CHAPTER 1.2 – Sebuah Pertemuan

Beberapa hari telah berlalu setelah kejadian tersebut. Sampai saat ini aku dan Sara masih belum mendapatkan misi untuk memburu Iblis lagi atau kabar tentang pertemuan yang aku ajukan. Namun, kehidupan sekolah kami harus tetap terus berjalan.

Hari ini murid kelas 1-B dan 1-C berada di lapangan untuk mengikuti pelajaran olahraga. Kami semua melakukan pemanasan, kemudian berlari sebanyak tiga putaran. Lelah, itu yang dirasakan para murid. Mungkin, mereka tidak terbiasa melakukannya.

Setelah berlari kami semua beristirahat sejenak sebelum melakukan peregangan. Aku meluruskan kedua kaki ku. Aku mengatur napas sebaik mungkin agar tidak bermasalah.

“Nih, minuman untukmu,” kata Sandy sambil memberikan minuman.

“Terima kasih.”

Aku meminumnya dengan perlahan agar tidak tersedak. Rasanya sangat sejuk di kerongkonganku.

“Oh ya, apakah kau sibuk hari ini?”

“Tidak. Kenapa?”

“Sebenarnya, aku berencana mengajakmu ke kafe.”

“Kafe? Sepertinya aku tidak ingin pergi.”

“Ayolah Kai. Kita ini kan teman.” Sandy mencoba membuatku luluh dengan wajahnya yang memelas.

“Yaudah kalau begitu. Aku ikut.”

“Hore. Aku juga akan mengajak Nasya.”

“Eh, tunggu dulu. Apa maksudmu?” Aku terkejut mendengar pernyataan Sandy.

“Bantulah aku Kai. Aku ingin dekat dengan Nasya.”

Di tengah perbincangan, telepon genggamku berdering pertanda panggilan masuk. Aku mengabaikan Sandy dan menjauh sebentar dari area lapangan sekolah. Aku menuju ke tempat yang sepi.

Setelah mengecek bahwa situasi aman dan tidak ada siapapun yang datang, aku mengangkatnya dan mulai berbicara. Ternyata, itu dari Sekretaris Avalon. Ia mengatakan kepadaku bahwa sebentar malam akan diadakan pertemuan mengenai peristiwa yang terjadi seminggu lalu. Aku menutup lalu kembali ke lapangan.

Tanpa sengaja aku berpapasan dengan Sara. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang melihatnya. Wajah cantiknya itu, sulit sekali untuk memalingkan pandangan darinya.

“A-apakah kau mendapatkan telepon dari atasan?”

“Hmmm, iya.”

“Ahahaha. Baguslah kalau begitu,” kataku sambil menggaruk kepala.

“Kai, aku pergi ke lapangan duluan.”

Aku menganggukkan kepala saja kepadanya, kemudian ia pergi ke lapangan. Setelah menunggu beberapa menit, barulah aku ke lapangan. Baru sampai di lapangan, Sandy menghampiriku lalu menggoyang-goyangkan badanku.

“Dari mana saja kau?”

“Maaf, aku tadi ada urusan sebentar.”

“Jadi, bagaimana? Kau akan ikut, kan?”

“Iya-iya, aku ikut. Tapi, kita akan pergi pada akhir pekan.”

“Baiklah kalau begitu. Terima kasih banyak sahabatku.” Wajah Sandy terlihat sangat senang ketika berhasil mengajakku.

Setelah itu kami melanjutkan pelajaran olahraga hingga bel berbunyi untuk pergantian jam pelajaran.

.........

Malam hari aku dan Sara berangkat menuju markas besar menggunakan mobil. Kami dijemput oleh Ketua Divisi III, yaitu Bima Satria. Dalam perjalanan tak ada percakapan yang terjadi. Aku hanya bisa melihat bangunan-bangunan melalui jendela.

Tak terasa kami telah sampai di markas besar. Tempatnya berada di Distrik Mordred, Camelot. Kemudian, kami masuk ke dalam markas tersebut. Di dalam terlihat orang-orang sangat sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing.

Akhirnya, kami berada di depan pintu – tempat yang di jadikan pertemuan. Pintu terbuka secara otomatis, lalu kami masuk ke dalam. Sudah ada enam anggota Demon Hunter Avalon yang berkumpul, beserta Ketua-ketua Divisi.

