CHAPTER 2.0 – Prolog

Seperti biasa di waktu tengah malam. Anggota DHA melakukan perburuan Iblis yang masih berkeliaran. Meski tidak sebanyak seperti dulu, namun DHA tetap tidak lengah.

Dari distrik Gallagher, terjadi pertarungan sengit antara Flora dan Abyss melawan dua Iblis tingkat B. Mereka bertarung di dalam medan tempur yang diaktifkan oleh Abyss.

Iblis pertama melakukan serangan terhadap Flora. Melihat serangan menghampirinya, Flora mengangkat senjatanya, yaitu Ice Shotgun.

“Elemen Es: TEMBAKAN ES!!”

Serangan Iblis tersebut berhasil diantisipasi oleh Flora. Dengan cepat, Flora berlari lalu melompat dengan tinggi. Ia mengarahkan Ice Shotgun ke arah lawannya.

“Elemen Es: TEMBAKAN DURI ES!!”

Serangan yang dilancarkan oleh Flora berhasil melumpuhkan lawannya dalam sekejap. Sementara di sisi lain, Abyss bertarung melawan Iblis kedua. Terlihat Abyss tidak kesulitan menghadapi lawannya.

Abyss memutar senjatanya, yaitu Wind Spear. Ia memutarnya begitu mudah, lalu melancarkan serangan kepada lawannya. Sayangnya, serangan tersebut bisa di halau oleh Iblis tersebut.

“Hooh, boleh juga kau,” kata Abyss.

Kemudian, Iblis itu menuju ke Abyss untuk melakukan serangan. Dengan santai, Abyss memasang kuda-kuda.

“Elemen Angin: SERANGAN ANGIN!!”

Serangan tersebut berhasil mengenai Iblis itu dengan telak. Pertarungan di Distrik Gallagher telah selesai, dengan kemenangan dari Flora dan Abyss.

Sementara dari distrik Yavuz, pertarungan terjadi antara Zaganos dan Erthagol melawan empat Iblis dengan tingkat C. Meskipun tidak diuntungkan dalam jumlah, tetapi tidak membuat mereka berdua tertekan.

“Erthagol, buatlah dinding dengan elemen mu untuk menahan pergerakan mereka!” Zaganos memberikan instruksi kepada Erthagol.

Erthagol mengangguk dan melakukan instruksi dari Zaganos. Ia mengangkat senjatanya, yaitu Ground Hammer.

“Elemen Tanah: DINDING TANAH!!”

Dinding tanah menjulang tinggi dan membuat keempat Iblis itu tak dapat bergerak secara leluasa. Zaganos berlari dengan cepat menuju dinding tersebut. Ketika jaraknya semakin dekat, Zaganos memanggil senjatanya, yaitu Lightning Scimitar. Ia melompat dan menuju ke arah lawannya.

“Elemen Petir: SAMBARAN PETIR!!”

Serangan Zaganos berhasil mengenai mereka, sampai-sampai membuat dinding tanahnya hancur lebur. Hasil akhir, keempat Iblis tersebut kalah dalam keadaan gosong.

Dari distrik Kaigun, pertarungan terjadi antara Suzune Shizuka dan Masamune Dan dengan Iblis yang berada di tingkat A. Setelah berhasil menjebak Iblis tersebut, Shizuka maju menyerang lawannya.

Pertarungan di antara mereka berdua terlihat sengit. Gerakan mereka sangat cepat hingga membuat penglihatan orang biasa tak mampu mengikutinya. Tak mau kalah, Dan juga ikut serta dalam pertarungan tersebut.

Mereka berdua terus memojokkan Iblis tersebut hingga membuatnya marah. Iblis itu mengeluarkan aura dan kekuatan yang besar. Sementara itu, mereka berdua bersiap untuk menghadapi serangan yang akan datang.

Iblis itu maju dengan kecepatan yang tinggi. Shizuka juga maju dengan kecepatan yang sama dengan lawannya. Saat mereka saling berhadapan, secara bertahap senjata Shizuka mengeluarkan api.

“Elemen Api: SERANGAN API!!”

Serangan yang dilancarkan oleh Shizuka berhasil melumpuhkan Iblis tersebut. Dari kejauhan, terlihat Dan yang tengah berlari menuju Iblis tersebut. Senjatanya memancarkan cahaya yang menyilaukan.

“Elemen Cahaya: TEBASAN CAHAYA!!”

Serangan tersebut berhasil menjatuhkan Iblis tingkat A. Dengan segera Dan serta Shizuka membungkus mayat tersebut, lalu mematikan medan tempur. Setelah itu, mereka berdua kembali dan bersiap menyambut kedatangan pagi hari.

...***...

Di dalam gedung olahraga sekolah, semua murid kelas satu melakukan pembelajaran bela diri. Mulai dari pemula hingga yang sudah terlatih, semuanya tetap diajarkan. Pak Adnan kembali menjadi pengajar kali ini.

“Hari ini, aku ingin melihat kemampuan kalian dalam bela diri. Bertarung lah satu lawan satu!,” kata Pak Adnan.

Kemudian, Pak Adnan memanggil dua murid untuk saling bertarung. Hal itu terus diulang, sampai giliranku tiba. Lawanku adalah Mahmud, salah satu murid dari kelas 1-A. Sebelum bertarung, kami melakukan salaman dan menjaga jarak.

Mahmud maju dan melakukan serangan kepadaku. Ia mengarahkan pukulan tepat ke wajahku. Dengan cepat aku menghindarinya dengan mengambil tangannya, lalu membantingnya. Pertandingan tersebut berakhir hanya beberapa saat saja.

Kemudian, Pak Adnan memanggil Sandy dan salah satu murid dari kelas 1-D. Mereka berdua saling berhadapan satu sama lain.

Pertandingan di antara mereka berdua pun dimulai. Mereka berdua sama-sama memasang kuda-kuda sebelum menyerang.

Tiba-tiba, aku dikejutkan dengan gerakan kuda-kuda yang dikeluarkan oleh Sandy. Gerakan kuda-kudanya sangat tidak asing bagiku. Gerakan itu, seperti gerakan hewan buas. Tepatnya, seperti gerakan seekor Jaguar.

Sandy maju menyerang lawannya. Tanpa menunggu lama, ia mengeluarkan kemampuannya dengan luar biasa. Dengan gerakan itu, ia mampu menjatuhkan lawannya tanpa ada celah. Pertandingan tersebut dimenangkan oleh Sandy dengan mudah.

Setelah pertandingan selesai, Sandy berjalan menuju ke arahku. Spontan aku melemparkan botol minuman kepadanya. Kemudian, ia meresponnya dengan cepat.

“Kerja bagus,” kataku.

“Terima kasih.” Kemudian, Sandy meneguk air yang ku berikan. “Kau juga, kerja bagus,” sambungnya setelah meneguk air.

“Ngomong-ngomong, gerakanmu tadi sangat luar biasa.”

“Hahahaha, kau bisa saja.”

“Dari mana kau dapatkan gerakan tersebut?”

Sandy duduk di sampingku, kemudian ia memandangiku. “Aku mempelajarinya dari Ayahku.”

“Ayahmu?”

“Ya, Ayahku adalah pengguna teknik bela diri Beast-Fist.”

“Beast-Fist? Sepertinya nama itu tidak asing di telingaku.”

“Beast-Fist merupakan teknik bela diri dengan gaya hewan. Teknik bela diri ini berjalan selama kurang lebih sepuluh tahun. Gaya Jaguar merupakan salah satunya. Seseorang yang mempopulerkan gaya tersebut … adalah Ayahku.”

“Begitu yah. Kalau tidak salah, aku pernah mendengar rumor tentang satu-satunya pasukan militer yang menggunakan bela diri yang berbeda.”

“Benar, dan dia adalah Ayahku.”

“Ayahmu?”

“Ya, dan namanya adalah … Rahmat Wijaya.”

Setelah mendengar namanya, aku akhirnya mengingat orang tersebut. Dulunya, ia pernah membantuku saat berburu Iblis. Setelah itu, sudah tidak terdengar kabar tentangnya lagi.

“Saat ini, gimana keadaannya?”

Sandy tiba-tiba memeluk lututnya. “Ayahku … sudah lama meninggal.”

“Aku minta maaf. Aku tidak tahu hal itu.”

“Tidak apa-apa kok. Santai saja.”

“Tapi, Ayahmu hebat juga. Jarang sekali ada pasukan militer yang dikenal oleh orang-orang.”

“Kau benar. Aku benar-benar bangga padanya.”

“Memang benar yah, seseorang yang pergi meninggalkan hal baik pasti akan dikenang dan sering diceritakan tentang kebaikannya.”

Sandy kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya kepadaku. “Kalau begitu, kita harus pergi. Pelajaran selanjutnya, akan dimulai.”

Aku meraih tangannya untuk membantuku berdiri. Kemudian, kami berdua pergi menuju tempat murid lainnya berkumpul.

Setelah semuanya berkumpul, Pak Adnan memberikan arahan kepada kami selama kurang lebih lima menit. Kemudian, ia mengakhiri pelajaran hari ini dan menyuruh kami untuk kembali ke kelas.

.........

Waktu telah menunjukkan sore hari. Aku dan Sandy tengah bersantai di salah satu kafe setelah pulang dari sekolah. Ini kedua kalinya ia mengajakku pergi ke kafe.

Di depan kami sudah tersedia dua spageti dan dua minuman jus. Tanpa ragu, Sandy menikmati hidangan tersebut dengan mengeluarkan ekspresi yang lucu. Caranya makan sudah seperti kucing saja.

“Apwa kwau pwunyaw kwegwiatwan bweswok mwalwam?” Sandy memberikan pertanyaan dengan mulutnya yang masih penuh.”

“Setidaknya, telan dulu semua makanan mu. Setelah itu, baru bicara.”

Perlahan Sandy menelan makanan yang berada di mulutnya. Kemudian, ia meminum jusnya. Setelah itu, itu memandangiku dengan serius.

“Apa kau punya kegiatan besok malam?”

“Tidak, memangnya kenapa?”

“Mendekatlah! Aku ingin menyampaikannya melalui bisikan,” katanya sambil menggerakkan tangan.

Dengan terpaksa dan penasaran, aku mendekatinya dan bersiap mendengarkan penyampaiannya. Kemudian, ia mendekatkan bibirnya ke telingaku dan mulai berbisik.

“Ayo, kita memburu Iblis!”

Aku terkejut dengan ajakan darinya. Apa yang ada dipikirannya? Kemudian, aku melakukan hal yang sama kepadanya.

“Apa yang kau katakan? Kau sedang bercanda, kan?”

“Tentu saja tidak. Aku serius tahu.”

“Tapi, bukankah kita tidak punya perlengkapan untuk melawan mereka.”

“Hahaha. Kalau soal itu, tenang saja,” katanya dengan nada yang sombong.

“Haduh, bagaimana jika kita ketahuan dengan pasukan militer?”

“Santai saja. Kita akan melakukannya secara diam-diam.”

“Kau ini…”

“Sudahlah, ikuti aku saja. Dijamin, akan aman kok.”

“Fiuh, baiklah. Aku akan ikut.”

Dengan terpaksa aku menerima tawaran tersebut. Apakah ini keputusan yang tepat? Aku tidak yakin sama sekali. Namun di sisi lain … aku juga masih penasaran dengan kemampuannya. Mungkin, perburuan ini bisa dijadikan sebagai referensi. Ya, kali ini akan kulakukan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!