CHAPTER 2.3 – Kita Bertemu Kembali

Beberapa hari setelah perburuan tersebut, Sandy telah kembali bersekolah. Sebelumnya, ia tidak masuk karena cedera yang dialaminya setelah pertarungan tersebut.

Saat jam istirahat, kami berdua menikmati makanan di bawah pohon yang rindang. Kami berdua makan dan bersantai sambil merasakan sejuknya angin yang hadir.

“Oh ya, Kai. Di malam itu, apakah terjadi sesuatu saat aku pingsan?”

“Sesuatu? Maksudnya?”

“Saat pingsan, aku seperti merasakan aura yang cukup menyeramkan.”

“Eh, benarkah? Mungkin kau hanya bermimpi saja.”

“Aku bisa merasakannya kok. Meskipun dalam keadaan pingsan saat itu.”

Aku tidak menyangka ia akan merasakan aura tersebut. Ternyata instingnya, sudah seperti insting hewan buas.

“Ah, aku baru ingat. Aura tersebut dikeluarkan oleh Iblis tersebut. Dan mengalahkannya, cukup sulit.”

“Hmmmm, begitu yah.”

“Ahahaha, ya begitulah.”

Untung saja aku bisa mengelabuinya. Jika ia tahu kalau aura itu keluar dari diriku, entah bagaimana nasibku nanti.

“Ngomong-ngomong, Kai. Apakah kau sudah tahu tentang ada perjalanan wisata pada bulan ke-IX nanti?”

“Eh, emang sudah diberitahukan?”

“Bukankah kemarin sudah dibagikan brosur lewat e-mail?”

“Sepertinya aku belum mengeceknya.”

“Huh, kau ini.”

“Jadi, di mana tempat kita akan melakukan perjalanan?”

“Hmmmm, sepertinya kita akan melakukannya di Camelot.”

“Camelot, yah.”

“Dan juga, perjalanan wisata ini akan diadakan bersama dengan beberapa SMA lainnya.”

“SMA mana saja yang akan terlibat?”

“Hmmmm, tunggu sebentar….”

Sandy membuka telepon genggamnya dan melihat brosur yang dibagikan. Kemudian, ia memperlihatkan isi dari brosur tersebut.

“….SMA I Distrik Mordred, SMA II Distrik Pendragon, SMA III Distrik Gallagher, SMA IV Distrik Yildrim, SMA V Distrik Kirisci, SMA VII Distrik Ancala, SMA VIII Distrik Bagaskara, SMA X Distrik Aoi, dan SMA XI Distrik Mizu.”

“Wah, banyak juga yah.”

“Kau benar. Sepertinya ini akan menjadi menarik.”

Dari yang dilihat dan dibacakan oleh Sandy, tujuh dari sembilan sekolah tersebut merupakan tempat belajar yang dimasuki oleh anggota DHA. Apakah ini secara kebetulan? Ataukah memang ada kesengajaan?

Bel berbunyi pertanda masuk pelajaran selanjutnya. Kami berdua membereskan tempat bekal lalu kembali ke kelas.

.........

Bel pulang telah berbunyi sekaligus menandai berakhirnya pembelajaran hari ini. Semua murid mengemas peralatan belajarnya, lalu kembali ke rumahnya masing-masing.

“Hei, Kai. Apakah kau ingin pulang bareng?” tanya Sandy.

“Maaf. Hari ini, aku rencananya akan pulang bersama Sara.”

“Wow, tidak kusangka kau agresif juga ya.”

“Kau mau kuhajar, kah?”

“Akan tetapi, tidak biasanya kau pulang bersamanya.”

“Ya, kebetulan kami ada janji untuk pergi berbelanja setelah pulang.”

“Berbelanja?”

“Benar, kami berbelanja kebutuhan sehari-hari.”

“Jangan bilang … kalian berdua tinggal serumah?” Sandy tiba-tiba mengeluarkan ekspresi terkejut.

“Tidaklah! Kami berdua tuh hanya tetanggaan.”

“Begitu yah. Hahaha, maaf-maaf.”

Kemudian, Sandy mengambil tasnya lalu berpamitan kepadaku dan pergi. Setelah itu, aku juga pergi dari kelas menuju gerbang sekolah.

Dari jarak yang cukup jauh, aku bisa melihat Sara yang tengah menungguku di depan gerbang sekolah. Paras wajahnya yang cantik dan bersinar. Dan keindahan rambutnya yang biru, seperti melihat pemandangan langit.

Aku menghampirinya dengan berlari kecil. Ia menoleh ke arahku, dan kemudian tersenyum dengan lembut dan tulus.

“Maaf, membuatmu menunggu.”

“Tidak apa-apa kok.”

“Kalau begitu, saatnya kita pergi.”

Sara mengangguk pertanda setuju dengan ajakanku. Kemudian, kita jalan bersama menuju supermarket. Jujur saja, jantungku berdetak tak karuan. Apakah ia mendengarnya? Uh, aku merasa malu.

Setelah membutuhkan waktu selama tiga puluh menit, akhirnya kita telah sampai di supermarket. Segera kami masuk ke dalam dan berbelanja. Terlihat, Sara begitu antusias dalam berbelanja. Melihatnya yang antusias begitu, membuatku senang.

Setelah cukup lama berbelanja, akhirnya kami keluar dari supermarket. Sebenarnya cukup melelahkan melakukan ini. Namun jika itu demi Sara, maka tak apa-apa.

“Aku tidak sabar untuk pulang ke rumah dan memasak,” kata Sara.

“Kamu benar. Jadi tidak sabar untuk mencicipi masakanmu lagi.”

“Oh iya, Kai. Apakah kamu sudah memberitahukan peristiwa beberapa hari yang lalu kepada ketua Divisi III?”

“Masih belum. Aku akan memberitahukannya sesegera mungkin. Agar mereka bisa menyelidikinya lebih jauh.”

“Begitu, yah.”

Suasana hening terjadi di antara kami. Tak ada sepatah kata pun keluar lagi setelah pembahasan tersebut. Aku berusaha mencari topik pembahasan yang menarik di dalam otakku. Uh, kenapa disaat seperti ini otakku tidak bisa berpikir?

“Anu … Kai.”

“I-iya, ada apa?”

“Apakah … kamu senang bersama denganku?”

“Ke-kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu?”

Wajah Sara tiba-tiba memerah karena menahan rasa malu. Begitupun denganku sambil merasa gugup dan bingung.

Saat ingin menjawab pertanyaannya, seorang wanita berlari dan menabrak ku hingga terjatuh. Wanita itu merintih kesakitan sambil memegang pinggangnya. Sara kemudian mengulurkan tangan untuk membantunya.

“Apakah kamu tidak apa-apa?”

“Iya, aku tidak apa-apa,” jawab wanita itu.

Kami berdua pun berdiri sambil mengibas pakaian yang terkena debu. Tanpa sengaja, mataku dan mata wanita itu saling bertemu. Perasaan terkejut keluar dari wajahnya.

“Ap-apakah kau adalah Kai?” tanya wanita itu.

“Iya, benar. Kai itu adalah aku.”

Tiba-tiba air mata menetes dan membasahi pipinya. Aku dan Sara seketika panik dan mencoba menenangkannya. Sara mengambil sapu tangan yang berada di dalam tasnya. Kemudian, sapu tangan tersebut ia berikan kepada wanita tersebut.

Lalu, kami mengajaknya ke taman yang lokasinya dekat dari posisi kami saat ini. Setelah beberapa menit, akhirnya ia tenang dan berhenti menangis. Sara memberikan wanita itu minuman dingin untuk lebih menenangkannya.

“Apakah kamu sudah merasa tenang sekarang?”

Wanita itu mengangguk pelan sebagai jawaban dari pertanyaan Sara. Kemudian, wanita itu berdiri dan menatapku.

“Kamu....,” katanya sambil menunjukku.

“Iya. Ada apa denganku?”

Tiba-tiba, wanita itu memelukku dengan erat. Hal itu membuatku terkejut dan merasa malu. Melihat adegan berpelukan tersebut, aura marah terpancar dari diri Sara. Seketika aku panik melihat ekspresi tersebut dan berusaha melepaskan diri.

“He-hei, kau. Ada apa denganmu?”

“Akhirnya, kita bertemu kembali.”

“Bertemu … kembali? Apa maksudmu?”

Wanita itu melepas pelukannya kemudian berjalan membelakangi ku dan Sara. Aku terheran dengan tindakannya barusan. Sementara itu, Sara masih mengeluarkan aura marahnya. Hal itu membuatku tak sanggup menatapnya secara langsung.

“Apakah kamu tidak mengingatku?”

“Ma-maaf. Aku tidak ingat.”

“Ini aku … Miya Lestari.”

“Miya … Lestari?”

“Iya, benar sekali. Dulu, kamu pernah menolongku.”

Aku berusaha mengingat nama tersebut di dalam pikiranku. Kemudian, aku mengingat nama tersebut. Aku dulu pernah menolongnya ketika nyawanya terancam oleh Iblis.

“Sekarang, aku ingat dirimu.”

Ekspresi bahagia terpancar dari wajahnya. “Syukurlah, kamu masih mengingatku.”

“Anu, Kai. Siapa wanita itu?” tanya Sara.

“Oh, dia adalah Miya Lestari. Aku dulu pernah menolongnya ketika dirinya diserang oleh Iblis.”

“Sekali lagi, perkenalkan namaku adalah Miya Lestari. Kalian bisa memanggilku Miya. Sebelumnya, terima kasih telah menyelamatkanku dari serangan Iblis.”

“Tidak apa-apa kok. Lagipula, saat itu aku tidak sengaja melihatmu. Jadi, tidak ada salahnya menolong mu.”

Kemudian, Miya mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Dan, yang dikeluarkannya adalah telepon genggam.

“Bolehkah kita saling bertukar kontak?”

“Hmmmm, gimana yah….”

Sebenarnya, aku ingin sekali menolaknya. Namun, aku merasa tidak tega. Di sisi lain, aura marah masih muncul dari diri Sara.

“Sudah, berikan saja,” kata Sara.

Dengan perasaan terpaksa, aku menyetujui permintaannya. Kami berdua pun saling bertukar kontak satu sama lain.

“Terima kasih, Kai.”

“Iya, sama-sama.”

“Kalau begitu, aku pamit pulang.”

“I-iya, hati-hati.”

Miya kemudian pergi meninggalkan diriku dan juga Sara. Aku menoleh ke Sara yang terlihat masih mengeluarkan aura marah.

“Sa-Sara. Apa kamu baik-baik saja.”

Sara kemudian pergi meninggalkanku. Aku berusaha menyusulnya dan mencoba menenangkannya. Sepertinya, jatah makan malam ku … akan hilang.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!