Dari kota Camelot ada Flora Bedivere, pengguna elemen es. Rambutnya panjang-lurus berwarna perak, begitupun dengan warna matanya. Disampingnya ada Abyss Walker, pengguna elemen angin. Rambut dan matanya berwarna sian. Disamping Abyss ada Ketua Divisi I, yaitu Sir Tristan. Sir Tristan bertanggungjawab dalam melindungi dan mengamankan kota Camelot.

Dari kota Elghazi ada Zaganos, pengguna elemen petir. Rambut dan matanya berwarna kuning serta memakai kacamata. Disampingnya ada Erthagol, pengguna elemen tanah. Rambut dan matanya berwarna coklat serta memakai headset. Disamping Erthagol ada Ketua Divisi II, yaitu Karaja. Ia bertugas mengamankan dan melindungi kota Elghazi.

Dari kota Tsukuyomi ada Masamune Dan, pengguna elemen cahaya. Rambutnya berwarna putih dan memakai perban untuk menutupi kedua matanya. Disampingnya ada Suzune Shizuka, pengguna elemen api. Rambut berwarna merah dan memiliki gaya ponytail, matanya juga berwarna merah. Disamping Shizuka ada ketua Divisi IV, yaitu Azai Shinkai. Ia bertugas mengamankan dan melindungi kota Tsukuyomi.

Di dalam ruangan, kami semua hanya diam dan saling menatap. Tak ada yang mau membuka percakapan. Mungkin, karena suasananya canggung dan sulit untuk membuka percakapan.

“Se-selamat malam semuanya.” Sara mencoba membuka percakapan.

“Selamat malam Sara.” Shizuka membalas salam dari Sara.

“Seperti biasanya, kau lengket dengan Kai,” kata Zaganos.

“Hmmm, padahal ada aku yang tampan di sini untukmu Sara,” Dengan percaya diri, Abyss mengatakannya.

“Heh, tampan dari mananya coba?” Flora mengejek Abyss.

“Hahahaha, lucu sekali,” kata Erthagol sambil melipat kedua tangannya.

“Erthagol, bisakah kau tenang?” Dan menegur perilaku Erthagol.

“Huh, beginilah jika kalian bertemu. Selalu saja seperti ini,” kata Ketua Bima.

Pintu ruangan terbuka, seorang pria berdiri yang didampingi oleh seorang wanita. Ia berjalan masuk ke ruangan. Kami semua berdiri dan memberikan hormat kepadanya. Ya, dialah Presiden Avalon – Arthur Erickson. Disampingnya adalah Merlin, Sekretaris sekaligus tangan kanan dari Presiden Arthur. Presiden Arthur kemudian duduk, lalu Merlin mempersilahkan kami untuk duduk juga.

“Hari ini, sesuai permintaan dari Kai. Kita mengadakan pertemuan.” Merlin menjadi Moderator pada pertemuan hari ini.

“Baiklah kalau begitu. Kai, ceritakan semuanya dari awal.” Presiden Arthur memberiku perintah.

Aku pun berdiri dan bersiap menjelaskan. Dengan menggunakan monitor, aku mengirimkan video pertempuran ku dan Sara menghadapi dua dari empat jenderal Raja Iblis. Aku memutar video tersebut sambil menjelaskan maksud tujuan mereka datang ke Avalon.

Selain digunakan untuk mengurangi dampak kehancuran kota saat bertarung, medan tempur juga memiliki kamera tersembunyi yang disimpan pada tempat yang hanya diketahui oleh penggunanya.

Mereka menonton video tersebut sambil mendengarkan penjelasanku. Setelah selesai menjelaskan, aku kembali duduk.

“Sungguh tidak terduga kedatangan mereka,” kata Ketua Tristan.

“Kau benar,” kata Ketua Karaja.

“Bagaimana pun juga kita harus bergerak. Aku tidak ingin korban bertambah banyak lagi,” kata Presiden Arthur.

"Benar kata Presiden. Kita tidak akan tahu kapan empat jenderal Raja Iblis muncul kembali. Dikhawatirkan mereka akan datang secara tiba-tiba," tambah Ketua Bima.

"Jangan lupakan Iblis-iblis yang masih berkeliaran secara leluasa," kataku dengan ekspresi serius.

