"Hentikan tuan!" seru Moly.
Yojin merasa terkejut dengan suara Moly yang membuat nya langsung menghentikan aktivitasnya.
"Kenapa? Aku sudah membayar mu mahal, jadi sangat di sayang kan jika kau tidak melayani ku dengan benar," ucap Yojin.
Dengan rasa kesal Moly mengepalkan tangannya, merasa terus di remehkan oleh Yojin. Moly pun langsung mendekati Yojin untuk menggodanya, Moly mendekati Yojin dengan membuka sebagaian pakaian yang di kenakan.
Tangan Moly memegang celana Yojin, Yojin yang melihat Moly langsung memundurkan dirinya. Tepat di atas ranjang Yojin tertidur karena di dorong oleh Moly, Moly pun langsung naik di atas perut Yojin membuka kemeja Yojin perlahan-lahan terlihat begitu menggoda membuat Yojin langsung terbawa suasana.
Dengan berbagai gaya Moly melayani Yojin, meski pun hati nya terasa sakit karena perkataan Yojin. Tetapi dirinya tetap profesional, kali ini Yojin sangat puas dengan pelayanan Moly yang membuat nya sangat terkejut.
Karena kelelahan mereka berdua pun tidur saling berpelukan. Moly yang membuka matanya terlebih dahulu langsung berusaha untuk menggerakan tubuhnya.
Seluruh tubuhnya terasa kaku, Moly menatap Yojin telanjang dada sedang tertidur merasa sangat kesal. Tak sanggup menahan air matanya Moly langsung berjalan menuju kamar mandi.
Tangis nya pun pecah terdengar sangat menyedihkan, hati nya seperti tersayat pisau tajam saat dirinya mengingat perkataan Yojin yang begitu menyakitkan.
"Kau telah merusak hidup ku, kau menganggap ku seperti seorang pelacur! Kau memang pria yang sangat kejam! Jika karena bukan kontrak ini aku sudah pergi," gumam Moly di dalam hati.
Rasa perih dan sakit di tubuhnya sudah tidak di hirauan lagi, Moly seperti membenci tubuhnya sendiri. Ingatan nya terus mengulang memori saat tubuhnya di sentuh secara kasar oleh Yojin, membuatnya merasa menjijikan.
"Aku benci tubuh ini, aku membenci mu!" gumam Moly di dalam hati.
...
Moly menatap pemandangan di sore itu, terlihat bagunan megah di ujung jalan membuat nya terus menatap tanpa memperdulikan Yojin yang terbangu. karena ponsel nya berbunyi.
Yojin : "Ada apa?"
Mata Yojin terbuka lebar, saat mendengar seseorang mengatakan sesuatu di dalam telpon itu. Dan Yojin langsung mengakhiri sambungan telpon itu.
Yojin tidak melihat Moly di sampingnya, melihat di sekitar kamar itu. Terlihat Moly sedang duduk menatap pemandangan di arah jendela itu. Yojin pun langsung mengusap wajahnya dengan kasar.
Yojin mendekati Moly lalu mengatakan, "kita keluar hotel sore ini," Moly yang mendengar suara itu langsung menoleh menatap Yojin, "baik tuan."
Moly langsung bangkit dari tempat duduknya, merapihkan barang yang akan di bawa saat mereka akan cekout dari hotel itu.
Mereka berjalan dengan begitu cepat, tetapi tidak dengan Moly yang berusaha jangan pelan karena masih terasa sakit di daerah sensitifnya.
Yojin menoleh ke arah belakang ternyata Moly sudah tertingal jauh, " kenapa lama sekali, ayo cepat!" seru Yojin membuat Moly merasa kesal.
"Dia pikir aku robot? Dasar pria yang kejam! Apa dia tidak tahu jika barang ku sudah di acak-acak oleh nya, dia sangat jahat dengan ku," gumam Moly dalam hati.
Yojin menyusul Moly, seketika Moly menghentikan langkahnya. Melihat Yojin melangkah mendekatinya, Moly langsung berjalan mundur.
"Stop!"seru Moly membuat Yojin langsung menghentikan langkahnya.
"Jangan mendekati!" seru Moly membuat Yojin semakin bingung.
"Ada apa?" tanya Yojin.
"Sudah ku katakan jangan mendekat!" teriak Moly membuat Yojin langsung membalikan tubuhnya, berjalan menuju parkiran mobil.
"Dasar wanita yang aneh," gerutu Yojin menuju mobilnya.
Moly pun melihat Yojin sudah jauh dari hadapannya, berusaha melangkah dengan pelan sampai di depan mobil Yojin. Moly memasuki mobil itu dengan pelan-pelan, Yojin yang baru saja menyadari jika Moly kesulitan berjalan langsung menatap nya.
"Apa itu mu sakit?" tanya Yojin.
Moly mendengar ucapan Yojin langsung bengong, menunjukan wajah polosnya, "apa maksud mu?" Moly menatap Yojin.
"Itu mu! Aish ... bagian area sensitif mu, apa itu sakit?" tanya Yojin.
Tidak di jawab oleh Moly, membuat Yojin akhinya melajukan mobilnya.
"Wanita yang sombong, aku bertanya baik-baik malah tidak menjawab. Untuk apa aku perduli dengannya? Aku sudah membayar nya, jadi bukan urusan ku," gumam Yojin di dalam hati.
"Boleh aku bertanya?" tanya Moly.
"Katakan saja," jawab Yojin dengan nada yang dingin.
"Kapan kontrak ini berakhir?" tanya Moly.
Yojin langsung sekilas menatap Moly, hatinya terasa sakit saat Moly menanyakan kontrak itu. Dengan bijak yojin akhirnya menjawab.
"Mungkin kurang lebihnya 6 bulan lagi kita akan bercerai," ucap Yojin.
"Aku rasa lebih cepat, lebih baik," ucap Moly.
"Kau terlihat ingin buru-buru lepas dari ku dan akan mencari mangsa yang baru?" celetuk Yojin membuat Moly dengan tatapan tajam.
Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Moly, semua rasa kesal di pendam di dalam hatinya. Moly berusaha mengatur napasnya.
"Kita makan dulu," ucap Yojin langsung menepikan mobilnya.
"Aku tidak lapar, tuan saja yang makan," celetuk Moly membuat Yojin menatap ke arah Moly.
"Kau harus makan, bagaimana jika nanti malam aku ingin menikmati tubuh mu. Jika kau tidak makan kau tidak akan kuat mengimbangi ku," ucap Yojin dengan begitu kasar kepada Moly.
"Hentikan!" teriak Moly menutup kupingnya.
Moly berusaha untuk tidak marah, berulang kali dirinya mengatur napas untuk meredakan sesak di dadanya.
Yojin memutuskan untuk melajukan mobil itu kembali ke apartement. Tanpa ada suara sama sekali di dalam mobil membuat Yojin terus melirik Moly.
Yojin tidak menyadari perilakunya sangat menyakiti hati Moly, Yojin masih beranggap Moly adalah wanita yang gampangan. Karena kesalahpahaman itulah yang membuat Yojin masih kekeh berpikir bahwa Moly adalah wanita pemuas nafsu pria.
"Tapi jika memang dia sudah di sentuh oleh pria lain, kenapa aku malam itu penuh bercak darah di atas kasur? Atau jangan-jangan dia masih perawan sungguhan. Astaga pikiran ku sangat kacau," gumam Yojin di dalam hatinya.
Sampai apartement Moly memeriksa ponselnya dan memberitahu kepada Yojin jika dirinya ada pertemuan makan malam bersama koleganya.
"Tuan nanti malam anda ada pertemuan dengan pengusaha dari china," ucap Moly.
"Batal kan semuanya, aku lelah," ucap Yojin dengan nada yang dingin.
"Baik tuan," ucap Moly menatap sekilas wajah Yojin.
Moly pun langsung menghubungi asisten Han untuk membatalkan pertemuan Yojin bersama Koleganya.
Moly langsung berjalan menuju kamar nya, segera menutup pintu rapat-rapat Moly menatap cermin. Terlihat pantulan wajahnya di cermin.
"Aku benci tubuh ku, kenapa semua orang jahat dengan ku, apa salah ku," ucap Moly menangis sesenggukan.
"Bagaimana jika nanti aku hamil? Dan aku menyandang status sebagai seorang janda. Apa aku mampu?" geturu Moly menatao cermin itu.
"Aku sangat membenci nya, pria yang kasar! Beraninya dia menyentuh tubuh ku dengan begitu brutal." gerutu Moly dengan tatapan yang sangat mengerikan menatap cermin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments