CHAPTER 2.6 – Extra

Diary Sara

Hari ini, aku memasak di rumahnya. Secara kebetulan, hari ini ia pergi berkencan dengan seorang wanita. Jujur, aku merasakan rasa sakit pada dadaku. Sesak … dan sulit untuk bernapas.

Saat tengah memasak, aku mendengar sebuah pintu terbuka. Ternyata, ia sudah pulang. Aku pikir, ini terlalu cepat untuknya pulang.

Kemudian, suara kakinya menuju ke arah dapur dengan tergesa-gesa. Aku membalikkan badan untuk melihatnya. Ia, sudah berada tepat di depan pintu dapur.

Aku menyambutnya sambil memberikan senyuman hangat seperti biasa kepadanya. Namun, tiba-tiba ia memelukku. Begitu erat pelukannya kepadaku. Hal itu membuatku terkejut sekaligus membuatku malu.

Aku bertanya kepadanya tentang ini. Ia hanya menjawab sekadar ingin memelukku saja. Aku tak tahu apa yang terjadi dengannya hari ini. Mungkin, ia ingin menenangkan dirinya.

Dengan senang hati, aku menerima pelukan darinya. Begitu hangat dan nyaman, itulah yang ku rasakan. Kami melakukan ini berlangsung selama beberapa menit.

Setelah selesai berpelukan, kami berbincang seperti biasanya. Membahas pekerjaan yang dilakukan. Cukup lama sekali pembahasan yang kami bincangkan.

Sampai, pertanyaan itu tiba-tiba muncul di kepalaku. Pertanyaan tentang perasaannya ketika pergi berkencan dengan Miya. Aku ingin bertanya, namun hatiku tak siap untuk menerima jawabannya.

Dengan keberanian, aku pun mengalihkan perbincangan. Dengan lidah yang terbata-bata, aku bertanya tentang kencannya. Ia pun menceritakan hal-hal apa saja yang dilakukan saat kencan dengan Miya.

Saat bercerita, ia terlihat senang dan menikmatinya. Hal itu membuat dadaku sakit. Ternyata, ia lebih memilih Miya daripada diriku.

Kemudian, ia mengatakan bahwa Miya mengungkapkan perasaan kepadanya. Dadaku tambah sakit merasakan kekecewaan disaat yang bersamaan. Mungkin, Miya adalah wanita cocok dengannya jika dibandingkan denganku.

Begitulah awalnya aku berpikir. Sampai, ia mengatakan bahwa ia menolak perasaan Miya. Ia mengatakan bahwa saat ini … aku adalah prioritas utamanya.

Rasa sakit di dada serta perasaan kecewa hilang seketika. Semua itu … berubah menjadi perasaan bahagia yang sempurna.

Selama ini, aku selalu berpikir yang tidak baik. Ia tak berubah sama sekali. Ternyata, ia selalu memikirkanku dan menganggapku prioritas utamanya.

Tanpa sadar, pipiku memerah dengan sendirinya. Aku pun menutup wajahku agar tidak dilihat olehnya. Kemudian, berdiri dan pergi lanjut memasak.

Hari ini, aku merasa bahagia karena sudah mendengar pernyataannya secara langsung. Dan aku juga bahagia, karena bisa akur kembali dengannya.

...----------------...

Diary Miya 1

Sejak pertemuan yang kedua kali dengannya, bayangan tentang dirinya tak bisa hilang dari pikiranku. Bayangan wajahnya terus datang di setiap aku melakukan aktivitas. Apalagi, disaat aku ingin tidur. Wajahnya, muncul kembali. Membuatku tak bisa tidur dibuatnya.

Malam itu, aku memberanikan diri untuk meneleponnya. Tujuannya adalah ingin mengajaknya untuk pergi kencan bersama. Aku merasa gugup untuk mengajaknya. Meskipun begitu, aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini.

Dan, akhirnya ia menjawab teleponku. Pertama-tama, aku menanyakan kabarnya dan berbincang basa-basi terlebih dahulu. Kemudian, aku bertanya tentang waktu luangnya di akhir pekan. Saat ia menjawab punya waktu luang, aku pun mengajaknya pergi kencan.

Ia terdiam dan tak merespon. Aku mengira, ia marah dan akan menolaknya secara mentah-mentah. Aku merasa sudah putus asa dengan jawabannya. Namun, perasaan putus asa berubah menjadi sebuah harapan.

Ia pun mau dan bersedia berkencan denganku. Betapa bahagianya diriku saat mendengarnya. Aku sungguh menantikan kencan ini.

Diary Miya 2

Hari yang dinantikan telah tiba. Aku datang ke tempat yang dijanjikan lima menit lebih awal. Sambil menunggunya, aku melihat kembali riasan melalui kamera telepon genggam. Tak lupa juga, hari ini aku menggunakan pakaian yang akan membuatnya terpanah.

Ia pun akhirnya datang dan menghampiriku. Wah, keren dan tampan sekali dirinya. Hatiku berdegup kencang saat melihatnya. Aku berharap, ia juga merasakan hal yang sama.

Kemudian, kami berbincang tentang rencana ke tempat-tempat yang ingin dituju. Lalu, kami pun memutuskan untuk pergi ke café sebagai tujuan pertama.

Di dalam café, kami menikmati makanan dan minuman yang telah dipesan sebelumnya. Tak lupa juga, kami saling berbincang satu sama lain.

Setelah dari café, kami pergi jalan-jalan ke mal. Di sana, kami berbelanja pakaian dan beberapa aksesoris. Kemudian, kami juga pergi ke tempat bermain untuk lebih bersenang-senang.

Saat lelah, kami pun istirahat di tempat yang menjual berbagai macam dessert. Aku sangat bahagia hari ini bisa melakukan kencan bersama dengannya.

Setelah selesai dari mal, kami mengunjungi taman di alun-alun Distrik Bagaskara. Ia bertanya kepadaku tentang kencan hari ini. Aku pun menjawabnya dengan penuh bahagia.

Melihat wajahnya yang tersenyum itu, membuatku tidak tahan. Aku harus sesegera mungkin mengungkapkan perasaanku kepadanya.

Dengan keberanian dan percaya diri, aku pun mengungkapkan perasaanku kepadanya dengan serius dan tulus. Berharap, ia bisa membalas perasaan yang sama kepadaku. Begitulah pikirku.

Dengan suasana yang serius, ia menjawab perasaanku. Namun, bukan jawaban itu yang kuharapkan. Jawabannya … sungguh membuat dadaku sakit. Aku ingin menangis saat itu juga. Tetapi, aku tak ingin membuatnya merasa terbebani.

Aku pun berdiri dan berpamitan pulang. Ia ingin mengantarku pulang, namun aku tak bisa menerimanya. Aku tak ingin, ia melihat wajah sedihku ketika pulang bersamanya.

Aku pergi meninggalkannya di taman sambil sesekali menyeka air mata yang jatuh. Aku tak mau membalikkan badan untuk melihatnya.

Sesampainya di rumah, aku berbaring di atas kasur. Saat mengingat kejadian itu, dadaku seketika sakit. Hatiku … terasa hancur dibuatnya. Aku tidak menyangka akan mendapatkan jawaban itu darinya.

Apakah aku masih punya kesempatan? Apakah aku bisa menyentuh hatinya? Apakah aku bisa membuatnya berpaling? Dan, apakah aku bisa membuatnya mau bersama denganku?

Semua pertanyaan itu, bergelantungan di dalam pikiranku. Aku bingung ketika nanti bertemu dengannya. Wajah seperti apa yang harus terpasang? Wajah yang tersenyum namun berbalut kebohongan? Atau, wajah yang sedih namun berbalut kejujuran?

...----------------...

Diary Profesor Adalia

Ketika suatu insiden terjadi di tahun MMXX, sebagai seorang profesor, sudah menjadi kewajiban untuk melakukan suatu penelitian. Ketika salah satu pasukan militer memberikanku sebuah tubuh, aku cukup terkejut saat melihatnya.

Tubuh yang tidak biasa berada di hadapanku. Aku melakukan rontgen pada tubuh tersebut. Organ tubuhnya, cukup berbeda dari tubuh manusia pada umumnya. Ini adalah pertama kali, aku mendapatinya.

Kemudian, aku pergi ke perpustakaan negara. Di sana, aku berusaha mencari buku terkait kasus yang saat ini diteliti. Dengan dibantu para asisten, kami membaca semua buku yang ada.

Namun, itu ternyata tidak mendapatkan hasil ang memuaskan. Sampai, salah seorang asisten tak sengaja mendapati sebuah ruangan yang asing. Dengan tanpa ragu, kami pun memasukinya.

Betapa terkejut kami dibuatnya saat memasuki ruangan tersebut. Banyak sekali manuskrip kuno yang tidak pernah kami lihat. Kami pun mencoba melihat dan membacanya.

Ternyata, manuskrip kuno tersebut berisi tentang makhluk bernama Iblis. Banyak sekali yang dijelaskan didalamnya. Mulai dari deskripsi tubuh mereka, cara mereka menyerang dan membunuh, hingga kelemahan mereka.

Melihat kabar gembira ini, membuatku segera pergi ke tempat pertemuan antar petinggi yang secara kebetulan diadakan pada hari itu juga.

Aku menjelaskan semua yang ada di dalam manuskrip kuno tersebut kepada mereka. kemudian, kami pun akhirnya mengembangkan senjata yang bisa membunuh para Iblis.

Selain itu, kami juga merekrut para anak-anak yang mempunyai potensi untuk bisa bergabung dalam organisasi Demon Hunter Avalon (DHA).

Saat ini, aku masih berusaha dan terus mengembangkan senjata dan alat lainnya untuk memudahkan mereka dalam memburu para Iblis.

Meski ini tugas yang berat, namun aku tak akan merasa jenuh ataupun mengeluh. Karena, aku menyukai pekerjaan ini. Bagiku, meneliti adalah … salah satu bagian dalam hidupku.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!