumuran darah tak berdaya.
"Jesi!" teriak Moly dengan suara gemetar.
Badannya terasa gemetar, tak percaya dengan keadaan yang dialaminya. Moly langsung meminta tolon.
"Tolong panggilkan ambulan sekarang!" perintah Moly dengan suara yang lantang.
"Jesi bangun! Ini kakak." rengek Moly menangis memeluk adiknya
Tak lama ambulan pun datang dan segera membawa Jesi kerumah sakit. Didalam perjalanan menuju rumah sakit, Moly terus menangis menyesali perbuatan nya yang begitu lalai menjaga Jesi.
Sampai dirumah sakit, dokter pun langsung memeriksa keadaan Jesi. Moly menunggu diruang tunggu.
Tiba-tiba ada seorang lelaki paruh baya yang duduk disamping Moly. Dia mengatakan bahwa dialah pelakunya.
"Maafkan aku nona." kata lelaki paruh baya itu.
Tidak didengar oleh Moly, Moly hanya terdiam menatap tirai rumah sakit.
"Nona maafkan saya! Saya sudah menabrak adik anda," sesal lelaki paruh baya itu menatap Moly.
Moly langsung menoleh kearah sumber suara. Dengan mata yang sembab Moly menatap wajah lelaki itu.
"Apa itu benar?" ucap Moly.
"Kau! Yang menabrak adik ku?" tanya Moly.
"Iya nona," ucap lelaki itu terlihat penuh dengan penyesalan.
"Aku minta maaf atas kelalaianku, mohon maafkan aku nona," sesal lelaki itu.
Hati nya seperti tersambar petir, mendengar pengakuan lelaki itu, bibir nya tidak bisa berkata-kata lagi. Tenaganya pun melemah saat hatinya ingin memukulnya tapi dia tak berdaya.
Tak lama dokter pun keluar dari ruang periksanya. Moly yang melihat dokter itu langsung mendekat dan bertanya tentang kondisi adiknya.
"Dok, bagaimana kondisi adik saya?" tanya Moly dengan suara yang gemetar.
"Maaf nona, pasien bernama Jesi tidak bisa kami diselamatkan, akibat benturan yang hebat membuat perdarahan diotaknya, itu sangat fatal nona. Maafkan kami." jelas dokter itu.
"Tidak! dokter pasti salah, Jesi masih bisa diselamatkan kan dok? katakan itu padaku!" seru Moly merasa tidak mempercayai situasi sekarang.
"Kematiannya pukul 16.00WIB." ucap dokter itu.
Moly menangis sejadi-jadinya, lelaki paruh baya itu mendekati Moly dan meminta maaf dengan begitu tulus.
"Nona maafkan saya, maafkan atas ketidak sengajaan saya, saya akan menebus kesalahan saya." ucap pria itu.
Pria itu memberikan selembar surat didalam map, dan berlalu pergi meninggalkan Moly yang terus meronta-ronta memanggil adiknya.
Ayah moly pun dengan tergesa-gesa menghampiri Moly, "ada apa ini?" melihat Jesi terbaring dengan wajah yang mulai pucat, Kim Jung mendekati Jesi.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu tidak membuka matamu?" Tanya Kim Jung menatap wajah Jesi
BERSAMBUNG.
lanjut di episode sebelah yaa guys..
lope sekebon 💜💜
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
triana 13
mampir lagi
2023-03-24
1
Mei Shin Manalu
Aku mampir lagi Thor
2023-01-29
0
Flash back nya seperti itu ternyata ...
semangat kk author ya
2023-01-18
0