Di tengah malam, saat masyarakat tertidur dengan lelap – berangkatlah kami ke stasiun bawah tanah yang lama tak terpakai. Stasiun tersebut disinyalir ada hubungannya dengan ruangan bawah tanah. Seperti itulah yang tertera di dalam peta.
Kami menuju lokasi menggunakan bus, dan ditemani beberapa pasukan dari Divisi I. Alasan kami memilih pergi di waktu tengah malam, yaitu untuk tidak menarik perhatian masyarakat. Sebab ketika menjelang malam, aktivitas masyarakat mulai dibatasi. Terlebih jika memasuki tengah malam, semua masyarakat telah tertidur dengan pulas.
Setelah memakan waktu perjalanan selama sejam, akhirnya kami telah sampai di lokasi. Tujuh orang lainnya masuk ke dalam stasiun bawah tanah tersebut. Dengan perasaan ragu-ragu, aku ikut masuk mengikuti mereka.
Saat memasukinya, terlihat stasiun bawah tanah ini sudah tua dan tak terawat lagi. Wajar saja, karena semenjak diresmikan stasiun bawah tanah yang baru – operasional dan lainnya dipindahkan ke tempat yang baru. Namun, siapa sangka, jika tempat ini menyimpan ruangan rahasia.
Kami terus menjelajahi stasiunnya selama berjam-jam. Sampai akhirnya, kami menemukan sebuah pintu yang mencurigakan. Salah satu dari kami membuka pintunya dengan perlahan. Kemudian, kami masuk ke dalam untuk menjelajahinya lebih jauh.
Dalam penjelajahan, tidak ada satu pun interaksi yang terjadi di antara kami. Mereka hanya fokus dalam tugasnya. Walaupun mereka tidak mengetahui namaku, namun aku mengetahui nama mereka. Dalam hati aku ingin mencoba menyapa, namun merasa gugup dan mengurungkan untuk tidak melakukannya.
Setelah cukup lama menjelajah, kami dikejutkan dengan suatu hal yang berada di depan. Terdapat delapan lorong saling berjajar di hadapan kami, dan juga tiap lorong bertuliskan angka di atasnya.
Flora Bedivere, salah satu orang yang lolos berjalan dan memilih lorong angka lima. Sementara Zaganos dan Erthagol memilih lorong angka tiga dan empat. Abyss Walker tan[a ragu memilih masuk di lorong angka tujuh.
Masamune Dan tanpa ragu masuk ke lorong angka enam. Sementara itu, Suzune Shizuka memilih lorong angka dua. Hanya tinggal aku dan Sara yang masih belum menentukan mau ke lorong mana. Sara menoleh ke arahku, begitupun denganku. Ia mengangguk, lalu pergi ke lorong angka satu.
Hanya tinggal diriku seorang saja yang berada di sini. Tersisa lorong angka delapan yang ingin dimasuki. Dengan perasaan gugup, aku memberanikan masuk ke lorong angka delapan.
Saat menjelajah, aku melihat beberapa lukisan yang terpampang di dinding. Lukisannya unik dan jika dijual, mungkin akan mahal – begitulah pikirku.
Aku terus menjelajahinya, sampai sebuah pintu menghentikan langkahku. Perasaan aneh muncul di dalam diriku. Jika membukanya, sesuatu yang membahayakan bisa saja muncul. Dengan mengumpulkan keberanian, aku perlahan membuka pintu tersebut.
Terkejut, itulah pertama kali saat melihatnya. Di balik pintu, terdapat ruangan yang indah. Ada beberapa benda antik dan berharga. Di hadapanku, sebuah cawan berwarna gelap terpajang dengan gagah.
Aku membuka pesan yang sudah dikirim oleh Profesor Adalia. Pesan itu berisi tentang sebuah cawan yang ternyata menampung kekuatan elemen di dalamnya.
Aku berjalan menuju cawan tersebut. Saat berada tepat di depannya dan ingn menyentuhnya, tiba-tiba tanah bergetar. Saat aku melirik ke arah belakang, dinding hancur seketika. Penyebabnya adalah sesosok Iblis yang muncul. Bagaimana bisa dia tahu tempat ini?
