Suara ledakan berhasil membuatku terbangun. Siapa yang menyalakan petasan di pagi hari ini? Aku membuka mataku dengan perlahan. Hah? Kenapa aku bisa melihat langit secara langsung? Bukankah rumahku memiliki atap? Aku bangun dan merasakan punggungku sakit. Ternyata aku tertidur di atas tanah, bukan di atas kasur. Aku kaget, tiba-tiba sudah berada di luar. Aku hanya bisa melihat tebing di mana-mana. Dan ... aku juga berada di atas tebing.
Suara ledakan kembali terdengar, kali ini lebih keras. Aku mencari sumber suara tersebut. Aku melihat banyak orang di bawah sana. Tunggu dulu, kenapa mereka memakai pakaian zirah? Dan mereka dengan semangat mengangkat pedang lalu bergerak maju. Aku kemudian melihat dengan jelas, mereka ternyata tengah berperang melawan Iblis.
Mereka saling menyerang satu sama lain. Aku bingung dengan situasi ini. Di mana aku berada? Mengapa bisa aku berada di sini? Secara tiba-tiba, pikiranku campur aduk.
Kemudian, anak panah nyasar menghampiriku lalu mengenai tepat di dadaku. Aku kaget dan nafasku terengah-engah. Eh, aku kembali bingung. Saat ini, aku berada di kamar. Aku menengok ke atas, atapnya masih utuh. Fiuh, ternyata itu semua hanyalah mimpi.
Aku melihat jadwal, dan hari ini adalah akhir pekan. Sesuai janji, aku menemani Sandy untuk pergi ke sebuah kafe. Dan ia juga mengajak Nasya ke sana. Bagaimana caranya Sandy bisa mengajak wanita itu? Aku berharap, ia tidak menggunakan cara yang kotor. Setelah selesai mandi, memakai pakaian, dan merapikan rambut, aku kemudian ke depan pintu untuk keluar.
Saat aku membuka pintu, aku terkejut di depan pintu ternyata sudah ada Sara. Seperti biasa, wajah cantiknya sungguh menenangkan hati.
“Oh, Sara. Ada apa?”
“Sebenarnya, aku berencana ingin memasakkan makanan pagi untukmu.”
“Haha, tidak biasanya kau memasak makanan untukku.”
Pipinya menggembung seketika. “Yaudah, aku pulang kalau begitu.”
“Tu-tunggu sebentar, aku cuman bercanda.”
“Ngomong-ngomong, kamu pergi ke mana dengan pakaian rapi di pagi ini?” tanya Sara.
“Teman kelasku mengajakku ke kafe hari ini.”
“Oh, begitu yah.”
“Hmmm, bagaimana kalau kau ikut denganku?”
“Eh, ka-kamu mengajakku?”
“Tentu saja. Habisnya, temanku membawa wanita. Jadi, akan lebih baik kalau wanita itu bisa mengobrol dengan seorang wanita juga.”
Sejenak Sara terdiam dan berpikir sebelum memutuskannya. Butuh waktu tiga menit untuk menunggu jawabannya.
“Ba-baiklah kalau begitu. Aku ikut denganmu.”
Perasaan bahagia merasuk ke dalam hatiku. Akhirnya, setelah sekian lama kami bisa pergi bersama lagi. Meski ini bukan kencan, tapi aku tetap merasa bahagia.
Sara kembali ke rumahnya untuk memakai pakaian dan riasan. Setelah cukup lama menunggu, Sara keluar dari rumahnya. Pakaian dan riasannya yang sederhana membuat jantungku berdegup dengan kencang.
“Ba-bagaimana dengan pakaianku?”
“Ka-kamu sa-sangat ca-cantik d-dan i-imut.” Aku terbata-bata menjawab pertanyaannya.
Pipi Sara memerah karena malu mendengar jawabanku. “Ka-kalau begitu, ayo kita pergi.”
Kami berdua berjalan bersama sambil merasa canggung dan malu-malu. Kami pergi ke stasiun untuk menaiki kereta menuju distrik Dewana. Setelah sampai, kemudian kami naik bus untuk ke tempat yang dijanjikan.
Akhirnya, kami telah sampai di kafe yang dijadikan pertemuan oleh Sandy. Kami kemudian masuk ke dalam dan disambut oleh pelayan kafe. Aku mencari tempat di mana Sandy dan Nasya duduk. Sandy melambaikan tangannya sambil memanggilku, dan aku langsung ke sana bersama Sara.
“Kenapa kau lama sekali Kai?”
“Maafkan aku. Aku tadi menunggunya berpakaian dan berias.”
“Tu-tunggu dulu. Bukankah kamu Sara yang dari kelas 1-C?”
“I-iya, namaku adalah Sara,” jawabnya dengan gugup.
“Hei Kai, kok kau tidak bilang dekat dengan Sara? Dia itu cukup terkenal loh.”
“Yah, bisa dibilang kami sudah lama akrabnya.”
“Tidak kusangka kau dekat dengan Sara.”
“Hai Sara, perkenalkan namaku adalah Nasya Yana. Kau bisa memanggilku Nasya.”
“Senang berkenalan denganmu Nasya.”
Mereka berdua menandainya dengan saling berjabat tangan. Melihatnya, aku dan Sandy merasakan perasaan yang sejuk.
“Oh iya, apakah kalian sudah ingin memesan?”
“Iya, karena aku sangat lapar sekali.”
Sandy memanggil pelayan untuk datang ke meja kami. Kemudian, kami memesan makanan dan minuman. Dengan ramah, pelayan tersebut menyuruh kami menunggu.
Setelah beberapa saat, akhirnya pesanan kami tiba. Kami menikmatinya sambil berbincang satu sama lain.
Tak terasa, kami sudah selesai makan dan minum. Sebelum pergi, kami membayarnya terlebih dahulu. Setelah selesai membayar, kami keluar dari kafe dengan perut kenyang.
“Yah, perutku sangat kenyang sekali,” kata Sandy.
“Iya, kamu benar,” kata Nasya sambil tersenyum.
“ Oh ya, apakah kalian ada rencana setelah ini?” tanya Sandy.
Kami bertiga menggeleng-gelengkan kepala sebagai pertanda tidak.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita ke arkade?”
“Arkade, yah?” Aku menoleh ke Sara. “Bagaimana denganmu Sara?”
“Hmmmm, iya. Aku mau ke sana,” jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.
Kami akhirnya sepakat pergi ke Arkade untuk menikmati akhir pekan. Dalam perjalanan, terlihat Sara begitu akrab dengan Nasya. Jarang sekali aku melihatnya akrab dengan orang lain. Melihatnya seperti itu, aku merasa senang dan iri sekaligus.
Setelah tiga puluh menit kami berjalan, akhirnya kami telah sampai di arkade. Kami masuk dan menjelajahi permainan yang ada. Mulai dari permainan capitan, permainan menari, air hockey, berfoto bersama dan lain-lain. Kami sangat menikmatinya sampai lupa kalau waktu sudah siang.
Kami berempat beristirahat di taman. Sudah lama sekali aku tidak menikmati akhir pekan bersama orang lain. Di tiap akhir pekan, aku hanya bisa rebahan, main game, ataupun membaca buku.
“Apakah kalian haus?”
“Lumayan sih,” jawab Sandy sambil memegang tenggorokannya.
“Kalau begitu, aku akan pergi membelinya.”
“Aku ikut denganmu,” kata Sara.
“Nggak usah, kamu di sini temani Nasya. Nanti Sandy ambil cari kesempatan lagi.”
“Hei kawan, aku tidak se-bejat itu.”
Sara dan Nasya tersenyum setelah mendengar lelucon kami berdua.
“Kalian mau minum apa?” tanyaku pada mereka.
“Aku cappucino,” jawab Nasya.
“Aku black coffe,” jawab Sandy.
“Kalau aku milk tea,” jawab Sara.
Setelah mendengar pesanan mereka, aku pergi ke A&D untuk membelikan mereka minuman. Akhirnya, aku sampai di A&D setelah berjalan selama lima menit. Untungnya antrian tidak panjang, jadi aku tidak perlu membuat mereka menunggu lama.
Tak butuh waktu yang lama, pesananku telah siap. Aku membayarnya lalu keluar dan kembali ke taman. Bagiku, ini adalah hari yang cukup berkesan. Selain bisa menikmati waktu bersama Sara, aku juga menikmati waktu bersama teman-temanku.
Di tengah perjalanan, aku merasakan embusan angin yang cukup kencang hingga menerbangkan daun-daun yang telah berguguran. Di saat yang bersamaan, sesosok yang tidak asing bagiku telah berdiri di depan. Aku terkejut dengan kemunculannya.
“Yo, lama tidak bertemu ... pemburu Iblis kegelapan.”
Dia adalah Azazel, salah satu empat jenderal Raja Iblis. Sepertinya, reuni yang tak terduga ... telah terjadi.
.........
Di tengah embusan angin, kami berdua saling berhadap-hadapan satu sama lain. Aku memasang kuda-kuda dan bersiap mengaktifkan medan tempur.
“Tunggu sebentar. Aku ingin berbicara denganmu.”
“Apa yang ingin kau bicarakan?”
“Terlebih dahulu kita perlu pergi ke tempat yang agak sepi.”
Aku dan Azazel kemudian mencari tempat yang agak sepi. Kami menemukan tempat yang lokasinya tidak jauh dari lokasi Sara dan lainnya saat ini. Kami berdua duduk di kursi, tepat di bawah pohon beringin.
“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” tanyaku.
“Aku ingin kita saling berbagi informasi!”
“Apakah informasi mu itu penting untukku?”
“Tentu saja. Kau pasti akan terkejut ketika mendengarnya.”
Aku berpikir dengan penawaran Azazel. Aku khawatir ia akan menjebak ku. Tapi, bagaimana jika ia tidak berbohong? Aku harus memastikannya terlebih dahulu.
“Informasi apa yang kau inginkan?”
Azazel menunjuk gelang yang ku pakai. “Aku ingin tahu tentang gelang itu.”
Dengan santai aku memegang gelangku dan memperlihatkan kepadanya.
“Ini adalah Gelang Avalon atau GA. Gelang ini terbuat dari material Plasma Stone, sebuah material langka yang memiliki banyak kegunaan. GA digunakan bagi anggota pasukan militer dan anggota DHA ketika ingin menghadapi para Iblis.”
“Apakah ada perbedaan antara GA untuk anggota DHA dan GA untuk anggota pasukan militer?”
“Entahlah, aku belum pernah melihat GA milik anggota pasukan militer.”
"Oh, begitu yah."
“Jadi, apa lagi informasi yang kau inginkan?”
Azazel terdiam sejenak setelah mendengar pertanyaanku. Kemudian, ia menoleh kepadaku.
“Ngomong-ngomong, senjata yang kau pakai itu ... terlihat bagus. Apakah itu terbuat dari material Plasma Stone juga?”
“Kau benar, itu terbuat dari material Plasma Stone. Namun, senjata milik anggota DHA berbeda dengan milik anggota pasukan militer.”
“Berbeda? Apa yang membedakan dari keduanya?” Azazel terlihat mengernyitkan dahinya.
“Senjata anggota DHA ditanamkan kekuatan elemen. Dengan menggabungkan teknologi yang dikembangkan oleh ilmuwan Avalon, material Plasma Stone serta kekuatan elemen, maka jadilah senjata yang bisa muncul dengan memanggilnya.”
“Oh, seperti yang kau lakukan waktu itu?”
“Benar sekali! Seperti yang kau katakan.”
Azazel kemudian terdiam dan mencari pertanyaan yang lain. Aku hanya bisa menunggunya sambil sesekali memandangi langit.
“Aku punya pertanyaan yang lain. Mungkin, ini akan jadi yang terakhir.”
“Apa itu?”
“Yaitu ... apa alasanmu bergabung dengan DHA? Dan juga ... kenapa kau bisa memiliki elemen kegelapan?”
Aku menundukkan pandangan dan terdiam ketika mendengar pertanyaannya itu. Haruskah aku menjawab pertanyaan tersebut?
“Hei, kenapa kau terdiam?”
“Aku agak curiga kepadamu! Kenapa pertanyaanmu seperti itu?”
“Ayolah! Aku penasaran dengan itu. Setelah kau memberitahuku, maka kau akan mendapatkan informasi yang berguna sekali dariku.”
Aku kembali berpikir sebelum menjawab pertanyaannya. Aku khawatir ia akan berkhianat setelah aku menceritakannya. Terlebih informasi ini hanya beberapa orang yang mengetahuinya. Akan tetapi, mungkin saja aku mendapatkan informasi yang penting setelah memberitahunya.
Aku menoleh ke atas langit, kemudian kembali menunduk. Dengan perlahan aku menarik nafas lalu mengembuskannya.
“Baiklah, aku akan menjawabnya. Akan tetapi, berikan aku informasi yang penting juga. Jika tidak, di hari ini ... aku akan membunuhmu!”
Aku menyorotkan tatapan yang tajam kepadanya. Melihat itu, Azazel mengalihkan pandangannya ke atas langit sejenak lalu tersenyum tipis. Kemudian, ia memandangiku dengan senyuman tipisnya itu.
“Jadi, silahkan beritahukan kepadaku ... tentang alasanmu bergabung dan mendapatkan elemen kegelapan.”
Di siang yang cerah dengan embusan angin, aku memberitahukan informasi penting tentang diriku kepadanya. Alasan aku bergabung dengan DHA, dan juga alasan kenapa aku bisa ... mendapatkan kekuatan elemen kegelapan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
👑Ajudan Tante Lele💣
tulisannya udah enak dibaca😍
pakai pov 1 ya
saranku, perbanyak kosa kata utk pengganti penggunaan kalimat aku yg berlebihan. jadi dalam 1 paragraf berupa narasi, kata aku bisa diganti dg kalimat lain.
semangat ya. selesaikan sampai tamat💪
2023-01-10
1