Di dalam ruangan, semua terdiam dan berusaha memikirkan cara yang terbaik untuk masalah ini.

“Jika memang begitu, kenapa DHA tidak beraksi di setiap malam saja? Kita tak perlu tunggu pesan dari atasan. Artinya, kita bergerak sendiri.” Zaganos memberikan usulan.

“Apakah kau yakin?” tanya Ketua Shinkai.

“Jika kita tidak lakukan itu, maka terburuknya adalah mereka bisa dengan mudah merebut nyawa masyarakat Avalon. Selain itu, kita juga bisa mengantisipasi kemunculan empat jenderal Raja Iblis,” jawab Zaganos.

“Aku setuju dengan Zaganos. Sejauh ini memang kita hanya bisa meminimalisir angka kematian akibat serangan Iblis.” Flora menguatkan usulan Zaganos.

“Tidak seperti biasanya Flora. Kau menguatkan usulan orang lain,” kata Abyss.

“Untuk saat ini, itulah yang kupikirkan. Sama seperti yang Zaganos usulkan.”

“Yang dikatakan Flora benar. Untuk saat ini, kita harus lakukan sesuai usulan Zaganos, sampai ada usulan yang lebih baik,” kata Dan.

“Baiklah kalau begitu. Kita akan menjalankannya mulai besok. Untuk Divisi Militer, lakukan seperti biasanya dan bantu DHA.”

“SIAP!!”

Pertemuan telah selesai diadakan. Kami semua pulang dengan mendapatkan tugas baru. Aku tidak tahu apakah mampu atau tidak. Namun, jika sudah diamanatkan maka aku tak boleh ingkar.

......................

Di dimensi lain, sebuah tempat yang mencekam dan mengerikan. Tanahnya kering dan tandus. Langitnya berwarna merah darah disertai awan hitam. Di tempat tersebut, satu-satunya bangunan berdiri kokoh berupa istana. Di luar istana, para Iblis mengelilingi bangunan tersebut.

Di dalam istana, para penjaga sudah siap di tempatnya masing-masing. Meja pertemuan sudah tersedia dan para petinggi juga sudah hadir. Para petinggi itu adalah Empat Jenderal Raja Iblis. Mereka mengenakkan jubah kebesaran. Mereka menunggu kedatangan dari Raja Iblis.

“Huh, rasanya membosankan di sini. Aku ingin sekali bertarung,” kata Belial.

“Belial, apakah kau ingin mati?” Zoe mengeluarkan ekspresi marah.

“Hei! tenanglah kalian berdua.” Azazel mencoba melerai keduanya.

Di tengah perbincangan, pintu istana terbuka – menandakan kehadiran Sang Raja Iblis. Ia adalah Lucifer von Satan. Semua Iblis yang berada di ruangan berlutut hormat kepadanya, begitupun dengan empat jenderal. Raja Iblis masuk dengan penuh wibawa dan mengeluarkan aura yang mencekam. Rambutnya panjang berwarna hitam, warna matanya ialah violet. Ia mengenakkan jubah panjang dan elegan berwarna hitam. Dibelakangnya adalah tangan kanannya yang selalu ada di mana pun ia berada.

Raja Iblis sampai di meja pertemuan, lalu ia duduk. Semua yang berada di ruangan kembali ke posisi semula, begitupun dengan empat jenderal.

“Bagaimana dengan jalan-jalan kalian ke Avalon?” tanya Raja Iblis Lucifer.

“Lumayan menarik Yang Mulia,” jawab Azazel dengan santai.

“Hooh. Jadi, apakah ada informasi yang kalian dapatkan?”

Zoe mengeluarkan catatan. “Yang Mulia, informasi yang kami dapatkan adalah para pengguna elemen telah muncul kembali.”

“Pantas saja pasukan yang selalu kita kirim tidak memberikan kabar. Rupanya sudah dibasmi oleh mereka.”

“Hehehe, akan tetapi kita sempat bertarung dengan mereka,” kata Belial.

“Benar Yang Mulia. Ternyata, mereka cukup menjanjikan. Walau kemampuan mereka saat ini belum seperti para pendahulu mereka,” kata Viper.

Raja Iblis Lucifer berdiri lalu kemudian berjalan membelakangi empat jenderalnya.

“Bagaimana dengan elemen si pengkhianat itu?”

“Yang Mulia, elemen si pengkhianat itu telah dipakai oleh seseorang. Itulah salah satu alasan kenapa elemen tersebut gagal kita dapatkan.” Ekspresi serius muncul di wajah Azazel.

“Begitu yah. Padahal itu adalah salah satu kunci untuk membangkitkan Ragnarok.”

“Apakah ada cara lain untuk membangkitkan Ragnarok?”

“Dalam Pedoman Satan, untuk membangkitkan Ragnarok adalah ... dengan menggabungkan enam elemen terkutuk. Namun, itu membutuhkan waktu selama tiga hari untuk membangkitkannya. Lain halnya dengan elemen si pengkhianat itu, elemen itu bisa membangkitkan Ragnarok hanya dalam waktu satu hari.”

“Apakah kita harus merebut kembali elemen si pengkhianat itu?” tanya Viper.

“Tidak perlu. Lagipula, kekuatan kita sudah cukup untuk membangkitkan Ragnarok.”

“Lalu Yang Mulia, bagaimana dengan pengguna elemen si pengkhianat itu?

“Tentu saja, habisi saja ... tanpa perlu merasa bersalah!”

“SIAP, LAKSANAKAN YANG MULIA!”

Raja Iblis Lucifer kembali ke tempat duduknya. Terlihat wajahnya serius dan tatapannya tajam. Keempat jenderal beserta yan ada di ruangan istana hanya bisa menunduk ketakutan. Di ruangan istana, ia menunjukkan tekadnya di hadapan para bawahannya.

“Inilah waktu yang tepat untuk menghancurkan Avalon. Kita buktikan ... bahwa Iblis mampu menjatuhkan dan menghancurkan mereka. Kita balaskan dendam lima ratus tahun yang lalu. Di mana, kita dikalahkan dan dilempar ke dimensi ini.”

Para Iblis yang berada di dalam istana begitu semangat dan termotivasi. Sorakan bergema hingga menembus ke luar. Raja Iblis Lucifer berdiri lalu berjalan menuju keluar. Raja Iblis meninggalkan ruangan istana dengan didampingi oleh tangan kanannya.

Setelah Raja Iblis keluar dari ruangan, empat jenderal masih duduk diam sambil memandangi satu sama lain.

“Sekarang, apa rencana kita?,” tanya Zoe.

“Raja Iblis sudah memberikan kita izin untuk menghabisinya. Jadi, tunggu apa lagi?”

“Mohon bersabar Belial. Kita harus menyusun rencana terlebih dahulu,” kata Viper.

Azazel tenggelam dalam pikirannya hingga tak mendengar perbincangan teman-temannya.

“Azazel, apakah kau punya rencana?”

Azazel hanya diam dan tidak menjawab. Melihat itu, tiba-tiba Zoe menghampiri Azazel lalu menamparnya dengan keras. Azazel terjatuh dan akhirnya tersadarkan.

“Oi, apa yang kau lakukan?” Raut wajah Azazel terlihat kesal.

“Aku bertanya kepadamu. Namun, kau malah diam dan tak bergeming sedikitpun. Itulah mengapa aku menamparmu.”

“Hahahaha, rasakan itu.” Belial tampak puas melihat hal tersebut.

“Tidak biasanya kau seperti ini. Ada apa denganmu?”

“Aku hanya berpikir, kenapa kita tidak mengambil elemen si pengkhianat itu?”

“Apa maksudmu?”

“Seperti yang kita tahu, elemen itu mampu membangkitkan Ragnarok dalam waktu satu hari saja. Jadi, kenapa harus butuh waktu yang lama jika ada yang cepat?”

“Aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Raja Iblis. Namun, sepertinya ... Raja Iblis tidak ingin elemen si pengkhianat itu masih ada.”

Azazel kemudian berdiri dan mengebas pakaiannya yang terkena debu.

“Aku ingin pergi sebentar.”

“ Ke mana kau akan pergi?

“Tentu saja, itu rahasia.”

Azazel melambai-lambaikan tangan sambil berjalan menuju pintu keluar. Ketiga temannya tidak ada yang mengetahui maksud dan rencana dari Azazel. Mereka hanya duduk diam dan berharap mendapatkan kabar baik darinya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!