CHAPTER 1.1 – Empat Jenderal Raja Iblis

Setelah berhasil mengalahkan Iblis tingkat B, kami beristirahat sejenak sebelum menghilangkan medan tempur. Sambil aku beristirahat, Sara mengambil mayat Iblis itu lalu membungkusnya. Rencananya mayat tersebut akan dibawa ke Divisi III Militer Avalon untuk diproses lebih lanjut.

“Fiuh, akhirnya selesai juga misi kita,” kataku sambil berbaring.

“Oh iya Kai, apakah kamu sudah mengerjakan pr mu?” tanya Sara.

“Oalah, aku lupa.” Seketika aku bangkit dari rebahanku. “Ayo cepat, aku ingin mengerjakan pr ku segera.”

Sara seketika tertawa melihat tingkah lakuku yang cukup memalukan.

“Itulah kebiasaanmu. Dan di mataku ... itu sisimu yang imut,” kata Sara sambil tersenyum.

Pipiku tiba-tiba memerah dan merasa malu mendengarnya. “Bisa tidak kamu jangan menggodaku?”

“Maaf-maaf. Aku tadi hanya bercanda.”

Sara tertawa lagi setelah menggodaku. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya tertawa seperti itu. Aku bersyukur melihatnya bisa tersenyum dan tertawa karena diriku.

“Baiklah kalau begitu. Sudah saatnya kita berangkat.”

“Baik Kai.”

Saat kami sudah siap mematikan medan tempur, tiba-tiba kami merasakan hawa yang mengancam muncul. Kami terkejut dengan hawa tersebut. Kakiku tiba-tiba gemetar karena hawa tersebut. Dari atas langit, sebuah portal dimensi muncul meski dalam medan tempur. Padahal medan tersebut sangat sulit di tembus.

Dari atas langit, muncul empat orang dengan setelan pakaian yang memukau. Wujud mereka sama seperti manusia. Namun, yang membedakan adalah mereka mempunyai sayap di punggung. Dua pria dan dua wanita, itulah yang aku lihat. Aku bertanya-tanya dalam hati, kenapa dengan mudahnya mereka bisa masuk?

Mereka melihat kami yang tengah berada di bawah. Kemudian, mereka turun menghampiri kami. Tanpa sadar kami berdua mulai berkeringat dingin. Kami ingin menjauh, namun tubuh tak mau mengikuti keinginan kami.

“Jadi ... di mana kita sekarang? Sepertinya kita salah tempat.” Pria berambut kuning keemasan terlihat kebingungan.

“Hehehe. Lihat, ada dua manusia yang bisa kita bunuh,” kata pria berambut putih.

“Hei kau! Sudah kubilang untuk tidak gegabah,” kata wanita berambut coklat panjang.

“Begitulah dia. Sama sekali tidak sabaran,” kata wanita berambut hitam panjang dengan ciri khas kepang dua.

“Siapa kalian?” tanyaku dengan penuh curiga.

“Oh, benar juga. Mungkin kita perlu memperkenalkan diri terlebih dahulu.”

“Baiklah kalau begitu.” Wanita rambut hitam berkepang dua melakukan curtsy layaknya seorang bangsawan. “Namaku adalah Viper. Raja Iblis Lucifer memberiku gelar The Poison of East.”

Pria berambut putih tersenyum lebar ketika mengetahui gilirannya. “Namaku adalah Belial. Raja Lucifer memberiku gelar The Metal of South.”

“Perkenalkan namaku adalah Zoe. Raja Iblis Lucifer memberiku gelar The Fog of North.” Wanita berambut coklat panjang memperkenalkan dirinya dengan ekspresi yang datar.

“Sudah waktunya giliranku,” kata pria berambut kuning keemasan dengan penuh percaya diri. “Perkenalkan aku adalah Azazel. Raja Iblis Lucifer memberiku gelar The Black Fire of West.”

“Dan kami adalah ... Empat Jenderal Raja Iblis.” Mereka mengatakannya secara serempak.

“Apa? Empat Jenderal Raja Iblis?” Aku terkejut ketika mengetahuinya.

“Yap, benar sekali.”

“Apa yang kalian inginkan?” tanyaku.

“Kami hanya ingin menyampaikan pesan dari Raja Iblis untuk Pemimpin Avalon. Namun karena hanya ada kalian berdua, maka aku akan menyampaikannya melalui kalian saja.”

“Pesan dari Raja Iblis?”

“Pesannya adalah: ‘Bersiaplah kalian. Tidak lama lagi ... aku akan datang.’ Begitulah katanya.”

“Ah, sudahi pembicaraan ini. Mari kita bertarung,” kata Belial.

“Belial, kita datang ke sini untuk menyampaikan pesan. Bukan untuk bertarung,” kata Zoe.

“Yah, tidak ada salahnya sih kita bertarung dengan mereka berdua. Lagipula, sepertinya mereka berdua terlihat kuat,” kata Viper.

“Viper, kau jangan ikut mengompori Belial. Ingat! Kita di sini datang hanya untuk menyampaikan pesan. Bukan untuk bertarung, PAHAM?” Zoe terlihat kesal dengan tingkah temannya.

“Sudah-sudah, cukup bertengkar nya.” Azazel mencoba melerai.

Kemudian Azazel terlihat sedang memikirkan ide agar bisa menyenangkan kedua belah pihak. “Hmmm, aku punya ide. Bagaimana kalau kita bertarung selama lima menit.”

“Kita? bertarung selama lima menit?” Sara kebingungan mendengar pernyataan itu.

“Yap, kalian berdua akan melawanku dan juga Belial. Jika kalian mampu bertahan selama lima menit, maka kalian akan kami bebaskan untuk saat ini. Dan juga kami akan mundur.”

Tawaran yang diberikan Azazel bagaikan pisau bermata dua, bisa menguntungkan dan bisa juga merugikan. Sulit untuk memutuskannya di waktu yang sikat ini. Namun, jika tak memutuskan percuma saja. Kami akan mati konyol di tempat ini tanpa adanya perlawanan, dan juga memudahkan mereka untuk menyerang masyarakat.

“Kai, ayo kita lakukan bersama-sama.”

“Apakah kau yakin melawan mereka?’

“Selama kita bersama ... maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Sara menggenggam erat tanganku. Dan senyumannya itu, masih sempat terpancar di masa-masa kritis. Sara sepertinya percaya kepadaku. Berkat itu pikiran dan hatiku kembali tenang. Inilah yang membuatku ingin selalu berada di sisinya dan ingin terus melindunginya.

“Baiklah, ayo kita lakukan bersama.”

“Hehehe. Inilah yang aku tunggu-tunggu.”

“Yosh, berarti kita sudah sepakat. Zoe, Viper ... kalian berdua menjauh lah.”

Zoe dan Viper menjauh dari area pertarungan. Mereka berdua duduk di tebing yang tinggi. Meski begitu, mereka berdua mampu memantau pertarungan di antara kami. Pertarungan antara hidup dan mati. Semuanya ... dipertaruhkan di sini.

.........

Di tengah keheningan, kami saling berhadap-hadapan. Tatapan mereka yang tajam dan hawa membunuh terlihat jelas. Aku menganggap itu sebagai intimidasi semata dan berusaha untuk tenang namun serius.

Aku dan Sara kembali mengaktifkan pakaian tempur. Sara mengenakkan jubah berwarna biru, sementara aku mengenakkan jubah berwarna hitam. Setelah itu, kami kembali memanggil senjata kami.

Azazel mengambil kerikil yang berada di dekatnya. “Ketika aku melemparnya dan mendarat ke tanah, maka pertarungan kita di mulai.”

Azazel lalu melempar kerikil itu dengan cukup kuat. Setetes keringatku keluar dan jatuh bersamaan dengan mendaratnya kerikil. Dengan cepat aku menerjang mereka berdua lalu melakukan serangan.

Azazel dan Belial tiba-tiba menghilang dari hadapanku saat melakukan serangan. Aku cukup terkejut dan coba mencari-cari posisi mereka.

“Kai, lihat di atasmu.”

Aku melihat ke atas ketika mendengar perkataan Sara. Mereka berdua tepat berada di atasku saat ini.

“Hehehe, rasakan ini. Elemen Logam: SERANGAN LOGAM BERDURI!!”

Aku dengan cepat berusaha menghindari serangan itu. Satu goresan muncul dari pipi kanan ku. Meskipun tidak parah, namun tetap saja membuat perasaanku was-was.

“Elemen Api Hitam: SERANGAN BOLA API HITAM!!”

“Elemen Air: TEMBAKAN AIR!!”

Serangan Sara dan Azazel saling berbenturan dengan keras hingga mengakibatkan ledakan dari atas langit. Dengan sekuat tenaga aku melompat dan menerjang Azazel yang terlihat lengah.

“Elemen Kegelapan: TEBASAN KEGELAPAN!!”

Aku mengira serangan tersebut dapat mengenainya, namun ternyata tidak. Azazel mampu menahannya dengan mudah. Ia menahannya dengan menggunakan pedang berapi berwarna hitam.

“Elemen Api Hitam: PEDANG API HITAM!!”

Azazel kemudian menendang ku dengan kuat hingga aku terlempar cukup jauh. Aku terkapar dan merasakan sakit di sekujur tubuh. Kesal, itulah yang aku rasakan. Namun di sisi lain aku merasa beruntung karena masih hidup.

Sementara itu, Sara cukup kesulitan menghadapi Belial. Dengan kelincahannya, Belial mampu menghindari serangan Sara.

“Hehehe, sudah saatnya.” Belial tiba-tiba mengepalkan kedua tangannya. “Elemen Logam: CAKAR LOGAM!!”

“Elemen Air: PEDANG AIR GANDA!!” Sara kelihatan tidak mau kalah.

Pertempuran jarak dekat di antara mereka terjadi. Cukup intens dan menarik perhatian Zoe dan Viper. Tidak ada yang mau mengalah, walaupun pertempuran ini berat sebelah bagi Sara.

Di tempat lain, aku berusaha bangkit dan menahan rasa sakit yang di derita oleh tubuhku. Azazel menghampiriku dan turun dengan perlahan ke tanah.

“Apakah kau ingin menyerah?”

“Tentu saja tidak,” kataku dengan penuh keyakinan. “Elemen Kegelapan: BAYANGAN KEGELAPAN!!”

Untuk mengenai serangan ku, mau tidak mau aku harus menggunakan teknik ini. Dengan cepat aku dan bayanganku melancarkan serangan balasan. Azazel tersenyum melihat teknik yang aku keluarkan.

Pertempuran di antara kami sangat intens hingga Zoe dan Viper mengalihkan pandangannya ke arah kami. Gerakan yang cepat dan kombinasi antara aku dan bayanganku membuat Azazel terpojok. Ia hanya menangkis dan sesekali membalas serangan. Seolah-olah kami mendominasi, itu yang aku pikirkan.

“Elemen Api Hitam: TEBASAN API HITAM!!”

“Elemen Kegelapan: LUBANG HITAM SKALA KECIL!!”

Aku menyerap serangannya untuk menahan dan mengalihkan pandangannya. Sementara itu, bayanganku dengan cepat menyerang Azazel dari belakang. Azazel menghindar, namun dengan refleks yang lambat membuatnya terkena serangan. Azazel terpukul mundur setelah terkena serangan dari bayanganku.

“Tidak aku sangka kalian bisa mengenaiku. Serangan ini, cukup mengesankan.”

“Syukurlah jika kau menikmatinya.”

Azazel menerjang ke arahku untuk melakukan serangan balasan. Dengan sigap, aku memasang kuda-kuda untuk menahan serangannya.

Di sisi lain, Sara dan Belial saling menyerang dan menahan serangan secara bergantian. Dari wajah Belial, ia merasa begitu menikmati pertarungannya. Sementara Sara hanya memasang wajah yang fokus.

“Elemen Logam: SERANGAN CAKAR LOGAM!!”

Sara menahan serangan Belial dengan dua pedang airnya, lalu melemparnya ke atas. Tetapi, tidak disangka Belial sudah di depan Sara. Kemudian, Belial menendang Sara dengan sekuat tenaga hingga terlempar.

Sara merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Perlahan ia bangkit dan berdiri tegap. Belial terkesima dengan kegigihan Sara.

“Luar biasa. Orang biasa atau Iblis rendahan bisa mati terkena tendangan ku.”

“Sayang sekali, aku mempunyai daya tahan tubuh yang kuat. Serangan seperti itu, belum ada apa-apanya.”

“Heh, kau menghibur diri sendiri yah.”

Sara dan Belial kembali melanjutkan pertempuran mereka. Begitupun denganku yang masih bertempur dengan Azazel. Aku mengakui, teknik bertempur mereka terbilang jauh dari kami. Namun, kami terus berusaha bertahan demi bisa membuat mereka mundur.

“Elemen Kegelapan: TEBASAN KEGELAPAN!!”

“Elemen Api Hitam : TEBASAN API HITAM!!”

Serangan kami berbenturan lagi hingga suara ledakannya menggema cukup keras. Dari kejauhan, Viper tampak terpukau dengan ledakan tersebut. Sementara Zoe hanya terus memantau dengan ekspresinya yang datar.

“Lumayan juga anak itu.”

“Benar sekali. Kemampuannya saat ini cukup menjanjikan.”

Di sisi lain, Sara mulai kewalahan melawan Belial yang menyerangnya secara bertubi-tubi. Sara dengan terpaksa harus menerima satu-dua serangan dari Belial. Melihat hal itu, dengan cepat aku berganti posisi dengan bayanganku.

Aku membantu Sara menghadapi Belial. Kami berdua menggunakan kombinasi yang sudah kami latih dari dulu. Kami secara bergantian menyerang dan menangkis serangan. Raut wajah Belial seketika berubah menjadi kebingungan. Lalu, ia menjaga jarak dari kami.

Sementara itu, Azazel menendang bayanganku sampai membuatnya menghilang. Azazel datang ke lokasi kami dengan cepat.

“Ada apa dengan wajahmu?” tanya Azazel.

“Aku tidak menyangka kombinasi mereka bisa membuatku seperti ini,” jawab Belial.

“Jadi, apakah kita harus mengakhirinya?”

“Hehehe, ide itu ... boleh juga.”

“Baiklah, sudah diputuskan.”

Azazel dan Belial mengumpulkan tenaga untuk melakukan serangan yang besar. Sara mengubah kembali pedangnya menjadi busur panah dan menarik talinya untuk bersiap mengeluarkan serangan yang besar, begitupun denganku yang memasang kuda-kuda.

Tubuh kami berempat mengeluarkan aura yang besar dan menakutkan. Tatapan yang serius dan tajam muncul. Meski tubuhku gemetar, namun aku tak memedulikannya.

“Elemen Api Hitam: ....”

“Elemen Kegelapan: ....”

“Elemen Logam: ....”

“Elemen Air: ....”

Saat kami berempat hendak melakukan serangan, tiba-tiba kabut muncul dan menghalangi. Aku dan Sara kebingungan dengan kemunculan kabut tersebut.

“SUDAH CUKUP! BERHENTI KALIAN SEMUA!” Suara yang keras dan lantang terdengar dari atas bukit.

Saat aku menengok ke arah atas bukit, ternyata suara itu berasal dari Zoe. Ia kemudian turun dan menuju ke tempat kami bersama dengan Viper.

“Azazel, Belial ... saatnya kita pergi.”

“Tapi Zoe, kami masih belum puas,” kata Belial dengan ekspresi kesal.

“Sudahlah, apakah kau ingin dimarahi oleh Raja Iblis?”

“T-tentu saja tidak. Aku tidak menginginkan itu.” Ekspresi takut keluar dari wajah Belial.

“Ayo semuanya kita pergi,” kata Azazel.

Sebuah portal muncul lagi untuk kedua kalinya. Mereka berjalan menuju portal tersebut. Belial, Zoe dan Viper sudah masuk ke dalam portal. Azazel tiba-tiba berhenti dan menoleh ke belakang.

“Oi, Pemburu Iblis Kegelapan.”

“Hah? Apa itu sebuah julukan?”

“Entahlah.” Azazel kembali berjalan sambil melambaikan tangan. “Sampai bertemu lagi.”

Jujur saja, aku tidak ingin bertemu dengannya lagi. Tetapi, entah mengapa pernyataannya seperti mengarah ke takdir yang telah ditentukan. Aku harus bertambah kuat untuk mengalahkannya jika bertemu lagi.

Sara terduduk lemas setelah mereka pergi. Tubuhnya gemetar karena telah banyak mengeluarkan kemampuannya. Baru kali ini aku melihatnya seperti itu. Aku menghampirinya, lalu memeluknya dengan erat. Aku ingin menenangkannya, walau itu sejenak saja.

Setelah tenang, aku menghilangkan medan tempur lalu menuntunnya ke tempat parkir. Aku memberinya minuman kaleng hangat agar lebih membaik. Sembari menunggunya menghabiskan minuman, aku mengirim pesan kepada Divisi III Militer Avalon untuk mengambil jasad iblis yang telah kami kalahkan.

Tak lama kemudian mereka datang, lalu aku menyerahkan jasad tersebut. Aku memberitahukan kepada mereka tentang yang kami alami dan ingin mengadakan pertemuan dengan anggota Demon Hunter Avalon, para Ketua Divisi Militer dan Presiden.

Setelah semuanya selesai, aku dan Sara kembali ke tempat parkir lagi untuk pulang bersama. Misi kali ini berhasil, namun berjalan tidak mudah. Sepertinya, tantangan yang sebenarnya ... baru saja dimulai.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!