Tubuhnya cukup besar, tinggi dan kekar, giginya beruncing tajam begitupun dengan kukunya, serta matanya yang merah menyala. Ia, memperlihatkan wujud yang sebenarnya kepadaku. Apakah ia kategori Iblis tingkat C? Tidak, sepertinya D.
“Hei, apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku.
Iblis itu melihat ke arah kanan dan ke kiri. Lalu, ia menoleh ke bawah. Ia tersenyum bangga melihat ukuran lawannya lebih kecil darinya.
“Oi bocah, apa yang kau lakukan di sini?”
“Huh, makhluk menjijikkan sepertimu tidak perlu tahu urusanku.”
“Hooh. Sepertinya kau ingin bertarung melawanku, ya.”
Aku mengaktifkan senjata dan pakaian tempur, kemudian memasang kuda-kuda untuk siap menyerangnya. Iblis itu merasa terkesan dengan keberanianku.
Iblis itu mulai maju menyerangku dengan cepat. Aku yang menyadarinya pun melakukan pertahanan. Dengan kuat ia memukulku, namun pukulannya berhasil tertahan oleh senjataku yang berupa pedang.
Aku mendorongnya dengan sekuat tenaga hingga ia mundur cukup jauh. Kemudian, melangkah maju untuk menyerangnya.
.........
Pertarungan di antara kami sangat sengit. Saling jual-beli serangan pun terjadi dengan temp yang cepat. Meski perbedaan kekuatan yang cukup jauh, hal itu tidak membuatku patah semangat. Jujur saja, jika tidak ada tes-tes tersebut mungkin saja aku mati dengan cepat.
Melihat lawannya cukup tangguh, ia kemudian menjaga jarak. Iblis itu memasang wajah kesal. Tanpa menunggu lama, aku langsung bergerak cepat menyerangnya. Dan, akhirnya serangan ku berhasil mengenainya. Kemudian, aku mundur untuk menunggu momen yang tepat untuk menyerangnya lagi.
Melihat darah keluar dari tubuhnya, ia marah dan mengeluarkan aura yang mengerikan. Tiba-tiba, kakiku gemetar setelah melihatnya. Sangat cepat, gerakannya yang tiba-tiba membuatku tak bisa berkutik hingga terkena serangannya. Aku terpental cukup jauh dan merasakan sakit yang luar biasa.
Iblis itu mengamuk sejadi-jadinya. Aku berusaha bangkit dan kembali memasang kuda-kuda menyerang. Iblis itu maju ke arahku dengan cepat, begitupun denganku. Serangan kami berbenturan hingga membuatku kembali terpental. Sangat kuat, kekuatannya melebihi dari sebelumnya.
Pertarungan ini, sangat berat sebelah. Apakah aku mati di tempat ini? Aku tidak bisa berpikir jernih lagi. Dengan keadaan lemas, aku berusaha bangkit kembali. Aku mengangkat senjataku dan berlari ke arahnya.
Iblis itu hanya berdiam diri menunggu kedatanganku. Dengan sekuat tenaga aku melancarkan serangan kepadanya. Namun, serangan ku dengan mudah ditepisnya. Iblis itu menendangku hingga membuatku kembali terpental.
Tubuhku, penuh dengan luka-luka dan sulit untuk bergerak lagi. Pandanganku perlahan mulai kabur. Apakah ini akhir dari hidupku?
Tiba-tiba, cawan itu mengeluarkan sebuah cahaya yang terang dan membuat pandangan Iblis itu kabur. Aku merasakan sebuah kehangatan dari cahaya tersebut.
Dibalik cahaya, aku melihat seseorang berdiri dan mengulurkan tangan kepadaku. Tanpa rasa ragu, aku meraih tangannya.
Setelah itu, cahayanya menghilang seketika. Iblis itu melihatku yang sudah berdiri tegak dihadapannya. Tatapanku tajam mengarah kepadanya. Iblis itu tersenyum lebar, kemudian bersiap menyerang.
Dengan penuh percaya diri, Iblis itu mengeluarkan semua kekuatannya untuk mengakhiri pertarungan ini. Dengan memusatkan kekuatan pada senjata, aku juga berniat mengakhiri pertarungan ini.
Kami bersama-sama bergerak maju dan saling menyerang dengan kekuatan penuh. Dengan keras, serangan kami berbenturan hingga mengakibatkan getaran tanah yang cukup kuat. Tanpa mempedulikan nyawa, aku dengan sekuat tenaga mengerahkan semua kekuatan untuk mengakhirinya.
Pada akhirnya, aku berhasil memenangkan pertarungan ini dengan menebasnya menjadi dua bagian. Bersamaan dengan itu, senjataku hancur seketika karena efek dari kekuatanku. Tiba-tiba, mataku berkunang-kunang. Tubuhku lemas hingga membuatku terkapar dan tak sadarkan diri.
...***...
Setelah pertarungan tersebut, aku tak sadarkan diri selama satu hari. Saat tersadar, aku sudah berada di ruangan perawatan. Aku menengok ke arah kiri, ternyata sudah ada Profesor Adalia yang tengah mencatat sesuatu.
Melihat diriku yang sudah tersadar, ia menghampiriku sambil membawa catatannya. Ia duduk sambil memberikan senyumannya kepadaku.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Yah, tubuhku masih belum bisa bergerak untuk saat ini.”
“Bisakah kau menceritakan semua yang kau alami ketika berada di ruangan tersebut?”
Aku kemudian menceritakan semuanya dari awal hingga bertemu dengan sesosok Iblis dan bertarung dengannya. Profesor Adalia mencatat semua yang kuceritakan dengan seksama dan teliti.
“Jujur saja, aku tak percaya jika ada sesosok Iblis yang menyusup ke sana. Padahal, misi yang kalian lakukan itu sangatlah rahasia,” katanya.
“Entahlah, aku juga tidak tahu.”
“Baiklah, kita beralih ke pembahasan selanjutnya.”
Profesor Adalia menutup catatannya dan menatapku dengan serius. “Ada suatu hal yang ingin ku tanyakan kepadamu.”
“Apa itu? Kenapa tiba-tiba tatapanmu serius begitu?”
“Kau … apa alasanmu bergabung dengan DHA?”
“Eh, kenapa kau bertanya seperti itu?” Aku tiba-tiba bingung dengan pertanyaannya.
“Aku hanya penasaran saja dengan masing-masing tujuan dari anggota DHA.”
“Kenapa kau begitu penasaran dengan tujuan kami bergabung dengan DHA.”
“Kai, ingatlah ini. Sebagai salah satu atasan, penasehat, sekaligus mentor mestinya perlu tahu alasan bawahannya bergabung. Tujuannya tentu saja agar bisa memahami dan menyesuaikan dengan visi dan misi organisasi. Jika alasan bawahan melenceng dari organisasi, patutnya perlu diperbaiki. Yah, begitulah kira-kira.”
Aku terdiam dan memikirkan jawaban dari pertanyaannya. Dan, aku baru menyadarinya saat ini. Kenapa baru sekarang aku menyadarinya?
“Jawabanku … tidak tahu.”
“Tidak tahu? Apa maksudmu?” Profesor Adalia mengernyitkan dahinya karena kebingungan.
“Maksudku, alasan keberadaanku di dunia ini saja tidak tahu. Begitupun alasan bergabung dengan DHA. Aku … sama sekali tidak tahu.”
Professor Adalia menghela nafas lalu membalikkan badannya. “Kalau begitu, mulai sekarang kau harus mencari alasanmu berada di dunia ini, dan … juga alasan bergabung di DHA.”
“Ah, baik. Aku akan mencoba mencarinya mulai dari sekarang.”
Professor Adalia kemudian pergi dari ruangan perawatan sambil melambaikan tangan.
Dari luar jendela, terdengar suara kicauan para burung. Aku bisa melihatnya meski berada di tempat tidur. Kemudian, mereka terbang ke atas langit meninggalkan beberapa helai bulu. Mungkin sama sepertiku, mencari alasan keberadaan mereka di dunia ini.
Sepertinya, aku tidak bisa berlama-lama berada di sini. Harus cepat pulih, lalu mencari jawaban dari pertanyaan yang selama ini bergelantungan di pikiranku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments