Setelah menelusuri bangunan Glastonbury, para rombongan kemudian lanjut ke menara yang terkenal di distrik tersebut. Di saat murid-murid lainnya menikmati kunjungan tersebut, Sara merasa ada sesuatu yang mengganjal.
Ia kebingungan dan melirik kesana-kemari, namun entah apa yang dicarinya. Abyss yang melihat hal itu, kemudian menghampiri Sara.
“Ada apa Sara?”
“Entah mengapa, ada sesuatu yang mengganjal yang ku rasakan saat ini.”
“Oh ya, di mana Kai?”
Sara kemudian melihat di sekitarnya. “Aku tidak tahu. Aku pikir, tadi Kai masih mengikuti kita.”
Dari atas gedung menara, Viper berdiri sambil memantau sekitarnya. Ia di dampingi empat Iblis dengan berbagai tingkat, mulai dari tingkat C hingga A.
“Bagaimana posisi tiga jenderal saat ini?” tanya Viper.
“Posisi mereka saat ini aman dan siap untuk menyerang,” jawab salah satu Iblis.
“Baguslah kalau begitu. Dengan begini, aku bisa menghancurkan mereka.”
Viper mengangkat tangan kanannya. Dari tangan kanannya, sebuah kekuatan muncul. Ia pun menembakkan kekuatan tersebut ke atas langit.
Muncul sebuah medan yang seperti medan tempur. Namun, medan ini berbeda dari medan tempur milik Avalon. Medan ini berwarna ungu dan memiliki aura yang mencekam. Tidak hanya satu yang muncul, melainkan masing-masing distrik telah dipasangkan medan tersebut.
Para pengunjung serta murid terkejut, kebingungan dengan apa yang terjadi saat ini. Abyss dan Sara merasakan kekuatan yang besar yang muncul di sekitar mereka.
“Siapa yang mempunyai kekuatan sebesar ini?”
“Aku juga tidak tahu. Tapi, orang ini pasti sangat berbahaya.”
“Kalau begitu, kita harus memeriksanya.”
“Baik.”
Mereka berdua pergi menuju sumber kekuatan tersebut. Di atas gedung, setelah selesai memasang medan, Viper menyuruh tiga Iblis untuk masuk dan menyerang para pengunjung.
Mereka pun masuk dan menyerang para pengunjung. Semua orang begitu panik dan lari ketakutan. Mereka berusaha keluar dari bangunan tersebut. Namun karena adanya medan, mereka tidak bisa keluar.
Melihat mangsanya tak bisa kabur, mereka tampak senang dan melanjutkan serangan kepada para pengunjung. Banyak korban yang mengalami luka-luka hingga berusaha diungsikan ke tempat yang aman dan ditangani.
Di tengah keriuhan suara orang-orang yang meminta pertolongan, seorang anak kecil kebingungan mencari kedua orang tuanya. Salah satu Iblis datang menghampiri anak kecil tersebut.
Iblis itu mencoba menyerang anak kecil yang sudah dalam keadaan pasrah. Kemudian, Iblis itu ditendang dengan keras oleh seseorang, yaitu Sandy. Ia berhasil menyelamatkan nyawa anak kecil tersebut dari maut.
“Apakah kau tidak apa-apa?”
Anak kecil itu mengangguk sebagai jawabannya. Sandy menyeka air matanya kemudian membawanya ke tempat yang aman.
“Kamu untuk sementara di sini. Aku jamin, kamu akan selamat.”
Sandy meninggalkan anak kecil yang ditolongnya, lalu pergi menghampiri Iblis tersebut. Sementara itu, Iblis tersebut berdiri tegak menunggu kedatangan Sandy.
“Akhirnya, kau datang juga.”
“Heh, sepertinya ini akan menarik.”
“Hahaha, jangan merasa sombong. Kau itu hanya seorang manusia.”
Sandy membalasnya dengan senyuman. “Meskipun begitu, aku bisa menghancurkan mu.”
Sandy mengambil GA yang berada di dalam saku celananya. Kemudian, ia mengaktifkan pakaian tempur.
Mereka berdua saling berhadapan satu sama lain. Sandy merasakan aura musuhnya yang begitu kuat. Ia yakin Iblis tersebut berada pada tingkat A.
Iblis itu maju untuk melakukan serangan yang pertama. Dengan cakarnya, ia melontarkan serangan yang mematikan kepada Sandy. Namun, serangan tersebut berhasil dihindari oleh Sandy.
Kemudian, Sandy maju untuk melakukan serangan balasan. Dengan tangan yang mengepal, ia melancarkan pukulan yang keras kepada Iblis itu. Pukulan tersebut masih bisa ditahan, dan membuat Sandy menjaga jarak darinya.
Iblis itu tersenyum kepada Sandy. Melihat itu, membuat Sandy merasa kesal. Kemudian, Sandy memanggil senjata andalannya, yaitu Tonfa. Ia memainkan Tonfa dengan lihai.
“Ayo, kita sudahi pemanasan dan lanjut ke pertarungan yang sebenarnya.”
Sementara itu, Miya membantu mengarahkan orang-orang untuk berlindung di tempat yang aman. Tiba-tiba, dua Iblis datang menghampirinya. Miya kaget dan berusaha melarikan diri.
Kedua Iblis tersebut tidak membiarkannya lolos dan mencegahnya. Miya terpojok dan tak tahu apa yang harus ia lakukan. Di tengah kegelisahan dan ketakutan yang menghampirinya, suara tembakan terdengar dan mengenai kedua Iblis tersebut.
Seorang wanita berkacamata berjalan dengan santai lengkap memakai pakaian tempur dan memegang senjata api ditangannya. Kedua Iblis itu bangkit dan memulihkan luka yang terkena tembakkan.
“Cih, harusnya aku menembaknya di kepala,” kata wanita itu dengan perasaan kesal.
Melihat kedua Iblis tersebut teralihkan, Miya berlari menuju wanita itu dan berlindung di belakangnya.
“Anu … terima kasih telah menolongku.”
“Tidak apa-apa. Itu sudah menjadi tugasku.”
“Eng … kalau boleh tau, siapa namamu?”
Wanita itu memperbaiki kacamata nya dan melihat Miya. “Namaku adalah Ginny Yesicha. Kamu bisa memanggilku Ginny.”
Di tengah perbincangan, kedua Iblis itu merasa kesal karena diabaikan. Mereka berdua mengeluarkan aura yang kuat hingga membuat Ginny merasakannya.
Ginny pun mengisi peluru pada senjata apinya. Kemudian, ia bersiap untuk melakukan tembakan. Sementara, Miya berdiri di belakang Ginny sambil berharap Iblis tersebut bisa musnah.
.........
Di atas gedung menara, Viper melihat tiga bawahannya bertarung dengan Sandy dan Ginny. Ia merasa terkesan dengan perjuangan manusia yang menurutnya hanya sekadar seekor serangga.
Di tengah itu semua, Viper mendengar suara kaki yang berlari menuju ke atas gedung menara. Ia tersenyum dan mengharapkan para serangga itu bisa melakukan perlawanan yang berarti.
Ternyata, suara kaki itu berasal dari Abyss dan Sara. Mereka berdua berlari menuju ke atas gedung menara untuk menemui seseorang yang memasang medan tersebut.
Mereka berdua akhirnya sampai dan bertemu dengan Viper. Mereka saling menatap dengan tajam dan mengeluarkan aura yang saling mengancam.
“Wah, akhirnya kita bertemu lagi … gadis kecil.”
“Abyss, wanita itu adalah salah satu jenderal yang kami temui sebelumnya.”
“Jika dilihat dari dekat, cukup imut. Tapi, sayang sekali dia jahat.”
“Hahaha. Terima kasih, atas sanjunganmu. Namun, rasanya kurang seru jika kita tidak awali dengan pertarungan pada pertemuan hari ini.”
Abyss dan Sara mengaktifkan pakaian tempur. Kemudian, mereka berdua memakai topeng untuk menutupi identitas mereka.
“Avalon: Wind Spear.”
“Avalon: Water Arrow.”
Viper tersenyum, kemudian melakukan tepuk tangan. “Wow, inilah yang kuinginkan. Kalau begitu, mari kita mulai!”
Abyss berlari menuju ke arah Viper untuk melakukan serangan. Ia mengayunkan tombaknya dan kemudian menyerang Viper tanpa ragu. Sayangnya, serangan tersebut dapat dihindari.
Kini, giliran Viper yang melakukan serangan balasan. “Elemen Racun: SERANGAN RACUN MEMATIKAN!!”
“Elemen Air: TEMBAKAN AIR!!”
Serangan Viper berhasil ditangkis oleh Sara, dan Abyss kemudian mundur untuk menjaga jarak. Suasana menjadi tegang dan mencekam. Tatapan mereka tidak teralihkan oleh apapun di sekitarnya.
“Kalian boleh juga. Tapi, ini baru permulaan saja.”
Viper kemudian mengeluarkan kekuatan yang cukup besar. Abyss dan Sara bersiaga dengan suatu ancaman yang akan menghampiri mereka.
“Elemen Racun: TONGKAT SABIT KEMATIAN!!”
Sebuah tongkat sabit berwarna hitam pekat dipegang oleh Viper. Abyss dan Sara merasakan tongkat sabit tersebut sangat berbahaya. Bisa saja, nyawa mereka melayang jika lengah.
Mereka saling menatap dan mengeluarkan aura yang besar. Viper tersenyum lebar dengan keadaan tersebut. Sementara itu, Abyss dan Sara hanya bisa memasang wajah yang serius.
Waktu sudah menunjukkan siang hari, namun pertarungan antara manusia dengan Iblis di Distrik Pendragon, masih belum usai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments